
Rey
Aku menatap lamat-lamat wajah wanita yang tertidur lelap dalam pelukanku. Baru belakangan hari ini, dia tertidur dengan lelap. Berbeda jauh saat pertama-tama aku mengenalnya, dia tidak pernah tidur selelap dan setenang ini. Yah, aku tahu kesalahanku dimasa lalu-lah yang menyebabkan ia tidak bisa tenang walau dalam keadaan tidur sekalipun.
Nafasnya tampak teratur, sesekali wajahnya pun kelihatan serius. Entah apa yang ia mimpikan, hmmm...Seulas senyum ku sunggingkan lalu aku membelai rambutnya dengan lembut, agar jika ia bermimpi buruk, mimpi itu segera berlalu, tergantikan dengan rasa nyaman dari elusanku di kepalanya. Tanpa ingin membuatnya terbangun, aku terus saja memperhatikan wajah tidurnya yang mulai kembali tenang. Aku pun kembali tersenyum lega.
Bukan sekali-duakali aku memperhatikannya tidur. Kadang aku sengaja menyuruhnya tidur lebih dulu atau berpura-pura terlelap agar bisa menyaksikannya beranjak ke alam mimpi. Entahlah.. ada getaran aneh dalam tiap desiran darahku setiap melihatnya tertidur. Sehingga, dulu...jauh sebelum aku menyadari jika aku mencintainya, dan entah sejak kapan, itu telah menjadi hobiku, memperhatikannya yang tertidur.
Kinan...entah keberuntungan seperti apa yang menimpaku hingga kamu harus berakhir dalam pelukanku seperti ini?
"Ck...Aku merasa beruntung bisa memilikimu, Sayang. Tapi, apa kamu juga merasa demikian?"
Aku memejamkan mataku, mencoba ikut terlelap bersamanya. Keadaan sekitar kamar sudah sepi. Kinan yang sejak tadi tertidur, begitu juga dengan Kirey yang sepertinya sudah lelap di box bayi. Kirey memang bukan balita yang rewel. Jika larut tiba, putri kami yang manis itu seperti tahu jika ini adalah waktunya untuk terlelap. Sehingga dia benar-benar tidak akan rewel atau bangun di tengah malam. Putriku itu akan terbangun keesokan hari di pagi harinya.
Ini sudah larut tapi aku belum bisa terlelap. Walau sudah beberapa kali aku memejamkan mata. Pekerjaan kantor memang memusingkanku, tapi bukan itu yang menyebabkan aku sulit tidur malam ini, melainkan aku sedang memikirkan semua yang terlewati dalam kehidupan rumah tangga kami.
Pernikahan kami mulai memasuki tahun ketiga dan semuanya terasa lengkap. Harus ku akui jika aku amat sangat berterima kasih pada Tuhan, telah memberiku istri seperti Kinan dan seorang putri seperti Kirey. Aku bahagia. Sangat bahagia.
Aku hanya memikirkan masa depan Kirey dan perasaannya. Aku takut dia membenciku sama seperti Kinan pada saat tahu aku adalah lelaki b-rengs-ek. Entahlah. Tiba-tiba perasaan itu melintas dikepalaku. Aku takut putriku tidak bisa menerima kelakuanku dikedepan hari. Aku takut jika ia telah dewasa, ia mengetahui perbuatan Ayahnya ini.
Semua berawal dari kesalahanku. Aku yang dulu selalu menghabiskan banyak waktu untuk bermain, nongkrong dan tidak memikirkan masa depan. Keseharianku selalu diisi dengan ke-onaran dan kemaksiatan.
Sehari-hari bahkan sebelum kelulusan tiba, aku, Doni dan Kevin adalah tiga sekawan yang bisa dibilang paling terkenal seantero Club Malam VVIP. Kami tidak pernah memikirkan pengeluaran, kami tidak pernah memikirkan bagaimana mencari uang. Yang kami pikirkan hanya bersenang-senang dan menghabiskan uang orangtua kami yang sepertinya tidak akan ada habisnya.
Aku yang memang ahli bela diri sejak di bangku SMP, selalu membuat keonaran jika hatiku merasa tak senang. Sedangkan Kevin dan Doni bagai pengikut setiaku yang berdiri dibelakangku sebagai penjaga sekaligus pendukung aksi-aksi ke-brutal-an-ku.
Awalnya aku anak yang baik, aku tidak pernah memanfaatkan ilmu bela diri itu untuk hal yang tidak perlu. Seperti dalam ilmu bela diri, kita tidak boleh menggunakannya untuk hal sembarangan atau serampangan. Tapi, semenjak aku sakit hati pada seorang gadis, aku seakan tidak peduli lagi dengan orang lain. Saat perasaanku kacau dan ada yang menyenggol atau melirikku dengan tatapan tak senang, maka bersiaplah menjadi samsak tinjuku.
Gadis itu bernama Mona. Ku akui, Mona adalah gadis yang cantik. Pantas saja jika dulu aku menyukainya. Pribadinya yang ramah, pintar dan sikapnya yang membaur pada semua orang. Awalnya aku tidak menyukainya, aku hanya melihatnya sebagai gadis yang menyedihkan. Mona seringkali jadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Ayah tirinya sendiri. Lama kelamaan, aku melindunginya dan siap melakukan apapun untuknya. Sayangnya, Mona seolah memanfaatkan kebaikanku. Merasa aku memiliki perasaan lebih padanya, ia tak segan-segan selalu mengandalkanku.
Sampai pada akhirnya, aku harus patah hati karena ternyata bukan aku yang dia cintai melainkan David. Aku bisa menerima itu walau status Mona saat itu masih-lah pacarku. Tapi saat kelulusan tiba.. selang beberapa bulan, aku mendengar Mona menerima lamaran David. Entah sejak kapan mereka berhubungan dibelakangku.
David adalah kakak senat kami di Kampus, ia juga merangkap menjadi asdos alias Asisten Dosen, membuat Mona menyukai dan mencintai lelaki itu sejak awal masuk ke kampus-sejak masa ospek kampus. Sehingga waktu kelulusan kami tiba, David yang lebih dulu lulus pun sudah menjadi Dosen dan sukses membuka usaha Batik. Mona benar-benar dengan tangan terbuka menerima lamaran lelaki itu. Sesuatu yang baru ku ketahui dari teman dekat Mona-yang juga memberitahu pernikahan mereka padaku.
Jadi selama aku berpacaran dengannya, Mona juga menjalin hubungan dengan David. Sang cinta pertamanya.
Hah! Betapa miris nasib percintaanku kala itu, membuat aku muak dengan cinta. Aku bahkan rela diinjak-injak oleh Ayah tiri Mona untuk menjadi tameng-nya. Sejak saat itu, aku hanya melampiaskan amarahku dengan kehidupan bebas. Berkelahi, mabuk dan berakhir dengan perempuan untuk satu malam.
Semuanya mulai berubah ketika Papa mencampuri urusanku. Berulang kali masuk kantor polisi karena kekacauan yang ku buat, membuat lelaki paruh baya itu memintaku bertanggung jawab atas semua uang yang telah ku gunakan untuk berfoya-foya. Papa, menyuruhku bekerja. Membuatku semakin muak, karena sekeras apapun aku bekerja, Mona tidak akan kembali padaku. Itulah yang dulu ku pikirkan.
Doni yang tiba-tiba dijodohkan dan Kevin yang tiba-tiba menjadi pemimpin perusahaan Om Harun-Papa Kevin. Membuat kami bertiga layaknya anak kecil yang hidupnya memang harus mengikuti keinginan orangtua kami tanpa bisa membantah.
Aku memutuskan pergi dari rumah. Mama beberapa kali menelepon memintaku untuk pulang, tapi fasilitas yang ku punya masih bisa ku gunakan. Apartmen yang memang menjadi milikku walau itu pemberian Papa juga, tapi itu adalah tempatku untuk pulang.
Kami menghabiskan malam seperti biasanya. Sudut Club VVIP yang sudah kami booking, menjadi saksi perbuatan kami yang penuh huru-hara. Didampingi gadis-gadis pilihan yang akan menghabiskan waktu satu malam bersama kami. Tidak pernah lebih dari itu, karena aku pantang melihat gadis yang sama setelah menghabiskan malam dengannya. Aku hanya tak mau pertemuan yang lebih dari sekali akan menjadi batu sandungan dikemudian hari dan menyebabkan gadis-gadis yang entah darimana asalnya itu merasa kami memliliki hubungan yang lebih dari One night..
Tapi tak seperti biasanya, malam itu kami hanya bertiga tanpa gadis manapun. Aku mengingat jelas kejadian malam itu, Mama yang lagi-lagi memintaku untuk pulang. Aku keluar Club untuk mendengar ucapan Mama. Bagaimanapun berandalnya sikapku, Mama adalah wanita yang paling ku sayangi. Agar Mama tak mendengar suara bising dari party yang ada di Club, aku menerima panggilannya saat aku sudah berada di area luar Club itu.
Aku mendengarkan bujukan Mama yang memintaku pulang, mataku yang memandang kesana-kemari tiba-tiba menangkap sesosok yang tergeletak di jalan. Itulah pertama kalinya aku melihat Kinan-yang pada saat itu aku tak mengetahui identitasnya. Mataku memicing tajam saat mengetahui yang tergeletak disana adalah seorang gadis. Entah kenapa pula, aku kembali bersikap peduli pada gadis lain. Padahal, setelah aku dibuat sakit hati oleh kelakuan Mona, aku sudah berjanji tidak akan ambil pusing dan peduli terhadap gadis manapun lagi. Tapi, semakin aku mendekat kearah gadis yang tak sadarkan diri disudut Club malam itu, nuraniku seakan berperang untuk segera menolongnya. Hingga akupun memutuskan menghubungi Kevin dan Doni yang masih berada di dalam ruangan Club VVIP.
.
.
.
Lanjut Bonchap??
Isi hati Rey lagi atau isi hati Kinan nih?
💕