How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Pria dingin



Suasana hening malam itu menjadi kawan yang pas untuk Rey merenungi segala kesalahan dan perbuatannya. Entah apa yang ada dibenak lelaki 27 tahun itu, sesekali ia mengernyitkan dahi namun sesaat kemudian ia tersenyum simpul.


Suara ketukan pintu terdengar, namanya dipanggil oleh seorang wanita.


"Mas Rey, sudah waktunya makan malam Mas!" Ucap Asisten Rumah tangga yang bernama BIk Sum itu.


"Iya Bik" Rey menyahut dengan suara yang cukup keras agar Bik Sum mendengarnya.


Sesaat kemudian Rey keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ruang makan yang ada dibawah.


Diruang makan sudah ada Mama dan Papa Rey yang melihat ke arahnya sekilas.


"Rey, ayo makan, Nak!" Mama Rey berujar sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.


Rey duduk dan membalik piring untuk ikut mengambil nasi. Tapi piringnya diambil alih oleh Mamanya dan beralih mengambilkannya nasi juga.


"Udah segitu aja, Ma." Ucap Rey agar Mama nya berhenti menyendok nasi lagi ke piringnya.


Mereka bertiga makan dengan khidmat seperti biasanya, hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Lelaki yang duduk diseberang Rey tampak melirik anaknya itu sesekali, seolah ingin menanyakan sesuatu namun terlihat ragu.


"Rey...." Akhirnya ia bersuara, mengeluarkan suaranya yang bariton.


Lelaki yang adalah Papa Rey itu sangat jarang bersikap cerewet, ia lebih senang diam dengan yang ia pikirkan dan lebih sering menyuruh istrinya yang menyampaikan keinginannya pada anaknya. Rey dan papanya tidak berhubungan dengan dekat. Rey lebih menganggap papanya sebagai bos atau atasannya. Bukan layaknya sebagai ayah yang kadang peduli pada anaknya.


Jika lelaki setengah baya ini sudah mulai bersuara dan memanggil Rey sendiri, itu artinya ada hal yang penting dan menyangkut dengannya untuk ia bicarakan pada anaknya, bukan semata-mata hal sepele yang akan ia bahas. Papa Rey tak akan mau membuang waktu membahas hal sepele dan tak penting.


"Ya?" Rey menatap lelaki yang masih tampan diusianya yang tak lagi muda itu.


Rey sedikit heran dan menerka-nerka apa kiranya yang hendak Papanya bahas, Rey jarang berkomunikasi dengannya bahkan sekedar bercerita keseharian. Rey tertutup dengannya, begitu pula sebaliknya.


"Ada yang ingin saya bicarakan, setelah ini bisa kamu keruangan kerja saya?" Papa Rey menatap wajah anaknya yang terlihat sangat mirip dengannya itu, perpaduan Turki dan Indonesia.


Rey mengernyitkan kening, namun ia segera mengangguk. Jika Papanya sudah berkata formal tanpa menyebut dirinya sebagai Papa, atau lebih tepatnya menyebut diri dengan kata 'Saya' berarti ini menyangkut perusahaannya dan pekerjaan Rey. Rey mendesah pelan, ia malas membahas pekerjaan yang baru ia geluti beberapa bulan belakangan dan Papanya tahu jelas, ia terpaksa bekerja disana.


Mama Rey acuh tak acuh mendengar ucapan suami dan anaknya karena ia tahu pasti ini menyangkut soal perusahaan, jadi dia tak mau ikut campur terlalu dalam. Dia dengan santainya melanjutkan sesi makan malam yang hanya memakan buah dan sayur tanpa nasi.


Setelah selesai makan, Rey langsung menyusul Papanya yang sudah beranjak lebih dulu menuju ruang kerja dilantai dua. Ruangan itu terletak tepat disebelah kamar Papa dan Mamanya.


Rey masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Duduklah!" Sambut Papa Rey.


Rey pun duduk dan menyandarkan badan dikursi, tepat dihadapan Papanya yang juga sudah terduduk.


Papa Rey menarik nafas panjang sebelum memutuskan mengeluarkan kata-katanya.


"Rey, Papa tidak mau berbasa-basi. Jelaskan apa yang kau lakukan di Rumah Sakit Jiwa selama beberapa bulan terakhir!" Suara bariton itu mengagetkan Rey karena ucapannya.


Rey sampai terbelalak sesaat sebelum ia menundukkan pandangannya. Rey berpikir sebentar sebelum ia mengatur kalimat yang akan ia sampaikan sebagai penjelasan.


"Aku sudah melakukan kesalahan, Pa." Ucap Rey dengan suara bergetar dan ingin jujur.


"Apa itu?" Lelaki itu menatap anak semata wayangnya dengan tatapan intens.


"Aku pikir, Papa pasti sudah tahu, karena orang-orang Papa pasti sudah memberi tahu papa kesalahan yang ku buat!" Rey mendongak ke arah langit-langit.


Papa Rey berdecak kemudian berdiri dari posisinya.


"Ck! sudah Papa bilang, Papa tidak mau berbasa-basi Rey!" Suaranya sedikit meninggi, menyenggak anaknya itu.


Rey terdiam sesaat. Ia berpikir bahwa Papanya pasti tahu segalanya, orang-orang suruhannya pasti selalu membuntuti Rey selama ini, dan bukannya Rey tak tahu. Hari ini pasti akan terjadi, hanya Rey tak menyangka akan secepat ini. Rey tak mungkin menyembunyikan apapun, bagaimanapun juga jika Papanya sudah bertanya dan menuntut jawaban dari mulutnya, bukan berarti ia tak tahu apapun. Tapi Papanya hanya ingin mendengar pengakuan dari mulut Rey.


"Beberapa bulan lalu, aku-aku melakukan kesalahan!" Rey sedikit gugup walau kenyakinan dalam hatinya begitu meluap-luap agar ia mengatakan semuanya.


"Cukup! Kau terlalu bertele-tele! sekarang Papa saja yang bertanya, kau cukup jawab iya atau tidak!'


Rey mengangguk pelan. Papa Rey sedikit berjalan kesudut ruangan sambil bersedekap dada. Rey seperti terpidana yang sedang diinterogasi sekarang. Rey menelan saliva nya dengan agak susah. Seketika aura dingin menyelimutinya, aura kepemimpinan Papanya seolah keluar saat ini juga.


"Kesalahan yang kau maksud, apa kau menyukai istri orang?"


"Kau jawab saja iya atau tidak!" Suara Papa Rey meninggi seolah titah yang tak bisa lagi dibantah.


"Kau menyukai istri orang, ha?"


"Ya"


"Kau tahu itu salah?"


"Iya"


"Kau tahu selain dia adalah istri orang, dia juga tidak waras?"


"Pa!!!" Kini suara Rey ikut meninggi seolah menentang ucapan Papanya.


Papa Rey tersenyum miring, seolah mengejek putranya sendiri.


"Kinan bukan tidak waras, dia hanya depresi!"


"Sama saja! dia sekarang berada dirumah sakit jiwa dan menyita waktumu! Kau menyia-nyiakan waktu setiap hari hanya untuk mengunjunginya!" Ucap Papa Rey sarkas.


Mendadak Rey tidak menyukai sikap papanya ini, biasanya Papa Rey tidak secerewet dan banyak bicara begini. Setiap kata yang ia ucapkan biasanya akan sangat sulit untuk Rey dengar. Seolah kata-kata dari mulutnya amat mahal untuk ia perdengarkan dan ungkapkan pada orang lain.


"Papa tidak menyangka Rey, seleramu sangat payah!" Lagi-lagi ucapan Lelaki ini mengusik ketenangan Rey. tangan Rey mengepal. Ia benci urusan pribadinya pun harus dicampuri. Apalagi nada bicara ayahnya terdengar sarkas dan mengejek.


"Papa tidak tahu tindakan apa yang telah ku perbuat sehingga mengharuskanku berada disisinya! Aku sudah--"


Papa Rey mengangkat tangannya seolah menyuruh Rey berhenti bicara dan ia tak mau mendengar apapun lagi.


"Stop! yang seharusnya berada disisinya itu suaminya, bukan kau!"


Rey mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Percuma berdebat dengan lelaki tua ini. Pasti Rey akan kalah. Dia adalah pebisnis yang pandai mematahkan kata-kata orang lain dan pandai mencari celah untuk meraih kemenangan.


"Lalu mau Papa apa?" Tantang Rey.


"Tinggalkan dia! Jika kau memang mau berhubungan dengan wanita, pastikan bukan dengan istri orang dan tentunya dengan wanita yang waras! apapun status sosialnya akan Papa terima yang penting jangan buat skandal yang bisa mempengaruhi nama baik perusahaan!"


"Kalau aku tetap ingin seperti ini, dan aku ingin menikah dengannya bagaimana?" Tantang Rey lagi, tak mau kalah.


Wajah Papa Rey merah padam seakan murka dengan pertanyaan Rey itu. Itu bukan pertanyaan lagi sudah merupakan pernyataan yang Rey putuskan.


"Kalau itu keputusanmu, kau akan ku pastikan keluar dari keluarga ini. Dan hidup bagai Kucing liar diluar sana! Mengemis makanan orang lain agar bisa makan makanan sisa!" Suara itu sangat terdengar bergetar ketika mengucapkannya. Namun, terdengar pula ada keyakinan dsri setiap kalimatnya. Bahkan ia tak mau menyebut dirinya 'Papa' lagi dihadapan Rey.


Rey mengangguk, ia sudah bertekad dengan keputusannya. Ia sudah menghancurkan hidup Kinan. Mungkin ini adalah karma baginya yang juga harus hancur. Hidup tanpa fasilitas orangtuanya adalah mimpi buruk. Tapi kenyataan malah lebih buruk daripada itu. Ini semua akibat ulahnya sendiri.


"Baiklah!" Ucap Rey pelan namun dengan sangat tenang dan yakin.


Papa Rey terperangah tak percaya dengan ucapan Rey.


"Baiklah apa? kau mau menurutiku?" Papa Rey masih mencoba berpikir positif tentang jawaban Rey.


"Baiklah aku akan pergi seperti kucing liar yang sudah di usir!" Ucap Rey dengan nada menyindir. Kemudian ia berbalik dan menuju pintu keluar ruang kerja Papanya.


Rey tak peduli beberapa kali Papanya memanggil namanya dan berteriak mengancamnya yang tak mungkin bisa hidup susah.


Rey sedikit menitikkan air mata, namun segera ia seka. Kepahitan yang ia alami tidak lebih parah daripada yang Kinan rasakan.


Rey masuk ke kamarnya, Ia mengumpulkan ijazah, Asuransi kesehatan, Sim, buku tabungan dan surat-surat penting yang ia punya. Ia melihat beberapa lembar uang yang tersisa didompetnya. Lalu, Ia mengeluarkan Credit Card dari dompet yang sama dan meninggalkannya diatas nakas bersama dengan kunci mobil.


Rey mengambil beberapa lembar pakaian yang ia butuhkan. Mungkin ini saja yang ia bawa dan berasal dari rumah Papanya-Begitulah yang ia pikir- memilih memasukkan itu kedalam ransel bukan koper, lalu segera beranjak untuk keluar dari rumah besar ini.


.


.


.


.


Bersambung...