How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Mengenaskan



"Apa Papa tahu perihal kematian Shirly yang mengenaskan?" Tanya Rey to the point begitu sampai diruang kerja sang Ayah dan dijawab anggukan kepala oleh lelaki setengah baya itu.


"Apa kematiannya ada hubungannya dengan Papa?" Tanyanya lagi. Wajahnya menatap serius ke manik mata sang Ayah.


"Rey, Papa mungkin akan memberinya pelajaran seperti menjadikannya pembantu atau menderita karena kekurangan uang tapi Papamu ini bukan pembunuh, Nak!" Jelas Tuan Yazid dengan tenang.


"Lalu perihal kekerasan seksual yang dialaminya sebelum tewas, apa ada kaitannya juga dengan orang-orang suruhan papa?" Rey mendekat ke arah meja kerja sang Ayah dan menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang membungkuk ke arah sang Ayah yang terduduk.


"No! tentu saja itu bukan ulah orang-orangku. Mereka melepaskannya sesuai keinginanmu dan entah apa yang terjadi setelah itu, sepertinya dia menerima karmanya sendiri, Rey." Tuan Yazid menatap serius kearah wajah Rey, pertanda ucapannya bukanlah main-main. "Semesta sudah menghukumnya atas perbuatannya. Itu bukan ulah Papa dan dia benar-benar tewas karena bunuh diri!" Sambung pria itu lagi.


Rey menghembuskan nafasnya perlahan. Sekarang ia percaya jika semua ini tidak ada kaitannya dengan sang Ayah. Rey bisa bernafas lega dan mulai memikirkan pernikahannya sekarang.


"Hmm, lalu bagaimana dengan Ammar, Pa?"


Tuan Yazid berdecih mendengar nama itu.


"Cih.. Lelaki itu berusaha mencari tahu semuanya sekarang. Itu sudah sangat terlambat karena semua bukti sudah ada ditanganku. Termasuk cctv dibelakang Club itu!" Ujar Tuan Yazid dengan berapi-api, sepertinya ia memang tak suka mendengar nama mantan suami Kinan itu.


"Pa, bagaimana kalau dia tahu apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Rey. Ia bukan takut, hanya ingin memastikan apa langkah Ammar selanjutnya jika tahu sebenarnya Rey adalah pelaku utama pelecehaan Kinan waktu itu.


"Papa rasa itu tidak mungkin kecuali dia bisa melacak jaringan cctv yang lain ataupun dia punya bukti.. maybe.."


______


Kinan dan Nyonya Zehra sedang mempersiapkan makan malam, keduanya sibuk di dapur walau sebenarnya ada banyak pelayan yang bisa memasak untuk makan malam mereka tapi kedua wanita itu nampak asyik dengan kegiatannya di sore ini.


"Mama tidak melihat Rey sejak selesai makan siang, dia kemana?" Nyonya Zehra menatap Kinan sekilas yang sedang memotong sayuran disampingnya. Kinan menggeleng "Aku tidak tau, Ma. Mungkin dia sedang ada kerjaan." Jawab Kinan sopan. Mereka melanjutkan kegiatan sampai seorang pelayan memasuki area dapur dan membisikkan sesuatu pada Nyonya Zehra. Wajah ibunda Rey itu nampak pias seketika. Kemudian ia membuka apron yang menutupi bajunya seraya beranjak dari dapur dengan sedikit tergesa.


Kinan melihat kepergian Nyonya Zehra dengan tatapan heran. Ia menghentikan aktifitas memotong sayuran itu dan perlahan mengikuti langkah Nyonya Zehra dengan sedikit perlahan. Perasaannya mendadak tak enak dan ingin tahu apa yang terjadi.


Nyonya Zehra menatap seorang wanita yang sudah duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu rumahnya. Ia memperhatikan sejenak kemudian menghampiri wanita itu dengan senyuman yang seperti dipaksakan.


"Mona, ada apa kamu kesini?" Sapa Nyonya Zehra pada Mona yang duduk dengan menyilangkan satu kakinya.


Mona refleks bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Nyonya Zehra serta tak lupa ia mencium kedua pipi wanita setengah baya itu.


"Bagaimana kabar Tante? Sudah lama aku tidak berkunjung kesini." Ucap Mona basa-basi.


"Tante sehat, kamu bagaimana?" Mereka berdua duduk berhadapan dan hanya dihalangi oleh sebuah meja yang berada diantara mereka. "Ya kamu sudah lama tidak kesini. Ada angin apa kamu kesini, Mona?" Nyonya Zehra berusaha bersikap ramah.


"Aku sehat, Tan. Aku baru pulang dari Seoul dan aku membawakan ini untuk Tante." Ucap Mona seraya memberikan bingkisan yang sedari tadi ada di sampingnya.


"Terima kasih, Mona. Tapi sungguh kamu tidak perlu repot-repot." Ucap Nyonya Zehra.


Tanpa mereka sadari, Kinan melihat keakraban itu dari sudut ruangan. Matanya berkaca-kaca setelah menyadari jika itu adalah Mona yang sama dengan Mona yang pergi bersama dengan Rey ke Seoul. Ah tidak, Rey mengatakan jika mereka hanya kebetulan bertemu di pesawat waktu itu-Batin Kinan. Tapi tetap saja hatinya merasa tak enak akan kedatangan wanita ini yang terlihat akrab dengan ibunda Rey.


Kinan terus melihat itu dengan diam dan dia memilih untuk mengintip walau ia tahu itu tidak sopan, hanya saja ia begitu penasaran siapa sebenarnya Mona dalam hidup Rey.


"Tan, Rey mana? Dia sudah pulang ke Indonesia kan?" Tanya Mona dengan mata berbinar penuh harap.


"Sudah, Rey mungkin sedang sibuk. Ia tidak keluar kamar dari tadi." Jawab Nyonya Zehra jujur.


"Bisa aku bertemu dengannya, Tan? Aku merindukannya." Mona tersenyum semringah diakhir kalimatnya, membuat Nyonya Zehra tak enak hati untuk menghancurkan harapan dihati wanita itu, tapi bagaimana pun Mona harus tahu yang sebenarnya.


"Kau boleh merindukannya, Mona. Tapi itu hanya sebatas rindu seorang teman lama." Jawab Nyonya Zehra dengan optimis. "Kau pasti sudah mendengar jika Rey akan segera menikah, bukan?"


Mona terperangah, sedetik kemudian ia melayangkan senyuman dari sudut bibirnya. "Ah, aku banyak kesalahan pada Rey. Bukankah tidak sopan jika dia menikah lebih dulu daripada aku?" Ucap Mona yang dibalas kekehan pelan oleh Nyonya Zehra.


"Tante tidak tahu ada perjanjian apa diantara kalian, tapi itulah kenyataannya, Mona. Rey akan menikah sebentar lagi."


Mona mengepalkan kedua tangan yang ada disisinya ketika mendengar kenyataan itu. Baginya Rey adalah sesuatu yang bisa dia gapai dengan mudah karena selama ini dia meyakini jika Rey begitu mencintainya dan selalu memaafkan kesalahannya. Rey juga melampiaskan rasa sakit hati pada banyak wanita tapi Mona yakin tidak ada satu wanita pun yang diseriusi oleh Rey dan Mona juga tahu jika Rey mencintainya. Hanya mencintainya. Ia menggeram dalam hatinya sendiri memdengar kenyataan dari bibir Ibunda Rey.


Nyonya Zehra mengangguk untuk menjawab Mona. "Yah, kau sangat terlambat. Dan kalaupun kau datang tepat waktu, tante tidak yakin namamu masih ada dihati Rey pada saat itu." Ujar Nyonya Zehra dengan raut prihatin karena melihat Mona menangis dihadapannya.


"Hapuslah airmatamu, Nak!" Ucap ibunda Rey itu dengan lembut. Ia benar-benar wanita berhati tulus yang tak sanggup melihat wanita lain menangis dihadapannya. Sedikit banyak, ia tahu perlakuan apa yang Rey terima dari Mona pada masa lalu dan sekarang ia benar-benar jatuh hati pada Kinan untuk menjadi menantunya bukan Mona.


Mona menyeka airmatanya sekilas, tapi ia tetap menangis. Kemudian, Nyonya Zehra menatap ke arah Kinan. Kinan terkejut ternyata keberadaannya diketahui oleh calon mertuanya itu.


"Kemarilah Kinan! Kau mungkin penasaran kenapa Mona datang kesini." Ujar Nyonya Zehra. Kinan pun berjalan perlahan kearah dua wanita yang masih terduduk itu, ia menundukkan wajah karena tak berani menatap Mona yang ia yakini memang memiliki perasaan lebih pada Rey. Mendadak dirinya merasa minder.


"Ini adalah Kinan, calon menantuku dan itu berarti dia calon istri Rey." Nyonya Zehra memperkenalkan Kinan pada Mona dengan raut bangga. Wajah Mona mendadak pias dan terkejut.


"Rey, seleramu kenapa wanita sederhana seperti ini? Aku tidak percaya kau beralih dariku hanya untuk wanita sepertinya." Batin Mona berkata-kata.


"Kinan." Ucap Kinan memperkenalkan diri. Kinan mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Mona tapi Mona hanya menatap tangan Kinan dengan tatapan nanar dan kemudian ia tertawa sarkas. Mona lagi-lagi menyeka airmatanya, ia tak percaya saingannya adalah wanita yang ada dihadapannya ini.


"Aku mau bertemu Rey, tante! Izinkan aku bertemu dengannya. Jangan halangi pertemuan kami!" Ujar Mona dengan nada naik satu oktaf. Ia tak mempedulikan tangan Kinan yang masih berada dihadapannya. Kinan pun menarik kembali tangannya dan menatap Nyonya Zehra yang seolah berujar 'tenanglah' padanya tapi tanpa suara.


"Tante tidak pernah menghalangimu untuk bertemu dengan Rey. Tapi Rey memang belum kelihatan dari tadi. Tante sudah katakan mungkin dia sedang sibuk!" Ujar Nyonya Zehra masih dengan nada sopan padahal ia menangkap nada bicara Mona yang mulai semenah-menah.


"Tante, jika Rey memang tidak terpaksa menikah dengannya maka izinkan aku untuk membujuknya!" Ujar Mona. Kinan sampai terperangah dengan ucapan Mona yang mengatakan jika Rey 'terpaksa menikah dengannya', Kinan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau boleh membujuknya, jika dia memilihmu maka aku akan mundur!" Jawab Kinan optimis.


Suara langkah kaki yang menuruni tangga menghentikan percakapan mereka. Ketiganya refleks menoleh keatas dimana Rey tengah memperhatikan ketiganya dengan bersedekap dada.


"Kau?" Rey menunjuk Mona dengan dagunya. "Pulanglah!" Jawab Rey cuek. Ia kembali menuruni tangga seraya memasukkan jemarinya kedalam saku celananya dengan santai.


"Rey!!" Mona setengah berteriak untuk memprotes ucapan Rey.


"Pulanglah Mona. Kau tidak akan dapat apa-apa disini!" Jawab Rey datar.


Mona menghampiri Rey yang sudah berada didepan mereka, kemudian menggoyangkan pelan lengan Rey yang bergeming. "Rey, kau jangan bercanda. Aku tahu aku menyakitimu. Tapi itu sudah terlalu lama. Ayolah!" Ucap Mona dengan nada manja.


Rey tersenyum miring kemudian mendengus. "Justru karena itu sudah terlalu lama, maka lupakanlah apa yang pernah terjadi!" jawab Rey kemudian menatap Mona dengan serius.


.


.


.


.


Bersambung...


Mampir yukkk ke karya ku yang terbaru "Terjebak Rasa." Ceritanya asli beda!!! dan... jangan lupa tinggalkan like kalian disana yaaaa❤️ disini juga jangan lupa tinggalkan like, love dan vote..Hadiahnya juga yaaa🙏🙏🙏🙏🙏


Blurb Novel "Terjebak Rasa"


Riris dan Yuda adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan pacaran cukup lama. Awalnya, Riris menerima Yuda untuk melupakan mantannya, Andre. Perlahan-lahan Riris mulai merasa ketergantungan pada Yuda sehingga memutuskan untuk menerima pinangan Yuda dan menikah dengannya. Tapi lambat laun, Riris merasa ada rahasia yang disembunyikan Yuda dari dirinya. Membuatnya harus memilih lagi dalam hidupnya.


"Kau melahirkan anakku dan sejak saat itu aku membuka hati lagi untukmu! Makanya kau sangat berarti, Ris. Itu karena kau telah melahirkan darah dagingku!" -Yuda Adiputra-


"Jangan hubungi nomorku lagi. Aku minta maaf, ini untuk menjaga perasaan suamiku." -Riris Sandrina-


"Jika Yuda menyakitimu, maka kembalilah padaku, Ris!" -Andrian Dinata-


Sebenarnya rahasia apa yang disembunyikan Yuda? dan akankah Riris terus menghindari Andre yang selalu datang dalam hidupnya bahkan setelah ia dicampakkan? Haruskan Riris bertahan atau kembali pada sang mantan?


Temukan jawabannya dengan baca Novel "Terjebak Rasa" Sudah episode 5. buka profilku yuk! tinggalkan like disana!!!❤️❤️❤️