
Sesuai dengan kesepakatan, akhirnya Joana ikut pulang bersama Ammar hari ini. Malam tadi, Ammar dan kedua anaknya diberikan fasilitas menginap oleh Pak Mirza. Paman Joana itu mengizinkan Ammar menempati salah satu kamar yang terletak dibagian depan bangunan.
"Pak, kami permisi... terima kasih sudah mengizinkan saya dan anak-anak saya menginap disini. Maaf jika banyak merepotkan." ucap Ammar sopan sambil menyalami tangan Pak Mirza.
"Sudah saya bilang, jangan panggil saya Bapak lagi. Panggil Paman seperti Joana memanggil saya." jawab pria paruh baya itu.
Ammar tersenyum. "Iya Paman, terima kasih banyak." ucapnya.
"Paman doakan yang terbaik untuk kalian. Paman menunggu kabar baik itu." Mereka saling memeluk ala laki-laki dewasa.
Ammar terkesima dengan perlakuan Pak Mirza yang amat mengerti keadaannya. Dia tahu Pak Mirza sudah mengetahui banyak hal dari Doni sejak awal kedatangan Ammar ke panti ini. Maka dari itulah Pak Mirza tidak segan bercerita pada Ammar mengenai asal-usul panti dan masalah yang sempat dihadapi olehnya selama mengelola panti.
"Jo, ingat pesan Paman. Kalian sudah dewasa bukan anak remaja. Jangan menghindari masalah. Hadapilah dengan sikap yang pantang menyerah. Harus berani menerima resiko atas suatu keputusan." Nasehat Pak Mirza pada Joana saat mereka sudah akan memasuki mobil.
"Ya, Paman. Terima kasih Paman, aku menyayangimu." Joana memeluk Paman yang dia hormati dan kasihi itu layaknya seorang anak memeluk ayahnya sendiri.
Kepergian mereka menggunakan satu mobil tapi yang mengantar mereka adalah seluruh penghuni panti. Semua anal-anak dan pengelola panti asuhan itu melambai-lambaikan tangan ke arah mobil mereka yang mulai melaju meninggalkan area panti asuhan.
"Paman dan seluruh anak-anak panti mendoakan kebahagiaanmu, Jo. Paman yakin jika doa anak yatim akan cepat dikabulkan.." gumam Pak Mirza sambil terus melambaikan tangan kearah mobil yang sudah mulai mengecil dipelupuk matanya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Kepulangan Joana, Ammar dan anak-anak disambut hangat oleh Latifa dirumah. Ammar ingin mengantarkan anak-anak kerumah dulu barulah mengantar Joana ke Mansion Doni.
"Jo, Ya Tuhan... Ammar menemukanmu, Tante bahagia kalian akhirnya kembali bersama." ucap Latifa tulus, dia tahu Ammar tidak baik-baik saja saat ditinggalkan oleh Joana. Dia juga tahu perihal Joana yang diam-diam memungut cincin yang Ammar buang di kolam renang hotel.
Joana hanya tersenyum sungkan pada Ibu dari kekasihnya itu. Dia tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana karena dia juga malu akan tindakan pengecutnya.
"Jo, Tante yakin hubungan kalian akan baik-baik saja asal kamu tetap mendukung Ammar dan meyakinkan dia. Dia akan bertindak pada sesuatu yang dia yakini dan dia sudah yakin denganmu, maka kamu jangan meragukannya." Latifa menasehati Joana seraya mengelus pundak perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Masa lalu benar-benar mengajarkannya bagaimana cara menyikapi seorang wanita yang mau menerima segala kekurangan anaknya yang bernama Ammar.
"Tante, doakan kami ya." lirih Joana sambil menggenggam tangan Latifa.
"Ya, tante mendukung dan mendoakan kalian." jawabnya mantap.
Setelah pembicaraan itu, Ammar keluar dari kamar anak-anaknya. Dia mandi lagi dan Joana menunggunya.
Tidak berapa lama, Ammar keluar dengan pakaiannya yang rapi. Joana tidak memikirkan apa-apa tentang penampilan Ammar karena dia tahu bahwa Ammar memang selalu berpenampilan metrosek*sual yang rapi, bersih dan wangi.
"Ayo..." Ammar mengajak Joana keluar dari rumah, sebelum benar-benar pergi, dia mengedipkan mata pada sang ibu dan Latifa mengerti apa yang Ammar maksudkan.
Mobil Ammar mulai berjalan, dia mengajak Joana mampir untuk makan siang terlebih dahulu disebuah Mal. Joana setuju dan mereka makan sampai merasa kenyang.
"Jo, bagaimana jika kita kesana..." Ammar menunjuk sebuah butik yang masih dalam kawasan Mal yang sama.
"Untuk apa? Aku tidak ingin belanja." jawab Joana.
"Ya, tapi aku ingin membelikanmu sesuatu." ucap Ammar.
Mereka pun memasuki butik itu, Joana tidak menaruh kecurigaan saat Ammar dengan mudah menemukan yang dia cari di butik itu. Sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik dan elegan.
"Coba pakai ini." kata Ammar. Joana menatap gaun itu dengan terkagum-kagum akan pilihan Ammar.
"Ini bagus, tapi warnanya putih..." kata Joana sambil nyengir.
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?" tanya Ammar.
"Ti-tidak, hanya saja ini terlihat sangat formal. Seperti--uhmm seperti gaun untuk menikah saja." gumam Joana tapi Ammar tersenyum sekilas karena mendengarnya.
"Jo, ini tidak seformal yang kamu bayangkan. Cobalah..." pinta Ammar seraya menatap Joana dengan senyumnya yang memikat.
Joana mencoba gaun itu dan ternyata itu sangat pas saat dia kenakan.
Ammar terkesima melihatnya, dia jatuh dalam pesona perempuan cantik yang sudah dibalut dengan gaun putih itu, padahal Joana belum menggunakan make-up apapun untuk merias wajahnya. Dia sudah sangat mengagumkan.
"Cantik..." gumam Ammar.
"Apa?" tanya Joana tidak mendengar apa yang Ammar ucapkan. "Ini terlalu formal kan? Mau kemana aku memakai ini?" tanya Joana sambil terkekeh kecil.
"Ti-tidak, itu sudah pas. Pakai saja sekarang jangan diganti." kata Ammar yang membuat mata Joana melotot.
"Kita pulang kerumah dan aku memakai ini?" tanyanya.
"Hemm... aku ingin melihatmu memaki itu sekarang."
"Ammar, aku tidak mau. Ini berlebihan. Aku akan memakainya pada acara formal."
"No, pakailah sekarang.. please.." Ammar memohon pada kekasihnya dan Joana tidak sanggup menolak lagi.
"Tolong bantu merias wajahnya." kata Ammar pada pelayan butik dan gadis muda itu mengangguk. Joana keheranan tapi dia mengikuti saja peemintaan Ammar walau dikepalanya begitu banyak pertanyaan aneh.
Setelah selesai dengan make-up nya, Joana benar-benar terlihat cantik, elegan dan formal.
"Ammar, sebenarnya setelah ini kita mau kemana?" tanya Joana seraya melihat Ammar yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Memangnya mau kemana lagi? Kita akan pulang ke Mansion, Honey." jawab Ammqr enteng.
"Tapi penampilanku? Kenapa harus begini. Aku bisa diberi seribu pertanyaan dirumah. Mereka bisa mengira aku baru saja mengadakan pernikahan diam-diam jika aku pulang dengan pakaian ini." kata Joana jujur.
"Biar saja," Ammar tersenyum penuh arti.
"Kau ini..." Joana memukul pelan bahu Ammar yang sudah tergelak.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju MansionSesampainya disana, Joana begitu terkejut menemukan banyaknya mobil di pelataran Mansion.
Dia menatap Ammar yang diam saja sedari perjalanan mereka menuju Mansion tadi. Ammar hanya terus menggenggam tangannya tanpa mau melepaskan.
"Ammar, kenapa disini ramai sekali? Apa Doni dan Sinta mengadakan acara?"
Ammar menggeleng. "Ini bukan acara mereka." katanya singkat sambil terus tersenyum hangat.
"Lalu?" Joana mengernyit heran.
"Kau akan tahu setelah masuk ke dalam sana." kata Ammar seraya menunjuk kedalam Mansion.
Mereka bergandengan tangan dan masuk kedalam dengan perasaan yang bercampur aduk. Joana dan Ammar sudah sepakat untuk mengatakan niat mereka kepada orangtua Doni lebih dulu barulah mereka akan terbang ke London untuk menemui orangtua Joana disana. Tentunya niat itu tentang keputusan Ammar yang ingin menikahi Joana.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Beberapa saat setelah kepergian Ammar dan Joana dari Panti Asuhan. Pak Mirza pun menghubungi saudara perempuannya yaitu Julia, ibunda dari Joana.
Setelah memberitahu dan juga saling mengerti yang dimaksudkan satu sama lain, akhirnya Pak Mirza beserta para pengurus panti dan anak-anak panti yang berjumlah sekitar 25 orang segera bergegas untuk berangkat ke kota. Mereka menggunakan mobil dan bus yang memang menjadi akomodasi alat transfortasi yang tersedia di Panti untuk kebutuhan wisata anak-anak panti yang biasa dilakukan dua-tiga bulan sekali.
"Kalian sudah siap?"
"Siap, Paman..." semua anak-anak panti menjawab serentak. Mereka memang dibiasakan memanggil Pak Mirza dengan sebutan Paman.
Perjalanan mereka dimulai, mereka menuju Mansion Doni untuk menghadiri acara dadakan yang sebenarnya sudah direncanakan oleh keluarga besar Joana danp tentulah dengan Ammar juga. Mereka saling mengabari melalui sambungan telepon. Semua sudah mengetahui rencana besar ini tetapi ada satu orang yang tidak mengetahuinya yaitu Joana sendiri.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Joana dan Ammar masuk kedalam ruangan Mansion, kedatangan mereka disambut oleh anak-anak kecil yang berbaris rapi memegang masing-masing satu buket bunga mawar putih.
Joana terkesima, dia menutup mulutnya yang terbuka sangking tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ammar ada apa ini?" tanya Joana menoleh kearah Ammar disampingnya. Ammar hanya tersenyum kecil. Lalu seorang anak perempuan memberikan buket bunga mawar merah kepada Joana.
"Ini untuk Kakak..." kata anak itu dan Joana baru sadar jika itu adalah Lucy, salah satu anak yang berada di Panti Asuhan milik Pamannya.
Joana menerima buketnya, "Lucy ...? Kenapa kamu tiba-tiba ada disini?" Joana bertanya sekaligus melihat anak-anak kecil yang berbaris memanjangg didepannya dan yah, mereka semua adalah anak-anak panti yang tinggal bersamanya selama tiga bulan ini di Panti Asuhan yang sama.
"Ammar, bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?" Joana bertanya pada Ammar karena dia benar-benar heran dengan keadaan ini.
Suasana Mansion disulap menjadi serba putih, aroma bunga tercium menguar diseluruh ruangan karena hamparan bunga mawar kian memenuhi ruang tamu hingga ke ruangan lainnya, karpet putih terbentang dan anak-anak panti yang dikenalinya pun, seperti telah diatur untuk memakai pakaian serba putih. Mereka tampak rapi, cantik dan tampan. Benar-benar seperti akan diadakan acara formal yang sudah diatur jauh-jauh hari.
Joana melihat Ammar, dia pun baru menyadari jika kekasihnya itu menggunakan kemeja putih slimfit dan celana chino's berwarna khaki yang terkesan formal. Ah, apa yang terjadi sebenarnya? Tadi dia merasa biasa saja dengan penampilan Ammar tapi sejak berada disini, barulah dia merasa ada yang aneh karena pakaian Ammar juga seperti dresscode yang direncanakan. Joana melihat ke dirinya sendiri, dia juga menggunakan pakaian putih yang diminta Ammar.
Ammar sudah merencanakan ini tanpa dia sadari, ah betapa bodohnya dia. Awalnya dia hanya berpikir ingin menuruti permintaan Ammar yang menginginkan melihat dia dengan gaun ini tapi sekarang pikirannya begitu terbuncah karena keadaan yang dilihatnya didalam Mansion.
Kedatangan Latifa beserta Lesya dan Shaka dihadapannya pun cukup membuat Joana terkejut, bukankah anak-anak ini tadi sudah diantar ke rumah? Ah, ternyata mereka juga sudah bersiap-siap dengan pakaian masing-masing.
Ammar tersenyum bahagia. Melihat Joana yang terheran-heran, dia pun mengulumm senyum. Dia sengaja mengulur waktu agar semua orang sudah berkumpul disini saat dia dan Joana tiba di Mansion dan ternyata perhitungannya tepat akurat.
"Ammar..." Joana ingin protes tapi Ammar tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawanya menuju kedepan orang-orang lain yang juga Joana kenali.
Disana sudah ada kedua orangtuanya, Orangtua Doni, Paman Mirza dan yang lainnya.
"Joana, hari ini Daddy mengikhlaskanmu untuk menikah dengan Ammar." kata Nathan yang diangguki oleh yang lainnya. Pria paruh baya itupun memeluk putri satu-satunya yang sangat dia kasihi.
Joana terisak, ini benar-benar diluar dugaannya. Kapan orangtuanya kembali ke Indonesia? Dia juga tidak tahu. Dia menatap Ammar dan Ammar hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
...Bersambung ......