
Hari beranjak sore ketika Kinan mengerjapkan matanya dan sadar dari tidurnya. Ia melihat jam di kamar itu dan menunjukkan pukul empat sore waktu setempat. Kinan melirik kesamping dimana Rey yang juga akhirnya tertidur pulas setelah kegiatan panas mereka beberapa jam sebelumnya.
Kinan menghela nafas panjang beberapa saat. Baginya, stamina suaminya itu tidak akan ada habisnya. Dan jika dituruti, Kinan yang dalam kondisi hamil akan selalu kewalahan.
Kinan bangkit dengan sisa-sisa tenaganya, ia akan mandi sejenak untuk memulihkan lagi energi yang rasanya seperti terkuras habis. Bagaimanapun, kehamilannya kadang membuatnya cepat lelah. Walau harus ia akui, entah kenapa has-ratnya juga langsung naik jika Rey memancingnya sedikit saja.
Kinan berlari kecil ke arah kamar mandi, dengan kondisi tubuhnya yang polos, ia meninggalkan Rey di tempat tidur sendirian. Ia masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan kran dan mengisi **bath**ub dengan air hangat. Tak lupa wanita itu meneteskan beberapa tetes aromatherapi kedalam air untuk merileks-kan pikiran dan tubuh lelahnya. Setelah dirasa cukup, Kinan masuk kedalam bak mandi itu untuk berendam.
Rey mera-ba posisi disebelahnya, ia mencari-cari keberadaan istrinya dalam keadaan mata yang masih tertutup. Ia terlonjak dan langsung terduduk ketika menyadari Kinan sudah tak ada disampingnya. Ada perasaan khawatir namun segera ia tepiskan. Rey mengusap wajahnya sebelum akhirnya ia berjalan menuju kamar mandi karena mendengar suara gemerisik air.
Rey mendorong pelan pintu kamar mandi itu, dan benar saja ternyata pintu itu tidak dikunci oleh Kinan. Ia melihat Kinan yang tengah menatap pemandangan laut dari jendela. Lalu, lelaki itu masuk kedalam kamar mandi dengan santainya, seolah lupa jika keadaannya saat ini sedang tidak mengenakan sehelai benang-pun ditubuhnya yang jangkung.
"Mas..!" Kinan terperanjat ketika menyadari seseorang telah masuk kedalam kamar mandi.
Rey terkekeh pelan melihat reaksi Kinan yang menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
"Hahaha" Tawa itu akhirnya meledak. Lalu tanpa persetujuan siapapun, lelaki itu masuk bergabung kedalam bathub yang sama, dimana tubuh Kinan juga tengah berendam disana.
"Mas, kau tidak malu berjalan santai tanpa pakaian seperti itu!"
Rey menggeleng pelan menyadari ucapan istri polosnya itu.
"Mas!" Kinan memukul pundak Rey ketika lelaki itu malah mengambil shampo dan tak menjawab pertanyaannya.
"Sayang, disini tidak ada siapapun. Hanya kita berdua. Kau juga sudah melihat tubuhku seutuhnya." Jawab Rey sambil mengerling nakal ke arah Kinan.
Kinan yang mendengar itu, kembali menyurukkan wajahnya menggunakan telapak tangannya sendiri. Jawaban frontal Rey berhasil membuatnya merona akibat malu.
"Kau masih malu saja, Sayang." Bisik Rey tepat ditelinga Kinan seraya menggeser pelan tubuh istrinya agar duduk berada didepannya dan ia membubuhkan shampo tadi ke rambut Kinan lalu memijat rambut istrinya dengan sangat lembut.
"Mas..geli!" Ucap Kinan saat Rey mencium telinganya yang basah. Rey selalu suka melihat telinga Kinan yang me-merah.
"Aku suka, kamu lucu kalau sudah merona begini." Jawab Rey dari balik tubuh Kinan. Ia yakin rona merah itu pun sudah menjalar sampai ke wajah Kinan sekarang.
Kinan mencebik, ia tak mau ada per-gu-mulan lagi di kamar mandi saat ini.
"Ya sudah, sekarang fokus mandi saja!" Ucap Kinan mencoba mengalihkan Rey.
Rey tersenyum miring, ia diam tapi tangannya sudah menjalar kemana-mana.
"Mas!" Kinan memekik ketika tangan Rey sudah bermain dibawah sana.
Rey terkekeh pelan tak menghiraukan Kinan, ia sekarang terfokus pada satu titik itu.
"Mas, kau lupa kita sudah melakukannya berapa kali tadi?"
"Aku tidak lupa."
"Kalau begitu, sekarang mandi dan jangan seperti ini." Kinan menarik pelan tangan Rey yang berada di pangkal paha-nya.
"Kau lupa kita kesini untuk apa?"
"Untuk bulan madu." Jawab Kinan polos.
"Ya sudah, ku pikir kau lupa." Ucap Rey tenang dengan has-rat yang sudah kembali.
"Tapi, Mas. Kau harus ingat aku sedang hamil sekarang!" Ucap Kinan.
"Aku tahu, lagi pula anak kita suka di jenguk." Rey langsung membungkam mulut Kinan dengan ciumannya, padahal Kinan masih mencerna ucapan Rey yang mengatakan kalimat 'anak yang suka dijenguk'.
_____Skipppppppp_______
°
Senja sudah didepan mata saat Rey dan Kinan sudah selesai dengan urusan mandi dan tambahannya yang lain. Mereka menemui Alex-Tour Guide-yang sempat dihubungi Rey beberapa menit lalu.
"Apa kalian akan menikmati sunset?" Tanya Alex dan diangguki oleh Rey.
"Baiklah, aku sudah menyewakan perahu untuk kalian naiki dan nikmatilah suasana senja di pulau ini." Jawab Alex ramah.
"Mas, apa kau yakin kita akan menaiki perahu itu?" Tanya Kinan dengan perasaan was-was.
"Hemm. Kau takut?" Tebak Rey.
Kinan mengangguk cepat.
"Nikmati liburan kita, aku akan menjagamu." Ucap Rey menenangkan Kinan.
Mereka pun menaiki perahu kecil itu dan mulai mengelilingi laut sambil menikmati suasana senja dan sunset yang mulai terlihat. Sesekali tangan Rey mengatur keseimbangan perahu menggunakan paddle atau dayung perahu.
"Kau masih takut?"
Kinan menggeleng, ia larut dalam suasana yang hening dan menenangkan di pulau itu.
"Kau lelah?"
"Sedikit."
Rey tersenyum mendengar jawaban Kinan. "Maafkan aku jika aku terlalu memaksakanmu." Jawab Rey sambil menyelipkan rambut Kinan ke samping telinga.
"Mas, kita baru menikah. Aku rasa itu wajar saja." Jawab Kinan bijak.
"Aku tidak bisa menahannya, aku seperti kecanduan pada istriku." Ucap Rey jujur seraya tersenyum tipis, Kinan terkekeh mendengar pengakuan Rey itu.
Mereka menghabiskan senja dengan saling melempar canda-an satu sama lain. Suasana itu mendukung keduanya untuk saling terbuka satu sama lain.
"Ki..."
"Ya?" Kinan menoleh ke arah Rey dan mengalihkan pandangannya dari sunset menjadi menatap suaminya.
"Aku masih penasaran tentangmu."
"Tentangku? Soal apa?"
"Aku sebenarnya tidak ingin membahasnya lagi, karena aku tahu itu hanya masa lalu. Tapi ini ku tanyakan hanya untuk menjawab rasa ingin tahu-ku saja."
"Tanyakanlah, Mas." Ucap Kinan, wanita itu menduga-duga apa yang akan Sang Suami tanyakan kepadanya.
"Apa dulu Ammar tidak pernah menyentuhmu?"
"Tentu saja pernah, Mas." Ucap Kinan. Ia mengingat jika dulu Ammar pernah mengecup bibirnya sekilas.
"Aku sadar, ini sangat tidak etis untuk ku tanyakan tapi yang aku tahu waktu pertama kali, emm...waktu itu, waktu itu kau--"
"Masih virgin?" Sambung Kinan memotong ucapan Rey dan Rey mengangguki.
"Semua itu masa lalu, Mas. Tapi jika kau ingin tahu, aku akan mengatakannya. Aku dan Mas Ammar tidak pernah melakukan sejauh yang pernah kita lakukan." Ungkap Kinan seraya menatap ke arah matahari yang terbenam perlahan-lahan.
"Itu berarti..?"
"Kau adalah orang pertama, Mas. Sama seperti perasaanku. Kau adalah orang pertama yang masuk kedalam hatiku." Ucap Kinan.
Rey menghirup udara senja itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Rasa penasarannya sudah terjawab sekarang.
"Aku dan Mas Ammar menikah karena permintaan Almarhum Mbak Wina, tidak ada cinta diantara kami." Lanjutnya, matanya lurus menatap kedepan sana.
"Tapi ku pikir, Ammar sudah jatuh cinta padamu." Ucap Rey.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu hal itu. Sudahlah Mas, aku tidak mau lagi memikirkannya. Kau sudah dapat jawaban untuk rasa penasaranmu kan?"
Rey tersenyum seraya mengangguk.
"Lalu, apa yang kau bisikkan pada Ammar waktu itu, sampai dia mundur dan membiarkan kita menikah?" Rey masih saja penasaran akan hal itu.
Kinan tersenyum tipis. "Aku mengatakan jika kita melakukan hal itu karena keinginan bersama dan kita sama-sama mabuk." Kinan menahan kekehan diujung kalimatnya.
Rey terperangah dengan jawaban Kinan.
"Benarkah? hanya agar Ammar mundur dan mengikhlaskanmu, kau mengatakan hal seperti itu? secara tak langsung, kau mengatakan jika kita melakukan one night stand?"
Kinan mengangguk. "Yah, dan itu aku lakukan agar dia tidak menuntutmu ke jalur hukum. Bagaimanapun, tindakanmu waktu itu adalah salah dan saat itu aku masih istrinya."
"Tapi dimata Ammar kau menjadi seorang penghianat, Sayang. Walaupun kau mengatakan itu hanya cinta satu malam karena mabuk, dia tetap akan menganggapmu salah."
"Dari awal dia sudah menyalahkanku, Mas. Aku tidak peduli lagi apa tanggapannya sekarang." Ucap Kinan tak acuh.
Rey menggeleng pelan, tak percaya dengan ucapan Kinan dan tak habis pikir dengan pola pikir wanita itu.
"Terima kasih, kau rela dianggap Ammar begitu demi menyelamatkanku dari tuntutannya." ucap Rey, ia mengelus puncak kepala istrinya. "Tapi aku memang pantas dihukum atas kesalahanku padamu, sayang." Mata Hazel itu berbinar menatap mata hitam milik Kinan.
"Tentu saja kau harus dihukum, hukumanmu adalah membahagiakanku seumur hidupmu." Ucap Kinan sambil tersenyum.
"Hanya itu? Itu prioritasku sayang. Apa tidak ada hukuman lainnya?" Bisik Rey lembut.
"Apa ya?" Kinan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau, membuatkanku sarapan setiap hari?" Ucap Kinan.
"Hahaha...Kau jangan bercanda sayang, aku tidak bisa memasak. Itu hukuman yang aneh sekaligus mengerikan."
Kinan menaik-naikkan alisnya merasa menang. "Kalau begitu itu saja. Deal?" Kinan menyodorkan jemarinya agar Rey menyambut uluran tangan itu.
"Tidak ada yang lain?"
Kinan menggeleng.
"Misalnya membawamu belanja apa saja, itu lebih baik."
"Aku bukan wanita yang gila belanja." Ucap Kinan memutar bola matanya.
"Aku akan membelikanmu barang-barang terbaru, branded dan hanya ada beberapa di dunia." Ucap Rey sambil tersenyum kecut. Ia yakin wanita akan suka hal seperti itu.
"No!" Kinan menirukan gaya bicara Rey. "Aku bukan wanita matrealistis! Kau yang meminta hukuman lain, Mas. Dan aku minta buatkan sarapanku setiap hari. Deal?"
Rey menggeleng seraya menjabat tangan Kinan. "Deal." Ucapnya lesu dan disambut suara tawa Kinan yang renyah.
"Seharusnya mengangguk bukan menggeleng." Protes Kinan.
"Hmmm."
Kinan terbahak melihat ekspresi lesu Rey. Sesekali matanya memandang langit yang mulai menggelap. Ini adalah pemandangan yang menyejukkan pikiran sekaligus membahagiakan. Terutama ini terjadi saat ia bersama dengan Rey, suaminya.
"Setelah ini kita akan makan malam." Ucap Rey dan diangguki oleh Kinan.
.
.
Bersambung...
Kalo banyak Like-nya, aku up satu episode lagi nanti malam🙏😂