How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Kehidupan baru yang asing



Pria yang tak lagi muda itu mengetuk-ngetuk jemarinya diatas meja kayu dihadapannya. Ia sedang menunggu kedatangan sang putra. Beberapa saat lalu, Rey berkata akan datang menemuinya, mungkin ini ada kaitannya tentang pekerjaan yang belakangan ini sudah Rey geluti.


Suara handle pintu yang ditekan dari luar terdengar di telinganya, sesaat kemudian sang putra sudah nampak di ambang pintu. Rey menekuk wajah, tak biasanya. Bukan, ini sudah lama tak terlihat oleh Sang Ayah sejak Rey serius dalam pekerjaannya.


Mendadak Pria setengah baya itu mengernyitkan dahi. Sepertinya ada yang salah dengan tingkah anaknya hari ini. Apa ini ada kaitannya dengan wanita itu lagi? Tapi bukankah ia dan Rey sudah mempunyai kesepakatan untuk tak membahas tentang Kinan lagi sampai tiba waktunya Rey dan Kinan akan ia pertemukan kembali?


"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" Papa Rey menatap sang anak dengan tatapan menyelidik. Ia ingin memastikan jika perkiraannya salah.


"Bukan itu, Pa."


"Lalu?" Pria itu bangkit, dan berjalan mendekat ke arah Rey. Sekarang Ia yakin jika ini bukan berkaitan dengan pekerjaan Rey.


Rey menarik nafas seraya menghembuskannya perlahan. Ia menatap tajam sang Ayah yang kini berdiri dihadapannya. Seketika ruangan yang diberi pendingin ini terasa panas, hanya karena Rey sudah sesak ingin mengeluarkan segala yang ia pendam selama beberapa bulan belakangan ini.


"Pa, aku harus bertemu dengan Kinan." ucap Rey setelah sempat hening beberapa saat.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Benar saja Rey menginginkan pertemuan dengan wanita itu, sesuai dugaannya tadi.


"Rey, bukankah kita sudah sepakat, kau tidak akan membahas tentangnya, apalagi bertemu dengannya sebelum semuanya tenang. Papa sudah berjanji akan mempertemukan kalian. Tapi tidak sekarang!" Ucap sang Ayah dengan pandangan dalam menatap Rey.


"Kapan, Pa? Aku tidak bisa begini terus. Berpura-pura tidak memikirkannya. Berlagak tak menginginkannya lagi didepan semua orang. Padahal kepalaku hanya dipenuhi oleh Kinan setiap hari."


"Bersabarlah sedikit lagi. Ini baru beberapa bulan."


"Ck..." Rey berdecak lidah. "Apa yang sebenarnya Papa rencanakan sekarang? Aku sudah menuruti semua kemauan Papa, aku sudah bekerja dengan giat. Aku sudah membuktikan kemampuanku."


Pria itu berjalan menjauhi Rey, pandangannya menatap ke luar jendela. Memandang hamparan rumput hijau di halaman belakang rumahnya.


"Rey, kau harus tau. Ammar saat ini sedang mencari-cari keberadaan Shirly."


"Shirly?" Rey mengernyit karena nama itu terasa asing ditelinganya.


"Shirly, adalah wanita yang sudah menjebak Kinan pada waktu itu, sehingga Kinan berakhir di apartemenmu." Celetuk Sang Ayah seolah menjawab tanda tanya di pikiran anaknya. Rey mengepalkan tangan mengetahui fakta itu. Shirly dengan tega menelantarkan Kinan dibelakang Club pada malam itu.


"Jika Shirly dapat ditemukan oleh Ammar dan dia membuka semua yang terjadi, maka bisa dipastikan kau pun akan terseret ke dalam kasus hukum." Sambungnya.


Rey bergeming.


"Untuk itu, jangan dulu bertemu dengan Kinan, sampai semuanya bisa teratasi. Jika kau bertemu dengannya dan disaat itu pula Ammar sudah tahu semuanya, dia pasti akan memenjarakanmu karena dia makin tidak terima jika kau dekat dengan Kinan."


Rey mengerti sekarang apa tujuang sang Ayah. Ayahnya tak mau jika Shirly membuka mulut, maka pihak kepolisian akan menelusuri jejak kejadian itu dan berakhir di apartemen Rey dan mengungkap perbuatan Rey pada Kinan malam itu.


"Sekarang dimana Shirly? Apa papa tahu dimana dia?" Rey mencoba mencari tahu.


Sang Papa tersenyum miring. Matanya tetap fokus menatap keluar jendela.


"Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?"


Dari pertanyaan itu, Rey sudah tahu dengan jelas bahwa wanita bernama Shirly itu pasti sudah dalam genggaman Papanya. Rey kenal jelas siapa Yazid Denizer yang tak segan-segan melakukan apapun selama itu benar menurut jalan pikirannya.


"Bebaskan dia, Pa. Biarkan Ammar menemukannya dan biar saja Ammar yang menghukumnya atas semua perbuatannya." Rey mengingat jika pada saat itu Ammar adalah suami Kinan, dan yang berhak membalas Shirly adalah Ammar ataupun Kinan sendiri, bukan dirinya.


Papa Rey memutar tubuhnya untuk melihat sang anak.


"Dasar bodooh! Kau akan terseret masalah jika aku melepaskan wanita itu! Semuanya akan terungkap."


Rey bergeming. Ia tertunduk dan seolah memikirkan kata-kata sang Ayah.


"Jika kau terkena masalah. Dampaknya akan merembet ke karir dan image-mu yang sudah susah payah kau bangun agar baik dihadapan kolega dan khalayak!"


Rey tetap diam. Seperti biasa, ia mempunyai jalan pikirannya sendiri.


Kinan bergerak gelisah, ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia sudah melewati beberapa bulan dengan hidup sendirian di rumah besar yang asing. Semua kebutuhannya terpenuhi, ia bisa makan apa saja yang ia inginkan hanya dengan menyebut satu kali. Para pelayan dengan senang hati melayani dan menuruti kemauan sang wanita yang tengah mengandung itu.


Semua terasa sempurna, Kinan bak seorang ratu yang bisa dapat apa saja dirumah ini. Atau jika diibaratkan, ia seperti mendapat durian runtuh ataupun jin botol yang bisa memenuhi kebutuhan dan telah merubah kehidupannya.


Tapi, setiap hari ia merasa gelisah. Seperti pada hari ini, ia selalu tak tenang. Dengan semua fasilitas yang ia dapat dan terima saat ini, ia takut jika ia tak bisa memenuhi keinginan yang diminta oleh seorang pria bernama Ardi itu. Kinan takut jika ia tak bisa banyak membantu dan bekerja dengan baik di tempat Ardi nanti. Dan Kinan takut, jika itu sampai terjadi, semua yang ia dapatkan selama beberapa bulan ini harus dibayar dengan menyerahkan anak yang ada dalam kandungannya.


Pria bernama Ardi itu sesekali memang datang untuk mengunjunginya. Pria itu sering menanyakan kabarnya dan menuruti kemauan Kinan, bahkan perceraian Kinan sudah resmi terjadi. Kinan menjadi tak enak hati jika suatu saat harus mengecewakan Ardi.


"Aku merasa di asingkan, tapi bukankah ini adalah kemauanku sendiri agar jauh dari Mas Ammar dan terhindar dari Mas Rey beberapa saat." Kinan mendesahh sejenak ketika ia tiba-tiba mengingat Rey lagi dalam ingatannya.


Kinan yang benar-benar tak tahu menahu siapa Ardi sebenarnya, hanya bisa pasrah dan meyakini jika suatu hari nanti Ardi mempekerjakan dia dijalan yang benar. Bukankah sesuai perjanjian, ia akan bekerja seumur hidup dengan Ardi nantinya? Ah, lagi-lagi Kinan ingin menepis bayangan-bayangan tak sedap yang melintas dikepalanya jika mengingat hal itu. Ardi sudah berjanji, pekerjaan yang akan ia berikan adalah pekerjaan yang halal.


Suara pintu rumah itu diketuk, Kinan segera melihat siapa tamu yang datang melalui layar yang terpampang disamping pintu. Disana Kinan dapat melihat jika yang datang adalah seorang wanita muda, itu adalah psikiater yang beberapa bulan ini rutin datang untuk menerapi Kinan.


Kinan membuka pintu seraya tersenyum simpul, lalu mempersilahkan wanita itu untuk masuk.


"Excuse me, Miss.. Can we begin? Bisa kita mulai?" Wanita bermata kehijauan itu menatap Kinan dengan tatapan ramah, ia melakukan percakapan campur antara Inggris dan Indonesia. Ia adalah psikiater muda yang dipilih khusus untuk membantu menangani Kinan, karena selain ahli dibidangnya, ia juga bisa berbahasa indonesia dengan cukup fasih. Itu cukup membantu Kinan, walau sebenarnya bahasa Inggris Kinan juga terbilang lumayan karena ia sering menggunakan bahasa Inggris ketika masih kuliah di jurusannya.


Kinan menangguk. "Sure.. Come on!" Kinan melangkah seraya duduk disebuah sofa yang ada diruang tamu. Psikiater itupun mengikuti.


Mereka memulai aktifitas untuk terapi. Seperti biasa, Kinan akan mulai menceritakan garis besar permasalahannya dan apa saja yang membuatnya menjadi tertekan. Mereka telah melakukan hal ini beberapa kali dalam bulan ini, sehingga Psikiater bernama Joana itu sudah mengerti sedikit banyaknya tentang permasalahan Kinan.


Kinan amat bersyukur setiap kedatangan Joana kerumah ini, karena Joana bagaikan teman tampat Kinan berkeluh kesah. Di Negara ini, Kinan bahkan tak memiliki teman. Ia selalu ditemani pelayan yang tak banyak bicara hanya karena profesional dalam tugasnya. Kinan akan berjalan-jalan di musim panas dengan dikawal oleh beberapa pelayan yang Kinan yakini juga mempunyai ahli bela diri. Kinan merasa dijaga sekaligus merasa terpenjara. Entahlah, kenapa sekarang hidupnya menjadi seberharga ini dan harus dijaga ketat bak putri raja atau mungkin seperti tawanan? Kinan tak mau memikirkan itu.


Kinan kembali menatap Joana dihadapannya, dan tersadar dari lamunannya beberapa saat. Kinan kembali fokus dan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari bibir Joana.


Setelah menyelesaikan terapinya. Joana menatap Kinan sambil tersenyum.


"Kinan, aku pikir kita sudah seperti teman sekarang. Maukah kau menghabiskan akhir pekanmu bersama denganku? Kita bisa jalan-jalan di kota ini. Dan itu bisa membantu untuk melupakan masalahmu sejenak." Mata Joana terkesan penuh harap.


"Tentu saja." Kinan amat senang dengan ajakan Joana. Ia menjadi bersemangat untuk menjalani hari-harinya.


"Let's try..." Ucap Joana. Itulah juga yang menjadi tujuan Joana, Kinan harus memiliki semangat lagi dan melupakan trauma-nya dimasa lalu.


.


.


.


.


Bersambung...


.


Nih aku kasih bonus visualnya abang Rey deh.... buat yang udah baca Novel aku sampai sini..


Reyland Denizer



Udah kan? Yang punya imajinasi sendiri, ber-halu aja ya kayak gimana abang Rey nya yang versi kalian.. hehehe✌️


Sekarang, tolong mampir ke Novel pertama aku yukk... "Cinta diatas Hati" Ceritanya udah menuju ending.. dan mudah-mudahan bisa selesai di akhir bulan ini. 🙏🙏🙏


Yuk ramekan lapak aku disana ya😁✌️


Jangan lupa tinggalkan Like, komen, vote dan hadiah... Love you all❤️