How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - One fine day



"Joana, hari ini Daddy mengikhlaskanmu untuk menikah dengan Ammar." kata Nathan yang diangguki oleh yang lainnya. Pria paruh baya itupun memeluk putri satu-satunya yang sangat dia kasihi.


Joana hanya bisa menangis haru didalam pelukan sang Ayah, kucuran airmata haru bercampur bahagia tidak bisa terbendung lagi, ia meluapkan seluruh perasaannya bersamaan dengan airmata yang meluruh.


"Sudah, sudah.. ayo acaranya segera dimulai..." bisik Julia ditelinga suaminya, lalu Nathan melepaskan pelukannya pada putri satu-satunya.


Joana menatap Ammar yang masih tersenyum simpul, matanya mengisyaratkan akan menuntut penjelas pada Ammar akan semua yang terjadi secara dadakan dan tiba-tiba. Bukan dia tidak senang, tapi ini sungguh diluar perkiraannya. Pernikahan dadakan yang bahkan tidak pernah dia pikirkan.


Joana berpikir, dia akan meminta restu dulu pada orangtuanya di London. Tapi ternyata perhelatan ini sudah digelar didepan mata.


"Kau harus menjelaskannya padaku," bisik Joana pada Ammar seraya mencubit pinggang Ammar karena sedikit kesal.


Ammar meringis. "Aw ... iya, iya lepaskan aku." katanya, lalu mereka terkekeh bersamaan.


Mereka pun dipisahkan sementara. Tangan Joana ditarik oleh Mama dan Tantenya yaitu Ibunda Doni. Sedangkan Ammar, mengikuti instruksi dari Doni dan para tetua pelaksana acara sakral mereka untuk menuju tempat berlangsungnya ikrar pernikahan.


Joana masih menangis, kepalanya ia sandarkan dibahu sang Mama, Julia mengelus kepala anaknya yang pasrah dipundaknya.


"Tidak terasa, anak gadis Mama sudah akan menikah." kata Julia sambil menatap detik-detik Ammar yang sedang mengucapkan ikrar janji pernikahan didepan sana.


"Ma, aku-aku sangat terkejut..." isak Joana. "Ini semua diluar ekspektasiku." sambungnya.


"Apa kau suka dekorasinya?" timpal Mama Doni.


"Ya, Aunty.. aku menyukai ini. Ini seperti pernikahan impianku, tapi di dalam mimpiku, akulah yang mengatur semuanya," katanya sambil menangis haru saat mendengar bahwa Ammar menyebut namanya dan dilanjutkan suara para saksi yang mengucapkan kata 'sah' diujung sana.


"No, pengantin hanya perlu menikmati suasananya. Tidak perlu repot karena sudah ada W.O yang mengurus. Kau tidak kecewa dengan ini kan? Are you happy?" tanya Tantenya.


Joana mengangguk sambil menyeka airmatanya, lalu sepasang tangan menuntunnya untuk bergabung bersama Ammar, itulah tangan Sinta yang menatapnya dengan senyuman secerah mentari.


"Selamat, kalian sudah resmi menikah." kata Sinta, lalu mereka berpelukan sejenak.


Julia mengusap airmata haru menggunakan tisu, saat Joana menatapnya, dia pun ikut memeluk putrinya.


"Mama..."


"Selamat sayang, jadilah istri yang baik. Jangan lari dari masalah, dampingi suamimu apapun yang terjadi karena dia sudah memilihmu dan dialah pilihanmu." kata Julia menasehati dengan bijak.


"Iya, Ma. Terima kasih, Ma." Joana menangis lagi dipelukan sang Mama, Mama mengelus punggung anaknya dengan kasih sayang.


"Pengantin wanita, selamat ya.." celetuk seseorang yang baru saja memasuki ruangan yang mereka tempati.


Joana menatapnya, disana ada Kinan yang tersenyum.


"Kinan..." Joana menghambur pada Kinan dan Kinan membalas pelukan Joana.


"Selamat, aku ikut bahagia melihat ini. Aku adalah salah satu orang yang menunggu momen spesial ini." kata Kinan sambil terkekeh kecil.


"Iya, Ki. Terima kasih telah membawaku pada kehidupan Ammar."


"Bukan aku, tapi ini semua sudah diatur dan ditakdirkan sama Sang Maha Kuasa yang memberi jodoh." jawab Kinan bijak.


Mereka semua mengangguki ucapan Kinan lalu keluar menuju area utama perhelatan acara itu, dimana Ammar dan yang lainnya sudah berkumpul disana dan menunggu kehadiran Joana.


Joana diantarkan oleh Kinan, Sinta dan Desi yang juga baru tiba dan mengucapkan kata selamat. Mereka pun menuju tempat Ammar berdiri, lalu membiarkan sepasang pengantin itu untuk berdampingan.


Bersamaan dengan itu, sepasang anak datang menghampiri mereka, Shaka dan Lesya memegang masing-masing satu kotak cincin yang berbeda.


Ammar berdehem sebelum melanjutkan perkataannya.


"Ehmm, ehmm..maaf jika acara ini sangat mengejutkanmu.." katanya menatap lekat pada mata kecokelatan milik Joana.


Joana menoleh dan membalas tatapan mata intens itu. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, membentuk pola suatu garis lurus, melupakan orang-orang disekitar yang juga tengah mendengarksn ucapan yang akan disampaikan Ammar.


"Akibat penolakanmu waktu itu, aku membeli lagi sepasang cincin yang baru untuk hari ini. Hari dimana pernikahan kita benar-benar terjadi, hari dimana aku benar-benar sudah menantikannya dan hari dimana saat inilah aku menjadi suamimu dan kamu sudah resmi menjadi istriku.." kata Ammar.


Joana tersengguk mendengar ucapan Ammar itu, dia tidak menyangka lelaki yang sudah jadi suaminya bisa mengucapkan kata seromantis itu. Joana kembali meneteskan airmata haru.


"Jo, jangan menangis." Ammar menghapus airmata Joana dengan tangannya, mereka benar-benar melupakan oranglain yang sebenarnya menonton aksi manis sepasang pengantin dadakan itu. (termasuk othor😂)


"Ini air mata kebahagiaan," ucap Joana.


Ammar tersenyum kecil. "Hari ini aku sangat bahagia karena bisa melihat airmata kebahagiaanmu, sayang." bisik Ammar tepat ditelinga Joana. Dan aksi itu mendapat sorakan orang sekitar meski mereka tidak mendengar apa yang Ammar katakan pada Joana.


"Huhuuuu... mereka so sweet sekali." kelakar Kevin.


"Aku jadi iri. Istriku tidak menangis saat pernikahan kami. Dia malah menertawaiku.." timpal Doni, dia mengingat pernikahannya dengan Sinta yang beberapa kali salah mengucap ijab qabul dan Sinta malah menertawainya setelah mereka resmi menjadi suami-istri.


Rey dan Kinan ikut terkekeh melihat tingkah Akward Kevin dan Doni.


"Teman-temanmu memang amazing, Mas." celetuk Kinan yang hanya di dengan oleh Rey.


Rey tersenyum sekilas. "Begitulah, mereka beruntung aku masih mau menganggap mereka sebagai teman." jawab Rey pongah.


Rey terkekeh. "Ya, tapi aku masih bisa menjaga image, sayang. Tidak memalukan didepan umum seperti mereka." kelakar Rey yang ternyata didengar oleh Kevin dan Doni, keduanya melotot tajam pada Rey dan Rey hanya terkekeh menanggapinya.


"Papa, ini cincinnya.." celetuk Shaka yang ternyata sedari tadi tidak nampak dimata Ammar.


"Oh, Astaga.. maaf Papa hampir lupa." kata Ammar sambil menepuk keningnya sendiri.


Joana terkekeh sampai membungkam mulutnya, Lesya juga melakukan hal yang sama.


"Jo, yang dibawa Shaka adalah sepasang cincin baru. Aku membeli lagi sepasang cincin itu meski kau sudah menolakku waktu itu. Aku menyesal sudah membuang cincin yang pertama kedalam kolam renang. Akhirnya aku membeli sepasang yang baru karena entah kenapa, aku yakin jika kita benar-benar akan menikah."


Ammar mengambil kotak cincin dari tangan Shaka dan membukanya dihadapan Joana. Semua orang bertepuk tangan menyaksikan adegan dan pernyataan Ammar itu.


"Aku pikir, aku akan membawa sepasang cincin ini bersamaku saat aku ke London untuk meminta restu dari orangtuamu sekaligus menjemputmu." Ammar menghela nafasnya sejenak. "Sayangnya, aku malah bertemu mereka saat akan berkemas ke panti asuhan. Orangtuamu yang mengunjungi kantorku. Aku sangat sungkan karena aku belum memenuhi janjiku pada mereka yaitu mau mengunjungi mereka saat aku sembuh."


Joana menatap kedua orangtuanya yang mengangguki ucapan Ammar, Joana sendiri tidak tahu jika kedua orangtuanya sudah kembali ke Indonesia.


"Mereka tidak memberitahuku dimana keberadaanmu, mereka hanya mengatakan jika mungkin kau pergi dan menolakku karena status dan masa laluku."


Joana mengangguk ragu, dia tertunduk.


"Mereka ternyata sudah mengetahui tentangku, Jo. Tahu segalanya sejak mereka mengunjungiku dirumah sakit waktu itu. Aku juga terkejut karena Doni berkata tidak pernah memberitahu."


Kedua orangtua Joana mengangguk. "Kami sudah tahu sejak kami masih di London, sebelum kami ke Indonesia karena kasus yang dibuat Xander." sahut Julia.


"Darimana Mama dan Papa tahu?" tanya Joana.


"Rahasia.." celoteh Mama sambil tergelak.


Joana mencebik.


"Daddy merestui kalian langsung saat itu juga, apalagi mendengar Ammar sudah menyelamatkanmu dari Xander. Daddy sangat percaya dia bisa menjagamu." kata Nathan menimpali.


Semua yang ada disana tersenyum cerah mengetahui fakta ini, ternyata orangtua Joana memiliki pikiran yang terbuka. Lagupula, mungkin Ammar akan lebih baik untuk Joana daripada anak perempuan mereka terus berlanjut bersama Xander. Mereka cukup trauma karena Joana pernah memiliki mantan kekasih seperti Xander, jadi mereka merestui dengan Ammar. Walau masalalu Ammar buruk, tapi orangtua Joana tahu jika Ammar sudah berubah menjadi lebih baik dan dia layak mendapat kesempatan.


Ammar menarik tangan Joana, siap memasangkan cincin tapi Joana mengambil kembali tangannya.


"Bagaimana dengan kotak yang dipegang Lesya? Itu kotak apa?" tanya Joana.


Lesya menyerahkan kotak itu pada Ammar dan Ammar menyambutnya.


"Ini adalah kotak cincin pertama yang ku beli. Didalamnya hanya ada cincinku tapi cincin milikmu sudah aku buang waktu itu dikolam renang." Ammar terkekeh karena didalam kepalanya terbayang saat Joana memungut cincin yang dia buang didalam kolam renang.


"Aku tidak melihat pasangan cincinnya terpasang dijarimu, jadi... kita pakai yang baru saja." kata Amamr lagi.


"No.." Joana mencegah Ammar, "Sebenarnya cincinnya ada padaku. Kau sudah melihatnya kan? Kalau aku memungut cincin itu di kolam renang?"


Ammar mengulum senyumnya seraya mengangguk. "Jadi kau mau ku pasangkan cincin yang mana?" tanyanya.


"Yang pertama saja, aku sudah susah payah mengambilnya." kata Joana cepat.


Mereka yang hadir disana pun tergelak akibat ucapan Joana, mereka ikut membayangkan apa yang mereka lihat di rekaman CCTV, saat Joana mencari-cari cincin kecilnya didalam kolam renang yang luas. Rey, Kinan, Sinta, Doni, Kevin dan Desi, mereka semua tertawa karena mereka sudah melihat rekaman itu berulang kali. Saat melihatnya, mereka merasa iba bercampur geli karena Joana sudah menolak Ammar waktu itu tapi dia malah kembali ke hotel dan masuk keldalam kolam renang tanpa pikir panjang untuk mencari cincin yang Ammar buang.


"Mana cincinnya? Biar ku pasangkan." kata Ammar.


Joana membuka kalungnya, ternyata cincin itu dia sematkan didalam kalung yang ia kenakan. Ammar baru menyadari jika bandul kalung yang Joana kenakan adalah cincin pemberiannya. Padahal dia memperhatikan Joana dengan sangat detail, tapi kenapa cincin itu baru terlihat sekarang saat Joana membuka kalungnya?


"Ini..." Joana menyerahkan cincinnya pada Ammar. Ammar memasukkan kotak cincin pertama yang diberi Shaka kedalam saku celananya. Kemudian diam membuka kotak cincin kedua yang diberikan Lesya. Ternyata benar, disana hanya ada satu cincin yang seharusnya Ammar kenakan.


Mereka pun bertukaran cincin setelah sebelumnya sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Mereka tersenyum bahagia saat keduanya sudah mengenakan cincin masing-masing.


Suara riuh orang-orang didalam mansion menyoraki kebahagiaan mereka. Orang-orang itu sebagian besar adalah keluarga dan teman dekat, serta pelayan yang bekerja di Mansion. Untuk saat ini, mereka belum menggelar resepsi dan pernikahan ini baru diketahui orang terdekat dan anak-anak panti saja.


Kucuran ucapan selamat tak henti-hentinya terdengar dan terucap untuk pasangan baru itu. Keduanya tampak bahagia, mereka melakukan proses sungkem pada kedua orangtua Joana dan pada Latifa, Ibu Ammar.


"Apa kau bahagia?" tanya Ammar saat mereka duduk bersisian disebuah kursi kayu dekat meja prasmanan. Semua telah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang tengah makan, bernyanyi ria dan sebagian anak-anak bermain di halaman Mansion yang luas. Acara mereka terkonsep dengan sangat kekeluargaan. Semuanya apa adanya, tidak terlalu formal dan tidak ada kecanggungan.


"Aku sangat bahagia... Thanks, Ammar." kata Joana dengan mata berkaca-kaca.


Ammar mengelus pipi Joana, "Jangan menangis lagi. Semuanya akan kita mulai dengan kebahagiaan." kata Ammar lembut.


Joana mengangguk-angguk dan Amamr merangkul tubuh perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu.


"Aku bahagia, sangat bahagia. Terima kasih suamiku." kata Joana mengelus tangan Ammar yang melingkari pundaknya.


Wajah Ammar memerah mendengar ucapan Joana yang memanggilnya dengan sebutan 'Suamiku'.


"Aku juga bahagia, kebahagiaanmu adalah milikku, Sayang." jawab Ammar sambil menciumi telapak tangan Joana dengan bertubi-tubi.


Next????