How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Bucin



Pagi menyingsing, menampakkan panorama matahari yang mulai terbit disebelah timur. Udara sejuk menerpa bumi, serta embun-embun membasahi daun-daun yang tumbuh. Semua orang siap melakukan aktifitas di pagi yang cerah ini.


"Kinan, aku akan berangkat kerja. Kamu tidak apa-apa disini sendirian?" Desi menatap Kinan yang duduk didepannya. Wanita itu hanya mengangguk untuk menjawab Desi.


"Baiklah, habiskan sarapanmu ya!" Desi meneguk segelas air putih dari gelasnya.


"Des, kenapa kau memberitahu Mas Ammar aku ada disini?" Tanya Kinan.


Desi terdiam tak langsung menjawab.


"Kinan, bagaimana pun dia suamimu. Aku hanya memberinya kabar bukan ada maksud lain."


"Des, aku tau kamu tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin menenangkan diri dan terlalu banyak pikiran dikepalaku!"


Desi meraih tangan Kinan dan menggenggamnya.


"Kinan, maaf ya jika aku salah. Tapi ku pikir kamu harus membicarakan hal ini dengan Mas Ammar. Mau sampai kapan kamu menghindar dan menutupinya!"


Kinan terdiam, semua yang Desi katakan adalah kebenaran. Ia tak mungkin terus sembunyi dan menghindari Ammar. Kinan harus mengambil tindakan untuk hidupnya sendiri.


"Kinan, lepaskanlah apapun yang membebanimu!" Desi menatap Kinan dengan tatapan khawatir.


"Baiklah, aku berangkat ya. Jangan lupa mengunci pintu!" Desi beranjak dari duduknya, mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar rumah.


Setelah kepergian Desi, Kinan masih terdiam dalam posisinya. Ia mengelus perutnya sambil terisak. Bagaimanapun kini ia sadar, bahwa bayi yang dikandungnya bukanlah anak Ammar. Kinan menangis membayangkan apa yang pernah terjadi pada hidupnya.


"Mas Rey, apa kebaikanmu selama ini hanya bentuk tanggung jawab terhadapku?" Gumam Kinan pada dirinya sendiri.


"Apa benar kau yang telah mengambil semuanya dari hidupku? Aku bahkan belum pernah tahu apa itu bahagia sebelum aku mengenalmu, tapi jika itu benar, kenapa seolah kau juga yang memberiku luka." Kinan terisak sendirian.


Sudah dari malam tadi ia bahkan tak bisa tidur nyenyak, ia jelas-jelas tahu Ammar datang ke rumah Desi. Dan ia memutuskan untuk tidak menemuinya. Kinan juga mendengar pembicaraan Ammar dan Desi malam tadi.


"Tapi, jika aku kembali dengan Mas Ammar, itu tidak akan merubah apapun! Aku tetap saja terluka." Batin Kinan berkata-kata.


Kinan beranjak, mengisi perutnya adalah kekonyolan dimasa sekarang ini. Ia menuju kamar mandi dan memuntahkan apa yang sempat masuk kedalam perutnya tadi. Morning sickness yang menyiksa-pikirnya. Tapi tidak lebih menyengsarakan dibanding jalan hidupnya sendiri.


°


Kevin memasuki apartment Rey setelah pintunya dibukakan oleh lelaki itu. Kevin menatap heran wajah Rey yang tampak kusut.


"Belom apa-apa si Kunyuk udah ganti nama jadi si Bucin!" Ejek Kevin ketika melihat lingkaran hitam disekitar mata Rey. Rey tak bisa tidur semalaman, dikepalanya hanya ada Kinan, Kinan dan Kinan.


"B*cot lo!"


"Ya ya ya, tapi dari b*cot gue ini lah lo bakal dapat informasi!" Kevin menyeringai.


"Gue udah tau Kinan ada dimana!"


Rey terperanjat, badannya maju untuk lebih dekat pada posisi Kevin.


"Dimana?" Tanya Rey antusias.


"Dia dirumah temannya, yah kebetulan temannya itu kerja di tempat gue!"


"Temannya itu cerita ke lo?"


"Ya enggaklah b*go! Ngapain juga temannya cerita ke gue? Lo harus ingat mata gue ada dimana-mana!" Kevin memukul-mukul dadanya sendiri dengan bangga.


Rey menggendikkan bahu. Ia tersadar bahwa Kevin pasti sudah meminta orang-orangnya untuk mencari Kinan. Dan lagi, Kevin punya kekuasaan untuk itu. Rey pun sama jika saja ia mau menuruti perintah Papanya. Kota ini akan sangat kecil dan berada dalam genggamannya jika Rey benar-benar berniat untuk masuk menyelami dan mengorbankan diri seperti Kevin. Sayangnya, Rey belum berminat. Rey masih mau memberontak Papanya si pria dingin. Rey bukan Kevin yang rela menyerahkan kebebasannya demi sebuah kekuasaan. Rey akan memiliki kekuasaan sendiri tanpa bantuan Papanya. Itulah pemikiran Rey selama ini.


Rey menatap Kevin, entah kenapa ia merasa beruntung karena Kevin memiliki kekuasaan itu dan Kevin adalah sahabat yang membantunya. Walau Kevin harus mengabdi pada Winstar Corp.-, Perusahaan keluarga Kevin, tapi Kevin tenang-tenang saja menjalaninya. Karena soal hal itu, Kevin berbanding terbalik dengan Rey.


"Lo mau ketemu Kinan?" Suara Kevin membuyarkan pemikiran Rey seketika.


Rey menggeleng lemah. Ia belum siap bertemu Kinan sekarang, ia ingin memastikan jika Kinan belum mengingat masa lalunya. Namun, ia sendiri bingung entah kenapa ia terlalu pengecut jika benar Kinan sudah mengetahui semuanya.


"Pengecut lo Nyuk!" Kevin berdiri dan beranjak ingin meninggalkan Rey dengan pemikirannya sendiri. Menjadi malas memberitahu Rey tentang keberadaan Kinan.


"Lo kasi tau gue kalo lo udah siap ketemu dia. Hancur mood gue liat lo kayak gini isss!" Kevin menggerutu sendiri.


Rey masih tertunduk namun Kevin menepuk-nepuk pundaknya seraya memberinya kata-kata menyerupai nasehat.


"Lo boleh jadi bucin tapi Lo jangan jadi b*go, Nyuk!" Ucap Kevin seraya melangkah menuju pintu dan keluar dari Apartment Rey.


Rey menyeka airmatanya, ia tersenyum getir. Rey tak menyangka orang seperti dirinya juga bisa menangis disaat seperti ini. Rey kini menyadari jika Kinan salah satu kelemahannya saat ini.


"Gue bisa kehilangan Kinan kalo gue terlalu lama menghindarinya!" Batin Rey seakan berperang dengan pemikirannya sendiri setelah menelaah kata-kata Kevin. Adalah benar ia sekarang menolak menjadi 'b*go'.


Bagaimanapun, jika Rey memutuskan untuk terus bersembunyi dan menutupi kebenaran. Cepat atau lambat, semua akan terbongkar. Semua ini seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Walaupun nanti Kinan masih belum mengingat masa kelam itu, tapi bom itu sewaktu-waktu pasti meledak juga disaat Kinan mengingat dan mengetahui semuanya. Tidak hari ini, pasti besok atau kapan saja. Rey harus siap apapun resikonya, termasuk kehilangan Kinan dan yang paling Rey takutkan adalah kebencian Kinan terhadapnya.


.


.


.


.


Bersambung...