How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Semuanya tidak mudah



Ammar meraih tangan Joana dengan satu tangannya. Tanpa diduga siapapun, lelaki itu berlutut dihadapan Joana membuat Joana terperangah kaget atas tindakan yang dilakukannya.


Tidak hanya Joana, beberapa orang dikiri-kanan meja mereka pun turut melihat aksi Ammar itu. Kedua anak Ammar berdiri dan mereka saling bertatapan satu sama lain seraya menatap heran kepada ulah Papanya. Mereka seakan menantikan apa yang selanjutnya akan dilakukan Ammar.


"Ammar, apa yang kau lakukan?" Bisik Joana saat Ammar menggenggam tangannya lalu genggaman jari perempuan itu diletakkan dihadapan Ammar yang berlutut. Sementara, Joana sendiri masih terduduk bingung dikursinya.


Ammar tersenyum simpul. "Maafkan aku jika harus mengatakannya disini. Aku mau melamarmu." Kata Ammar dengan lembut, matanya penuh dambaan dan harapan.


Joana membungkam mulutnya. Terkejut, bahagia, takut dan sedih bercampur jadi satu. Joana tidak mau menyalahkan Ammar atas tindakan ini. Dia merasa beruntung karena orang yang ada dihatinya kini melamarnya. Tapi, Joana punya pemikiran sendiri yang sulit untuk dia ungkapkan dihadapan kekasihnya.


Ammar masih menunggu Joana bicara, dia diam dalam posisinya yang mengadah kearah wajah perempuan itu.


Joana melirik sekilas kekiri dan ke kanannya. Dia tidak mau mempermalukan Ammar disini. Merasa belum semua orang menyadari aksi Ammar itu, Joana segera berkata pada Ammar. "Kita harus bicara, tidak disini." Katanya. Joana pun menarik tangannya dari genggaman Ammar seraya berjalan anggun keluar dari Ballroom.


Ammar terkejut dengan reaksi Joana yang diluar prediksinya. Dia terlalu percaya diri, dia mengira semuanya akan mudah dan berjalan lancar lalu Joana menerimanya. Itulah pemikiran Ammar, namun siapa sangka Joana ingin berbicara empat mata padanya. Apa ini suatu penolakan secara halus?


Ammar menatap kedua anaknya yang bengong saat melihatnya.


"Papa dan Tante Jo bertengkar?" Tanya Lesya dengan raut wajah polos.


Ammar tersenyum sekilas. "Tidak sayang. Kalian disini saja, lanjutkan makannya. Papa akan bicara didepan dengan Tante Jo."


Lesya dan Shaka mengangguk.


"Jangan kemana-mana." kata Ammar, lalu Ammar menunjuk sisi dimana ada Rey dan Kinan berada. "Disana, ada Tante Kinan dan Om Rey. Jika papa lama kembali, mintalah mereka menelpon Papa." Kata Ammar menjelaskan.


"Iya, Pa.." sahut Shaka patuh.


Ammar pun berjalan menghampiri Rey dan Kinan, dia berbincang sebentar untuk menitipkan Shaka dan Lesya pada mereka karena dia harus segera menyusul Joana yang sudah keluar dari Ballroom. Rey dan Kinan paham lalu mereka memperhatikan kedua anak itu dalam pengawasan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Angin malam berhembus lembut, bulan pun malu-malu menampakkan wujudnya, hanya separuh yang terlihat disertai kilauan bintang yang berkelap-kelip menambah kedamaian yang tercipta ditempat itu.


Hanya ada beberapa orang disana, kebetulan Kevin mereservasi hotel ini untuk keperluan pribadinya, termasuk bagian kolam renang yang memang berada di kiri Ballroom tempat berlangsungnya acara. Semua orang yang diundang, masih sibuk menyelesaikan sesi makan malam. Sehingga hanya beberapa orang yang berada diluar dengan kepentingan masing-masing. Ada yang terlihat tengah menelpon, dan kebanyakan adalah pelayan yang berlalu-lalang.


Termasuk pula sepasang kekasih itu yang kini berada disana untuk membicarakan hal yang ada dipikiran mereka masing-masing.


Setelah selesai dengan urusan anaknya, Ammar mencari-cari keberadaan Joana. Ternyata Joana berdiri diluar gedung, tepatnya didepan sebuah kolam renang yang dihiasi lilin-lilin kecil yang mengapung diatasnya.


Joana memandang jauh kedepan, dia tengah memikirkan sesuatu. Ammar bisa menebak itu pasti berkaitan dengan apa yang tadi Ammar lakukan.


"Jo.."


Joana menoleh kebelakang dan mendapati Ammar yang berdiri tak jauh darinya.


Ammar melihat mata Joana yang memerah. Dia merasa ada yang tidak beres dan dia sudah tahu jika Joana memang menyembunyikan sesuatu daripadanya.


"Ammar, aku..."


"Kau belum siap dengan keputusanku?" Terka Ammar dan Joana hanya diam seraya melipat tangannya didada, matanya malah menatap ke atas langit.


"Kau benar-benar membuatku terkejut." Kata Joana, namun nada bicaranya terdengar dingin.


Ammar menarik pelan lengan Joana, berusaha membuat posisi mereka agar berhadapan satu sama lain. Dia memegang kedua pundak Joana dan menatap serius kewajah perempuan itu.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ammar. Sebenarnya dia bisa menebak sikap Joana yang selalu begini jika membicarakan soal pernikahan. Ammar sadar diri dengan kekurangannya dan kesalahannya dimasa lalu, Ammar bukannya tak tahu apa yang Joana simpan dalam-dalam dihatinya. Tapi, Ammar ingin mendengar alasan itu dari mulut Joana sendiri. Ammar ingin tahu penilaian Joana mengenai dirinya, karena Ammar serius dalam menjalani hubungannya.


Joana menggeleng.


"Dengar, aku tahu kau risau jika memikirkan pernikahan. Dulu alasanmu adalah tentang masa lalumu. Xander adalah bayang-bayang yang tidak bisa lepas karena kau adalah obsesinya. Sekarang, apa lagi?" Ammar tersenyum kecut.


Joana membuang pandangan kearah lain, dia tidak berani menatap mata Ammar.


"Jawab Jo, beri aku penjelasan." Kata Ammar lagi.


"Ammar, ku rasa semua ini terlalu cepat." Kata Joana dengan nada tal yakin. Nampak sekali ucapannya penuh keraguan atau malah hanya sebuah alasan klise.


Ammar tertawa sumbang mendengarnya.


"Maksudmu aku berbohong?" Tanya Joana seraya mendelik.


"Yah, kau berbohong. Apa yang kau tutupi?"


"Tidak ada." Sanggah Joana. Joana tidak berniat bohong, dia hanya takut menyakiti hati Ammar jika dia jujur bahwa dia takut keluarganya mengetahui status Ammar yang sebenarnya. Joana takut Ammar tersinggung.


"Kau bilang ini terlalu cepat? Apanya yang terlalu cepat, Jo?" Tanyanya, "Kita sama-sama sudah dewasa. Bukan remaja dan usia kita sama-sama matang." Ammar menangkup pipi Joana agar wajah itu tidak menghindar dari tatapannya yang menghunus.


Joana menggenggam kedua tangan Ammar yang berada dipipinya, ia melepaskannya perlahan.


"Ammar, sebaiknya kita berpisah." Kata Joana dengan nada tegas, membuat mata Ammar membulat sempurna.


"Apa??" Suara Ammar tercekat. Bagaimana bisa Joana mengambil keputusan ini, bukannya menjawab pertanyaan Ammar tentang apa yang dipendamnya, malah Joana memutuskan hubungan mereka sebelah pihak.


Joana berusaha tegar, untuk mengaku pada orangtuanya dia tidak sanggup. Memikirkan Daddy nya yang akan terkena serangan jantung akibat dia menjalin hubungan dengan lelaki berstatus duda anak dua, Joana sangat takut. Lebih baik ini diakhiri sebelum kedua orangtuanya tahu dan berakibat fatal.


"Jo, tarik kata-katamu. Bagaimana bisa kau mau mengakhiri semua ini." Lirih Ammar tidak mengerti.


Joana menggeleng. Dia seperti berada dipersimpangan. Jika lurus dia bisa mati maka dia lebih memilih berbelok, walaupun dia tidak tahu apa yang akan ditemukannya saat berbelok nanti. Begitulah perumpamaan perasaannya saat ini. Dia lebih memilih mengakhiri daripada meneruskan jika malah menambah masalah bagi orangtuanya.


Tubuh Ammar meluruh, dia terduduk dengan lututnya dihadapan Joana. Lelaki itu tertunduk, semua tidak sesuai dengan ekpektasinya yang memikirkan semua akan mudah.


"Apa karena ini tidak sesuai dengan bayanganmu? Apa kau berharap ada makan malam romantis hanya untuk kita berdua?" Tebak Ammar.


"No.." suara Joana tercekat, sesungguhnya dia ingin menangis, terlebih melihat keadaan Ammar seperti ini.


"Apa ini ada kaitannya dengan statusku?" Tebak Ammar lagi dan Joana menitikkan airmatanya. Ammar tidak melihat itu, karena kini pandangannya menatap ke air jernih dalam kolam.


"Kau tidak menjawabnya, aku anggap itu berarti iya." Kata Ammar semakin melirih.


"Aku harus pulang." Kata Joana berusaha menegarkan hatinya, padahal dia ingin segera pulang karena ingin sekali menangis.


"Baiklah, aku menerima keputusanmu." Kata Ammar. Lelaki itu tidak menangis, dia sudah lelah menangis, dirinya sudah merasakan jatuh dan sakit berkali-kali. Dia bahkan sudah merasakan penyesalan paling dalam dihidupnya dulu dan sekarang dia berusaha bersikap baik-baik saja walaupun penolakan Joana sangat mengguncang hati dan perasaannya.


Joana berbalik arah, tapi dipertengahan dia menghentikan langkahnya karena mendengar suara Ammar yang terkekeh.


"Aku pikir kau adalah orang yang mengobati lukaku. Tapi ternyata aku salah, kau menorehkan luka kembali dihidupku." Gumam Ammar setelah tadi dia terkekeh nyaring. Joana mendengar gumaman itu, sementara Ammar sendiri mengira jika Joana telah pergi dari sana.


Joana memperhatikan Ammar dari jaraknya. Posisi Ammar membelakangi Joana dan Ammar tidak peduli lagi keberadaan Joana ada atau tidak disana.


Ammar mengeluarkan kotak cincinya, mengambil cincin itu dan mengecupnya sepenuh hati. Dia tertawa sumbang seraya menatapi cincinnya.


Tanpa pernah diduga, Ammar melempar cincinnya kedalam kolam renang dihadapannya. Pemandangan itu tak luput dari penglihatan Joana, membuat Joana menitikkan airmatanya.


Ammar membuka balutan jasnya, menarik asal dasi yang terlampir rapi dilehernya. Dia terlihat kacau atas penolakan Joana tapi dia tetap tidak mengeluarkan airmata.


Joana sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaimanapun dia harus pergi dari sana.


Saat Ammar berbalik, Joana benar-benar sudah meninggalkannya. Ammar mengeluarkan ponselnya, mencari-cari satu nama disana.


"Rey, tolong antarkan anak-anakku keluar, aku tidak akan masuk ke pesta itu lagi. Aku akan membawa Lesya dan Shaka pulang."


Setelah menutup teleponnya, Ammar pun melangkah gontai menuju mobilnya seraya meninting Jas yang tidak dia kenakan lagi.


...Bersambung ......


..._________...


Boleh tau gak, kenapa yang like tiap episode novel ini makin berkurang? huuuu😥😥😥


Tolong tinggalkan jejaknya yah.. like, komen dan kritik juga boleh.


pembacanya ribuan tapi yg like dikit banget... padahal udh nguras otak buat bikin konflik Ammar dan Joana..huhuhu


tinggalkan bunga dan kopi yah readersku tersayang...semoga kita sehat selalu.💕


Yang masih setia baca sampe episode ini makasih banyak yaaaa ailopyupul❤️❤️🙏🙏