How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Menuju Villa



Taxi masih menembus malam menuju ke Villa milik keluarga Kevin. Perjalanan malam ini semakin terasa sejuk karena memasuki kawasan villa yang terletak di daerah pegunungan.


Kinan mengerjap dan mengucek matanya. Mengedarkan pandangan dan menyadari posisinya yang meringkuk dalam pangkuan seseorang dan berada didalam sebuah mobil yang sedang melaju.


Kinan merasakan jemarinya digenggam oleh orang yang kini memangku tubuhnya. Ia menatap seseorang itu, yang nampak tertidur dengan posisi duduk bersandar.


"Mas Rey..." lirih Kinan saat menyadari Rey yang tengah bersamanya. Ia kembali mengucek-ngucek matanya. Namun suaranya tadi berhasil membuat Rey membuka mata. Karena Rey memang bukan tidur dalam keadaan yang nyenyak.


"Kinan, kau sudah sadar?" Rey berbicara setelah sebelumnya menguap dan menutup mulutnya dengan tangan.


"Mas, apa ini mimpi?" Kinan menatap Rey dengan mata bulatnya yang jernih.


Rey membalas tatapan itu untuk meyakinkannya. "Ini bukan mimpi Kinan, sebentar lagi kita akan sampai. Tidur saja dulu!" Jawab Rey dengan sangat lembut.


Kinan mengerjap pelan, setelah itu hening tercipta diantara mereka.


"Memangnya kita mau kemana?" Suara Kinan memecah keheningan yang sempat terjadi.


Rey menggeleng pelan dan hanya menjawab dengan senyuman dari bibirnya. Kinan pun memutuskan untuk kembali diam seraya mencoba mengikuti saran Rey, memejamkan mata dan tidur.


°


Rey melihat Kinan sangat pulas dipangkuannya. Tanpa berniat membangunkan, Rey mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya. Rey membawa Kinan masuk kedalam Villa. Kedatangan mereka sudah disambut oleh pengurus villa yang sudah diberitahukan oleh Kevin untuk menyambut kedatangan Rey malam ini.


"Silahkan masuk, Mas! Kamarnya sudah disiapkan di atas!" Ucap wanita paruh baya yang bertugas merapikan dan membersihkan Villa ini.


Rey tersenyum ramah dan mengangguk, masih dengan membawa Kinan dalam gendongannya. Lalu, Rey menaiki tangga dan dengan agak susah payah membuka pintu kamar karena harus menjaga keseimbangan yang menggendong tubuh Kinan di waktu yang bersamaan.


Rey membaringkan tubuh Kinan dengan hati-hati diatas ranjang King size satu-satunya yang berada di ruangan kamar itu. Menutupi tubuh Kinan dengan selimut. Setelah memastikan Kinan tak terbangun. Rey memutuskan untuk segera keluar dari kamar itu.


Rey menuruni tangga kembali, mencari-cari sosok wanita setengah baya yang menyambut kedatangannya tadi.


"Maaf bu, apa disini ada kamar lain yang bisa saya tempati?" Tanya Rey setelah menemukan wanita yang dicarinya.


Wanita itu mengernyitkan dahi, bukankah ia telah menyiapkan kamar tadi untuk Rey. Rey mengerti raut kebingungan dari wajah wanita didepannya.


"Kamar yang tadi sudah ditempati oleh istri saya." bohong Rey agar wanita ini tidak mencurigainya karena membawa wanita ditengah malam buta seperti ini ke villa Kevin.


Tapi jawabannya itu justru membuat wanita didepannya semakin bingung dan heran.


"Kenapa tidak sekamar dengan istri saja Mas?" pertanyaan itu lolos dari mulut sang pengurus villa.


Rey menelan salivanya dengan berat, benar saja alasan yang Rey buat malah membuatnya terjebak pada pertanyaan itu.


"Em, istri saya sedang sakit Bu. Saya takut dia terganggu!"


"Bukankah lebih baik sekamar saja kalau istri sakit Mas? jadi kalau sewaktu-waktu dia membutuhkan Mas-nya kan lebih gampang!" Senyuman terbit dari bibir wanita itu.


Rey mengusap tengkuknya yang mendadak dingin, wanita didepannya ternyata tak mudah untuk ia ajak kompromi. Dan parahnya, malah terlalu cerewet. Tapi jelas saja ia curiga karena sedari awal Rey yang sudah salah memberi alasan.


Rey malas memperkeruh keadaan, dan terlalu lelah untuk berdebat selarut ini.


"Baiklah bu!" Rey mengalah dan kembali melangkah menuju kamar yang sudah ada Kinan didalamnya.


"Panggil saya Mbok Nah saja Mas!" Suara wanita itu terdengar saat Rey menginjakkan kaki di tangga pertama. Rey hanya mengangguk lesu dan melambai-lambaikan tangan tanda mengerti.


°


Kinan menggeliatkan tubuh ketika sinar matahari menerpa kulit wajahnya melalui celah-celah jendela kamar. Ia tersentak kaget ketika lagi-lagi mendapati lelaki yang sama sedang duduk memperhatikannya yang baru saja terbangun. Seperti saat lalu, itu juga pernah terjadi. Tetapi sekarang mereka berada di Villa bukan dirumah Sakit Jiwa.


"Kenapa senang sekali memperhatikan orang yang baru saja terbangun?" Kinan menutup wajahnya dengan selimut. Suaranya sedikit kuat untuk melakukan protes.


"Kenapa kau selalu malu seperti itu?"


"Aku baru bangun. Wajahku pasti wajah bantal!" Kinan masih menyembunyikan wajahnya.


Rey tersenyum miring melihat tingkah Kinan, ia bangkit dari duduknya ditepi ranjang. Lalu ia menarik selimut yang Kinan gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Jangan dibuka!" Kinan menahan selimut agar tetap berada ditangannya dan membantu menutupi wajahnya.


"Kenapa?" Rey mulai melakukan aksinya, menarik-narik selimut itu agar Kinan tak lagi menahan. Akhirnya terjadilah drama tarik-menarik selimut yang membuat keduanya tertawa dan protes secara bersamaan.


Kinan memasang wajah cemberut ketika Rey berhasil menguasai selimut dan tak membiarkan Kinan meraihnya untuk kembali menyembunyikan diri.


"Maaf, sudah-sudah mandi sana!" Rey mengusak pucuk kepala Kinan.


Kinan bangkit dan beranjak, tapi ia sadar ia bahkan tak punya baju ganti di Villa ini. Ia berbalik menatap Rey sebelum memasuki kamar mandi.


"A-aku tidak punya pakaian ganti!" Ucap Kinan dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan, sepertinya ia sungkan.


Rey berdecak dan kembali mengacak rambut Kinan.


"Ini Villa sahabat aku. Dia punya adik perempuan dan kebetulan ada banyak bajunya juga disini, tadi aku sudah menanyakannya pada mbok Nah!"


Kinan tertunduk.


"Kamu mandi saja dulu. Sebentar lagi mbok Nah akan bawakan baju ganti kesini!" Rey mendorong pelan pundak Kinan dan mengarahkannya agar kembali berjalan menuju kamar mandi.


Subuh sekali Rey sudah memikirkan baju ganti untuk Kinan karena ia melihat Kinan masih mengenakan setelan pasien RSJ Witra Husada. Hal itu pulalah yang membuat supir Taxi malam tadi mengenalinya sebagai pasien dari rumah sakit itu.


Rey kemudian menelepon Kevin di pagi buta. Mendapatkan umpatan sebentar dari Kevin, lalu Kevin menjelaskan ada banyak baju milik Keyra-Adiknya, di Villa ini.


Tentunya Rey meminta bantuan Mbok Nah untuk mengambil pakaian milik Keyra. Meskipun Mbok Nah cerewet tapi ia tetap melakukan yang diminta Rey.


°


Mata Rey terus memperhatikan Kinan yang saat ini duduk dihadapannya dimeja makan. Mereka sarapan bersama pagi ini. Bukan, ini sudah hampir menjelang siang. Kinan bangun terlambat, mungkin ia sangat mengantuk akibat lelah dan telat tidur malam tadi.


Kinan tertunduk kikuk sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Ia merasa malu ditatapi Rey seperti itu. Bahkan Kinan belum sempat menanyakan pada Rey kenapa mereka bisa berakhir di Villa ini.


"Mas, jangan melihatku seperti itu!" Suara Kinan terdengar ragu dipendengaran Rey.


"Kenapa? Aku hanya melihat, aku kan punya mata!" Rey acuh tak acuh, pandangannya tetap lekat pada wanita diseberang mejanya.


"Bukan itu maksudku. Kau melihatku seperti ada yang salah dengan penampilanku!"


"Iya, kau cantik mengenakan baju itu!"


Kinan tersedak mendengar ucapan Rey, ia gegas mengambil gelas air yang tak jauh dari jangkauannya, dan meminum airnya sesegera mungkin. Rey pun mendadak panik dan bangkit dari posisinya, menuju ke samping Kinan.


"Sudah tak apa-apa?" Rey menepuk-nepuk pelan pundak Kinan.


Kinan mengibaskan tangannya menandakan ia tak apa-apa. Rey kembali ke posisinya dan melihat wajah Kinan yang masih merah akibat ucapannya tadi atau akibat tersedak, ia tak tahu.


"Mas, apa aku akan tinggal disini?" tanya Kinan kemudian.


"Humm, untuk sementara waktu kita akan tinggal disini!" Rey mengambil secangkir teh panas dan menyesapnya pelan.


"Kita?" Kinan menatap Rey penuh tanya.


Rey mengangguk. "iya, kita!"


"Kinan, aku tidak mau membahas mengenai kenapa kita bisa disini atau kenapa kau kabur dari Rumah Sakit. Yang jelas, sekarang kita bersama ada disini. Aku akan mengusahakan untuk kesembuhanmu. Aku akan membawamu ke psikiater secepatnya!" Jelas Rey menatap Kinan yang juga memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir Rey.


"Terimakasih Mas.."


"Kenapa harus berterima kasih?"


"Karena mau mengusahakan agar aku sembuh dan mengingat semuanya!"


Deg...


Rey terdiam mendengar ucapan Kinan. Benar, jika Kinan sembuh ia akan mengingat semuanya. Apa Kinan juga akan mengingat malam itu? Apa Kinan juga akan mengingat perbuatan Rey terhadapnya malam itu? Siapa yang berani menjamin jika malam itu Kinan sama sekali tak melihatnya? Atau, siapa yang tahu jika ternyata sebenarnya Kinan sempat sadar dimalam terkutuk itu dan mengenali Rey. Mendadak Rey merasa ciut.


Rey memang menginginkan kesembuhan Kinan. Namun, jika Kinan harus mengingatnya dan semua kesalahannya dimasa lalu, Rey belum siap akan hal itu.


"Mas?" Kinan mengibaskan tangan didepan wajah Rey yang tampak melamun.


"E-eh yaa?" Rey gelagapan menyadari keadaan sekitar, ia sempat melamun terlalu jauh mengingat kesalahannya pada Kinan.


"Kamu melamunkan apa?"


"Tidak, aku hanya berpikir akan mencari pekerjaan atau membuka usaha untuk menambah penghasilan!"


"Bukankah selama ini kamu sudah bekerja? Hmm?"


"Itu dulu, sekarang aku pengangguran" Rey tersenyum kecut.


Kinan beranjak dari posisinya. Kemudian ia duduk disamping Rey, ia ingin menyemangati Rey.


"Berusahalah untuk dirimu sendiri. Kamu pasti bisa!" Kinan tersenyum menatap mata Hazel milik Rey.


Rey membalas senyuman itu, kemudian menggenggam jemari Kinan.


"Aku akan berusaha untukmu!"


Kinan menggeleng. "Jangan jadikan aku beban, Mas!"


"No! kamu bukan beban. Kamu tanggung jawabku!" Rey menatap Kinan dengan serius. Genggamannya semakin erat.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk kita!" sambung Rey lagi setelah menatap binar dimata Kinan.


.


.


.


.


Bersambung....