How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Panti Asuhan



Ammar menggandeng tangan gadis kecilnya, Lesya mendongak menatap Ammar dengan senyuman termanis. Sementara Shaka, anak itu antusias menurunkan semua mainannya dari dalam bagasi mobil dengan dibantu seorang supir yang menyetiri perjalanan mereka.


Langkah kecil Lesya diiringi senyum Ammar yang merekah. Mereka pun tiba diambang pintu sebuah bangunan tua yang tampak sangat eksotik dipelosok Desa--sangat mencolok dibandingkan bangunan atau rumah lain yang ada disekitarnya.


Belum lama mereka tiba dikawasan itu. Kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan terhindar dari polusi udara. Kawasan yang dingin dan menyejukkan. Rey sengaja meminjamkan sopir untuk Ammar, agar perjalanan Ammar dan anak-anaknya semakin nyaman.


Ammar pun mengetuk pintu. Tak menunggu lama, Terdengar derap langkah mendekat. Sepertinya orang dari dalam bangunan itulah yang akan segera membuka pintu.


"Selamat siang..." sapa seorang lelaki setengah baya pada Ammar dan Lesya.


Ammar tersenyum melihatnya. "Selamat siang.." Jawab Ammar. "Dengan Bapak Mirza?" tanyanya.


Lelaki setengah baya itupun menyahuti. "Benar, saya Mirza. Kamu siapa, Nak?" tanyanya sopan.


"Saya Ammar, Pak. Saya datang kesini karena mendengar Bapak memiliki sebuah panti asuhan." jawab Ammar.


Lelaki itu memandang Ammar dengan senyuman yang tidak surut. "Kamu temannya Doni?" tebaknya.


Ammar mengangguk sopan dan Lelaki itu mempersilahkan Ammar dan anak-anaknya untuk masuk kedalam bangunannya itu.


"Silahkan duduk." pinta Pak Mirza pada Ammar dan anak-anaknya.


Mereka pun duduk disebuah kursi rotan yang memanjang, kursi itu dialasi bantalan agar tamu merasa nyaman saat mendudukinya.


Pak Mirza pun meminta seorang pelayannya untuk membuatkan Ammar dan anak-anak minuman. Walau Amamr menolaknya dengan halus tapi Pak Mirza tetap kekeuh merasa tidak keberatan.


Ammar memandangi sekilas ruangan dimana kini dia berpijak. Ruangan yang sangat unik. Desainnya lebih didominasi oleh bambu, rotan dan kayu-kayuan. Terkesan sangat rustic tapi tetap elegan.


"Dulunya, ini adalah bangunan utama Panti. Tapi, sekarang panti asuhannya sudah pindah kedalam. Ketempat yang lebih baik." jelas Pak Mirza saat melihat Ammar memperhatikan sekeliling.


"Kenapa dipindah, Pak?" tanya Ammar.


"Dulu panti asuhan kami adalah panti yang terbuka untuk umum. Makanya bangunan utama inilah yang pasti mudah untuk ditemukan orang lain. Tapi sayangnya, beberapa tahun kebelakang.. kami mengalami masalah." sahut Pak Mirza.


"Masalah?"


"Ya, ada beberapa orang yang mengadopsi anak tapi malah mengeksploitasi anak adopsinya untuk mencari uang diusia dini."


Ammar sedikit terkejut dengan berita itu.


"Untuk itulah, kami membatasi orang-orang yang masuk kesini. Kami tidak lagi menjadikan panti asuhan ini sebagai panti yang terbuka untuk umum. Hanya sebagian orang yang mengenal dan sudah membuat janji barulah kami mengizinkan dan memberitahukan keberadaan panti kami yang sebenarnya." imbuh Pak Mirza.


"Bukankah itu merepotkan, Pak? Maksud saya itu tidak mudah. Menyembunyikan panti dari khalayak."


"Begitulah, tapi untuk sementara itu satu-satunya jalan yang bisa kami perbuat untuk mengatasi orang-orang yang memanfaatkan anak-anak dipanti. Kami menyayangi mereka, menjaga dan mengasihi jadi kami tidak mau jika sampai mereka mengalami hal itu lagi."


"Kedepannya kami akan lebih memperketat penjangkauan agar bisa melihat siapa orang yang akan mengadopsi anak-anak panti. Dulu kami tidak memiliki akses untuk memantau orangtua asuh mereka. Tapi sekarang sudah mulai semakin membaik."


"Syukurlah, semoga semuanya bisa jadi lebih baik ya, Pak." kata Ammar tulus.


"Iya, makanya bangunan ini hanyalah ruang sambutan untuk tamu. Kami akan menyelidiki dulu latar belakang tamu yang akan mengadopsi anak, memastikan semua data adalah asli dan melepaskan anak-anak pada orang tua asuh yang benar-benar akan menyayangi mereka." timpal Pak Mirza lagi.


Ammar mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nah, Nak Ammar sendiri.. saya bisa membantu apa untuk kamu?" Pak Mirza melirik kedua anak Ammar dengan tersenyum.


"Begini, Pak. Saya berjanji mengajak anak-anak saya liburan. Untuk merilekskan pikiran saya juga." Kelakar Ammar seraya terkekeh kecil diujung kalimatnya. "Jika liburan hanya untuk jalan-jalan sepertinya sudah biasa. Maka dari itu saya mengajak mereka berbagi di panti asuhan." sambung Ammar.


Pak Mirza tersenyum sambil mengangguk paham ucapan Ammar. "Dan Doni menyarankan untuk kalian kesini?" tanyanya.


"Begitulah, Pak."


"Niat lain? Misalnya?" tanya Ammar heran.


"Ah, tidak-tidak. Saya hanya bergurau. Ayo kita ke bangunan panti dibelakang." Pak Mirza segera menyuruh salah seorang asistennya untuk membantu Ammar membawakan barang-barang yang sudah Ammar bawa dari pusat kota menuju kawasan Desa pelosok tempat panti ini berada.


Barang-barang yang dibawa Ammar pun beragam, mulai dari buku-buku pelajaran, pakaian layak pakai milik anak-anaknya, mainan dan bahan-bahan makanan.


Semua barang itu berangsur-angsur dibawa oleh Asisten dan Sopir yang mengantar mereka tadi menuju bangunan belakang yang terdapat panti asuhan.


Sesampainya dipanti, Ammar melihat-lihat sekeliling. Udara disana sangat sejuk, mungkin karena area itu dikelilingi oleh perbukitan dan gunung. Pohon-pohonnya masih rindang, dan disiang hari tidak terasa panas, bahkan kabut dari gunung pun seakan muncul membayangi penglihatan. Suara kicauan burung, lolongan binatang hutan samar-samar terdengar. Tapi itu menambah daya tarik tersendiri untuk tempat ini.


"Apa Bapak mengelola panti ini sendirian?"


"Dulu bersama Istri saya. Tapi semenjak istri saya meninggal, saya mengelolanya bersama beberapa asisten yang memang dipekerjaan disini. Ada yang dari dinas sosial dan ada juga dari saya pribadi yang memang mempekerjakan mereka." kata Pak Mirza.


Ammar mengangguk. Lesya sudah mengeluarkan baju-baju layak pakainya dari dalam box yang sudah diangkati tadi.


"Sayang, jangan dibongkar dulu. Kita harus kenalan dulu sama mereka ya." ucap Ammar lembut dan Lesya pun mengangguk paham. Dia menghentikan aktifitasnya.


Shaka juga demikian, dia melepaskan beberapa mainan yang dia pegang. Memasukkan kembali mainan kedalam kardus, walaupun itu merusak tatanannya dan jadi sedikit berantakan.


"Pa, Shaka lapar..." Shaka mengelus perutnya yang keroncongan. Ammar pun tersadar jika ini sudah waktunya makan siang, seharusnya tadi dia membawa anak-anak makan dulu tapi dia malah lupa karena sepanjang jalan tidak ada tempat untuk makan, mengingat ini kawasan pelosok yang mungkin tidak ada cafe atau semacamnya. Tadinya Ammar berniat mengajak makan di rumah makan sederhana tapi Bangunan eksotik bekas panti lebih dulu terlihat dan justru membuatnya lupa mencari makanan. Astaga.


"Kamu lapar ya?" Pak Mirza menyahuti Shaka. "Tidak apa-apa, sebentar lagi anak-anak panti akan makan. Kita bisa makan bersama-sama di beranda samping." kata Pak Mirza masih dengan kekehannya.


Ammar merasa tidak enak hati. Dia menolak itu secara halus.


"Tidak apa-apa, Nak. Kamu membawa mereka untuk berlibur ketempat yang tepat. Mereka belajar berbagi dipanti ini jadi mereka juga harus belajar bersosialisi juga kan?" Pak Mirza meyakinkan Ammar. "Kita akan makan bersama-sama. Kebetulan disini ada koki baru. Masakannya sangat enak." Imbuh Pak Mirza sambil mengacungkan jempolnya.


Ammar pun mengangguk. Mereka berkumpul disemacam Aula panti. Disana, Pak Mirza mengumpulkan seluruh anak panti untuk menerima bantuan Ammar. Shaka dan Lesya antusias sekali, mereka bertemu dengan anak-anak lain yang umurnya sepantaran dengan mereka berdua.


Mereka berkenalan, berbagi pakaian, makanan dan mainan. Sesudah itu mereka pun memasuki beranda samping, tempat dimana anak-anak panti biasanya akan melakukan sesi makan siangnya dengan teratur.


"Lesya, Shaka.. Kalian disini dulu ya, Jika waktu makan sudah tiba kalian ikuti saja makannya." kata Ammar pada kedua anaknya.


Lesya menatap Ammar. "Papa mau kemana?" tanya Lesya.


"Papa cari toilet dulu. Sekalian Papa mau menelpon Om Doni. Oke?"


Kedua anak itupun mengangguk dan mengikuti intruksi salah seorang pengelola panti. Mereka duduk bersama-sama dengan anak lainnya. Terdengar riuh, senda-guraupun tak terhindarkan.


Ammar memperhatikan senyum anak-anaknya yang mengembang. Dia ikut bahagia melihat pemandangan itu. Perlahan-lahan Ammar mulai melangkahkan kaki mencari keberadaan toilet.


Setelah bertanya pada seorang asisten Pak Mirza, Ammar pun berjalan melewati beberapa lorong untuk mencapai kamar mandi. Disana dia mencuci tangan dan wajahnya yang lelah.


"Tidak Ammar, jangan memikirkannya disini. Setelah janjimu pada anak-anak lunas, barulah kau mencarinya ke London." kata Ammar menyemangati dirinya sendiri.


Ammar ingin menepati janji pada anak-anaknya dulu, dia sudah terlanjur mengajak anak-anaknya liburan dua bulan lalu dan untunglah sudah tercapai sekarang. Awalnya dia bingung untuk mengajak anaknya liburan kemana. Tidak punya tujuan dan sebenarnya dia masih dilema dengan perasaannya. Tapi Rey menyarankan dia membawa Shaka dan Lesya ke panti asuhan saja. Walaupun ide Rey tidak buruk, Ammar mengira akan mengajak anaka-anak ke panti sekitar kota saja.


Sayangnya, ide itu harus kandas setelah celetukan Doni beberapa hari lalu.


"Kalau di kota sudah biasa. Bagaimana jika di dekat perbukitan. Disana ada panti asuhan yang aku kenal dengan pemiliknya." kata Doni menimpali.


Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, entah kenapa hati Ammar pun ingin bertandang ke panti yang disarankan oleh Doni. Tidak buruk memang, justru dia sangat bersyukur dan merasa bebannya sedikit terangkat.


Saat Ammar keluar dari kamar mandi, dia tidak sengaja menangkap suara yang familiar di indera pendengarannya. Dengan langkah pelan, Ammar mulai mendekati sumber suara itu.


...Bersambung ......