How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Pulangnya Shirly



Pintu kedatangan Bandara terasa padat, banyak orang berlalu-lalang untuk datang dan pergi. Sama halnya dengan seorang wanita cantik yang baru saja tiba di kota tempatnya mencari pundi Rupiah.


Wanita itu masih melenggang santai sambil menyeret sebuah koper. Saat ia baru saja selesai dari toilet Bandara, tiba-tiba ia harus di hadang oleh tiga orang pria. Padahal ia baru saja berjalan memasuki lorong yang menghubungkan toilet dengan Lobby Bandara. Tampakmya ketiga orang itu memang menunggunya.


"Nona Shirly Irawan!" Sergap seorang lelaki padanya.


Shirly terkejut dan menatap bingung pada tiga orang lelaki dihadapannya. Ketiganya berdiri seolah mengintimidasinya.


"Si-siapa kalian?" Tanya Shirly tergagap dan berusaha hendak lari dari sana.


"Ja-jangan mmm-mendekat, atau aku akan berteriak!" Ucapnya mengancam. Para lelaki itu mengelilinginya dan menampilkan seringaian yang membuat bulu kuduknya meremang. Tentu saja mereka sudah mengamankan tempat ini sehingga tempat ini terasa sepi dipemandangan Shirly.


Shirly ingin mundur dan dengan kekuatannya ia hendak berteriak dengan kuat, tetapi tepat sebelum ia mengeluarkan suara, mulutnya di bekap dan dibiuss oleh salah satu lelaki itu. Shirly kehilangan kesadaran dan mereka bertiga menjalankan aksinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Sebuah ruangan gelap dan pengap menjadi saksi seorang wanita yang terduduk dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat. Shirly disekap dan ia tak tahu dimana sekarang ia berada. Saat kesadaran menghampirinya, hanya ada kegelapan dan rasa takut yang menyelinap di sanubarinya.


"Panas...haus..." Ucap Shirly saat merasa kerongkongannya begitu kering. Ia tak mengingat atau lebih tepatnya, ia tak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri.


"Dimana aku? Tolong...tolong...!" Ucapnya dengan suara parau.


Brakkk!!! Pintu ruangan itu terdengar dibuka kasar dari luar. Saklar lampu dihidupkan. Sehingga ruangan yang tadinya hanya di terangi sedikit tempias cahaya dari luar, kini mulai terang akibat cahaya lampu. Itupun, lampu itu sangat redup. Shirly langsung melihat kepada orang yang baru saja masuk. Melirik sekilas sekitarnya yang ternyata hanya berada diruangan kosong yang tidak luas.


"Siapa kau?" Shirly bertanya pada orang itu.


Orang itu tersenyum licik sebagai jawaban untuk pertanyaan Shirly. Ia membuka ponselnya dan terlihat tengah memperhatikan atau mungkin sedang membaca sesuatu.


"Shirly Irawan, Usia 29 tahun. Asal Bali dan bekerja disini sebagai seorang Owner Spa dan Salon kecantikan. Kau anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Ayahmu seorang pengusaha di bidang Furniture, sedangkan ibumu seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Adikmu yang satu sudah menikah dan yang satunya tengah berkuliah di Singapore."


"Siapa kau? Kenapa kau tahu detail dan latar belakang keluargaku?" Shirly berteriak dengan sisa-sisa tenaganya.


"Menarik. Pantas penampilanmu sangat nyentrik. Kau punya usaha kecantikan rupanya." Ucap lelaki itu datar sambil mengangguk-angguk.


"Apa maumu?" Tanya Shirly tak acuh.


"Aku? Aku sebenarnya tidak ada urusan padamu, Nona. Ini semua demi uang dan ini adalah pekerjaanku!" Jawabnya cuek.


"Lalu? Siapa yang menyuruhmu? Aku akan membayarmu dua kali lipat asal kau melepaskan aku!"


Lelaki itu menyeringai.


"Kau benar-benar menarik. Aku jadi tertarik padamu!" Ucapnya sambil mendekat ke arah sang wanita, ia sedikit menyentuh pipi mulus Shirly dan Shirly menatapnya jijik.


"Lepaskan aku, Brengs*k!" Shirly mencoba menghentak-hentakkan kursi yang ia duduki. Tapi sayang, kursi itu adalah media tempatnya diikat. Pergerakannya hanya sia-sia dan membuat tubuhnya lelah.


Ponsel sang pria berdering dan ia segera menerima panggilan masuk itu. Beberapa saat menelpon dengan menjaga jarak dari tawanannya, ia kembali menatap Shirly dengan pandangan prihatin.


"Sayang sekali waktu kita sudah habis, Nona! Kau akan menemui orang yang memintaku membawamu kesini secara langsung. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu!" Ucap Pria itu.


"Brengs*k kau! Baj*ngan!!! Lepaskan aku. Lepaskan aku..tolonggg!!!"


Lelaki itu keluar ruangan dan meninggalkan Shirly yang tak henti-henti memakii dan menjerit-jerit.


Rey memulai aktifitasnya hari ini dengan sungguh-sungguh. Entah apa yang ada dibenaknya kini, semua tak bisa menebaknya.


Sang Mama amat bahagia melihat perubahan sang anak yang sangat drastis. Pada dasarnya, Rey memang pekerja keras. Hanya saja, pada masa lalu ia tak suka di kekang dan merasa bebas untuk melakukan apapun karena merasa semua adalah milik ayahnya. Rey dengan sesuka hati berbuat semaunya, sementara sang ayah yang tak terima membalas perbuatan anaknya dengan menyuruhnya bekerja agar tahu cara menghargai. Karena itulah, Rey dulunya bekerja dengan terpaksa dan tak dari keinginannya sendiri.


Berbeda dengan sekarang, Rey sudah dewasa dan pandai menentukan sikap. Ia bekerja sepenuh hati bukan karena paksaan. Semua itu tak lain karena ujian hidup yang ia terima. Untungnya, Rey mampu menerima itu semua dan menjadikannya cambuk untuk diri sendiri agar lebih giat lagi seperti sekarang ini. Dan Mamamya yakin, semua yang Rey lakukan sampai pada hari ini karena sang anak punya sesuatu yang menjadi pacuannya.


Mama Rey selalu mengingatkan anaknya agar menjadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran dan jangan mengulanginya. Rey pun bertekad untuk itu.


Beberapa kali Rey sempat bertemu dengan Ammar, bertemu sekilas ataupun bertemu secara formal karena tuntutan pekerjaan. Tak jarang, mereka dipertemukan dalam satu meja yang sama.


Ammar tak pernah menanyakan tentang Kinan lagi pada Rey. Begitu pun Rey, ia bersikap acuh tak acuh seakan tak pernah terjadi sesuatu antara ia dan Ammar di beberapa bulan terakhir.


"Kau berubah drastis dalam kurun waktu tiga bulan." Ucap Ammar di sela-sela meeting mereka yang baru saja selesai.


Rey hanya menatap Ammar dengan senyuman miring.


"Kapan kau akan menikah?" Tanya Ammar pada Rey yang tengah menutup laptopnya. Semua orang telah meninggalkan ruangan VVIP Restoran tempat mereka mengadakan meeting untuk kerjasama. Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Aku? Menikah? Aku belum terpikir untuk itu." Jawab Rey asal.


"Aku pikir kau akan mencari wanita single dan menikahinya!" Sahut Ammar kemudian.


Rey berdecih. Kata-kata Ammar menyindirnya dengan kalimat 'wanita single' itu.


"Kau sendiri, kapan akan mengakhiri masa-masa kesendirianmu?" Rey mulai ingin tahu kehidupan Ammar yang sekarang. Ia sudah lama tak mencari tahu tentang lelaki dihadapannya ini. Setelah ia tahu Kinan berada dalam jangkauan sang ayah, Rey tak pernah mencari tahu lagi.


"Perpisahan antara aku dan istriku masih terbilang baru. Aku akan membujuknya untuk rujuk di waktu yang tepat." Ucap Ammar santai.


"Oh ya? Semoga keberuntungan menyertaimu." Ucap Rey sambil tersenyum. Ia beranjak dan ingin meninggalkan ruangan yang terasa panas seketika saat mendengar pernyataan rujuk itu dari mulut Ammar.


"Sure, seharusnya kau juga menikah." Pekik Ammar pada Rey yang sudah berada diambang pintu.


"Kenapa?" Rey berbalik menatap Ammar seolah menampilkan ekspresi bingung.


"Agar aku yakin kau tidak menginginkan Kinan lagi." Ammar memasukkan jemarinya dalam saku celana, kemudian mengangkat bahu pada Rey.


"Ku pikir itu bukan urusanmu lagi." Ucap Rey enteng, yang membuat wajah Ammar pias seketika. Ammar merasa terpojok karena ucapan Rey ada benarnya. Ia dan Kinan sudah bercerai sekarang dan secara tak langsung, Kinan bukan lagi menjadi urusan Ammar.


Rey segera keluar dari ruangan itu, dan mengambil ponsel dari saku jasnya.


"Aku akan menemui Papa!" Ucapnya pada saat sambungan telepon itu baru tersambung.


Rey memasuki mobil ketika sang supir sudah membukakan pintu untuknya. Ia menyuruh supir mengantarnya pulang ke rumah orangtuanya dan ia akan menemui sang Papa. Sumber dari segala sumber.


.


.


.


Bersambung...