
"Dimana Kinan, Pa?" Rey menemui sang ayah yang berada diruang kerjanya. Ini sudah larut malam, tapi pria itu masih berada disana.
"Kenapa kau menanyakan wanita itu pada Papamu, Nak?" Aura dingin menyelimuti pria yang sedang duduk santai dihadapan Rey ini.
"Pa, aku sudah tau papa menyuruh om Ardi untuk mengirim Kinan ke Luar Negeri!"
"Kau tidak usah emosi begitu Rey, Papa hanya ingin memisahkan kalian beberapa saat. Sampai kamu mengerti apa sesungguhnya perasaanmu!"
"Ck! Harus berapa kali aku bilang, Pa?" Rey membuang pandangan. Menatap jejeran buku-buku yang tersusun di rak.
"Kalau nanti perasaanmu sudah hilang, baru dia akan kembali ke indonesia!"
Jika kalian berfikir lelaki tua ini akan menyatukan Rey dan Kinan suatu saat nanti, Itu adalah kesalahan. Papa Rey adalah orang berhati dingin yang tak mungkin bisa melakukan hal picisan seperti itu. Dia punya maksud lain. Maksud yang sesungguhnya adalah memaksa Kinan agar menjauhi Rey. Lebih tepatnya agar tidak bisa bertemu Rey lagi.
"Jika benar kau mencintai dia, itu belum tentu dia juga akan mencintaimu kan?" Jawab pria tua itu acuh tak acuh.
"Pa!"
"Aku memberi kalian jarak, agar kalian bisa saling melupakan. Jika kau tak bisa melupakannya seiring waktu, mungkin dia yang akan melupakanmu!"
Benar saja dugaan Rey, semua yang dilakukan Papanya bukan untuk kebahagiannya. Dia, menginginkan Rey melupakan Kinan dan begitu juga sebaliknya.
"Kinan mengandung anakku, Pa! Bagimana bisa papa memisahkan kami? Seharusnya Papa--"
"Darimana kau yakin anak itu anakmu?"
"Aku tau Pa, aku bisa merasakannya!"
"Baiklah. Terserahmu saja! Wanita itu juga sudah membuat kesepakatan denganku!"
"Kesepakatan apa?"
"Dia akan menyerahkan anak itu kalau dia tidak mau bekerja seumur hidup padaku!"
"Papa ingin dia bekerja?"
"Ya, aku akan mengirimnya ke perusahaanku yang berada di Luar Negeri, dan dia akan berada disana seumur hidupnya. Jika tidak, konsekuensinya adalah anak yang sudah dia lahirkan nanti!"
"Keterlaluan!" Rey ingin sekali memukul wajah lelaki tua ini jika saja dia bukan ayah kandungnya, Rey pasti tidak akan melepaskannya.
"Kau tau rencanaku dengan cepat, ternyata kau punya kaki tangan di luar sana anak muda!" Sindirnya pada Rey yang sudah merah padam.
"Baiklah jika kau memang mau menguji perasaanku, ku pastikan itu tidak akan berubah. Dan suatu saat nanti aku akan mencari Kinan kemanapun!"
Sang papa hanya tersenyum miring mendengar pernyataan Rey, ia tahu jika Rey tak pernah seserius itu terhadap wanita. Maka ia harus menguji perasaan anaknya. Jika memang Rey tak bisa melupakan Kinan, harapannya tinggal Kinan lah yang akan melupakan Rey suatu saat nanti. Ia tersenyum licik. Perasaan anak muda bukankah cepat sekali berubah? ia hanya tak mau Rey menyesal jika menikah hanya karena rasa tanggung jawab. Ia yakin sekali perasaan Rey akan berubah dengan cepat.
"Aku sudah mengatakan jangan pernah mengatur perasaanku! Jika rencanamu gagal, lalu aku dan Kinan sama-sama masih memiliki perasaan ditahun-tahun berikutnya, bagaimana?" Rey tersenyum kecut dengan pertanyaannya sendiri.
"Itu tidak akan terjadi!"
Lelaki tua itu mengangkat bahu.
"Aku sudah bilang, aku ingin memberi jarak antara kalian supaya kalian bisa mengerti perasaan masing-masing!"
"Aku tidak percaya jika hanya itu!"
"Sejujurnya Papa sangat berharap dia juga mencintaimu Rey! Papa kasian padamu, Nak!"
Rey mendengus, tak mungkin Papanya akan menyerah begitu saja. Pasti nanti dia akan memikirkan lagi cara lain agar Rey dan Kinan berpisah.
"Kalau begitu biarkan kami menikah sekarang, kenapa harus menunda dan memberi kami jarak?"
"Dua tahun. Jika kau tetap mencintainya dan ternyata dia sudah melupakanmu, berarti dia bukan jodohmu! Dan bersiaplah mencarinya diujung dunia!"
"Aku akan menemukannya dan tetap memaksanya!"
Dari jawabannya, Rey memastikan jika sang Papa akan melakukan cara lain untuk memisahkan Rey dan Kinan jika ternyata setelah dua tahun perasaan mereka berdua masih saling mencintai dan tak ada yang melupakan. Berharap pada pria tua ini memang selalu menyakitkan. Ia tak pernah benar-benar memikirkan perasaan Rey.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Rey meninggalkan kediaman orangtuanya dengan perasaan marah, jengkel bercampur kesal. Semuanya akan mudah, tapi lelaki tua itu mempersulitnya. Rey tak habis pikir dengan pikiran papanya. Kenapa harus berputar-putar begitu jika nanti Rey tetap akan menikahi Kinan? Papanya memang sulit ditebak. Jika dari Jakarta ke Singapura bisa melalui jalur udara, Papa Rey lebih memilih jalur darat untuk dilalui anaknya. Kenapa? Agar Rey bisa memiliki kenangan tersendiri dari perjalanannya. Dan Rey memiliki usaha untuk sampai ke tempat tujuannya. Lelah yang Rey rasakan, menjadi tantangan agar Rey tau tekadnya serius atau tidak. Mau melanjutkan perjalanan atau menyerah dan pulang. Begitulah pemikiran si tua dingin itu. Sangat ribet-pikir Rey.
Rey melihat pesan terakhir yang Kevin kirimkan. Sebuah lokasi yang adalah keberadaan Kinan.
"Aku merindukanmu, bagaimana mungkin aku bisa berjarak lagi denganmu jika seperti ini saja sudah menyiksa?" Gumam Rey pada dirinya sendiri.
Rey meminta supir mengantarkannya ke lokasi itu sekarang juga. Malam semakin beranjak, kini waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam dan akan menuju dini hari.
Sesampainya di lokasi yang ia yakini ada Kinan disana. Rey segera turun dari mobilnya, menuju rumah kecil diujung jalan. Keadaan sekitar sepi, tentu saja. Ini adalah waktu orang-orang beristirahat dan terlelap. Tapi Rey bahkan sudah ke banyak tempat malam ini.
Rey ingin mengetuk pintu, namun ia urung dan takut mengganggu waktu istirahat Kinan. Akhirnya Rey memilih duduk di kursi yang ada di teras. Udara dingin langsung menerpa kulitnya. Ia bisa menahan hawa dingin ini, tapi tangannya yang baru dioperasi karena patah tulang itu terasa ngilu.
"Aku akan menunggu sampai besok psgi disini. Agar aku tidak kehilangan jejakmu lagi" Ucapnya sambil menahan ngilu di tangan kirinya.
Beberapa menit berlalu, Rey hanya ditemani oleh udara dingin dan nyamuk-nyamuk penghisap darah. Sesekali ia mengantuk. Ini jauh lebih tenang ketimbang ia harus tidur dikamar nyamannya tapi tak tahu keberadaan Kinan.
Ceklek!
Terdengar suara kunci yang membuka pintu. Rey terkesiap dari rasa kantuknya. Ia menoleh ke arah pintu. Dan benar saja, wanita yang ia rindukan itu berada disana sambil memegang selimut.
"Kinan.." Rey semringah dan mendadak rasa ngantuknya terbang entah kemana.
Kinan tersenyum dan Rey berharap ini bukan mimpinya.
"Kau sudah kedinginan, kenapa tidak pulang?" Kinan menyelimuti Rey dengan selimut yang ia bawa.
"Aku merindukanmu, aku tidak mau kau pergi."
"Aku sudah mengatakan jangan mencariku!" Kinan cemberut dan membuat wajahnya menggemaskan di mata Rey. Andai saja tidak ada yang namanya sopan santun, mungkin Rey akan menghadiahi Kinan dengan kecupannya malam ini. Rey tersenyum menyadari pikirannya yang sudah melayang entah kemana melihat perlakuan hangat Kinan.
Kinan duduk dihadapannya dan mengelus pelan ujung kepala pemuda itu. Rey meraih tangan Kinan yang masih berada di rambutnya, lalu menggenggam tangan wanitanya.
"Kinan, tetaplah disampingku. Aku tidak bisa jika kau pergi. Tak apa jika kau menganggapku sampah. Tapi tetaplah disini. Menginjak kota yang sama denganku!" Rey menatap serius manik mata Kinan. Tatapan mereka bertemu dan seolah terkunci. Semua yang berputar seolah berhenti, termasuk waktu. Rey menggenggam erat jemari Kinan. Ia tak sanggup kehilangan wanita ini lagi dari hidupnya. Amat sesak dan menyiksa.
Rey merasakan amat sakit di sekitar tangannya yang patah, ia melepas tangan Kinan yang berada di genggamannya dan beralih mengelus tangan kirinya sendiri yang masih terbalut elastis itu sambil menatapinya, seolah meminta rasa sakit itu bisa diajak kompromi. Tapi ketika ia menatap ke depan, ia sudah tak menemukan Kinan lagi dihadapannya.
"Kinan?" Rey mencari keberadaan Kinan dan ia melihat pintu rumah itu sudah tertutup kembali. Rey mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Kinan. Namun pintu itu tak kunjung dibuka.
"Kinan!" Rey membuka matanya dan menyadari yang terjadi hanyalah mimpi. Ia mengusap wajahnya. Dan merasa frustasi. Kesal sendiri kenapa ia malah tertidur di kursi teras rumah ini.
"Sial!" Umpatnya. Ia menatap sekeliling, dan hari sudah subuh. Tangan kiri Rey benar-benar terasa ngilu sekarang. Entahlah, itu bukan hanya dimimpi tapi kenyataannya memang terasa sakit.
Rey menatap pintu rumah dan berharap yang terjadi di mimpinya barusan akan terjadi di kenyataan. Benar saja, tak berapa lama pintu itu terbuka dan muncullah sosok lelaki setengah baya yang tak Rey kenali.
"Siapa kau? Kenapa tidur diteras rumahku?" Lelaki itu ingin memukul Rey namun urung ketika melihat kondisi tangan Rey.
Rey menatap heran sekaligus terkejut. Apa dia salah rumah?
.
.
.
.
Bersambung..