How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Bantu aku membersihkan diri!



Joana terus terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan. Saat memasuki ruang rawat Ammar pun ia tampak melamun. Perempuan itu terlalu gugup jika orangtuanya harus mengetahui sekarang tentang status lelaki yang kini menjadi kekasihnya.


Samar-samar Joana mendengar Ammar yang sedang menerima panggilan, mungkin itu urusan pekerjaan yang sudah beberapa hari Ammar tinggalkan karena keadaan yang tak memungkinkam untuknya bekerja.


Joana melihat Ammar segera memutuskan panggilan teleponnya begitu menyadari ia dan orangtuanya masuk.


Joana memulai pembicaraan dengan mengenalkan kedua orangtuanya dan melihat Ammar tersenyum hangat. Hanya sampai disitu dan Joana kembali melamun tanpa mendengarkan percakapan apa yang dilakukan oleh Ammar dan kedua orangtuanya.


"Tidak perlu, justru saya yang ingin meminta maaf karena sudah lalai menjaga Joana." ucap Ammar dan Joana mendengarnya sekilas. Ia terlalu fokus pada pikirannya sendiri, sampai suara Sang Mama berhasil mengejutkannya.


"Ada yang ingin kau katakan, Jo?" tanya Julia,


"Y-ya? Ti-tidak.." Joana menggeleng-gelengkan kepalanya karena belum paham apa yang terjadi, ia sama sekali tak menyimak pembicaraan mereka.


"Kau melamun?" Kini suara Ammar yang menanyakannya, Joana kembali menggeleng.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ammar seraya menatap perempuan yang duduk di kursi sebelah ranjang rawatnya itu.


"Tidak ada." sanggahnya.


Kedua orangtua Joana kembali bertatapan satu sama lain. Merekapun sepakat meninggalkan ruangan Ammar lebih awal.


"Baiklah, semoga kau segera pulih. Kami permisi dan aku berharap kau mau bertemu lagi dengan kami suatu saat." ucap Nathan dengan bahasa Indonesianya yang terasa asing dipendengaran Ammar.


"Sure, saya pribadi akan menemui kalian lagi di lain waktu." jawab Ammar dan Joana menatap wajahnya dengan tampang syok.


Apa yang mereka bicarakan tadi?-batin Joana.


"Jo, apa kau akan tinggal?" tanya Julia pada Joana dan Joana mengangguk.


"Baiklah, Mama dan Daddy pulang lebih dulu. Jangan pulang terlalu larut, My Little Sweety." ucap Julia seraya mengelus pundak Joana dan Joana tersenyum sekilas. Ia mengantar kedua orangtuanya sampai kedepan pintu.


Tak berselang lama dari kepergian orangtua Joana, kini giliran kedua orangtua Doni yang masuk menjenguk Ammar.


Perkenalan dan percakapan Ammar dengan Paman Erland dan Aunty Maria pun berjalan singkat, mereka menanyakan keadaan Ammar dan mereka juga membawakan buah-buahan serta buket bunga yang ternyata itu dari orangtua Joana.


"Mereka begitu antusias bertemu kekasihmu, Jo. Sampai mereka melupakan meninggalkan buketnya bersama kami di luar." Kelakar Erland-sang Paman.


Joana hanya tersenyum simpul tanpa kata.


Setelah semuanya pulang, Joana melihat Ammar yang juga tengah melihatnya. Ammar memandangnya dengan tatapan menyelidik dan Joana merasa canggung ditatap seperti itu. Ia melipat tangannya di dada lalu mencoba mengalihkan pandangan ke sembarang arah agar tak melihat kilatan rasa ingin tahu dimata Ammar.


Ammar ingin buka suara untuk menanyakan apa yang terjadi dengan perempuan yang mendadak diam sedari tadi itu, tapi suara pintu yang dibuka berhasil membuat kedua orang itu menoleh.


"Ah, ternyata ada Joana." Latifa menatap hangat kearah Joana. "Maaf Mama telat datang, Mar. Mama mengurus keperluan Shaka dan Lesya yang akan berangkat sekolah dulu." Sambungnya. Kini, Latifa menatap Joana dan Ammar bergantian.


"Tidak apa-apa, Ma."


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku membaik dan semuanya baik-baik saja." jawab Ammar.


"Apa kau sudah membersihkan tubuhmu?"


"Sudah, Ma."


"Apa Joana yang membantumu?" Tanya Latifa dengan nada menggoda.


"Tidak, Joana datang setelah aku membersihkan diri. Tadi aku dibantu oleh perawat." jawab Ammar.


"Apa perawat wanita?" goda Latifa lagi, sesekali ia melirik Joana.


Ammar terdiam, ia juga menatap Joana sekilas dan Joana tetap diam tapi wajahnya berubah aneh dipandangan mata Ammar. Apa perempuan ini akan cemburu jika dia mengatakan yang membersihkan tubuhnya adalah perawat wanita? Ah, Ammar ingin mengetesnya.


"Dua orang perawat wanita." jawab Ammar seraya menatap wajah Joana yang mengernyit mendengar jawabannya. Ammar mengulumm senyum melihat ekspresi Joana.


"Ah, berarti Mama tidak perlu mengkhawatirkan soal ini lagi. Mama khawatir kau tidak bisa membersihkan dirimu sendiri. Mama ingin menginap dan menjagamu tapi anak-anak masih butuh bantuan Mama dirumah. Mereka tidak mungkin tinggal dirumah Kinan terus karena itu akan sangat merepotkan." Latifa terus bersuara.


"Kalau begitu, Aku yang akan menginap disini dan menjagamu." sergah perempuan itu seraya tersenyum kikuk.


"Tapi orangtuamu memintamu pulang sebelum larut, aku rasa itu tidak perlu." sanggah Ammar.


"Tidak boleh ada alasan!" kata Joana menatap tajam kearah Ammar. "Aku akan mengirimi Mamaku pesan." sambungnya.


Entah kenapa membayangkan Ammar yang tidak dijaga siapapun saat malam menjelang, membuat Joana merasa tak tega. Walau bagaimanapun, Ammar begini juga karena ingin menolongnya. Ammar terluka karena harus berurusan dengan Xander dan itu juga karena hubungan mereka. Joana tidak akan tega melihat Ammar yang bahkan masih sulit bergerak harus sendirian didalam kamar pesakitan ini.


Memang ada Dokter dan perawat, tapi kenapa rasanya tetap tidak tega? Terlebih mendengar penuturan Ammar tentang proses membersihkan tubuhnya yang dibantu oleh dua orang perawat wanita. Itu cukup membuat Joana terkejut, walau mungkin para perawat itu akan melakukan tugasnya secara profesional tapi mengingat tubuh kekasihnya harus disentuh perempuan lain, entah kenapa justru membuat seorang Joana tidak terima. Entahlah, dia merasa tidak berguna jika sampai Ammar meminta bantuan oranglain padahal ada dia dikehidupan Ammar. Dia akan merasa senang jika dia direpotkan dan dilibatkan dalam hal mengurus Ammar.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Sore menjeleng dan Ammar baru saja menyelesaikan pekerjaan dari laptop pribadinya. Masih diruang rawatnya, Ia pun tersadar akan keadaan sekitar dan melirik Joana yang tampak tertidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala yang disandarkan di sandaran atas sofa.


Ammar merasa tidak tega, ia ingin membuat posisi tidur Joana nyaman, karena ia takut perempuan itu akan mendadak sakit leher jika melihat posisi tidurnya yang mendongak.


"Jo.." Beberapa kali ia mencoba memanggil Joana untuk membangunkannya tapi nampaknya perempuan itu tertidur dengan pulasnya.


Ammar melirik selang infus yang masih ter-inject ditangannya, ia berdecak dan mengacak rambutnya. Lelaki itu kemudian mencoba duduk dengan susah payah. Walau terasa nyeri dibeberapa bagian tubuhnya yang terluka, tapi dia berhasil mengambil tiang infus untuk digenggamnya. Ammar meyakinkan diri untuk berdiri dan mendorong tiang infus itu agar bisa mendekati posisi Joana.


Ammar meringis beberapa kali sampai akhirnya posisi tubuhnya benar-benar berdiri dan menginjak lantai. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati sofa, ingin menyentuh rambut perempuan yang tertidur itu. Entah kenapa rasa rindu sangat melandanya padahal Joana berada dihadapannya hampir setiap hari. Hubungan keduanya belum terlalu jauh tapi Ammar merasakan suatu perasaan yang meletup-letup didekat perempuan itu.


Ammar melihat wajah tidur Joana, sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum saat debaran di jantungnya terasa semakin menjadi-jadi, ia ingin menyentuh pipi perempuan itu, mengelusnya dan kembali memeluk Joana seperti saat menemukannya di ruang kerja Xander waktu itu. Itu adalah pelukan pertama mereka. Ammar ingin mengulang perasaan memeluk Joana lagi tapi tidak dengan situasi dan kondisi yang sama.


"Jo.." Ammar menyentuh pipi Joana untuk kembali membangunkannya. Ingin rasanya dia menggendong perempuan itu saja dan membenarkan posisinya tanpa membangunkannya tapi itu tidak mungkin mengingat kondisi tubuhnya yang masih seperti sekarang.


Tanpa Ammar sadari, tangannya perlahan-lahan menjalar ke bibir Joana yang tertutup rapat. Ia menyentuh bibir itu dengan jarinya dan terbersit sekilas pikiran, bagaimana jika bibir itu ia sentuh dengan bibirnya? Ammar lalu membayangkan jika sentuhan itu berubah menjadi ciuman yang lembut, hangat dan manis.


Apa-apaan pikiranku ini?-batin Ammar.


Ammar tersadar dari pikiran liarnya, dan saat itu pula Joana terbangun akibat sentuhan Ammar di bibirnya.


Mata Joana terbuka tiba-tiba dan Ammar terkejut saat menyadari itu, buru-buru ia menarik jarinya sendiri yang sudah berani-beraninya mengekplore kelembutan bibir Joana.


"Ada apa, Ammar?" tanya Joana dengan suara seraknya.


Ammar gelagapan. Ia tak berani menatap mata Joana yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu.


"Astaga.." Joana tiba-tiba berdiri seketika, ia terlihat terkejut, membuat Ammar ikut kaget karena gerakannya yang refleks. Apa Joana menyadari ulahnya tadi?


"Ada apa?" tanya Ammar tak kalah terkejutnya dengan reaksi Joana.


"Kau berdiri?" Joana melihat ranjang pasien dan Ammar bergantian, seolah mengukur jarak dari sana menuju ketempat Ammar berdiri sekarang. "Kau berjalan dari sana?" tanyanya bingung.


Ammar mengangkat bahu. "Tentu saja, apa aku bisa terbang?" jawab Ammar. Joana memutar bola matanya.


"Ayo ku bantu kembali ke ranjangmu."


"Kau mau kita ke ranjang?" seringaian licik dan mata berkilat Ammar tertangkap di penglihatan Joana.


Joana menangkap maksud lain dari senyum Ammar. "Apa yang kau pikirkan? Jangan bercanda terus! Ayo kembali!" Joana langsung membantu Ammar untuk kembali ketempatnya.


Belum sampai di ranjangnya, Ammar mengaduh kesakitan.


"Arkh..Aaww.." desis Ammar.


"Hah? Kenapa? Kau tidak apa-apakan? tanya Joana panik, ia tak sadar memegang dan merabaa luka di dada Ammar.


Ammar tersenyum singkat, tapi sayangnya Joana tak melihat seringai kelicikannya itu.


"Kau terlalu banyak bergerak, apa yang sebenarnya kau butuhkan?" Joana panik dan buru-buru membantu Ammar agar segera duduk ditepian ranjang.


"Ini sudah sore, saatnya aku membersihkan tubuh. Bisakah bantu aku membersihkan diri?" tanya Ammar dan itu sukses membuat Joana melongo dengan mulut terbuka. Joana memang tak rela jika tubuh Ammar dipegang perawat wanita, tapi ia juga terlalu malu harus membantu Ammar membersihkan tubuh. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Wajah perempuan itu pun mulai memanas.


...Bersambung......