How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Perpisahan



Mendung menjadi teman perjalanan Ammar menuju Kantor Pengadilan. Hari ini adalah panggilan pertama untuknya dari pengadilan, untuk membahas mengenai perceraiannya dengan Kinan. Upaya perdamaian akan dimulai, inilah saatnya Ammar untuk membujuk Kinan, karena Ammar yakin akan bertemu dengan Kinan disana nanti.


Ammar memarkirkan mobilnya dengan mantap dipelataran parkir. Setelah menelepon pengacaranya, Ammar memutuskan untuk masuk kedalam gedung pengadilan karena sang pengacara telah menunggunya di dalam.


Ammar memasuki ruangan yang akan mempertemukannya dengan pihak penggugat yakni istrinya sendiri, Kinanty. Ammar menelisik ke dalam ruangan itu, matanya mencari-cari keberadaan wanita yang ia harapkan kehadirannya, tapi nyatanya sang istri tidak berada disana. Hanya ada seorang pria yang mengaku sebagai kuasa hukum Kinan.


Ammar berjabat tangan sejenak dengan pria setengah baya itu, pria itu tersenyum ramah menatap Ammar sebagai sikap profesionalnya sebagai seorang pengacara. Ammar ingin menanyakan keberadaan Kinan, tapi tentu saja itu akan sia-sia. Karena sebelum Ammar bertanya, pengacara itu lebih dulu mengatakan bahwa klien-nya tak akan datang dan tak akan merubah keputusannya tentang gugatan perceraian ini.


Ammar mendesaah frustasi, mengusap gusar wajahnya didalam ruangan dingin ini. Ia merasa hati dan pikirannya amat panas, ketika hakim dengan mudahnya memutuskan akan langsung ke tahap selanjutnya yaitu tahap mediasi. Ammar merasa gagal karena tak bisa membujuk Kinan untuk menarik gugatannya. Padahal ia berharap sekali akan ada pertemuan dengan Kinan hari ini.


 --


Beberapa waktu berlalu, lagi-lagi Ammar harus menelan pil pahit, kenyataan memang tak berpihak pada dirinya.


Tahap mediasi telah dilakukan, namun Kinan tak pernah hadir untuk sekedar memperlihatkan wajahnya, bahkan untuk sekedar ucapan perpisahan pada Ammar. Dengan ketidak-hadiran Kinan disetiap pertemuan yang harusnya mereka lakukan, itu semakin membuat proses perceraian ini berjalan dengan cepat tanpa hambatan. Ammar menyerah dan putus asa.


Selanjutnya, Ammar hanya bisa pasrah saat pembacaan surat gugatan. Semua terasa begitu cepat, Kinan sudah menyerahkan keputusannya yang mutlak kepada pengacaranya dan itu berarti tidak ada kesempatan bagi Ammar untuk bisa mengubah perceraian ini.


"Apakah saya bisa bertemu dengan Kinan, Tuan?" Tanya Ammar berbasa-basi pada pengacara Kinan.


Pria dihadapan Ammar itu menyeringai, ia menatap Ammar sekilas seraya mengeluarkan kata-kata pamungkasnya.


"Jika anda ingin bertemu klien saya agar beliau merubah keputusannya, sepertinya itu akan membuang-buang waktu anda yang berharga." Jawab Pria itu dengan santai.


"Saya masih suaminya, saya berhak bertemu dengannya."


Pria itu menatap Ammar dengan tatapan prihatin.


"Mungkin anda bisa bertemu dengannya setelah semua ini selesai. Maaf saya harus undur diri." Pengacara itu sedikit menundukkan pandangan lalu pergi berlalu.


Setelah percakapan singkat itu, Ammar tak pernah sekalipun berniat untuk bicara dan bernegosiasi dengan pengacara Kinan. Pengacaranya sendiri pun tak bisa berbuat banyak untuk membantu Ammar menggagalkan keputusan hakim. Karena semua alasan Kinan untuk berpisah dengan Ammar sangat memberatkan untuk pihak Ammar.


Tak tanggung-tanggung, Kinan menggugat dengan alasan tak pernah diberi nafkah lahir dan batin. Selain itu, sebagai istri, Kinan juga tak pernah dianggap keberadaannya oleh Ammar dan semua yang sang istri lalui luput dari pengawasan Ammar, sehingga Ammar tidak tahu menahu tentang kejadian buruk yang terjadi pada istrinya. Kinan juga menuntut hak asasinya karena sempat dimasukkan ke RSJ oleh Ammar, padahal riwayat penyakitnya masih bisa jika ia melalui proses rawat jalan di rumah dengan rutin menemui psikiater, terlebih mengingat kondisi Kinan yang tengah mengandung. Untuk semua gugatan yang diajukan Kinan, Ammar terpukul telak dan tak bisa mengelak. Hingga keputusan Hakim jatuh, bahwa mereka berdua telah resmi bercerai. Palu itu diketuk pertanda keputisan itu telah sah dan tidak bisa di ganggu gugat. Kinanty dan Ammar telah resmi berpisah.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Sudahlah Ammar, mau sampai kapan kamu begini terus? Pikirkan nasib anak-anakmu!" Ucap Latifa menasihati Ammar yang belakangan hari tampak murung, terutama setelah perceraiannya dengan Kinan. Mereka berdua tengah duduk di teras depan.


"Ini semua karena Mama dan Shirly!" Ammar berucap datar tanpa melihat sang Mama. "Mana dia, Ma? Sampai saat ini aku belum melihatnya kesini!" Sambung Ammar lagi.


"Shirly ke Luar Negeri, Ammar. Mama sudah memberikan pesan dan dia pasti akan kesini jika sudah kembali!"


"Aku akan menunggu kedatangannya, Ma." Ammar tersenyum licik. Menerka-nerka hukaman apa yang pantas untuk wanita yang menjadi salah satu penyebab kehancuran rumah tangganya itu.


"Setelah semuanya jelas, akan ku pastikan Mama juga tidak bisa tinggal disini lagi." Ammar menatap tajam wanita tua yang duduk di sampingnya.


"Apakah kau akan mengusir mama hanya karena Kinan, Ammar? Ingatlah aku ini Ibu yang melahirkanmu!" Suara Latifa terdengar bergetar ketakutan tapi mencoba membela diri.


Ammar bangkit dari posisinya. Memasukkan jemarinya kedalam saku celana dan memandang lurus ke halaman.


"Setelah semua yang terjadi, kenapa baru sekarang Mama menyadari bahwa Mama juga seorang ibu, Ma? Jika mama seorang ibu yang baik, harusnya Mama yang menasehati aku ketika aku salah menilai istriku. Harusnya Mama yang menengahi kami!" Suara Ammar meninggi.


"Untuk sementara, tapi seperti ku bilang tadi, Ma. Apabila semuanya sudah jelas. Aku akan memutuskan bagaimana selanjutnya aku harus bersikap pada Mama."


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Hallo, Tuan Manager..." Kevin menyapa Rey yang baru saja tiba di sebuah cafe tempat mereka membuat janji temu.


"Bisa aja lo!" Rey tersenyum miring sambil melambaikan tangan untuk memanggil pelayan cafe.


"Jadi gimana? Lo udah tau dimana Kinan?" Kevin menyesap minumannya dari sedotan.


Rey menggeleng, lalu melanjutkan memilih pesanan di buku menu.


"Tapi lo udah tau kan kalo dia udah resmi bercerai?" Tanya Kevin dengan santai. Ia mengira Rey pasti sudah mendengar hal ini.


"Maksud lo?" Rey sudah selesai dengan pesanannya dan menatap serius ke arah Kevin. Ia sedikit terkejut, sepertinya ia belum mengetahui hal itu.


"Lo gak tau? Bokap lo gak ngasih tau lo, Nyuk?"


Rey bergeming. Matanya seperti menerawang jauh.


"Woi, Nyuk! Seriusan lo gak tau?"


Rey tak langsung menjawab, ia diam sesaat sebelum akhirnya bersuara. "Udahlah, Nyet. Jangan bahas ini lagi." Rey mendesahh pelan.


Kevin menatap bingung pada sahabatnya, Rey tak seperti biasanya, seharusnya ini adalah kabar baik yang Rey terima tapi kenapa Rey seperti tak bersemangat.


"Lo gak mau bahas soal perceraian Kinan atau lo--"


"Jangan bahas Kinan lagi." Ucap Rey datar.


"What? Jangan bilang lo udah nyerah dan mau ngelupain dia!" Kevin beedecak lidah sambil menggelengkan pelan kepalanya.


"Udah lo mending makan aja, Nyet!"


Lagi-lagi Kevin menggelengkan kepalanya. "Wah, parah lo, Nyuk! Baru kemaren gue liat lo bucin se-bucin-bucinnya, hari ini lo udah kayak gini!" Kevin terus menatap heran pada Rey.


Rey cuek saja dan memutuskan menyantap makanan yang sudah terhidang dihadapannya dan tak meladeni ucapan Kevin.


.


.


.


.


Bersambung...