How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Gugup di malam pertama



Semua tamu, rekan dan para sahabat sudah pulang dengan membawa perasaan masing-masing setelah selesai menikmati dan melihat prosesi pernikahan Kinan dan Rey hari ini. Orangtua Rey juga sudah tak nampak, mungkin mereka telah beristirahat di kamarnya. Hanya para pelayan yang terlihat sibuk dengan sisa-sisa acara yang menjadi pekerjaan mereka di malam ini.


Sedangkan pengantin baru itu, Rey dan Kinan kini tengah berjalan menuju kamar pengantin mereka, kamar yang selama ini ditempati Kinan selama tinggal dirumah orangtua Rey. Mereka sudah sepakat untuk tidur dikamar itu malam ini, karena Rey tidak suka kamar pribadinya dimasuki oleh orang lain--para orang WO yang mengatur kamar pengantin--Maka dikamar itulah mereka harus bermalam saat ini.


Kamar yang menjadi kamar pengantin mereka itu, sudah di setting oleh wedding organizer sedemikian rupa sebagai pelengkap untuk pernikahan mereka. Setelah dari sini, mungkin besok Rey akan membawa Kinan untuk ikut ke kamarnya, Hanya untuk malam ini saja mereka akan berada disini-pikir Rey.


'Klek'


Rey membuka pintu kamar sambil menggenggam tangan Kinan di tangan satunya. Ia memiringkan kepala sekilas dan tersenyum kecil ketika melihat pemandangan kamar itu. Kinan ikut masuk dan sedikit terkekeh melihat kamar yang ia rasa terlalu berlebihan itu.



"Ini terlalu berlebihan." Ucap Kinan pelan, ia nyaris berbisik tapi Rey mendengar ucapannya yang sama dengan isi hati Rey saat ini.


"Kau tidak suka?" Tanya Rey seraya menutup pintu kamar dan tak lupa menguncinya.


"Bukan begitu!" Kinan mengibaskan tangannya. "Aku pikir tidak sampai seperti ini." Jawabnya sambil tertunduk.


"Hmm, aku pikir juga begitu. Tapi ya sudah. Ini juga tidak terlalu buruk." Ucap Rey pelan seraya melepaskan jas-nya. Kinan masih tertunduk, entah apa yang ada dibenaknya saat ini.


Rey mengangkat dagu Istrinya dengan jari telunjuknya, wajah Kinan yang tertunduk pun otomatis naik dan menatap wajah Rey dengan jelas. "Aku mau mandi dulu. Kau bersiaplah!" Jawab Rey dengan suara yang nyaris berbisik.


"Be-bersiap?" Kinan gugup seketika saat mata hazel itu menatapnya lekat. Rey mengangguk pelan. "Ma-maksudku, emm bersiap....untuk apa?" Ucap Kinan lagi tetap dengan gaya kikuk-nya, matanya berusaha menatap lain arah agar tak merasa gugup dihadapan pemuda yang sudah menjadi suaminya itu.


Rey tersenyum seraya menggendikkan bahunya. Ia beranjak dari hadapan Kinan. Menyambar handuk yang tersedia di gantungan dan menuju pintu kamar mandi.


"Mas..." Kinan memanggil Rey untuk meminta jawabannya.


"Bersiap untuk tidur, Kinan." Jawab Rey lembut. "Mandilah setelah aku mandi, lalu bersiaplah untuk tidur." Jelas Rey sambil menoleh ke arah Kinan. Mata wanita itu membola, ia tak menyangka Rey akan mengatakan hal itu. Pikirannya sudah kemana-mana, bahkan wajahnya sudah memerah dan menjadi malu sendiri. Kinan mengangguk kecil, lalu Rey pun masuk kedalam kamar mandi.


Kinan membuka accesories yang melekat dikepalanya secara perlahan, kemudian lanjut menyisir rambutnya rapi. Ia ingin membuka gaun pengantinnya, tapi ini terasa sulit sebab gaunnya memiliki resleting dibelakang tubuhnya. Kinan mendesahh frustasi setelah mencoba beberapa kali tapi usahanya itu gagal. Ia menggeleng pelan.


Dengan langkah gontai, Kinan memasuki ruangan ganti yang masih berada didalam kamar yang sama. Disana, ia melihat beberapa baju-baju Rey sudah tersusun rapi. Ia menarik satu kaos polos berwarna cokelat muda dan satu buah celana pendek kain, ia berfikir akan menyiapkan baju ganti saja untuk sang suami.


Kinan hendak keluar dari ruangan itu tapi matanya tak sengaja melihat tumpukan underwear yang terletak tak jauh dari tempat ia mengambil kaos Rey tadi. Lagi-lagi ia malu sendiri harus menyediakan itu juga untuk Rey. Beberapa kali ia menarik nafas pelan tapi akhirnya ia mengambilnya juga.


Kinan meletakkan perlengkapan Rey itu diatas meja kecil yang ada diruang ganti. Kemudian ia beralih ke pakaiannya sendiri, tapi ia tak menemukan baju tidur atau piyama yang biasanya ia gunakan. Ia hanya melihat beberapa lingerie yang tergantung dengan rapi didalam lemari. Kinan kalang kabut, entah siapa yang mengganti semua baju tidurnya dengan itu diruang ganti ini. Ah, wajahnya memerah seketika. Ia tidak pernah membayangkan harus menggunakan baju tidur berbahan tipis seperti itu. "Apa-apaan?" Batinnya terkekeh sendiri membayangkan dirinya harus mengenakan itu malam ini.


Ceklek'


Pintu ruang ganti itu terbuka dari luar, Rey menatap bingung Kinan yang mematung didepan lemari.


"Ada apa?" Tanya Rey seraya menggosok rambutnya yang basah. Ia mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh atletisnya.


"E-eh kau sudah siap mandi, Mas?" Tanya Kinan semakin gugup. Ia mencium aroma maskulin dari tubuh suaminya itu. Mendadak ia seperti ice-cream yang mencair, lebih tepatnya meleleh.


"Hmm.." Gumam Rey seraya memperhatikan sang istri yang masih mengenakan gaun pengantinnya.


"Kau mau mandi? Kenapa gaunnya tidak diganti?" Tanya Rey menatap Kinan yang gugup dengan wajah memerah. Rey bukannya tak tahu jika saat ini istrinya tengah dilanda rasa gugup dan kikuk.


"Em, iya aku mau mencari baju ganti. Aku mau mandi, Mas. Tapi--"


"Kenapa?" Tanya Rey benar-benar tak mengerti.


Kinan memutar posisi badannya untuk memunggungi Rey. "Ini!" Ucap Kinan seraya menunjuk resleting baju yang berada dipunggungnya. "Aku sudah mencoba membukanya tapi sangat susah." Aku Kinan pada Rey. Rey menggeleng pelan, ia terkikik dalam hatinya sendiri. Ia mendekat kearah punggung Kinan dan Kinan otomatis membeku diposisinya. Ini benar-benar membuatnya gugup. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menurunkan resleting itu sendiri.


Selama ini, Rey sudah banyak melihat punggung wanita, tapi kenapa bersama Kinan rasanya berbeda? Kinan juga menahan nafasnya, belum ada seorang lelaki pun yang pernah berlaku seperti ini kepadanya dan kenapa rasanya waktu lambat berjalan seakan-akan momen ini tak bergerak?


"Sudah." Ucap Rey dengan nada terendah, tapi mampu menyadarkan Kinan yang membeku. Kinan memegangi gaun bagian depannya agar gaun itu tak meluncur jatuh ke lantai dan menyisakannya hanya dengan pakaian dalam. Kinan bahkan bisa merasakan deruan nafas Rey dibalik punggungnya.


Tanpa menjawab, Kinan berlari kecil untuk keluar dari ruangan ganti itu. Rey menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum simpul. Ia ingin membuka bathrobe nya, tapi Kinan kembali membuka pintu dan hanya kepala wanita itu saja yang terlihat.


"Baju gantinya sudah aku siapkan disitu!" Ucap Kinan seraya menunjuk satu arah.


"Terima kasih, Sayang." Ucap Rey lembut, mata Kinan sampai membola mendengar itu, ia refleks menutup pintu dan berlalu ke kamar mandi.


Rey memakai baju yang Kinan siapkan, ia terus-menerus tersenyum. Entah kenapa ia begitu bahagia saat ini. Senyumnya tidak surut sedikitpun.


Rey melihat baju-baju yang tergantung di lemari yang sempat Kinan lihat tadi. Rey berdecak lidah ketika melihatnya.


"Pantas saja kau semakin gugup!" Ucapnya pelan ketika melihat barisan lingerie itu. Rey menggeleng-geleng pelan. Ia mengambil satu buah kemeja putih polos kepunyaannya, dan meletakkannya di meja yang sama tempat Kinan meletakkan baju gantinya tadi.


"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk menggunakan baju-baju tipis itu!" Ucap Rey membatin.


Rey keluar dari ruangan ganti, ia menyalakan lampu kamar, yang tadinya kamar itu hanya diterangi cahaya lilin saja. Kemudian Rey mengetuk pintu kamar mandi yang didalamnya sedang ada Kinan.


"Kinan.." Ucap Rey seraya mengetuk pintu itu. Ia mendengar suara air yang keluar dari shower.


"Yah.." Jawab Kinan sedikit memekik.


"Pakailah kemejaku! Sudah aku letakkan dimeja ruang ganti!" Jawab Rey yang mengerti keadaan.


Kinan mendengar ucapan Rey itu, ia mendesaah lega karena daritadi ia bingung apakah memang harus ia menggunakan lingerie itu? Ia takut mengecewakan Rey jika tak memakainya, tapi ia sendiri ragu untuk mengenakannya. Ia masih gugup dan tentu saja ia malu harus mengenakan itu langsung dimalam ini.


"Terima kasih, Mas!" Pekik Kinan lagi seraya melanjutkan mandinya.


Rey berjalan pelan kearah sofa, ia menghidupkan televisi dan menonton siaran berita disana untuk menunggu Kinan yang masih mandi.


Kinan keluar kamar mandi dan memakai baju sesuai usulan Rey. Walau kemeja polos itu terlihat kebesaran hingga hampir mencapai dengkulnya. Ia lega karena Rey mengerti posisinya meski belum ia jelaskan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ia mengelus perutnya perlahan seolah sedang mentransfer rasa bahagianya itu pada bayi yang kini tengah dikandungnya.


Kinan mendekat ke sofa setelah merasa bersih dan segar. Ia menghampiri Rey disana. Tapi yang ia lihat justru Rey tengah tertidur pulas di sofa.


"Kau sampai ketiduran? Apa aku terlalu lama?" Ucap Kinan seperti berbisik. Kinan bangkit dan mengambil selimut diatas kasur. Ia menyelimuti Rey yang tengah pulas beralaskan bantal sofa itu. Tangannya terulur dan membelai lembut rambut suaminya.


Kinan terus memperhatikan wajah Rey yang tengah tertidur.



"Jadi begini rasanya menyaksikan orang yang tertidur?" Ucap Kinan dalam hatinya. Ia mengingat jika Rey juga senang melakukan hal itu padanya, bahkan Rey sering melihatnya terbangun dengan 'wajah bantal' nya. Lagi, Kinan tersenyum simpul seraya tangannya mengelus pipi sang suami.


.


.


.


.


Bersambung...