
Incheon International Airport, Seoul. Korea Selatan.
Rey tak mempedulikan Mona yang terus membuntuti di belakangnya, ia terus saja berjalan seraya menarik kopernya saat tiba di Bandara. Sedikitpun ia tak mau menoleh walau Mona meneriaki namanya beberapa kali.
Brakkk!!!
Rey mendengar suara itu dan spontan berbalik badan untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia terperangah melihat Mona yang terduduk di lantai Bandara berikut dengan kopernya.
"Rey, tolong aku!" Ucapnya manja sambil melambaikan kedua tangan ke arah Rey yang baru saja berbalik badan. Ia menggoyangkan tangan seolah meminta Rey menarik kedua tangan itu.
Rey menarik nafas dalam sebelum akhirnya menghampiri keberadaan Mona dibelakangnya.
"Kenapa kau bisa jatuh begini?" Tanya Rey sambil menarik tangan Mona dan membantunya berdiri.
Mona tersenyum. "Aku benci kau tidak mempedulikan aku, jadi aku sengaja menjatuhkan diri." Ucapnya tak tahu malu.
Rey mencebik. "Kau memang tidak berubah!" Rey meninggalkan Mona dengan tatapan tak acuh dan Mona langsung mencegat tangan pemuda itu.
"Rey, aku tahu kau masih peduli padaku kan?"
Rey diam mendengar ucapan Mona.
"Buktinya kau mau berbalik dan menolongku!" Ucap Mona lagi-lagi dengan nada manja.
"Kau jangan salah paham! Aku melakukan itu atas dasar rasa kemanusiaan!" Rey membuang pandangannya ke arah lain.
Mona menggeleng. "Tidak, kau peduli padaku. Aku tahu kok!"
Rey berdecak, meladeni Mona tidak akan membuatnya menang. "Sudahlah, urusanku masih banyak!" Rey melihat sekitar seperti tengah mencari sesuatu. Dan ketika ia melihat seseorang yang ia cari, ia melepaskan tangan Mona yang sempat melingkari lengan kirinya.
Mona merengut melihat kepergian Rey begitu saja. Ia tak mungkin mengejar Rey lagi, cukup untuk hari ini. Masih ada banyak waktu lain-pikir Mona.
Rey mendesaahh lega ketika ia bisa terlepas dari Mona, ia menghampiri seseorang yang menjemputnya di Bandara. Seoul bukan kota asing yang baru pertama kali Rey kunjungi, karena ia pernah beberapa kali kesini untuk liburan di masa-masa sekolah dulu. Hanya saja, sekarang sudah banyak perubahan sehingga ia memerlukan seseorang yang bisa mengarahkannya, apalagi Rey tidak fasih berbahasa korea. Ia hanya menguasai sedikit itupun hanya ucapan formal.
"Kau akan langsung ke Hotel?" Tanya seorang wanita yang menjemput Rey. Wanita itu tak lain adalah salah satu orang kepercayaan ayahnya untuk mengelola pabrik mereka yang ada di Seoul.
"Kenapa kakak harus repot-repot menjemputku? Kenapa tak meminta pekerja lain untuk datang kesini?" Ucap Rey pada wanita itu. Rey memanggilnya kakak, karena wanita bernama Siska itu sudah mengenal Rey sejak Rey kecil. Bisa dikatakan Siska adalah kakak angkat Rey karena ia ikut merawat dan menyayangi Rey sejak Rey masih kanak-kanak.
"Apa tidak boleh? Kau sudah dewasa sekarang. Apa aku tidak boleh merindukanmu?' Tanya Siska sambil menatap Rey serius. Rey tersenyum seraya menggelengkan pelan kepalanya.
"Sudahlah, ayo kita berangkat. Aku akan langsung ke Pabrik."
"Kau tidak istirahat dulu? Kau baru saja sampai?"
"No! Aku harus menyelesaikan urusanku dengan cepat disini, lagi pula aku sudah tidur di pesawat tadi."
"Baiklah."
Mereka berdua berjalan keluar Bandara dengan Rey yang merangkul pundak wanita itu, mereka terlihat begitu akrab. Hubungan yang terjalin terlihat seperti kakak dan adik kandung walau tak ada kemiripan wajah antara keduanya. Siska adalah seorang WNI yang dulu bekerja di Korea sebagai pelayan Restoran. Tapi ia mengalami kekerasan verbal dan fisik oleh majikannya. Sehingga ia melarikan diri dan yang menolongnya adalah orangtua Rey. Saat itu, orangtua Rey tengah merintis pabrik di Seoul.
Kedua orangtua Rey membantu Siska kembali ke Indonesia dan menguliahkannya. Lalu, ketika pabrik mereka di Seoul sudah mulai berkembang, Siska diminta untuk mengurusnya karena ia sudah fasih berbahasa korea sedari belia. Kini, wanita itu masih tetap cantik walau usianya sudah memasuki 40 tahun.
Mereka melewati perjalanan dengan sukacita karena pertemuan kembali antara mereka berdua.
"Bagaimana dengan suamimu, Kak?"
"Dia baik. Usahanya juga lancar." Ucap Siska. Rey mengangguk dan tersenyum.
"Apa wanita yang tadi itu kekasihmu?" Tanya Siska setelah hening beberapa saat. Ia bertanya seraya fokus mengemudikan mobil menuju Pabrik.
"Hahaha, kau melihatnya juga tadi?"
"Aku melihatnya menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai." Ucap Siska sambil tergelak.
"Tapi kau suka pada wanita aneh itu kan?"
Rey menggeleng, sebersit senyuman terbit dari bibirnya.
"Kau tidak suka tapi kau tersenyum. Sangat naif!" Siska mengomel.
"Aku tersenyum karena aku membayangkan gadis yang aku suka dan itu bukan dia!" Ucap Rey dengan nada mulai meninggi.
"Omo, adikku memang playboy!" Siska terkekeh lagi. Mobilnya berbelok ketika menemui perempatan jalan.
"Itu dulu, Kak! Aku sudah serius pada satu wanita sekarang."
"Benarkah?" Siska berucap tak percaya.
Rey mengangguk.
"Kalau begitu kapan-kapan kenalkan dia padaku!"
"Pasti. Tapi kau harus menyembunyikan sesuatu dari Papa!" Rey menatap Siska serius. Siska melirik Rey dari sudut matanya. Mobilnya melambat ketika memasuki area Pabrik.
"Aku mencium aroma konspirasi disini." Ejek Siska.
Rey terkekeh mendengar kalimat Siska. Ia mengangguk dalam.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Kondisi kandungan anda sehat dan perkembangannya sangat baik. Selalu rutin minum vitamin anda, Miss." Ucap Dokter specialis kandungan yang Kinan temui hari ini.
Kinan mengangguk, ia mengerti ucapan dokter itu.
"Saya akan rutin meminumnya dan rutin untuk kontrol kesini." Ucap Kinan dengan bahasa Inggris yang fasih dan tersenyum lembut diakhir kalimatnya.
Kinan mengelus perutnya pelan, entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa senang dengan kehamilannya, mungkin karena sekarang bayi dalam kandungannya itu sudah bisa ia rasakan menendang-nendang dari dalam sana.
"Ini hasil USG nya, Miss. Anda bisa menyimpannya." Ucap sang Dokter dalam bahasa Inggris yang sopan.
"Thank you.." Kinan mengambil foto bayi yang masih belum jelas bentuknya itu dari tangan dokter dan menyimpannya rapi ke dalam tas yang ia kenakan.
Kinan pulang kembali kerumah yang ia tinggali di kota London bersama para pelayan yang selalu ikut mendampingi kemanapun ia pergi.
Sesampainya dirumah, ia mengambil ponsel yang sempat diberikan Ardi sebelum ia berangkat ke London. Ia memotret foto hasil USG itu dan mengirimkan foto itu kepada Desi dalam bentuk pesan. Ya, sejak ia merasa aman disini, ia memutuskan kembali menghubungi Desi, berkat bantuan Ardi pula ia bisa menemukan nomor ponsel sahabatnya itu.
[Aku turut bahagia, Ki. Semoga bayimu sehat dan lahir dengan mudah nanti. Kau jangan lupa bersenang-senang disana!] Itulah balasan pesan Desi pada Kinan.
Kinan tersenyum membaca pesan itu. Hanya kepada Desi ia bisa berbagi kebahagiaan walau sebenarnya saat ini ia juga memikirkan ingin mengabari Rey tentang perkembangan anak yang ia kandung, bagaimanapun Rey adalah ayah biologis bayinya. Tapi tentu saja Kinan tak melakukan hal itu. Ia merasa pasti Rey sudah melupakannya saat ini.
"Kuatkan hatimu, Kinan!" Ucap Kinan pada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menutup diri." Ucapnya lagi.
"Semoga saat kau sudah melupakanku dan mendapat seseorang yang bisa kau cintai, saat itu juga aku sudah bisa membuka diri untuk lelaki lain. Walau aku tidak yakin bisa semudah itu." Kinan terkekeh miris dengan ucapannya sendiri. Ia memejamkan matanya untuk segera larut ke alam mimpi.
.
.
.
.
Bersambung...