
Ammar melirik waktu yang bergerak dipergelangan tangannya. Dia gegas keluar dari kantor, meminta Karin untuk merapikan segala berkas pentingnya dan meninggalkan gedung itu tanpa persetujuan siapapun.
Ammar tak ingin membuang waktu, beberapa jam kedepan adalah acara makan malam yang diadakan oleh Kevin, sekaligus ulang tahun Desi.
Bukannya Ammar tak bisa mengadakan makan malam privasi hanya untuknya dan Joana saja. Tapi, mengingat sikap Joana yang selalu berubah setiap dia membahas soal pernikahan, membuat Ammar akan mengambil kesempatan ini untuk melamar Joana.
Mungkin lain kali dia akan mengulanginya lagi disuasana yang berbeda dan lebih romantis. Entahlah, Ammar juga tak tahu dia termasuk lelaki yang romantis atau tidak. Yang jelas, satu jawaban 'iya' dari Joana pasti sangat membahagiakannya.
Tak ingin mengulur waktu, Ammar segera melajukan mobilnya ke sebuah Mal yang tak jauh dari pusat gedung perkantoran tempatnya berada.
Sampai disana dia menuju sebuah toko perhiasan. Seorang pelayan toko menyapa dan menyambutnya dengan ramah.
Ammar disuguhi banyak pilihan accesories, seperti cincin, gelang, kalung dan anting. Ammar sedang membutuhkan cincin saat ini dan dia menunjuk sepasang cincin berlian yang menurutnya paling elegan.
Sebuah cincin wanita dengan satu mata berlian berukuran sedang, diapit dengan banyak permata disampingnya. Berkilau dan sangat indah. Sedangkan untuk cincin pria, memiliki satu berlian yang nyaris tenggelam dalam bingkainya, tidak mencolok dan sederhana sesuai dengan keinginannya.
Ammar memilih itu, menanyakan berapa berat karat dan berliannya. Setelah bernegosiasi, Ammar membayar pilihannya dan sang pelayan memasukkan sepasang cincin dalam sebuah box bludru dan lanjut dibungkus dengan mini paperbag.
"Kalau di jari calon istri saya kebesaran atau kekecilan, gimana?" tanya Ammar pada pelayan itu. Ammar sedikit ragu dengan ukuran jari Joana, apakah cincin itu akan pas saat disematkan nanti?
"Bapak bisa menghubungi kami kembali dan kami akan segera memperbaiki sesuai ukuran yang pas. Jika bisa, sertakan ukurannya ya, Pak." kata Pelayan itu sopan.
Ammar mengangguk dan beranjak dari toko perhiasan itu. Ammar pun menuju kediamannya. Memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Ammar yang masih mengenakan handuknya pun mulai melakukan panggilan pada Joana. Namun sayang, panggilannya tidak dijawab. Padahal Ammar ingin menjemput Joana dan pergi bersama-sama menuju acara makan malam yang diadakan oleh Kevin.
Ammar mengirimi Joana pesan, memintanya bersiap dan dia akan menjemputnya nanti.
Selang setengah jam kemudian, Ammar yang sudah rapi dengan pakaiannya pun mendengar notifikasi pesan masuk diponselnya. Sebuah balasan pesan dari Joana.
"Tidak usah dijemput, Honey. Aku akan kesana bersama Doni dan Sinta. Kita akan bertemu disana saja, Oke?"
Balasan Joana tidak sepenuhnya membuatnya kecewa, walau dia tahu Joana seakan menghindari Ammar yang akan datang ke Mansion, tapi membaca pesan Joana sekali lagi membuat hatinya menghangat.
Ammar keluar dari kamar dan disambut oleh Shaka dan Lesya yang sedang mengerjakan pekerjaan sekolah. Shaka sedang membuat prakarya dan Lesya tengah menghitung menggunakan sempoa.
"Papa mau kemana?" tanya keduanya nyaris serentak.
Ammar terkekeh pelan. "Papa ada acara, undangan makan malam." kata Ammar seraya mengusap pucuk kepala kedua anak-anaknya dengan lembut.
"Papa pergi sama siapa?" tanya Shaka polos.
"Bareng tante Jo."
Lesya tersenyum semringah. "Pa Lesya ikut, Pa.. Lesya ikut.." kata Lesya seraya melompat-lompat kegirangan.
Tak mau kalah, Shaka pun berdiri dan meruntuni tubuh Ammar. "Shaka juga ikut ya, Pa." desaknya.
Ammar menjadi serba salah. "Lain kali ya," ucapnya lembut.
Kedua anak itu pun lesu dan cemberut, kembali pada kegiatannya dan diam tanpa suara.
Ammar menjadi gusar melihatnya.
"Papa akan hubungi Om Rey dulu ya, biar Papa tanyakan bisa membawa anak-anak atau tidak." kata Ammar dan anak-anknya hanya diam menunggu.
Ammar melakukan panggilan ke nomor Rey, tanpa menunggu lama Rey sudah menjawabnya.
"Apa kau membawa Kirey?" tanya Ammar tanpa basa-basi.
"Tentu saja, apa kau mau menjaganya?" kelakar Rey dari seberang sana.
Ammar terkekeh. "Lesya dan Shaka memaksa untuk ikut, aku tidak enak jika membawa anak-anak."
"Bawa saja, ini bukan makan malam formal. Para tamu undangan disana pun hanya orang terdekat saja." saran Rey.
"Baiklah." kata Ammar seraya tersenyum senang dan memutuskan panggilannya.
Setelah memberi tahu kabar itu pada anak-anaknya. Shaka dan Lesya pun bersiap.
Ammar menunggu di teras rumah dengan sabar. Tak berapa lama menunggu, anak-anaknya sudah siap dengan pakaian terbaik mereka.
Setelah pamit pada Latifa, Merekapun memasuki mobil bersama-sama dan pergi menuju acara.
Joana tiba di hotel tempat acara makan malam berlangsung. Seperti janjinya, dia pergi bersama Doni, Sinta dan Baby Zavier (Anak Doni dan Sinta)
Mereka memasuki Ballroom hotel, hotel yang sama saat Kevin dan Desi menikah dulu, salah satu hotel terbaik dipusat kota yang adalah milik keluarga Kevin.
Desi menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan hangat, tak lama Kevin yang tadinya menyapa rekan-rekan yang lain disudut ruangan pun menghampiri ketiganya juga.
"Hallo Papa muda.." kelakar Kevin pada Doni, Doni tengah repot menggendong bayinya sementara Sinta istrinya sudah mengobrol panjang dengan Desi dan juga Joana.
Doni mencebik, dia melihat Kevin dengan tatapan jengah.
"Hahaha, masa muda kita sudah habis, Bro." Celetuk Kevin lagi,
"Mana anak lo? Kenapa lo berlagak kayak pria lajang gini?" ejek Doni melihat Kevin yang santai-santai saja tidak seperti dirinya.
"Tuh.." Kevin menggendikkan dagu kearah lain, menunjuk bayinya yang lebih tua beberapa bulan dari bayi Doni tengah digendong oleh Keyra-adiknya.
"Sial. Tau gitu tadi gue ajak Baby Sitter Zavier." timpal Doni dan Kevin terkekeh.
"Jaga anak jangan ngeluh, Bro." kata Kevin seraya menepuk-nepuk pundak sahabatnya, lebih seperti mengejek bukan nasehat.
Doni ingin mengumpat kelakuan Kevin, tapi dia sadar sedang menggendong bayinya, akhirnya dia hanya mendengus.
"Kunyuk mana?" tanya Kevin seraya mengedarkan pandangannya.
"Tau ah. Gak ngurus. Gue udah cukup sibuk." Kata Doni malas.
"Bangsaaat jawaban lo, Dal." ucap Kevin kelepasan, lalu dia sadar sendiri dan membungkam mulutnya.
Tak berapa lama, kedatangan Ammar yang membawa sepasang bocah, cukup menjadi pusat perhatian.
Ammar menyapa Doni dan Kevin yang berdiri tak jauh dari pintu masuk Ballroom.
"Maaf karena aku membawa anak-anakku." kata Ammar
Kevin menanggapi Ammar dengan senyuman, lalu menjawabnya dengan santai. "Tidak masalah, asal jangan bawa istri orang," kelakarnya sambil berbisik pelan.
Mereka bertiga terkekeh. Kevin memanggil istrinya dan Desi pun menyambut kedatangan Ammar dan anak-anaknya.
Lesya yang lebih dulu melihat Joana dan menyapanya. Joana mengarahkan Shaka dan Lesya untuk duduk dimeja yang sudah disediakan.
"Papa mana?" tanya Joana celingukan.
"Itu didepan sama Om Kevin." kata Shaka. Joana pun mengangguk.
Tak berapa lama, Ammar menyusul keberadaan mereka. Mereka seperti keluarga harmonis yang duduk lengkap dalam satu meja. Tidak ada keberadaan orang lain dimeja yang sama, hanya mereka berempat.
Tqmu semakin ramai berdatangan. Dari jauh, Ammar dan Joana melihat kedatangan suami-istri yang tak lain dan tak bukan adalah Rey dan Kinan, membawa serta anak semata wayang mereka-Kirey Denizer-yang berjalan secara acak dan kemana-mana khas anak balita.
Acara makan malam pun dimulai, Ammar sudah tidak tahu lagi siapa tamu yang hadir dan datang memasuki Ballroom yang sama dengan mereka.
Ammar fokus pada tujuannya, dia pun melirik Joana yang lebih sibuk pada anak-anaknya ketimbang dirinya. Joana tengah memotongkan steak daging untuk Shaka, dia terlihat sangat sabar. Jiwa keibuannya membuat Ammar semakin memujanya didalam hati.
"Jo," kata Ammar memulai.
Joana menoleh ke arah Ammar. "Ya?"
Ammar mendekat ke sisi Joana, membisikkan sesuatu pada perempuan itu.
"So beautiful..." bisiknya dan wajah Joana pun bersemu malu.
"Tante kenapa?" tanya Shaka yang diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.
Ammar menghela nafasnya pelan akibat ulah Shaka yang menginterupsinya dan Joana.
"Tidak apa-apa, lanjutkan makannya." kata Joana lembut.
Shaka menurut, ia pun larut dalam obrolan tentang anak-anak dengan Kakaknya.
Ammar merabaa saku celananya dan mengambil kotak kecil yang sudah ia siapkan. Joana yang menatapnya pun kebingungan.
"Jo, mungkin aku tidak romantis. Tapi aku mau membuktikan keseriusanku padamu." kata Ammar seraya membuka kotaknya, membuat Joana tercengang.