How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Hadiah pernikahan



Kinanty terbangun dari tidurnya, ia merasakan tubuhnya terhimpit sebuah tangan yang memeluknya dengan posesif.


Kinan mengangkat tangan itu, yang tak lain adalah tangan Rey, suaminya. Ia memindahkannya pelan agar ia bisa bergerak. Beberapa kali ia melirik Rey yang masih terlelap dalam tidurnya.


Kinan terduduk diatas ranjang, ia menyadari jika sekarang hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Haisssh." Kinan menepuk dahinya sendiri ketika melihat tubuh polosnya dibalik selimut itu. Wajahnya merona karena mendadak teringat kejadian yang semalam mereka lakukan.


Kinan menatap Rey dari posisi duduknya, ia menggeleng pelan melihat wajah lelaki itu seraya tersenyum. Tangannya menjangkau wajah Rey dan mengelus lembut pipi suaminya lalu Kinan mengecup singkat pipi Rey yang tertidur.


Kinan memandangi sekeliling kamar, mencari pakaian apa saja yang bisa ia gunakan. Ia menghela nafasnya ketika melihat pakaiannya dan Rey yang berserakan di lantai kamar. Pipinya kembali merona mengingat perlakuan Rey padanya semalam.


Kinan menggeleng cepat, membuyarkan pikirannya. Ia sedikit merangkak untuk menjangkau pakaian yang terdekat dan itu adalah kaos milik Rey. Ia meraih itu, mengenakannya ditubuhnya dan itu terlihat baik untuknya walau pasti kebesaran untuk ia kenakan ditubuh mungilnya. Kinan berdiri setelah menggunakan kaos itu, kemudian ia menggulung rambutnya dan akan menuju kamar mandi.


"Aww.." Kinan ingin beranjak sebelum akhirnya ia meringis saat merasakan sakit di pangkal pahanya. Ini benar-benar sakit, mengingatkannya pada masa itu. Dimana ia terbangun di apartment Rey pada masa lalu. Kinan menepis cepat pikirannya tentang masa-masa buruk itu, berusaha berjalan perlahan, memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri.


___


Selesai dengan urusan mandinya, Kinan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer didepan meja kaca yang ada dikamar. Rey masih tertidur dengan dengkuran halus. Kinan tidak tega membangunkannya, mengingat mereka hampir semalaman memadu kasih.


Kinan memutuskan menyiapkan perlengkapan mandi Rey--pakaian, handuk dan parfumnya--semua Kinan sediakan di atas meja walk in closet yang berada disisi kamar besar itu. Setelah itu, Kinan pun memutuskan turun tanpa mengganggu tidur suaminya, ini memang masih terlalu pagi untuk Rey bangun-pikir Kinan.


Sesampainya di lantai dasar, Kinan bertemu dengan ibu mertuanya yang sepertinya juga baru turun.


"Hai sayang, bagaimana tidurmu dikamar Rey? Apakah nyenyak?" Sapa Nyonya Zehra pada menantunya itu.


"Aku tidur dengan nyenyak, Ma." Jawab Kinan jujur, walau sebenarnya ia masih merasa kurang tidur akibat ulah Rey semalam. Bagaimana tidak, Kinan terlelap sekitar pukul dua dini hari.


"Hmm, baguslah. Mama senang mendengarnya." Nyonya Zehra menatap Kinan sejenak. "Apa Rey nakal?" Sambungnya seraya berbisik. Mata Kinan membola mendengar pertanyaan mertuanya itu, sedetik kemudian ia menunduk seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Hahaha." Suara tawa mertuanya itu menggema dirumah besar yang masih sepi karena sebagian penghuninya mungkin masih terlelap. "Sudah, sudah! Jangan terlalu dipikirkan. Mama hanya bercanda." Lanjutnya.


Nyonya Zehra melangkah ke dapur, diikuti oleh Kinan. Mereka berdua melakukan kegiatan memasak sarapan untuk para suami. Meski banyak pelayan, tapi mertua Kinan ini terbiasa memasak untuk suaminya, dan Kinan mengagumi itu. Kinan ingin berbuat hal yang sama terhadap Rey. Membiasakan suaminya untuk memakan masakan buatannya. Nyonya Zehra dan Kinan pun terlihat semakin kompak dan Kinan benar-benar merasa bahagia.


"Terima kasih, Ma." Ucap Kinan di sela-sela kegiatan mereka. Nyonya Zehra sedang mengaduk sayur yang ia masak, sedangkan Kinan tengah menyiapkan peralatan makan untuk diangkat seorang pelayan ke meja makan.


"Kenapa berterima kasih, Ki?" Tanya wanita itu heran.


"Sejak mengenal Mama, aku merasakan memiliki ibu lagi. Mama seperti ibu kandungku." Kinan tertunduk dalam.


"Sudah selayaknya begitu kan? Kamu adalah wanita pilihan Rey dan Rey anak Mama satu-satunya. Kamu juga anak Mama sekarang." ia tersenyum menatap menantunya.


"Boleh aku minta satu permintaan, Ma?"


"As you wish." Jawab wanita paruh baya itu lembut.


"Kinan ingin memeluk Mama." Mata Kinan berkaca-kaca ketika mertuanya itu mengangguk sebagai jawaban.


Kinan memeluk tubuh mertuanya itu, bagaimana bisa seorang seperti Nyonya Zehra mau menyayanginya. Kinan hanya gadis desa biasa, ia bahkan tidak memiliki sanak-saudara. Sementara kedudukan Nyonya Zehra yang seorang wanita terhormat, bisa memperlakukannya dengan layak. Bahkan, orang-orang yang ia anggap keluarga selama ini, tidak pernah menganggapnya begitu. Bagaimana Kinan mencoba menganggap Latifa dulu sebagai ibunya juga, tapi wanita itu tidak pernah menganggapnya, bahkan setelah ia menjadi istri dari Ammar dan menjadi menantu Latifa, Latifa bahkan terang-terangan ingin menyingkirkan Kinan.


Kinan terisak dalam pelukan mertuanya, pelukan yang hangat, layaknya pelukan seorang ibu pada anaknya. Ia bersedih bukan karena membandingkan Zehra dan Latifa. Tapi saat ini ia mengingat almarhum ibunya yang telah meninggal.


"Apa kau sedang merindukan ibumu?" Tanya Nyonya Zehra.


Kinan mengangguk dalam pelukan itu.


"Kau bisa menganggapku seperti ibumu, Nak! Sesekali datanglah ke makamnya dan doakan mendiang Ibu dan Ayahmu." Ucap Nyonya Zehra pelan. Ia juga ikut terharu mengetahui menantunya sudah tak memiliki keluarga.


Kinan menggeleng, ia melepas tautan tubuh mereka, ia mengusap air matanya dan menatap mertuanya dengan senyuman yang menyedihkan.


"Ibu dan Ayahku tidak memiliki makam, Ma." Jawab Kinan sambil kembali menyeka airmatanya yang menetes setelah kalimat itu tercetus.


"Maafkan Mama, Ki. Mama tidak tahu dan tidak bermak--"


"Tak apa, Ma." Potong Kinan. "Mereka pasti sudah bahagia di alam sana. Walau aku tidak bisa ke makam orangtuaku, tapi aku bisa mendoakan mereka." Ucap Kinan seraya memasang senyumnya yang menawan.


Nyonya Zehra kembali memeluk menantunya itu seraya mengelus pelan punggung Kinan, ia mengerti sekarang bahwa Kinan bergantung besar pada keluarganya. Ia pun menyadari jika hidup Kinan tak jauh berbeda dengannya yang hanya memiliki Tuan Yazid sebagai tempat berlindung.


"Kau tau, aku juga sepertimu. Aku adalah anak panti asuhan yang diangkat derajatnya oleh suamiku." Mata Nyonya Zehra berkaca-kaca, jelas terpancar kesedihan disana.


Kinan terkejut mendengar kenyataan itu, pantas saja sedari awal wanita yang kini jadi mertuanya itu selalu bersikap hangat dan bersahabat dengannya.


"Jangan bersedih Kinan, kita adalah wanita beruntung karena mendapatkan pasangan yang mencintai dengan tulus. Mama percaya, Rey benar-benar mencintaimu. Mama tahu anak mama seperti apa, jika dia tidak cinta dia tidak mungkin mau menikahi wanita itu."


"Aku tahu, Ma. Aku juga sama. Aku tidak mungkin menerimanya jika perasaanku belum jelas. Karena aku takut memulai lagi hubungan tanpa cinta seperti masa laluku." Jawab Kinan jujur.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


"Rey, kapan kau masuk kerja?" Tanya Tuan Yazid pada putranya yang tengah menyeruput kopi.


"Papa!" Nyonya Zehra mencoba memprotes pertanyaan suaminya itu.


"Aku belum tahu, Pa." Jawab Rey singkat.


"Mereka bahkan belum bulan madu, Pa! Kau malah menanyakan soal kerja, kerja dan kerja!" Nyonya Zehra mulai melakukan protesnya. Suaminya hanya tersenyum miring tanpa menjawab.


"Justru itu, Papa ingin memberikan kabar. Jika cuti Rey akan papa perpanjang."


Rey terperangah, begitupun Kinan yang sedang mengolesi roti dengan selai cokelat kesukaannya. Keduanya belum mengerti kemana arah percakapan ini.


"Begini, Papa dan Mama kan belum memberi kalian hadiah pernikahan." Pria tua itu menjeda ucapannya. Tangannya merogohh saku dari balik jas-nya dan mengambil sesuatu disana. "Ini!" Sambungnya seraya menyerahkan kertas ke arah Rey.


"Apa ini, Pa?"


"Hadiah untuk kalian berdua."


Rey mengamati kertas itu. Itu adalah tiket penerbangan menuju Prancis.


"Pergilah berbulan madu. Bora-bora. Itu adalah hadiah dari kami untuk pernikahan kalian." Ujar Tuan Yazid membuat Rey ingin menjerit kesenangan.


Bora-bora adalah pulau di Prancis. Bora-bora merupakan salah satu destinasi honeymoon paling cantik yang banyak menjadi pilihan. Hamparan pasir putih dengan air laut sebening kristal yang dipenuhi terumbu karang serta pegunungan yang indah.


"Terima kasih, Pa." Jawab Rey antusias.


"Pergilah. Sebelum kandungan istrimu semakin besar. Tapi ingat, periksakan dulu semuanya agar semua berjalan lancar." Tuan Yazid mewanti-wanti sang anak yang diangguki oleh Rey.


"Memangnya kemana?" Celetuk Kinan yang dari tadi hanya diam dan mengamati ayah dan anak itu.


Rey menunjukkan tiket itu pada Kinan yang duduk disampingnya. Kinan menutup mulutnya karena merasa terkejut. "Ini tidak salah?." Tanya Kinan pelan. Ia tidak pernah bermimpi akan pergi keluar dari Negaranya, tapi semenjak mengenal Rey, ia bahkan sudah pulang-balik Luar Negeri.


Rey mengangguk. "Iya sayang, kita akan urus semua secepatnya."


.


.


.


Bersambung...


Tolong dukung karya ini yah dengan vote, like, love dan boleh dong tinggalin komentarnya..Yang penting jangan jadi pembaca gelap yang tidak meninggalkan jejak. Seenggaknya, kasi apresiasi karya aku dengan hadiah🙏🙏 ku butuh moodbooster guys😂😂😂