
Shirly memasuki rumah Ammar seperti biasanya. Ia terkejut mendapati Kinan yang sudah duduk menatapnya tajam. Ia mendadak gugup tapi cepat-cepat ia memasang ekspresi biasa.
"Shirly, apa kau tau kenapa aku bisa keluar dari rumah ini sore itu?" Tanya Kinan dengan suara tegas.
"Maksudmu?" Shirly berlagak bodoh.
"Iya, aku ingat ketika aku memakan kue buatanmu, aku masih dirumah ini saat itu! Aku tidak kemana-mana, bagaimana bisa aku pulang keesokan harinya dan keadaannya jadi begini. Kau pasti tau kan?"
"Kau ini bicara apa Kinan? Aku benar-benar tidak mengerti. Kamu sepertinya sedang berkhayal." Jawab Shirly seraya ingin melangkah pergi.
"Tunggu! Bukankan kau juga bilang akan pulang ke Bali. Kenapa sekarang kau masih disini?"
"Hey Kinan! Aku ya memang disini. Yang bilang aku akan pulang ke bali, siapa? Kurasa kau ini bermimpi ya!" Ujar Shirly acuh.
Tanpa menunggu jawaban dari Kinan, Shirly pun langsung pergi untuk menghindar dari Kinan.
Kinan menatap kepergian Shirly dengan perasaan berkecamuk. Karena Kinan yakin apa yang ia ingat adalah sebuah kenyataan bukan cuma khayalan atau mimpi seperti yang Shirly tuduhkan kepadanya.
*****
Semenjak kejadian itu, Kinan benar-benar semakin tidak dihargai dirumah ini.
Setiap hari Kinan harus menjalani rutinitas melebihi ART yang bekerja dirumah.
Latifa bahkan tidak membiarkan Kinan menyentuh anak-anak ataupun sekedar berbicara pada mereka. Latifa hanya mengizinkan Kinan berkutat dengan pekerjaan rumah yang seperti tiada habisnya.
Seharusnya pekerjaan rumah itu sudah selesai, tapi lagi-lagi ada saja cara Latifa untuk mencari-cari pekerjaan yang bisa untuk Kinan kerjakan.
Bagaimana dengan Ammar? Ammar tidak peduli kepada Kinan bahkan setelah semua yang terjadi Ammar semakin parah.
Mungkin dulu ia masih mau menyapa Kinan atau menanyakan kabarnya diawal-awal pernikahan mereka yang tanpa cinta. Tapi kini, Ammar seolah buta tak melihat Kinan dimatanya.
Bukannya tidak tahu, tapi Ammar seolah memang membiarkan saja apa yang Latifa lakukan pada Kinan.
Kepindahan Kinan dari kamar utama pun tak pernah dipertanyakan dan dipermasalahkan oleh Ammar, seolah memang keputusan Kinan untuk pisah kamar adalah memang yang terbaik dan tak perlu dibahas lagi.
Kini status Kinan saja yang sebagai istri Ammar. Sudah tanpa cinta, tak dihargai malah dijadikan pembantu tanpa gaji.
Ammar lebih banyak diam sekarang. Membiarkan saja apa yang terjadi pada Kinan tanpa mencegah. Tiada yang tahu apa yang ada didalam hati dan pikiran Ammar.
Kinan melewati hari-hari yang sangat berat tanpa perlindungan dari siapapun. Mungkin Kinan akan kuat menjalani rutinitas yang tiada habisnya dirumah Ammar. Tapi entah kenapa, statusnya sebagai istri tak dianggap kadang membuatnya lemah. Bagaimanapun Kinan ingin dihargai dan diperhatikan.
Kinan sadar ia tak layak lagi untuk Ammar, terlebih kesuciannya sudah ternoda bahkan sebelum Ammar menyentuhnya. Tapi sampai saat ini pun Ammar tidak pernah menanyakan apa kebenarannya.
Kinan ingin sekali berbicara pada Ammar, menjelaskan semuanya. Tapi entah kenapa Ammar menutup akses dirinya untuk sekedar berbincang berdua. Ammar menghindari Kinan. Dan lebih parahnya Ammar sangat terlihat menjauhi apapun yang berhubungan dengan Kinan seolah Kinan adalah Bakteri yang tidak boleh disentuh karena akan menimbulkan penyakit.
Seperti saat ini Kinan sedang mengepel lantai bagian ruang tamu.
Anak-anak dengan sesegera mungkin disuruh Latifa masuk kedalam kamar sebelum melihat keberadaan Kinan diruang tamu.
Ammar sedang berkutat dengan laptopnya, melirik tajam apa yang dilakukan Kinan. Setelah itu ia diam melanjutkan kegiatan dan tak menghiraukannya.
"Mas, bisakah kita bicara?" Pinta Kinan lembut pada Ammar sembari meletakkan alat pel disudut ruangan.
Ammar hanya diam mendengar ucapan Kinan.
"Mas, aku mau kamu mendengarkan penjelasanku mas!"
Ammar menutup laptopnya, berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Kinan yang berada disudut ruangan.
"Ingin menjelaskan apa?" Tanyanya datar.
"Mas, kamu sudah keliru menilaiku! Pikiran kamu mengenai aku semua itu salah, mas! Lirih Kinan berkata-kata.
Ammar tampak menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Masalah itu lagi? Bukankah itu semua sudah selesai?" Ammar menatap Kinan dengan tajam.
"Selesai? Apa dengan mendiamkan aku semuanya sudah selesai menurutmu, mas? Aku bahkan belum menjelaskan apapun!"
"Sudahlah, tidak enak didengar anak-anak. Jangan memulai keributan!" Suara Ammar mulai meninggi.
"Aku bukan mau memulai keributan mas. Aku ingin bicara tentang kenyataan!"
"Kenyataan apa lagi Kinan? Kau seharusnya masih beruntung aku masih mau melihatmu berada disini!"
Ucapan Ammar itu sontak membuat Kinan serasa ditampar. Bukan dengan tamparan fisik tapi kata-kata itu sungguh sebuah arti bahwa Ammar sebenarnya tak sudi untuk melihat Kinan lagi.
Bukankah Kinan juga sudah memintanya untuk menceraikan Kinan? Dan kenapa Ammar tidak menceraikannya saja. Kenapa harus seperti ini jalan yang dipilih Ammar.
Ammar sudah hendak beranjak, ia berbalik badan dan kakinya mulai terangkat untuk meninggalkan Kinan yang terpaku ditempatnya dan mulai meneteskan airmata.
"Aku tidak pernah menghianatimu mas!" Ucapan Kinan mulai tegas dan berhasil menghentikan langkah Ammar.
"Aku-aku sudah jadi korban pemerkosaan!" Sambung Kinan lagi meski hatinya itu terasa tersayat mengucapkan kalimat yang adalah kenyataan pahit untuk hidupnya.
Ammar terkejut mendengar pernyataan Kinan. Ia terpaku juga ditempatnya. Ia diam tanpa menoleh kearah Kinan.
"Aku tidak tahu siapa yang melakukannya mas. Ku rasa aku tidak sadarkan diri. Aku tersadar sudah dalam kondisi menjijikkan!" Jelas Kinan sudah tersedu-sedu. Kinan terduduk dilantai meratapi nasibnya.
Ammar masih terdiam dengan pikirannya sendiri setelah mendengar penjelasan Kinan. Hati nuraninya berontak untuk mengajak tubuhnya agar segera menghampiri Kinan yang terduduk dibelakangnya.
Kedua tangan Ammar mengepal, ia berbalik dan menghampiri Kinan juga pada akhirnya.
"Berdirilah!" Ucap Ammar seraya memegang kedua pundak Kinan. Membantunya berdiri.
Ammar membawa Kinan masuk kekamarnya. Kamar utama rumah itu. Ammar mendudukkan istrinya itu di sofa, sedangkan ia duduk di sisi ranjang menatap lurus ke mata Kinan.
"Apa aku bisa percaya kata-katamu?" Tanya Ammar lagi.
"Aku bersumpah mas!" Jawab Kinan masih dengan air matanya.
Ammar tampak diam dan berfikir.
"Aku menemukan diriku didalam sebuah kamar. Yang pada akhirnya aku tau itu adalah sebuah apartment!"
"Kinan, kamu tau kan aku tidak mungkin percaya begitu saja padamu!"
Kinan menutup mulutnya, ia terdiam. Mencerna kata-kata Ammar yang seharusnya menanyakan alamat Apartment itu untuk mencari tahu dalang dibalik nestapa yang dialami Kinan. Tapi dari kata-kata Ammar, Kinan menyimpulkan bahwa saat ini apapun yang Kinan jelaskan panjang lebar, Ammar tidak mungkin percaya begitu saja.
"Kau pikir aku mengarang, mas? Aku pikir kau masih punya nurani untuk tahu kebenaran dari kata-kataku! Aku tahu kau orang yang menjunjung bukti dan fakta. Seharusnya memang kata-kataku bukan sebuah bukti untukmu!"
Ammar terlihat memijat pelipisnya.
"Seharusnya kamulah sebagai suamiku yang mencari bukti dan fakta itu mas untuk memperjelas kata-kataku adalah benar adanya!" Tambah Kinan dengan tegas seraya meninggalkan Ammar sendiri dikamar.
Kinan berfikir biarlah dulu Ammar menyendiri untuk memikirkan kata-kata Kinan. Tak perlu menjelaskan apa-apa lagi, yang penting Ammar percaya dulu baru ia bisa menjelaskan lebih jauh.
💠💠💠💠💠ðŸ’
Semua terasa sama semenjak petaka yang menimpa Kinan. Bahkan, setelah Kinan menjelaskan pada Ammar kenyataan yang terjadi, Ammar tetap pada sikapnya yang dingin dan acuh terhadap Kinan.
Setiap Kinan ingin mengajaknya bicara, Ammar menghindar dan pergi begitu saja. Alasannya, ia masih berfikir dan akan memutuskan jika ia menemukan titik terang.
Sampai pada hari ini, Kinan melakukan aktifitas seperti biasanya yang tanpa jeda kecuali sedang makan dan tidur dimalam hari.
Saat ini Kinan sedang mengelap kaca jendela belakang. Ini adalah akhir pekan. Semua sudah berkumpul diberanda belakang rumah.
Ammar dan anak-anaknya sedang bercengkrama sambil bermain ular tangga.
Latifa tampak sedang melakukan kegiatannya yaitu duduk di kursi goyang memperhatikan anak cucunya sambil tersenyum bahagia.
Kinan memperhatikan mereka. Jauh dilubuk hati Kinan merasa bahagia melihat pemandangan itu. Ammar sejatinya memang seorang ayah yang sangat menyayangi orang-orang terdekatnya.
Kinan bahkan sempat hampir merasakan kasih sayang Ammar. Tapi semenjak malam terkutuk itu, kebahagiaan yang belum puas bahkan belum seutuhnya Kinan dapatkan, harus lenyap begitu saja.
"Andai saja aku bisa berada ditengah-tengah mereka. Menjadi seorang ibu dan istri yang dianggap, aku pasti sedang bahagia sekarang." Lirih Kinan dalam hati.
Tiba-tiba Kinan merasa pemandangannya kabur, dan perlahan mulai gelap. Badannya terasa lemah dan hampir ambruk.
...Brukkk......
Kinan tergeletak dilantai, dibawah jendela yang sedang ia lap.
Ammar terkejut, begitupun Latifa dan anak-anak. Ammar berlari menghampiri tubuh Kinan yang sudah pingsan.
"Kinan.. bangun Kinan!" Ammar menepuk-nepuk pelan pipi Kinan untuk membangunkannya.
Anak-anak ikut beranjak melihat keadaan Kinan. Mereka ikut berjongkok disamping Ammar melihat Kinam yang sudah tak sadarkan diri.
Ammar menatap Latifa yang sudah ikut berdiri tapi tetap diam. Mamanya itu tampak tertunduk takut, takut kalau-kalau Ammar menyalahkannya dan marah karena Kinan pingsan akibat dari ulah Latifa yang sudah menyuruh Kinan ini dan itu.
"Ma, tolong jaga Kinan disini. Aku akan siapkan mobil, aku akan bawa Kinan kedokter. Mungkin Kinan kelelahan!" Ucap Ammar dengan nada khawatir.
Ammar bergegas menuju garasi mobilnya dan mengeluarkan mobil setelah ia menitipkan tubuh Kinan pada Latifa.
Setelah memasukkan Kinan dikursi belakang, Ammar pun pergi membawa tubuh Kinan kerumah sakit.
.
.
.
Sesampainya diruangan rumah sakit. Ammar menanyakan keadaan Kinan pada dokter, setelah baru saja dokter siap memeriksanya. Kinan pun nampak baru sadar dari pingsannya.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Ammar.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu Kinan tidak apa-apa, Pak! Mungkin ia kelelahan saja. Tapi-"
"Tapi kenapa dokter?"
"Saya rasa ibu Kinan sedang mengandung, Pak."
"Apa? Dokter tidak salah kan?" Ammar sedikit syok mendengar pernyataan Dokter lelaki itu.
"Ada baiknya bapak rujuk ke specialist kandungan biar lebih jelas. Dan jika benar, segera lakukan USG saja agar tau usia kandungannya." Ujar dokter itu sambil tersenyum bahagia dan menepuk-nepuk pundak Ammar.
Setelah mengatakan hasil diagnosanya, dokter itu pun pamit undur diri. Meninggalkan Ammar yang mematung didepan pintu.
Kinan masih berbaring diranjang pasien, menatap Ammar yang dari wajahnya tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Ada apa mas?" Tanya Kinan yang baru sadar dan tak mengerti.
Ammar menggeleng lemah.
"Aku cuma kelelahan mas!" Ujar Kinan.
"I-iya" jawab Ammar gugup dan masih syok.
"Ya sudah kita pulang saja ya mas. Aku tidak mau menginap dirumah sakit."
Ammar mengangguk.
"Baiklah. Tapi setelah kamu dirujuk dan diperiksa oleh dokter lain dulu. Setelah itu baru kita pulang." Tambah Ammar dengan ucapan lesu.
"Kenapa mas? Aku tidak apa-apa. Dan tadi aku sudah diperiksa. Kenapa harus dirujuk ke dokter lain dan diperiksa lagi?"
"Aku ingin memastikan sesuatu!" Ammar mulai bernada tinggi.
Melihat Ammar dengan reaksi seperti itu, Kinan memutuskan untuk bungkam.
Tak berapa lama Ammar kembali, dan mereka melakukan pemeriksaan ulang kebagian specialist kandungan dirumah sakit itu.
Kinan sedikit terkejut melihat Ammar membawanya ke ruangan ini. Kinan menatap Ammar dengan tanda tanya besar dikepalanya.
Kinan makin terkejut ketika perutnya dioleskan semacam Gel, kemudian perutnya itu diletakkan sebuah alat yang tersambung ke monitor disisi tempat tidur.
"Selamat Ibu Kinan dan Pak Ammar! Ibu Kinan ternyata sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki tiga minggu" jelas dokter itu dengan sumringah.
Kinan terperangah dan syok. Sedangkan Ammar diam dengan pemikirannya sendiri.
Kinan bangkit dan berdiri pergi meninggalkan ruangan tanpa sepatah katapun. membawa keterkejutannya bersamanya.
Kinan kini merasa benar-benar bodoh dan marah kepada dirinya sendiri. Ia terkejut, benar-benar terkejut mengetahui kondisinya yang sedang mengandung.
Ia berlari dan pergi tanpa memikirkan Ammar yang masih didalam ruangan.
Ammar keluar ruangan dengan perasaan berkecamuk. Kinan hamil dan itu bukan atas perbuatannya. Kinan mengandung anak yang bukan anaknya.
Bagaimana mungkin Kinan akan hamil anaknya, sedangkan ia belum pernah menyentuh Kinan sejauh itu.
Ammar merasa marah entah pada siapa. Disaat ia mau menerima Kinan sebagai istrinya, disitu pula ia mendapati Kinan sudah ternoda. Disaat ia ingin mempercayai bahwa Kinan telah diperkosa dan ingin menerima kekurangan Kinan itu setelah memikirkannya berhari-hari, disitu pula ia mendapat kenyataan bahwa Kinan mengandung anak orang lain yang entah siapa orangnya.
"Kenapa aku harus menghadapi banyak cobaan seperti ini dalam rumah tanggaku yang seumur jagung? Haruskah aku menerima Kinan sekarang? Haruskah aku menerima anak dalam kandungannya juga?" Ammar bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ammar terduduk disamping kursi tunggu disisi ruangan.
Setelah meratapi apa yang terjadi dan menata hatinya, Ammar bangkit dan baru menyadari bahwa Kinan sudah tidak ada bersamanya.
Ammar mencari-cari Kinan kemana-mana, keseluruh bagian rumah sakit. Namun ia tak dapat menemukan keberadaan Kinan.
.
.
.
Bersambung...