
Rey tengah berdiri diujung pagar pembatas balkon kamarnya. Memandang ke arah halaman rumah. Pikirannya tak tenang, entah kenapa ia muak jika harus diam tanpa bertindak seperti ini. Ini semua karena kondisinya yang tidak bisa bergerak bebas.
Rey memicingkam mata ketika sebuah mobil SUV hitam yang tidak asing memasuki pekarangan rumahnya malam-malam begini. Rey tahu siapa pemilik mobil itu, hanya saja ia heran kenapa orang ini akan kembali berkunjung kerumahnya.
Rey gegas berbalik untuk turun dan menemui orang itu. Ia melangkah santai dan perlahan menuruni tangga. Tepat setelah seorang pelayan membukakan pintu untuk tamu yang datang itu, Rey pun sudah berdiri tegak dihadapannya.
"Mau apa lo?" Tanya Rey.
Ammar sedikit terkejut melihat kondisi Rey yang menggendong tangan.
"Mana Kinan?" Tanya Ammar.
Rey mengernyit. Bukannya Kinan dirumah Desi?
"Gue gak tau." Jawab Rey jujur.
"Kau jangan bermain-main lagi. Kali ini aku pasti menjebloskanmu ke penjara!" Suara Ammar berapi-api.
" Huh? Lo mengaku suaminya tapi gak tau Kinan dimana?" Jawab Rey acuh tak acuh.
"Kau sempat melarikan diri bersamanya! Pasti dia ada bersamamu kan?"
"Lo liat kondisi gue sekarang kan? Mana gue tau!" Rey melihat tangannya sendiri seolah memamerkan keadaannya pada Ammar. Sejujurnya ia menutupi rasa khawatirnya terhadap keberadaan Kinan.
"Jangn ber-alibi!"
Rey mendesah berat, yang ia tahu Kinan berada dirumah Desi dan Ammar pun tahu itu, tapi kenapa sekarang pria ini mencari Kinan padanya? Mendadak Rey merasa tak enak hati, tapi ia harus bisa menyembunyikan wajah khawatirnya itu dan berlagak memasang senyum dihadapan Ammar.
"Coba kau tanyakan pada ibumu! Siapa tau ini ada kaitannya dengannya!" Ucap Rey secara tiba-tiba, ia sendiri terkejut dengan ucapannya.
"Maksudmu? Kenapa kau menuduh ibuku ada kaitannya dengan hilangnya Kinan?"
"Ya, karena ibumu tidak menyukainya kan? dan yang aku tau, dulu Kinan sempat tak pulang kerumah lalu berakhir dengan kejadian yang tak mengenakkan. Ya kau pasti mengerti maksudku kan?" Rey memasang wajah prihatin untuk Ammar.
Ammar membuang pandangan, mengerti arah pembicaraan Rey.
"Jadi kau sudah tau sampai sejauh itu tentang istriku?" Tangan Ammar mengepal.
"Tentu, tidak ada rahasia diantara kami!" Rey memasang wajah bangga.
"Brengs*k kau! sekarang katakan dimana Kinan?" Tangan Ammar sudah mencengkram kerah kemeja Rey. Rey hanya menatapnya dengan senyuman.
"Aku tidak tau! Jika aku jadi kau, aku pasti menanyakannya pada wanita tua dirumahmu itu dan menyelidiki apa rencananya!" Rey tersenyum licik.
"Apa boleh aku menemuinya untuk bertanya?" Sambung Rey lagi.
Ammar melepas cengkramannya pada Rey dengan sedikit kasar. Ia menarik diri dan pergi begitu saja dari hadapan Rey tanpa kata-kata lagi.
Rey mendengus sambil menepuk-nepuk bagian kemeja yang sempat Ammar sentuh tadi dengan satu tangannya.
"Kemana Kinan?" Gumam Rey. Perasaannya menjadi kalut. Rey merogohh saku celananya untuk mencari ponsel lalu menelpon Kevin. Namun sayangnya panggilan itu tidak dijawab oleh Kevin. Rey mencoba mengulangi panggilan sampai beberapa kali, namun tetap tak ada jawaban.
Rey panik dan gegas keluar rumah. Mencari supir yang biasa mengantarkan Mama nya. Setelah bertemu, Rey meminta untuk diantarkan ke alamat rumah Desi.
-
"Jadi maksud lo, Kinan sudah tak ada saat lo pulang kerja?" Rey menanyakan Desi seolah mengintrogasinya.
Desi mengangguk lemah. Ia pun bingung kemana Kinan. Ini sudah larut malam dan belum ada tanda-tanda kepulangannya. Desi tidak tahu sejak kapan Kinan peegi, yang jelas ketika sore ia pulang dari kantor, Kinan sudah tak berada disana dan hanya menuliskan surat pamit padanya tanda ia pergi.
Desi menatap Rey yang tertunduk lemah. Lelaki ini tak bersemangat seperti pertama kali datang kerumahnya tempo hari. Bahkan kini kondisinya memprihatinkan. Desi jadi semakin penasaran ada hubungan apa antara dia dan Kinan. Tampaknya lelaki ini benar-benar peduli pada sahabatnya itu, ia bahkan tak peduli pada dirinya sendiri yang masih dalam kondisi tangan yang seperti itu.
"Apa lo yang bernama Reyland?" Desi menebak-nebak karena ada sesuatu yang membuatnya tahu nama itu.
Rey mengangguk.
"Apa gue boleh tau ada hubungan apa antara lo dan Kinan?"
"Gak ada. Gue dan Kinan gak terikat hubungan seperti yang lo pikirin."
"Benarkah?"
"hmm"
"Tapi..." Desi ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?"
"Kinan menyebut nama lo dalam suratnya!"
"Surat?"
"Yah.. tapi tolong jawab dulu apa hubungan kalian, karena jujur saja aku sangat penasaran!" Desi nyengir.
"Bagaimana mungkin kalian tidak punya hubungan hah? Dia bahkan tak meninggalkan pesan untuk suaminya, tapi ke elo, ada!" Desi berdecak lidah.
"Mungkin karena gue spesial" Jawab Rey enteng dan Desi mendelik.
"Mana suratnya?" Rey semringah sekarang.
"Gue bakal kasi kalo lo jawab dulu yang sebenarnya!"
"Oke.."
Desi masuk kedalam rumah untuk mengambil surat itu dan lima menit kemudian dia sudah kembali dihadapan Rey.
"Apa?" Tanya Desi.
Rey menyerah dan akhirnya berdiri dari duduknya.
"Gue dan Kinan saling mencintai." Jawab Rey sejujurnya.
"Sejak kapan lo kenal dia?"
"Baru beberapa bulan belakangan." Rey menadahkan tangan kanannya pada Desi untuk meminta surat yang sudah Desi pegang-pegang.
"Bentar, lo tau kan dia punya suami dan lagi hamil?"
Rey mengangguk.
"Trus, kenapa lo tetap kekeuh sama cinta lo?"
"Ck...cinta itu gak butuh alesan. Udahlah, sini-in suratnya!" Rey tersenyum miring pada Desi.
Desi mendengus tapi menyerahkan juga surat itu pada Rey. Tentu saja Rey semringah menerimanya.
Rey melihat kertas kecil itu, tampaknya Kinan sudah mempersiapkan ini. Tapi ini bukan surat khusus yang ditujukan untuknya. Lebih tepatnya ini adalah surat pamit Kinan pada Desi. Rey membaca dengan seksama, ada sebuah tulisan namanya yang terselip diantara kata-kata didalamnya.
Des,Terimakasih atas bantuan kamu selama ini. Aku tidak tahu cara membalasnya, semoga suatu saat bisa ku lakukan.
Aku pamit dan aku titip pesan jika seorang lelaki bernama Reyland mencariku, katakan padanya, Jangan pernah cari aku! dan bilang padanya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
- Kinanty -
Rey memejamkan matanya sejenak, hanya itu ucapan perpisahan dari Kinan untuknya. Rey memang tak mungkin melakukan kesalahan yang sama pada orang lain lagi. Cukup Kinan yang jadi korbannya, bahkan ia bertekat tak ingin menyentuh minuman beralkohol lagi jika dengan itu ia tak bisa mengontrol diri. Awalnya memang sulit karena itu sudah menjadi kebiasaannya di masa lalu.
Rey sudah berubah perlahan-lahan sejak ia melakukan kesalahan itu pada Kinan. Bahkan ia tak pernah menginjakkan kaki lagi di Club malam, sejak ia menemukan Kinan beberapa bulan lalu. Padahal dulunya hampir setiap malam ia akan berada disana bersama dua kawan sependosanya itu. Syukurnya Doni terbang ke London, dan Kevin sibuk mengurus pekerjaannya hingga tidak ada drama pemaksaan dari mereka berdua supaya Rey menginjakkan kaki ke tempat seperti itu lagi.
Rey menghembuskan nafas dengan berat, Kinan juga memintanya untuk tak mencari keberadaannya. Itulah yang sulit untuk Rey lakukan saat ini. Bagaimana Rey bisa tenang sekarang sementara ia tak tahu keberadaan Kinan. Rey menatap Desi yang sedari tadi sudah memperhatikannya.
"Apa?"
"Kesalahan apa yang udah lo buat ke Kinan?"
Rey menggeleng.
"Terus lo beneran mau ngikutin permintaan dia?"
"Soal dia minta gue gak melakukan kesalahan yang sama ya gur ikutin. Tapi permintaan dia supaya gue gak nyari kemana dia pergi, itu gue gak bisa!"
"Lo mau cari Kinan?"
Rey mengangkat bahu. "Menurut lo?"
"Gue juga gak tenang, gue ikut cari Kinan sama lo!" Sergah Desi.
Rey mencebik. "Serah lo deh!"
Rey ingin beranjak dan Desi sudah siap mengikuti, namun ponselnya tiba-tiba berdering, terlihat Kevin menghubunginya kembali.
"Lo dengerin gue baik-baik! Gue baru aja tau, Gue rasa bokap lo udah turun tangan masalah Kinan. Kayaknya dia mau ngirim Kinan ke Luar Negeri, Nyuk!" Ucap Kevin dari seberang sana.
Rey mencengkram ponsel yang berada digenggamannya. Ini keterlaluan. Apa rencana lelaki tua itu? Rey langsung memutus panggilannya.
"Lo gak usah ikut gue! Biar ini jadi urusan gue!" Ucap Rey tanpa menoleh pada Desi yang berdiri dibelakangnya.
.
.
.
.
Bersambung...