How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Sadar



Ammar tersadar dari masa kritisnya, matanya mengerjap lalu menyapu seluruh ruangan yang kini ia tempati. Ruangan itu didominasi dengan warna putih, aroma khas Rumah Sakit pun menguar di indera penciumannya. Saat matanya menangkap satu sosok yang ia kenali, bibirnya tak mampu menahan rasa keingintahuannya.


"Ma...a-ku berada di-mana?" tanya Ammar dengan suara tersendat. Ia ingin memastikan posisinya, apakah sesuai dengan perkiraannya?


Latifa tersadar dari lamunannya, ia baru saja memikirkan nasib anak semata wayangnya yang lagi-lagi harus berakhir diranjang Rumah Sakit.


"Ah, Ammar... syukurlah kamu sudah sadar. Biar Mama panggilkan dokter dulu." Latifa menekan tombol yang berada tak jauh dari sisi Ammar untuk menunaikan maksudnya-memanggil Dokter.


Ammar menghela nafas berat. "Itu artinya aku memang di Rumah Sakit?" tanyanya.


Latifa mengangguk.


Ammar mulai mengingat kejadian yang terjadi kemarin, sekarang ia paham apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba ia merasakan nyeri disekujur tubuhnya dan perih menjalari rongga dadanya. Ia meringis saat hendak bangkit untuk merubah posisi menjadi duduk.


"Arkk.." ringis Ammar seraya memegang bagian dadanya yang sudah dibaluti perban.


Latifa agak panik. "Astaga Ammar! Jangan banyak bergerak dulu. Lukamu belum sembuh!" Latifa mencegah Ammar merubah posisinya dan membantu Ammar agar kembali berbaring.


Gurat kekhawatiran kini nampak jelas diwajah tampannya. Ia memikirkan nasib anak dan kekasihnya.


"Ma, bagaimana keadaan Shaka dan Joana?"


"Shaka dan Jo--"


Belum lagi Latifa menjawab, kedatangan Dokter membuat obrolan mereka terhenti secara mendadak.


Dokter pun memeriksa keadaan Ammar, dari mulai organ vital, tekanan darah dan luka yang kini berada di bagian-bagian tubuh lelaki itu.


"Bapak Ammar sudah melewati masa kritisnya. Tekanan darahnya baik. Tapi suhu tubuh agak tinggi."


Dokter itu melihat sekilas perawat disampingya yang mencatat kondisi tubuh Ammar, lalu ia lanjut berbicara. "Syukurlah tubuhnya menerima semua pengobatan dengan baik sehingga pemulihannya berangsur dengan cepat."


"Kini kami konsen untuk penyembuhan luka di organ dalam, saya akan memberikan pereda nyeri dan semoga luka yang dijahit cepat mengering." lanjut Dokter itu.


Setelah memberikan petuah dan saran terkait kesehatan dan pemulihan kondisi tubuh Ammar, Dokter dan perawat itupun undur diri.


"Ma, Shaka dan Joana.. apa mereka baik-baik saja?"


"Shaka berada dirumah Kinan bersama Lesya, dia baik-baik saja." jawab Latifa.


"Syukurlah.." Ammar menghela nafas lega. "Lalu Joana?" tanyanya.


"Joana berada diruang sebelah, dia--"


Ammar memotong ucapan sang Mama saat tahu jika Joana juga dirawat di Rumah Sakit yang sama. "Hah? Joana tidak apa-apa kan? Apa dia terluka? Apa dia tertusuk sepertiku? Aku ingin melihatnya, Ma." cecar Ammar bertubi-tubi.


"Ammar, tenanglah.."


"Bagaimana aku bisa tenang, Ma. Aku tidak bisa tenang jika Joana terluka." kata Ammar frustasi. Ia tak mengingat apapun setelah tubuhnya ditusuk oleh Xander kemarin jadi ia mengira-ngira apa yang terjadi pada Joana setelah penusukan itu.


Suara pintu yang terbuka membuat kedua orang itu menoleh kearah yang sama dimana pintu ruangan Ammar berada.


"Ammar.."


"Jo.."


Mata Joana berkaca-kaca, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa lega melihat kondisi seseorang. Perempuan itu bergerak cepat dan menghambur kesisi Ammar.


"Kau sudah sadar? Apanya yang sakit? Pasti sakit sekali.. Dadamu? Bagaimana dadamu? Aku mendengar organ dalam tubuhmu juga terluka." Joana menangkup kedua pipi Ammar yang terbaring. Ia mengarahkan mata Ammar agar menatap ke matanya. Perempuan itu benar-benar tak sadar apa yang ia perbuat. Sejak kemarin, dipikirannya hanya dipenuhi dengan Ammar dan ingin Ammar baik-baik saja.


Sedangkan Ammar, ia terkejut melihat reaksi Joana yang baru kali ini terlihat berlebihan menanyakan keadaannya. Disatu sisi Ammar paham ketakutan Joana, hanya saja ia tak menduga jika Joana terlihat sangat mengkhawatirkannya seperti ini. Sudut bibirnya melengkung melihat raut ketakutan Joana. Itu berarti Joana benar-benar menyayanginya.


Latifa mengulumm senyum melihat interaksi dua anak manusia dihadapannya, kemudian dia berdehem untuk mencairkan suasana karena ia melihat Ammar yang juga terkesima karena pertanyaan Joana dan sepertinya Ammar tak bisa menjawab semua pertanyaan itu karena terlalu larut dalam tingkah Joana.


Sepasang kekasih yang baru menjalani hubungan itu pun tersadar saat mendengar Latifa berdehem. Dengan segera Joana melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menangkup pipi Ammar.


"Ammar baru saja menanyakan keadaanmu, Jo," ungkap Latifa. "Dan Ammar, sekarang kau lihat sendiri kan jika Joana baik-baik saja." lanjutnya.


Joana mengangguk, wajahnya memerah karena malu akibat tingkahnya sendiri beberapa saat lalu. Sedangkan Ammar pun terdiam, ia sendiri sudah lama tidak pernah merasa dikhawatirkan seperti tadi oleh seorang wanita.


Keadaan menjadi hening dan canggung, terlebih hubungan keduanya memang belum terlalu lama. Latifa berinisiatif meninggalkan ruangan itu. Memberi ruang dan waktu agar keduanya saling berbicara satu sama lain.


"Joana dari kemarin berulang kali kesini untuk memastikan keadaanmu, Mar. Tapi sebelumnya kamu belum sadar, jadi sebaiknya Mama keluar dulu. Kalian bicaralah.." Latifa pun berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimatnya.


Ammar dan Joana saling pandang satu sama lain.


"Ba-bagaimana kondisimu?" tanya Joana agak gugup.


"Aku sudah sadar." seloroh Ammar dengan sedikit mengulumm senyum.


Joana mencebik. "Aku juga tahu itu. Maksudku bagaimana lukanya?"


"Kata Dokter tinggal menunggu jahitannya kering dan sedang fokus pada penyembuhan luka yang ada di organ dalam."


"Aku-- apa boleh, emm.." Joana ragu meneruskan kalimatnya.


"Kenapa? Kau mau melihat lukanya?" tebak Ammar dan Joana mengangguk.


"Lihat saja, tapi buka sendiri--" Goda Ammar seraya melihat kearah dadanya yang terbalut pakaian pasien.


"Kenapa diam? Katanya mau melihat lukanya?" Ammar terus saja menggoda Joana padahal Joana benar-benar penasaran sekarang.


"Tolong bukakan!" kata Joana berusaha agar ucapannya terdengar datar padahal ia sendiri malu dengan kalimat itu.


"Tidak bisa, Jo. Aku bergerak sedikit saja sudah merasa nyeri." kilah Ammar.


"Ya sudah tidak usah ku lihat." Joana cemberut, bersedekap dada dan malah duduk dikursi sebelah ranjang Ammar.


Ammar kembali tersenyum melihat tingkah Joana. Ia tahu Joana penasaran dengan luka ditubuhnya tapi rasa ingin mengerjai perempuan itu masih melingkupi dirinya.


"Kau yakin?" goda Ammar lagi.


Joana mengangguk.


"Baiklah, aku akan buka sendiri agar kau melihatnya--" Ammar bergerak dan siap membuka kancing bajunya itu tapi tangan Joana menghentikannya.


"Tidak usah.. jangan banyak bergerak." cegah Joana.


"Tapi kau ingin melihatnya."


Joana menggeleng. "Nanti saja." sanggahnya dengan wajah memerah.


"Baiklah, kau akan melihatnya jika aku sudah sembuh saja." sahut Ammar yang membuat Joana semakin blushing.


Joana menggeleng berkali-kali dan Ammar terkekeh kecil. "Kenapa jadi malu begitu? Memangnya kau tidak mau?"


"Tidak." Joana membuang pandangannya, sikap Ammar sangat konyol bahkan sedang sakit saja masih bisa menggodanya.


"Kenapa? Takut ya kalau sudah lihat jadi ingin pegang." ejek Ammar dan membuat Joana melotot kepadanya.


"Masih sakit saja sudah mesum." Joana berdecak, sementara Ammar terkikik geli melihatnya.


...💞💞💞💞💞💞...


Joana sudah diizinkan pulang hari ini karena luka ditubuhnya tidak terlalu parah. Ia hanya mengalami luka ringan akibat perlakuan Xander terhadapnya. Joana menunggu kedatangan Doni dan Sinta yang akan menjemputnya.


"Jo, bagaimana keadaanmu?" tanya Doni begitu sampai diruang rawat Joana.


"Aku baik-baik saja. Maafkan aku jadi mengganggu waktu liburan kalian." Joana melirik Sinta dengan raut wajah segan.


"Jangan bicara begitu, Jo! Liburan bisa diulang tapi keadaanmu benar-benar membuat kami khawatir." Sinta mengelus punggung Joana.


"Thanks, Sin." Joana memeluk Sinta untuk melegakan perasaannya.


"Kinan dan Desi..?" Sinta mencari-cari keberadaan dua sahabatnya yang lain.


"Mereka sudah pulang pagi-pagi sekali tadi. Biasalah, namanya juga seorang istri." Kata Joana sambil mengumbar senyum dan Sinta mengangguk mengerti.


"Aku merepotkan banyak orang." kata Joana lagi.


"No! kita semua keluarga." sahut Doni.


"Em, Jo... Bagaimana dengan Ammar?" tanya Sinta.


"Dia sudah sadar, tadi aku sudah menemuinya." Joana tertunduk.


"Sudahlah Jo, jangan menyalahkan dirimu lagi. Rey mengatakan jika kau terus merasa bersalah akibat kejadian ini." Doni berusaha menguatkan Joana.


"Aku baru menjalin hubungan beberapa saat dengannya dan aku malah memberinya kesialan." Lirih Joana.


Sinta menepuk-nepuk punggung tangan Joana. "Jangan bicara begitu, setiap hubungan punya masalahnya masing-masing. Semua itu adalah ujian untuk menguatkan hubungan kalian." kata Sinta lembut dan diangguki oleh Doni. Mereka teringat masa lalu, hubungan mereka juga tak luput dari ujian berat yang bahkan membuat keduanya berpisah cukup lama karena kesalahpahaman.


"Aku tahu, tapi tetap saja.." Joana benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi terhadap Ammar dan Shaka.


"Jika dia tulus denganmu pasti dia tidak akan menyalahkanmu." timpal Doni.


"Dia tidak sekalipun menyalahkanku, dia bahkan membuatku tersenyum hari ini padahal dia sedang merasakan sakit, itu membuatku makin merasa bersalah." Ungkap Joana lirih.


Doni menghela nafas. "Kau serius dengan hubungan kalian?" tanyanya.


Joana terdiam, pikirannya kembali berkecamuk.


"Kalau kau dan dia serius, menikahlah, Jo!" Celetuk Sinta, membuat Joana dan doni serentak menatap kearah perempuan itu dengan tatapan terperangah.


"Kenapa?" Sinta menatap keduanya dengan bingung. "Aku menyarankan yang terbaik. Dengan kejadian ini, aku bisa memastikan jika Ammar tulus denganmu, Jo! Sekarang tinggal dirimu saja yang menjawab, apa kau benar-benar serius berhubungan dengannya?" lanjutnya.


Joana tetap terdiam.


Doni menatap Joana, "Kau memikirkan restu Mommy dan Daddymu, bukan?" tanyanya. "Aku memang tidak yakin mereka akan merestui dengan Ammar, apalagi statusnya itu." lanjut Doni seraya tertunduk.


Joana menghela nafas berat.


"Sudahlah, hadapi saja. Aku yakin beberapa jam lagi mereka akan tiba di Indonesia. Kau dan Ammar hanya perlu yakin dengan perasaan kalian. Setelah itu hadapilah bersama-sama." Kata Doni yang diangguki oleh Sinta.


...Bersambung......