
"Kau!" Pekik Joana dengan nada tak senang. Lalu sosok itu tersenyum simpul sambil membalas tatapan yang Joana berikan padanya.
"Untuk apa kau kemari? Pergilah!!!" Joana berdiri dari tempatnya, senyuman seorang yang berada dihadapannya berubah menjadi seringaian yang menjijikkan dimata Joana.
"Sasa!" Teriak Joana memanggil sang Asisten yang sudah berada diluar Ruangannya.
Tak berapa lama, nampaklah seorang wanita muda yang membuka pintu ruangan Joana dengan terburu-buru dengan wajah bingung. "Y-ya, Dok?"
"Sasa, kenapa kamu mengizinkan dia masuk ke ruangan saya?" Tanya Joana dengan nada marah, membuat wanita muda bernama Sasa itu mengernyit keheranan.
"La-lalu saya harus ba-bagaimana, Dokter? Beliau adalah pasien Anda." Ungkap Sasa dengan wajah pias.
"Pasien?" Joana menatap Sasa lalu melirik lelaki yang masih memperhatikan kemarahannya dengan seringaian.
"Saya sudah menyerahkan data diri pasien yang mendaftar untuk pertemuan hari ini, Dok. Saya rasa Dokter sudah memeriksanya." Jelas Sasa lagi.
Joana menghela nafas panjang, ia melambai-lambaikan tangan agar Sasa segera meninggalkan ruangan dan Sasa menangkap isyarat Joana lalu wanita itupun gegas keluar ruangan dengan banyak tanda tanya dikepalanya.
Joana kembali duduk dikursi kebesarannya. Ia membuka buku jurnal dimana nama-nama pasiennya yang sudah tertulis rapi berada disana. Membaca deretan nama yang akan menemuinya hari ini dan inilah pasien terakhirnya, yang harus dia hadapi mau tidak mau.
"Ck! Steward Alexander Collin." Joana berdecak saat membaca nama itu dan lelaki dihadapannya yang sejak tadi bersedekap mengangguk-angguk setelah Joana menyebut nama lengkapnya.
Lelaki itu duduk dihadapan Joana dengan sikap tenang dan tersenyum mengejek kearah Joana.
"Anda ingin berobat? Kita akan melakukan sesi wawancara terlebih dahulu." Ucap Joana kemudian, sedikit berbasa-basi untuk memulai sikap profesionalnya sebagai seorang Dokter dibidang Psikiater--(Para psikiater saat pasien datang akan melakukan pemeriksaan yang disebut wawancara psikiatri. Sebetulnya pemeriksaan ini mirip dengan anamnesa yang dilakukan oleh dokter-dokter di bagian lainnya namun demikian biasanya lama wawancara psikiatri cukup panjang. Selain mencari problema psikologis yang dibawa oleh pasien, psikiater juga akan menanyakan mengenai masalah-masalah medis lainnya yang mungkin diduga berkaitan dengan kondisi pasien saat ini. Setelah cukup melakukan pemeriksaan wawancara psikiatri dan pemeriksaan fisik, psikiater akan memberikan terapi berdasar kondisi pasien saat itu. Terapi yang diberikan biasanya adalah dengan obat yang dikombinasi dengan psikoterapi. Ada beberapa kasus di mana terkadang psikoterapi saja sudah cukup dan psikiater tidak merasa perlu untuk meresepkan obat.)
Lelaki itu memindai ruangan Joana dengan pandangan matanya yang tajam. "Ruanganmu bagus!" Dia tidak menjawab pertanyaan Joana dan malah mengalihkan pembicaraan dan kembali menyeringai. Joana bergidik melihatnya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tanya Joana mulai lepas kendali.
"Honey, ayolah! Kita sudah sama-sama tahu keadaan masing-masing, untuk apa kita berbasa-basi menceritakan segalanya." Ucap lelaki itu.
"Pergilah sebelum aku habis kesabaran!"
"Memangnya kalau kesabaranmu habis, kau mau apa?" Tantangnya.
"Xander!" Joana mengepalkan tangannya.
"Ayolah! Aku juga sudah terdaftar sebagai pasienmu sekarang. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Joana menghela nafasnya, bagaimanapun ia terikat dengan profesi dan ia malu harus berdebat didalam ruangannya sendiri, bukankah seharusnya dia bisa meredam kemarahannya terhadap lelaki ini? Pekerjaannya membuat orang lain tenang sementara haruskah dia sendiri bersikap tak tenang menghadapi lelaki dihadapannya saat ini?
"Baiklah, Anda sudah mendaftar sebagai pasien saya. Saya akan mendengarkan anda sebagai awal mula pengobatan kita " Ucap Joana dengan formal.
"Ck..ck..ck! Kau membuatku makin menginginkanmu." Jawab lelaki bernama Xander itu.
"Apakah anda ingin sembuh? Sebaiknya kita awali semua sesi pengobatan ini dengan baik-baik dan secara profesional."
"Tentu aku ingin sembuh, Honey! Kau saja yang tidak asyik! Kau melupakan jika berkat aku, kau bisa duduk dikursi kebesaranmu itu." Xander memandang Joana dengan tatapan membunuh.
"Joana!" Teriak Xander dengan suara baritonnya.
Joana menghentikan langkah seraya menegarkan hatinya sendiri. Ia sudah menghadapi puluhan bahkan ratusan orang seperti Xander selama masa eksistensinya menjadi Psikiater, hanya saja jika yang dia hadapi adalah Xander rasanya Joana tidak sanggup.
"Apa?" Pekik Joana menantang kearah Xander.
Lelaki itu bergerak cepat dan berjalan lurus menuju tempat Joana berdiri, ia meraih tengkuk wanita itu dengan secepat kilat dan membungkam mulut Joana dengan bibirnya sendiri. Joana memekik dalam ciuman mereka. Ia meronta bahkan memukul-mukul dada bidang Xander dengan kepalan tangannya yang sedari tadi sudah mengepal. Airmata Joana jatuh setetes demi setets akibat perlakuan Xander yang dianggapnya hina. Sekuat tenaga Joana ingin melepaskan pagu-tan yang dibuat Xander terhadap bibirnya namun ia tidak bisa karena Xander mencengkram tengkuknya dengan sangat kuat.
"Dokter apa anda tidak ap--" Suara Sasa bersamaan dengan pintu yang terbuka membuat Xander menghentikan aksinya. Ciuman itupun terlepas serentak dengan reaksi keterkejutan dari raut wajah Sasa yang baru saja menyaksikan ciuman ganas itu berlangsung. "Ma-maaf" Sasa menutup kembali pintu ruangan Joana karena merasa masuk disaat yang tidak tepat. Ia hanya mendengar suara teriakan dari dalam ruangan dan merasa ada yang tidak beres sehingga memutuskan untuk masuk. Tak disangka ia malah menyaksikan tontonan yang mengejutkannya.
Joana segera mengambil kesempatan itu untuk beringsut menjauh dari Xander. "Pergi!" Ucap Joana pelan. Ia sedang mengatur perasaannya saat ini.
"Jo.."
"Pergi!" Joana memekik.
"Jo, maafkan aku!"
"Kau memang tidak berubah!" Joana mendadak pias.
Lelaki itu tertawa sangat kuat melihat wajah Joana. "Hahaha, kau memang lucu Jo." Ujarnya.
"Kau gila! pergi kau breng-sek! Sebelum aku melaporkanmu dan kau akan segera di deportasi dari Negara ini!"
"Hahaha" Sekali lagi lelaki itu tertawa, ada kepuasan tersendiri melihat wajah Joana yang kini ketakutan. "Aku merindukanmu, Honey!" Lanjutnya.
Joana terdiam. Ia menunduk di sudut ruangan dengan menghela nafasnya secara berangsur-angsur.
"Baiklah." Xander mengangkat tangan seolah menyerah. "Aku akan datang lagi nanti, sesuai dengan jadwal berobat." Lanjutnya.
Xander bergerak menuju pintu keluar dengan terkekeh. "Jangan lupa Honey! Kau harus ingat tujuan awalmu menjadi Psikiater! Aku datang hanya untuk mengingatkannya!" Ujar Xander disela-sela langkahnya, membuat Joana semakin menggeram dalam hati.
Joana mengusap wajahnya dengan kasar. Xander telah pergi dan sekarang ia juga harus pergi, perbuatan Xander tak membuatnya trauma, ini adalah makanan sehari-hari Joana sejak dulu.
Joana mengambil tasnya dan menuju pintu keluar.
"Sa.. tadi adalah pasien terakhir kita hari ini. Sekarang kamu boleh pulang!" Ucap Joana datar kepada Sasa yang masih dilingkupi keheranan sekaligus rasa penasaran akan apa yang terjadi dan siapa kiranya lelaki yang menjadi pasien terakhir Joana tadi. Mengapa mereka berciuman?
Joana tampak mengambil ponselnya, ia mengirim pesan di Grup bahwa ia ingin berkumpul hari ini. Dan perkumpulan wanita didalam grup itu--Joana, Kinan, Sinta dan Desi--sepakat menyetujui pertemuan mereka yang akan diadakan disebuah Cafe sekitaran Rumah Sakit tempat Sinta bekerja.
"Baiklah, saatnya bersenang-senang dan melupakan masalah." Gumam Joana.
.
.
.
...Bersambung......