How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Persiapan



"Kamu yakin gak mau ikut kita ke bridal?" Tanya Nyonya Zehra pada Rey saat mereka semua tengah sibuk dengan sarapannya masing-masing.


"Aku mau selesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk, Ma. Lagipula setelah aku dan Kinan menikah, aku akan cuti sangat lama jadi pekerjaanku harus benar-benar tuntas." Jawab Rey serius seraya mengunyah roti isinya.


"Apa maksudmu dengan cuti yang sangat lama?" Celetuk Tuan Yazid tiba-tiba.


"Aku akan pergi bulan madu dengan istriku, Pa. Ditambah lagi, aku akan sibuk mengurusi keperluan Kinan yang akan melahirkan beberapa bulan lagi." Ucap Rey semringah.


Tuan Yazid mengangguk, ternyata putranya sudah memikirkan sampai sejauh itu.


"Makanya, Papa jangan memikirkan pekerjaan terus." Sindir Nyonya Zehra pada sang suami. Tuan Yazid hanya mengangguk pelan.


"Mas, kamu tidak perlu cuti berlama-lama. Aku bisa mengurus semuanya." Sambung Kinan.


"No! Aku harus meluangkan banyak waktu untuk kita berdua dan calon anak kita." Jawab Rey sambil tersenyum menatap Kinan.


Mereka ber-empat melanjutkan sesi sarapan dengan perbincangan ringan tentang resepsi pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi. Hanya hitungan bulan, Rey dan Kinan akan resmi menikah.


Sebenarnya Kinan ingin menunda pernikahan ini dengan alasan perceraiannya dengan Ammar belum terlalu lama. Tapi keluarga Rey terus meyakinkannya dan lagi Kinan tak mau anaknya lahir tapi ia dan Rey belum resmi menikah. Kinan akhirnya setuju tapi pernikahan ini hanya diketahui oleh orang-orang terdekat mereka saja. Ia tak mau pernikahan yang berlebihan dan mereka semua akhirnya sepakat dengan permintaan Kinan itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Rey sedang tersenyum menatap layar ponselnya, ia baru saja menerima pesan gambar dari sang Ibu, yang berisikan foto Kinan tengah menggunakan beberapa model gaun pernikahan.


"Semuanya cocok kamu pakai." Gumam Rey seraya tersenyum menatap foto sang calon istri. Ia sedikit menyesal tak bisa ikut ke bridal itu dan harus berada di kantornya seperti sekarang. Mau tak mau ia harus kembali berkutat dengan pekerjaan, meski ini perusahaan milik Sang Ayah, tapi Rey harus profesional dan tidak menunjukkan sikap main-mainnya lagi didunia yang sudah ia geluti ini.


"Aku akan melihatmu menggunakan gaun pernikahan itu secara langsung nanti. Di hari pernikahan kita." Gumam Rey lagi. Ia larut dalam khayalannya sendiri sambil terus menampilkan senyum yang tak kunjung surut.


Tiba-tiba ponsel Rey berdering, sang Ibu meneleponnya. Rey menggaruk pelipisnya sejenak sebelum menerima panggilan masuk itu.


"Kenapa kau tidak membalas pesan Mama, Rey? Coba kamu pilih yang mana yang cocok untuk Kinan?" Suara sang Ibu terdengar nyaring dipendengaran Rey.


"Semuanya cocok jika Kinan yang memakainya, Ma." Jawab Rey datar.


"Kau ini! Pilih yang paling cocok!"


"Aku serius, Ma. Semuanya cocok. Kinan cantik menggunakan apapun!" Ucap Rey sambil mengulumm senyumnya.


Terdengar suara sang Ibu seperti tengah berbicara pada orang lain diseberang sana.


"Mas, yang mana yang paling bagus aku kenakan?" Tiba-tiba suara Kinan yang bertanya melalui sambungan telepon itu.


"Aku suka semuanya, kenapa tidak pakai semuanya saja?" Ucap Rey dengan lembut, terdengar Kinan berdecak dari seberang sana.


"Tolong serius, Mas!"


"Aku serius, Sayang!" Rey melipat bibirnya menjadi satu garis lurus. Untuk pertama kalinya ia memanggil Kinan seperti itu dan ia yakin sekarang wajah Kinan pasti memerah disana.


"Ba-baiklah, teleponnya aku matikan!" Jawab Kinan canggung kemudian. Rey melihat ponselnya yang ternyata benar-benar sudah terputus dari panggilan itu. Rey tersenyum sendiri membayangkan wajah Kinan saat ini akibat ucapannya tadi.


"Ah, menunggu sebulan rasanya lama sekali!" Gumam Rey seraya meletaklan ponselnya ke atas meja kerjanya sendiri. Ia menjadi lesu sendiri dan tak semangat untuk melanjutkan pekerjaannya. Pikirannya dipenuhi oleh Kinan sekarang. Ia menggeleng pelan karena tak habis pikir dengan dirinya sendiri saat ini.


_______


"Tega bener lo ya, Nyuk! Pulang dari London gak jumpain gue!" Ucap Kevin ketika mereka bertemu disebuah cafe sepulang dari bekerja.


"Jadi lo mau ketemu gue cuma mau bahas ini?" Tanya Rey sarkas. "Gue pikir hal penting, Nyet! Bagus juga gue langsung pulang tadi." Ucap Rey.


"Cih, mentang-mentang calon istri lo sekarang tinggal dirumah itu, lo jadi betah dirumah dan mau cepat pulang?" Kevin mencebik dan menggeleng sejenak.


"Nyuk..Nyuk..biasanya juga lo paling anti pulang kerumah Bokap, lo!" Kevin berlagak ingin memukul Rey saat ini juga dan Rey melotot tajam.


"Asem lo, Nyuk!" Ucap Kevin seraya mengelap bibirnya dengan tisu. Rey terkekeh melihat sahabatnya yang selalu bertingkah konyol dihadapannya itu.


"Siapa namanya, Nyet? Lupa gue." Tanya Rey serius.


"Gak tau gue siapa yang lo maksud!" Bohong Kevin.


"Ah, Desi... Ya Desi kan namanya." Jawab Rey setelah berfikir beberapa saat.


"Apaan sih lo! Gue emang semangat kerja dari dulu, Nyuk! Bukan karena ada Desi. Lagian lo pikir gue kayak lo?"


Rey mengangkat bahu dan berlagak tak peduli. Sedetik kemudian Rey menatap kearah lain.


"Nyet, itu Desi sama cowok mesra banget!" Celetuk Rey seraya menunjuk satu arah dengan telunjuknya.


"Ah serius lo?" Refleks, Kevin melihat arah yang dimaksud oleh Rey dan ternyata tidak ada siapa-siapa disana termasuk Desi.


"Breng*ek lo!" Ucap Kevin setelah sadar jika Rey ternyata mengerjainya. Rey tergelak dengan ulahnya sendiri dan sikap Kevin yang absurd.


"Awas aja lo! nanti gue kerjain balik lo!" Celetuk Kevin.


Rey menggeleng. "Emang berani lo?" Rey menunjukkan kepalan tangannya dihadapan Kevin dan Kevin refleks menggeleng.


"Mentang-mentang ahli bela diri, mau main bogem-bogem aja!" Gerutu Kevin seraya mengelus tengkuknya sendiri.


"Jadi lo beneran mau nikah, Nyuk?" Tanya Kevin dan Rey mengangguk yakin.


"Kalo gitu, malam ini kita party dong, Nyuk! Biasa.."


Rey mengerti arah pembicaraan Kevin, yang tak lain adalah mengajaknya ke Club dan minum-minum seperti kebiasaan mereka dimasa lalu.


"Gue udah pensiun, Nyet! Udah lama dan gue gak bisa balik ke masa itu lagi." Jawab Rey seraya menerawang ke masa-masa ter-kelam-nya.


Kevin mengangguk setuju, sebenarnya ia hanya mengetes Rey, karena ia pun sudah lama tak masuk ketempat biasa mereka menghabiskan malam sedari masa kuliah dulu. Ia seperti tersadar sekarang, bahwa kini mereka semakin dewasa dan tanpa sadar telah meninggalkan masa-masa itu.


"Gue mau berubah, Nyet! Sebentar lagi gue jadi seorang Ayah. Kalau mengikuti hal yang gitu-an, itu gak akan ada habisnya!" Ujar Rey mendadak serius.


"...Lagipula, untuk kembali ke masa itu gak mungkin, gue sadar waktu semakin bergerak dan gue semakin tua..." Sambung Rey lagi sambil tersenyum miring.


Kevin menatap Rey seraya mencerna ucapan pemuda itu.


"Gue salut sama lo. ke-bucin-an lo, buat lo berubah jadi lebih baik!" Ejek Kevin.


"Lo muji atau ngejek, Nyet?" Rey mendengus dan Kevin terkekeh.


"Kapan ya gue bisa berubah?" Tanya Kevin pada Rey.


"Lo ajak si Desi nikah! Pasti lo berubah.." Ujar Rey tak mau kalah.


"Haha, gue nikah sama dia? berubah sih berubah, Nyuk! Tapi berubah jadi apa dulu nih? Lo tau kan jutek dan cerewetnya si Desi, gimana? Bisa abis gue, kalo dia jadi istri gue." Kevin berlagak bergidik dengan ucapannya sendiri.


.


.


.


.


Bersambung...