How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Hangout



Kinan dan Joana tengah duduk dibawah pohon maple, mereka sesekali tersenyum bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama diluar rumah. Joana memang menjadi teman yang baik untuk Kinan. Selain mendengarkan semua cerita Kinan dengan seksama, ia sangat mengerti kondisi Kinan. Tak sekalipun ia menatap Kinan dengan tatapan kasihan ataupun tatapan aneh yang membuat Kinan merasa kecil hati. Joana pandai sekali membawa diri dan ia tahu kapan ia harus bertutur kata. Ia memang layak menjadi seorang Psikiater handal.


"Ah, Kinan. Sepertinya waktu jalan-jalan kita akan berakhir sampai disini." Ucap Joana pada Kinan seraya menatap jam yang melingkar di pergelangannya.


"Tak apa, Jo. Kita sudah menghabiskan waktu hampir setengah hari. Ini adalah hari terbaik yang aku miliki semenjak aku tinggal di Negara ini." Kinan tersenyum menatap Joana.


Saat mereka tengah mengobrol singkat untuk mengakhiri pertemuan mereka, tiba-tiba saja seorang pemuda datang menghampiri keduanya.


"Hai.." Sapa pemuda itu, ia melihat Joana yang juga tengah menatapnya.


"Hai.." Balas Joana ramah. Sepertinya pemuda itu dan Joana saling mengenal satu sama lain.


"Apa dia pacarmu?" Bisik Kinan pada Joana. Joana menatap heran pada Kinan.


"Your boyfriend?" Tanya Kinan lagi ke arah Joana. Joana malah tertawa dengan pertanyaan Kinan.


"No! My cousin. Dia sepupuku!" Joana masih tertawa kecil. "Ayo, kalian berkenalan-lah!" Pinta Joana. Ia menatap Kinan seraya melihat pemuda itu bergantian.


Pemuda itu mengalihkan pandangan ke arah Kinan.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya pemuda itu pada Kinan. Kinan menggeleng.


"Benarkah? Aku yakin pernah bertemu denganmu." Ucap pemuda itu lagi sambil seolah berfikir.


"Ah, kau selalu punya cara jika berkenalan dengan wanita cantik." Sindir Joana pada pemuda itu. Sang pemuda memutar bola matanya malas.


Mereka tertawa bersama, kemudian pemuda itu lebih dulu mengulurkan tangan ke hadapan Kinan. "Aku Doni." Ucapnya.


"Aku Kinan." Kinan menjabat tangan Doni. Doni terus memperhatikan wanita yang baru saja ia kenal ini, ia merasa pernah melihat Kinan di suatu tempat, tapi ia lupa dimana. Tanpa sadar ia tak melepaskan jabatan tangan itu walau Kinan sudah berusaha melepaskannya.


"Ehemmm" Joana berdehem keras untuk menyadarkan Doni. Doni pun menjadi salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kau harus memaklumi sepupuku ini, dia akan bertingkah konyol jika bertemu wanita yang menarik." Joana terkekeh diujung kalimatnya, membuat Kinan ikut tertawa kecil.


"Apa kalian benar-benar bersepupu? Kalian tidak mirip!" Celetuk Kinan lebih ke arah bercanda pada keduanya.


"Daddy-ku adalah orang London asli, begitu juga dengan Mommy-nya Doni. Mereka adalah bro and sist." Ucap Joana menjelaskan. Kinan tersenyum simpul mencoba mencerna ucapan Joana.


"Maaf ya, sepupuku ini suka campur-campur bahasa." Celetuk Doni. "Ayah Joana adalah kakaknya Ibuku. Mereka orang London Asli. Sedangkan Ibu Joana adalah orang Jogja. Dan Ayahku adalah orang Jakarta. Intinya, orangtua kami adalah campuran Indonesia dan bule London." Doni memperjelas dengan terkekeh lagi. Ia banyak tertawa, sepertinya ia pemuda yang humoris.


"Pantas saja kalian fasih berbahasa Indonesia." Kinan mengangguk-angguk mengerti.


"Don, bisakah Kinan ikut saja dengan kita? Aku dan dia baru saja mengucapkan akan mengakhiri pertemuan kami. Tapi ku rasa, kenapa dia tak ikut saja nonton bersama kita?" Joana menaik-naikkan alisnya menatap Doni.


"Baiklah sepupuku, sayang." Jawab Doni sambil melangkah menuju mobilnya. Joana menarik tangan Kinan untuk mengikutinya dan Doni ke arah parkiran mobil, tanpa bertanya dulu perihal bersedia atau tidaknya Kinan mengikuti mereka. Kinan hanya bisa pasrah dan akhirnya ikut memasuki mobil Doni.


Mobil mereka pun melaju menuju bioskop, tentu saja dibelakangnya akan ada satu mobil lagi yang ikut. Itu adalah mobil pelayan yang ditugaskan menjaga Kinan. Mereka terkadang bukan seperti pelayan, tapi lebih cocok menjadi bodyguard yang mengawal dan membuntuti kemana pun Kinan pergi.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Kevin menatap Desi yang duduk dihadapannya. Mereka baru saja menyelesaikan meeting dengan relasi bisnis dan sekarang memutuskan untuk me-rileks-kan pikiran dengan bersantai di cafe.


Bukannya senang, Desi malah selalu mengeluh dengan pekerjaannya yang sekarang. Ia dulu menuduh Kevin sebagai penguntit yang tahu kemanapun gerak-geriknya. Tapi sekarang kebalikannya, ia yang harus mengikuti kemanapun Kevin pergi dan harus tahu jelas jadwal dan gerak-gerik Kevin.


Kevin menatap wajah malas Desi dihadapannya.


"Kau kenapa? Kau selalu tak senang jika bekerja!" Ucap Kevin sambil memanyunkan bibirnya.


"Tentu saja aku tidak senang jika harus membuntutimu kemana-mana!" Gerutu Desi di dalam hati.


"Kenapa diam? Jangan bilang wajahmu ditekuk begitu karena harus membuntuti kemanapun aku pergi?" Ucap Kevin seolah tahu isi kepala Desi.


"Hah? Apa dia cenayang? Kenapa dia tahu isi pikiranku?" Gumam Desi dalam hati lagi.


"Kau pikir aku tidak tau isi kepalamu itu? Kau dengar baik-baik ya, kau harus turut merasakan apa yang aku rasakan. Rasa lelah kita harus sama, jadi kita impas!" Ucap Kevin sambil tersenyum miring.


Desi yang baru saja menyeruput tehnya itupun langsung tersedak ketika mendengar ucapan Kevin. Habislah aku-Batin Desi.


____


Ammar mengantarkan Latifa kerumah yang sempat ia beli dulu. Tadinya, rumah ini ia beli untuk tempat tinggal Kinan. Tapi ternyata perpisahan adalah jawaban untuk rumah tangganya dan Kinan. Hingga pada akhirnya, Ammar mengetahui jika Mamanya terlibat dengan rencana Shirly yang ternyata membuang Kinan pada saat itu. Hingga ia harus berlaku tega dan menempatkan sang Ibu dirumah ini sebagai hukuman.


"Ammar, bagaimana dengan hidup mama disini? Kau akan mempekerjakan orang untuk membantu mama disini kan?" Tanya wanita tua itu.


Ammar menggeleng.


"Uruslah hidup mama sendiri disini, Ma. Aku akan memberikan jatah bulanan untuk kebutuhan mama. dan jangan harap ada yang mengurus mama kecuali jika mama sakit!" Jawab Ammar acuh tak acuh.


"Ammar, maafkan mama.. Apa kau tega berlaku seperti itu pada mamamu sendiri?"


Ammar mengangguk. "Aku selalu mengikuti apa yang menurutku benar. Dan ini adalah hukuman yang ringan untuk mama daripada aku mengusir mama tanpa tujuan yang jelas." Ammar membuang muka, ia tak sanggup melihat sang ibu yang terduduk lemah. Kali ini ia harus tega karena ia terlanjur kecewa pada sikap wanita yang melahirkannya itu.


"Apa kamu akan mengunjungi mama disini? atau mama juga harus sakit dulu baru kamu akan datang kesini?" Suara wanita itu tercekat oleh hisak tangisnya. Sekarang ia benar-benar menyesal atas perbuatannya dimasa lalu.


"Soal itu aku belum memikirkannya, Ma. Tapi hiduplah dengan baik dan sehat." Ammar beranjak dari sana karena tak sanggup melihat airmata sang ibu. Ia berjalan cepat untuk mencapai mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah minimalis yang sekarang menjadi tempat tinggal Latifa, sang ibu.


Ammar memijat pangkal hidungnya sambil mengemudikan mobilnya. Sesungguhnya ia benar-benar tak tega dengan hukuman yang harus ia berikan pada Latifa. Tapi, ia ingin sang Ibu merasa jera dan tidak melakukan hal buruk lagi diusia senja. Ammar ingin semua yang menyakiti Kinan merasakan akibatnya. Karena ia pun sudah merasakan akibat dari perbuatannya, yaitu harus hidup menderita karena rasa bersalah dan penyesalan.


Ammar semakin murka dan marah saat ia tak kunjung bertemu dengan Shirly. Ia sudah mencari wanita itu kemana-mana. Melacak ke tempat usahanya, mencari kerumah orangtuanya di Bali tapi malah keluarganya juga menanyakan kabar Shirly pada Ammar, karena wanita itu tak mengabari siapapun. Ammar bahkan Mengecek jadwal kereta api, kapal laut dan penerbangan, untuk mendapatkan jejak kepergian Shirly. Tapi, semuanya tak memberinya petunjuk dimana keberadaan Shirly sekarang.


Ammar buntu dan tak tahu arah, ingin mencoba melupakan tapi nalurinya memaksa untuk mengungkap semua dihadapan Kinan. Agar Kinan tahu siapa dalang dibalik kehancuran hidupnya. Bukan Ammar saja, tetapi ada Shirly dan Mamanya yang turut andil menghancurkan hidup Kinan. Ammar juga tak melupakan satu lagi, orang yang merenggut kesucian Kinan. Kinan harus tahu siapa orang itu, sama halnya dengan Ammar yang sekarang sangat ingin mengungkap siapa orsng itu dihadapan sang mantan istri. Lalu setelah itu apa lagi? Tentu saja Ammar akan menuntut siapa brenngsekk itu ke jalur hukum.


.


.


.


.


Bersambung...