How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Sosok yang familiar



Ammar mendekat secara perlahan-lahan.


Tapi Ammar terlambat, orang itu telah berlalu dan pergi tepat setelah Ammar tiba ditempat itu. Tempat itu adalah sebuah ruang makan sederhana.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang wanita muda yang usianya mungkin sebaya Kinan. Hanya wanita itulah yang tinggal sendiri disana. Dimana lawan bicaranya tadi? Yang Ammar yakini sangat familiar dengan suaranya?


Ammar menggeleng lemah. Perasaannya mendadak gusar, apa ini hanya pemikirannya saja. Mengingat Joana disaat seperti ini? Ah, Joana pasti akan sangat senang jika Ammar mengajaknya ketempat seperti ini. Joana sangat suka anak kecil. Joana juga suka bersosialisasi. Mendadak, Ammar sangat merindukan wanitanya. Lebih-lebih dari hari yang telah berlalu.


Mungkin dia terbawa suasana, sehingga disinipun dia seakan mendengar suara Joana?


"Pak.." suara wanita muda itu kembali terdengar memanggil Ammar. Menyadarkan Ammar dari lamunannya.


"Ah, tidak-tidak. Mungkin hanya perasaan saya saja. Maaf jika mengganggu, saya tadi dari toilet disebelah sana." kata Ammar dan wanita itu hanya ber-oh ria menyahuti Ammar.


Saat Ammar akan melangkah pergi suara wanita itu kembali memanggilnya.


"Maaf, Pak. Apa Bapak tamu yang datang bersama Tuan Mirza tadi?" tanyanya sopan.


Ammar menoleh. "Ya," jawabnya singkat sambil tersenyum kecil.


"Terima kasih atas sumbangan sembakonya, Pak. Semuanya sudah di bawa ke dapur kami. Semoga rezeki Bapak bertambah," imbuhnya.


Ammar hanya tersenyum sekilas seraya mengangguk, kemudian dia pamit undur diri.


Kejadian diruang makan tadi membuat Ammar sedikit tak bersemangat. Dia ingin menjernihkan dulu pikirannya.


"Rokok, Pak." tawar Sang Sopir yang berdiri tidak cukup jauh dari Ammar. Entah kenapa Ammar tak kuasa menolaknya dan malah menerima bungkusan rokok serta koreknya dari tangan sopir itu. Sopir itu tidaklah tahu Ammar perokok atau bukan tapi dia hanya berniat menawari sebagai bentuk basa-basi. Jika Ammar menerimanya pun dia tidak keberatan.


Setelah menerima itu, Ammar beranjak lagi. Dia melihat-lihat keadaan sekitar, dapat dilihatnya dari jauh banyak kawanan monyet hutan yang sedang mencari-cari makanan disebuah bekas bangunan yang tidak terpakai. Bukan, itu bahkan belum menjadi bangunan. Batu-batanya hanya setinggi betis, itu seperti bangunan yang tidak jadi dibangun atau lebih tepatnya tertinggal begitu saja tanpa dilanjutkan lagi pembangunannya.


Ammar berdiri disana. Menyadarkan punggungnya pada dinding batu bata yang bagiannya lebih tinggi dari batu yang lain. Sesekali dia menatapi lagi bukit-bukit barisan yang berjejer rapi. Tangannya menyentuh saku celana dan disana dia mencari ponselnya.


"Terima kasih sudah menyarankanku datang ke panti ini." kata Ammar pada seseorang diseberang telepon.


"Hem, bagaimana? Apa kau menemukannya?"


"Ya, aku menemukan pantinya." kata Ammar singkat.


"Ck! Bukan itu maksudku." kata Doni diseberang sana.


Ammar mengernyit, tidak tahu maksud pembicaraan Doni. "Lalu?" tanyanya.


"Dasar Bo*doh!" umpat Doni, terdengar ia mendengus dari seberang sana. "Sudahlah, itu artinya kau belum beruntung." sambungnya lagi.


"Apanya yang belum beruntung? Ya sudah, aku hanya ingin mengabarimu jika aku sudah tiba di panti ini." kata Ammar. "Setelah dari sini aku akan ke London menjemput Joana."


"Apa Joana akan mau dengan laki-laki bo*doh sepertimu?" kelakar Doni seraya terkekeh nyaring.


"Sia*lan!" dengus Ammar tapi dia pun terkekeh.


"Sudah ku bilang Joana tidak ada di London." ucap Doni.


"Kau masih mau membohongiku?" sindir Ammar mengingat jika Doni dan yang lainnya tidak mau memberitahunya keberadaan Joana.


"Haishh...kau ini benar-benar bod-oh! Kenapa Joana harus mau denganmu!" Doni merutuk dari seberang sana lalu mengakhiri panggilan telepon itu sebelah pihak.


Ammar masih terkekeh kecil saat menyadari panggilan itu telah terputus, dia memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya. Tapi dia mendapati rokok beserta korek disaku, dia meraih itu dan memasukkan ponselnya.


Ammar mengambil sebatang rokok dari kemasannya, menjepit rokok diujung bibirnya. Rasanya tidak ingat kapan terakhir kali dia merokok. Tapi mungkin ini akan sedikit membuat kegundahannya berkurang. Ammar bukan perokok tapi dia pernah merokok dan dia tidak ingat kenapa dulu dia melakukannya. Kali ini, dia merokok untuk melupakan kejadian diruang makan tadi.


Saat hendak memantik rokoknya dengan korek, rokok itu ditarik begitu saja dari ujung bibirnya. Membuat Ammar terkejut dan ingin melihat siapa yang mengganggu kesenangannya kali ini. Tapi, saat melihat orang yang mengganggunya ini, matanya membulat sempurna karena kini dia lebih terkejut lagi.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Seorang perempuan yang baru saja meninggalkan ruang makan pun ingin ikut bergabung dengan anak-anak panti yang tengah menyantap makan siang di beranda samping. Dia baru saja mendengar bahwa ada seseorang dari kota yang datang menyumbangkan banyak sembako, mainan, buku dan pakaian. Akhirnya dia merasa penasaran dan ingin ikut melihat orang dermawan itu.


Perempuan itu keluar dan disana dia bertemu dengan Pamannya.


"Paman, dimana orang itu?" tanyanya pada Pak Mirza yang adalah Pamannya.


"Orang itu siapa?" Pak Mirza tersenyum pada keponakannya.


"Aku dengar ada seseorang yang datang dan membawa banyak sumbangan. Aku tadi sedang masak untuk makanan anak-anak panti. Maaf aku tidak bisa menyambut kedatangannya." ucap Perempuan itu sungkan.


"Tidak apa-apa, tugasmu bukan menyambut tamu, pun bukan juga menjadi koki disini." kata Pak Mirza menepuk pundak keponakannya.


"Aku senang melakukannya, Paman."


Mereka berdua pun terkekeh.


"Mungkin tamu itu akan makan siang bersama anak-anak panti, temuilah dan ucapkan terima kasih." kata Pak Mirza.


"Baiklah Paman."


"Eh, tunggu dulu."


Perempuan itu menoleh lagi ke arah pamannya.


"Ada apa, Paman?"


"Dia tampan dan dermawan. Jatuh hatilah padanya." Kelakar Pak Mirza dengan intonasi lucu.


Perempuan itu tersenyum kecut. "Mudah-mudahan saja bisa." selorohnya.


"Paman rasa bisa. Wajahnya asia seperti paman. Seperti seleramu juga." goda pamannya lagi.


Perempuan itu terkekeh kecil. "Paman sok tahu seleraku." ucapnya seraya melengos pergi dari sana menuju beranda samping.


Sesampainya disamping, dia menelisik keadaan. Mencari-cari keberadaan orang yang mengunjungi panti mereka hari ini. Tapi yang dilihatnya justru bukan lelaki itu, melainkan dua orang anak yang tampak sangat mencolok daripada anak-anak panti yang lain. Jelas saja mereka terlihat dominan disana, dari penampilan dan wajahnya yang sangat familiar dan dirindukan oleh perempuan itu.


Saat mata perempuan itu bertemu dengan manik mata salah satu dari kedua anak itu, mereka sama-sama terdiam dan memandang dengan penuh arti.


Anak yang satupun mengikuti arah pandang saudaranya yang terpatri disatu titik. "Tante Jo.." lirih gadis kecil itu seraya meletakkan sendok makannya. Dia otomatis bangkit dan berdiri dari bangkunya. Semua anak-anak panti mendengar ucapannya, mereka pun menyaksikan gadis kecil itu berlari-lari kehadapan Joana yang membungkuk menyambutnya.


"Tante... tante kemana aja?" Lesya memeluk dan mendekap tubuh Joana. Bersamaan dengan itu Shaka yang masih terpaku, berangsur-angsur mendekati mereka dan ikut memeluk.


Ya, perempuan itu adalah Joana. Dia adalah keponakan Pak Mirza. Pak Mirza adalah adik laki-laki dari Julia--ibu Joana. Joana sengaja menyendiri di panti ini. Jauh dari jangkauan Ammar. Dia ingin meyakinkan hatinya dulu dan waktu tiga bulannya rasanya belum cukup, tapi kerinduannya terhadap orang-orang yang dia kasihi perlahan-lahan mulai menggerogotinya dan justru menyakiti dirinya sendiri.


"Kalian, kenapa kalian bisa disini? Bersama siapa? Tante rindu kalian." Joana membelai pipi Lesya dan Shaka bergantian.


Lesya masih menangis, memeluk tubuh Joana dengan rindu yang dalam. Dia tidak pernah bertemu Joana lagi sejak makan malam mereka di hotel itu. Lesya bertanya pada Ayahnya tapi Ammar selalu diam tanpa memberinya jawaban yang melegakan. Lesya cukup tahu, diumurnya yang sudah hampir 12 tahun, dia cukup mengerti jika hubungan orang dewasa cukup pelik dan rumit. Mungkin itulah yang terjadi pada Ammar dan Joana-pikirnya.


"Tante, apa tante bertengkar dengan Papa? Makanya tante gak mau ketenu kita lagi?" pertanyaan polos dari mulut Shaka berhasil membuat Joana tersenyum diambang tangisnya saat menemukan dua bocah yang juga dia rindukan.


"Enggak sayang, tante sama Papa gak bertengkar." kilah Joana seraya mengelus rambut Shaka dengan lembut.


"Jadi kenapa tante sudah tidak pernah kelihatan? Tante pindah kesini?" tanyanya lagi.


Joana mengangguk. Dia tidak mau membohongi Shaka lebih jauh tapi dia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada anak itu.


"Sudah, ayo kita lanjut makannya. Setelah itu kita bisa bercerita lagi." Joana pun mengajak dua orang anak itu untuk kembali makan.


Tapi, pikiran Joana terbagi sekarang. Dia mengerti jika lelaki yang dimaksudkan oleh Pamannya tadi adalah Ammar.


Apa sebenarnya Paman sudah tahu jika dia dan Ammar memiliki hubungan? Lalu, sekarang kenapa Ammar berada disini?


Ini pasti ulah Doni. Mereka memang tidak bisa menyembunyikan rahasia lagi. Ini baru tiga bulan kenapa mereka memberi tahu Ammar soal keberadaannya? Padahal Doni dan yang lainnya berjanji tidak akan memberitahukan ini pada Ammar. Jangankan Ammar, Rey saja tidak boleh tahu. Itulah permintaan Joana pada Doni dan yang lainnya.


"Tante mau ke toilet dulu, ya. Kalian lanjut saja makannya." ucap Joana pada Lesya dan Shaka.


"Iya Tan, sekalian jemput Papa ya, Tan. Dari tadi ke toilet gak balik-balik." ucap Lesya.


Joana hanya mengangguk dan berlalu. Benarkah sekarang dia herus menemui Ammar? Sepertinya harus begitu, walaupun tidak berbicara padanya setidaknya dengan melihat lelaki itu sekilas mungkin akan mengobati kerinduannya.


Saat Joana mencari-cari keberadaan Ammar, dia tidak sengaja melihat siluet seseorang dari sudut matanya. Joana terhenti saat mendengar suara yang sangat dikenalinya sedang terkekeh. Mungkin Ammar sedang menelepon seseorang.


Joana diam dan mendengarkan, obrolan itu sepertinya dengan Doni atau Rey. Yah, Joana yakin sekali itu. Semakin dia mendekat, Joana semakin merindukan sosok pemilik punggung bidang itu. Pundakknya bergerak-gerak karena tergelak menanggapi teleponnya.


Joana ingin mendekat tapi dia juga ragu. Dia merasa cukup dengan memandangi Ammar dari balik punggungnya saja. Ini sedikit mengobati kerinduannya dalam diam. Suara Ammar sudah tak terdengar lagi, lalu sekarang apa yang dia lakukan?


Ammar merogohh saku celananya dan mengeluarkan bungkusan rokok.


Apa? Sejak kapan dia merokok? Joana tersulut amarahnya melihat Ammar ingin merokok.


Bukankah dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya? Walaupun ini bukan mabuk-mabukan seperti dulu, tapi Ammar sudah berjanji akan hidup dengan baik, kan?


Joana tidak mau bertemu Ammar secara terang-terangan. Dia masih belum bisa untuk melupakan Ammar dan tidak bisa menganggap Ammar seperti teman biasa. Tapi Joana juga tidak mau melihat Ammar merokok seperti ini.


"Apakah kau terluka saat ku tinggalkan? Kenapa kau terlihat lebih kurus? Kenapa kau merokok sekarang?" batin Joana berkata-kata dengan pilu.


Saat Ammar ingin memantik rokoknya, saat itulah Joana dengan sigap menarik rokok itu dari ujung bibir Ammar. Ammar melotot terkejut melihat keberadaan Joana didepan matanya.


...Bersambung ......