How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Terjadi sesuatu?



Mona menatap sekelilingnya, ia menyadari jika kini ia tengah berada ditempat asing. Sebuah kamar yang tidak ia ketahui milik siapa. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit, sambil mengingat mabuknya semalam.


Mona juga melihat pakaiannya yang sudah berganti menjadi pakaian milik orang lain. Ini keterlaluan. Apa yang telah terjadi semalam?


Saat Mona masih mengingat-ingat hal apa yang ia lakukan dalam kondisi mabuk malam tadi, terdengar suara pintu yang terbuka. Menampilkan sesosok pemuda yang familiar dipenglihatannya.


"Kau?" Mona tidak begitu terkejut mendapati Doni berada disana, karena pasti Doni sering menghabiskan malam di Club. Tidak salah jika pemuda itu menemukannya dalam kondisi mabuk semalam. Pemuda itu tersenyum miring. Berarti benar, Doni yang membawanya ke tempat ini.


"Kau sudah bangun? Patah hatimu sudah sembuh?" Tanya Doni seraya mengejek. Pemuda itu masuk dan meletakkan segelas jus jeruk diatas nakas. "Minum! Ini lebih baik untuk wanita daripada alkohol." Ucapnya sambil terkekeh diujung kalimat itu.


Mona mencebik. Darimana Doni tahu jika ia sedang patah hati? Pasti ia meracau tak jelas karena mabuk, kebiasaan yang sulit dihindarinya ketika sudah berurusan dengan minuman ber-alkohol itu.


"Jangan bilang terjadi sesuatu diantara kita malam tadi!" Ucap Mona dengan nada mengancam. "Aku akan buat perhitungan denganmu!" Lanjutnya.


Doni terkekeh lagi, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Jika memang terjadi sesuatu, memangnya kau akan berbuat apa padaku?" Tantang pemuda itu, sedetik kemudian wajahnya mendekat ke wajah Mona, membuat Mona melotot tajam akan ulah tengil Doni yang mengintimidasinya.


"Beraninya kau!" Mona menggeram dalam posisi wajah yang berdekatan dengan Doni. Sedikitpun ia tak gentar dan takut.


Doni menyeringai, bangkit dari posisinya yang setengah membungkuk dihadapan Mona. Pemuda itu hanya mengangkat bahu seraya berjalan santai untuk keluar dari kamar itu.


"Hei! Kau harus memberiku penjelasan!"


Doni menoleh. "Iya wanita bar-bar! Memang terjadi sesuatu diantara kita malam tadi." Jawabnya enteng.


"Br*ng*ek kau!" Mona bangkit dari duduknya, siap untuk menerkam Doni.


Doni refleks mundur. "Kau lihat? Kau yang begitu agresif tapi kau menyalahkan aku!" Cetusnya.


Mona mengejar Doni yang berlari keluar kamar setelah mengucapkan kalimat itu. Dan sesampainya diluar kamar, Mona terkejut sekaligus merasa malu karena disana ia melihat seorang wanita lain yang menatap dirinya dengan tatapan heran. Mona merasa Doni terlalu serakah, bisa-bisanya dia membawa Mona kesini sementara disini ada wanita lainnya juga.


"Beraninya kau membawaku kesini saat kau juga memiliki kekasih?" Mona menatap Doni penuh amarah, sementara pemuda itu menautkan alisnya satu sama lain, karena bingung dengan ucapan Mona.


"Kau sudah bangun?" Tanya wanita dihadapan Mona itu. Suaranya lembut, wanita itu berujar dengan aksen inggris-nya yang kental. Mona menjadi bingung karena ternyata wanita itu menanyainya dan bukan Doni.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


"Sayang..." Rey melingkarkan tangannya diperut Kinan yang sudah mulai membuncit. Posisinya tengah berdiri dibelakang Kinan.


"Kenapa Mas?" Kinan berbalik badan dan sedikit mendongak untuk melihat wajah suaminya.


"Apa selama hamil ada keinginanmu yang belum terpenuhi?" Tanya Rey serius. Ia mengelus perut Kinan perlahan.


Kinan tersenyum, berusaha mengingat sebentar lalu sedetik kemudian dia menjentikkan jarinya.


"Ada."


"Apa?"


"Memangnya kamu mau kabulin buat aku?" Tanya Kinan dengan binar penuh harapan dimatanya.


Rey mengangguk yakin.


"Serius?"


"Iya, sayang."


"Kalau aneh-aneh gimana?"


"Maksudnya? Ya jangan yang aneh-aneh. Aku usahakan akan mengabulkannya!" Jawab Rey sambil memegang kedua pundak Kinan.


Kinan melirik ke kiri dan ke kanan. Ia berjinjit untuk menjangkau telinga suaminya dan membisikkan sesuatu disana.


"Apa?" Pekik Rey seolah baru saja salah mendengar sesuatu.


"Iya, Mas." Kinan mengangguk-angguk kecil meyakinkan Rey agar suaminya itu percaya pada permintaannya.


Rey mengusap wajahnya kasar, menelan ludahnya pun rasanya sangat sulit saat ini. Mendadak ia menyesal menanyakan hal tadi pada istrinya. Tapi hatinya meyakinkan jika memang begitulah seharusnya yang ia lakukan sebagai seorang calon Ayah.


"Kalau kamu gak mau juga gak apa-apa." Ucap Kinan seraya mencebikkan bibirnya.


"A-aku mau, sayang. Iya aku mau!" Ucap Rey sambil tersenyum yang sangat dipaksakan.


Kinan menahan tawanya yang hampir meledak, bisa-bisanya Rey mau menuruti permintaannya itu.


____


Jika ada hal paling memalukan yang dilakukan Rey seumur hidupnya, itu adalah saat ini. Mengikuti permintaan istrinya yang tengah hamil.


Rey menggeleng, ia sudah bertekad untuk mengikuti kemauan Kinan. Apalagi ini keinginan Kinan-nya dari beberapa bulan lalu saat masih mengidam.


"Aku akan melakukannya, kamu bahagia kan?" Tanyanya pada Kinan.


Kinan tersenyum seraya mengangguk. "Aku bahagia, Mas. Begitu juga anak kamu!" Jawabnya sambil mengelus perutnya sendiri.


Tak berapa lama, Nyonya Zehra datang dari arah kebun belakang, tentu saja wanita itu akan melewati tempat Kinan dan Rey berada jika ingin memasuki rumah utama, karena saat ini Rey dan Kinan tengah berada diteras belakang rumah.


"Apa yang sedang kalian lakukan, Rey?" Tanya Nyonya Zehra sambil menahan gelaknya. Ia sudah tak tahan lagi dan begitu melihat wajah Rey dari dekat ia benar-benar tergelak karena lucu.


"Permintaan cucu Mama. Belum lahir saja permintaannya sudah aneh." Rey mencebik tapi Kinan melotot ke arahnya sehingga dia memaksakan tersenyum kembali.


"Kamu masih ngidam, Ki?" Nyonya Zehra menatap Kinan.


Kinan menggeleng. "Ini keinginan dimasa ngidam yang belum terpenuhi. Jadi Mas Rey akan melakukannya sekarang." Jawab Kinan sekenanya.


Dua wanita itu terus tertawa-tawa dihadapan Rey yang cemberut. Bagaimana tidak, saat ini Rey tengah diam dihadapan Kinan sedangkan Kinan tengah memberi lipstick dibibir suaminya itu, ia sedang melakukan make-over pada wajah Rey.


"Selesai." Ucap Kinan, wajahnya begitu semringah menatap suaminya yang sudah 'cantik'.


Nyonya Zehra yang ikut memperhatikan pun semakin meledakkan tawanya. Rey sudah diberikan riasan natural oleh Kinan, lengkap dengan eyeliner, blush on dan juga lisptick dengan warna nude di bibirnya.


"Jangan tertawa, Ma!" Ucap Rey merengut. Tapi Mama Rey itu malah semakin tertawa sambil memegangi perutnya sendiri.


"Jangan cemberut, Mas!" Celetuk Kinan dan Rey memasang senyumnya yang dipaksakan.


"Cantik!" Ujar Nyonya Zehra tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak untuk mengatakan itu pada Rey. Rey ikut terkekeh juga pada akhirnya.


"Sekarang rambut!" Ucap Kinan.


"Hah? Ada lagi?" Rey terkejut lalu bertanya sambil menghela nafas panjang.


"Iya, Mas. Rambutnya mau aku catok." Jawab Kinan polos dan enteng.


Rey menepuk jidatnya sendiri. "Baiklah, lakukan apapun yang membuatmu bahagia." Ucapnya pasrah.


Nyonya Zehra kembali tertawa, anak semata wayangnya benar-benar habis kali ini. Rey yang selalu membangkang dihadapan Ayahnya itu, harus bertekuk lutut dan menuruti permintaan istrinya. Nyonya Zehra menunjukkan dua jempolnya dihadapan Kinan.


"Mungkin hanya Kinan yang bisa mencairkan keras kepalamu itu, Rey." Batin Nyonya Zehra.


"Jangan lupa cat kukunya, Ki!" Celetuk Nyonya Zehra seraya melangkah masuk kedalam rumah. Mata Rey refleks membola mendengarnya.


"Siap, Ma!" Sahut Kinan yang membuat Rey semakin lemas membayangkan kukunya yang harus berwarna-warni.


Tak berapa lama, pelayan datang untuk menyajikan minuman pada Rey dan Kinan. Pelayan wanita itu menahan senyumnya, ia bahkan menutup bibirnya dengan tangannya sendiri karena melihat Rey yang di-dandani Kinan.


"Apa ada yang lucu?" Rey menatap pelayan itu. Dan pelayan wanita itu menggeleng lemah sambil mengulumm senyumnya.


"Bagus!" Ucap Rey.


"Kamu lucu, Mas. Dia tidak berani jujur pada kita!" Celetuk Kinan sambil terkekeh. Pelayan itu jadi semakin salah tingkah.


Rey ingin marah tapi dia sadar bahwa sekarang dia memang pasti sangat lucu dipandangan orang lain.


"Sini kamu!" Ucap Rey pelan. Pelayan muda itu mengikuti keinginan Rey. Rey memberikan ponselnya pada pelayan itu. "Tolong fotokan saya dan istri saya sekarang, ya." Ucapnya. Dan pelayan itu pun menuruti.


Satu kali. Dua kali. Tanpa terasa, banyak sekali pose Rey dan Kinan yang di potret oleh pelayan itu.


Rey menatap binar bahagia diwajah istrinya, Kinan-nya yang tak berhenti tersenyum dan tertawa hari ini, membuat Rey semakin merasa ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dihatinya. Terasa lucu, menggelitik, damai dan menenangkan.


Seusai kepergian pelayan itu, Rey menarik Kinan dalam dekapannya. Ia menghirup aroma Kinan dan terlintas pikiran aneh dalam kepalanya.


"Permintaan kamu udah. Sekarang giliran aku!" Ucapnya seraya menaik-naikkan alisnya dihadapan Kinan.


.


.


.


.


Bersambung...


Tolong hadiah 🙏🙏🙏 Aku maksa🤣