How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Tawaran



Kinan setengah berlari meninggalkan gedung Apartment itu. Membawa sisa-sisa kekuatan yang ia punya. Rasanya ia ingin menolak untuk memahami apa yang baru saja ia ketahui. Namun, semua ini adalah kenyataan. Dimana, pemuda yang sempat ia percaya ternyata adalah orang yang paling berperan dalam proses kehancuran hidupnya.


Kinan menaiki sebuah Taxi setelah menunggu beberapa saat di pinggir jalan. Kinan tidak tahu mau menuju kemana lagi. Ia tidak punya satupun sanak saudara untuk di datangi, kembali ke rumah Ammar pun serasa tak enak hati. Satu-satunya yang bisa ia andalkan adalah Desi. Namun, mau sampai kapan ia berada dirumah Desi? Kinan tak mau terus merepotkannya. Uang yang Kinan punya pun adalah uang sisa dari pemberian Rey sewaktu meninggalkan Villa waktu itu.


Kinan memandang keluar jendela taxi, melamunkan nasib yang sudah terlanjur menyedihkan. Kinan merasa benci pada dirinya sendiri, tapi ia tidak ingin histerianya kembali, dan membuatnya lupa akan jati diri. Bagaimanapun ia harus menguatkan diri. ia tak mau lagi terperdaya disaat ia tak mengingat apapun. Terjebak pesona lelaki seperti Reyland, yang menutupi semua keburukannya dengan sikap tanggung jawab, memanfaatkan keadaan disaat Kinan lupa. Kinan merasa muak dengan kemunafikan Rey-itulah pikir Kinan.


Kinan memutuskan turun dari Taxi ketika melihat taman kota di perempatan jalan. Ia menyeret langkah menuju taman itu dan duduk disebuah kursi besi. Matanya memandang lurus ke depan, menatap air pancur yang berada ditengah-tengah rerumputan. Refleks, ia memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru melalui hidung, sembari menghembuskan udara yang keluar dengan perlahan. Ia butuh sesuatu untuk menguatkan diri, namun ia merasa tak memiliki itu.


Tanpa sadar, Kinan mengelus perutnya dan baru menyadari ada sesosok lagi yang tumbuh dan berbagi nafas yang sama dengannya, anak yang ia kandung seharusnya menjadi penguat dirinya sendiri. Setitik air pun luruh dari pelupuk mata, menyadari anak yang berkembang didalam tubuhnya adalah anak biologis dari Reyland.


Semuanya bisa berjalan dengan mudah bukan? jika saja ia mau menerima pemuda itu untuk tetap berada dihidupnya. Tapi, ingatannya telah seutuhnya kembali, Apa bisa ia dan Rey merajut luka menjadi cinta? Berbicara soal naif, Kinan memang terlalu naif jika mengatakan tidak mencintai Rey. Jelas Kinan memiliki perasaan pada pemuda itu setelah semua yang telah mereka lewati bersama. Tapi, rasa kecewa dan perasaan tertipu juga terselip besar didalam jiwa.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa aku harus kembali pada Mas Ammar? Atau aku akan menata hidupku sendiri setelah ini?" gumam Kinan sendiri.


Sebelumnya ia sangat menginginkan hidup bersama pemuda itu, Reyland. Namun, ternyata kebersamaan mereka hanyalah upaya Rey untuk menutupi semua yang telah terjadi-pikir Kinan.


"Rey, kau begitu kejam! Setelah merusak-ku, kau bersikap seolah adalah pahlawan untuk hidupku!" Ah, miris sekali jika ia memikirkan tentang perasaannya yang sampai menaruh hati pada pemuda itu.


Kinan menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya lalu menangis sejadi-jadinya. Selang beberapa lama, ia merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Kinan refleks menoleh dan mendongak menatap seorang pria dengan setelan rapi itu.


"Siapa kau?" Kinan mencoba berinteraksi padanya.


Pria itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangan kanannya.


"Saya Ardi, Nona." Ucapnya. Kinan memperkirakan umur pria ini lebih tua beberapa tahun dari Ammar, sekitar awal 40-an.


Kinan mengulurkan tangan kanan untuk menyambut jabatan tangan pria itu, dan pria itu kembali tersenyum ramah.


"Kinan."


Pria itu mengangguk dan senyumnya masih mengembang.


"Maaf sebelumnya jika saya terkesan mencampuri. Permasalahan yang sedang anda hadapi, emmm.. bagaimana saya mengatakan dan memulainya ya...?" Pria itu tampak ragu-ragu mengutarakan kata-katanya.


"Kau tau permasalahanku?" Tanya Kinan menatap remeh kepadanya. Kinan selalu begitu jika ada seseorang yang nyaris ikut campur dengan urusannya.


Tanpa terduga, lelaki itu mengangguk lagi.


"Saya sangat tahu masalah yang anda hadapi, Nona! Dan saya mempunyai tawaran yang pasti menguntungkan untuk anda!" Ujarnya ramah.


Kinan mendengus, siapa lelaki ini yang tahu permasalahannya? Apa dia tahu Kinan hamil, dan menginginkan anak dalam perut Kinan? Kinan refleks memegangi perutnya dengan posesif. Tapi Kinan juga benci menerka-nerka.


"Tawaran apa? dan apa yang bisa menguntungkanku?"


Pria itu tersenyum miring, sembari mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Rey, sabar Nak!" Mama Rey mencoba membujuk anaknya yang lagi-lagi dipenuhi dengan amarah. Ia marah pada dirinya sendiri dan tak henti-hentinya menyalahkan dirinya yang bodooh.


"Papa bisa membantumu jika wanita itu mau memaafkanmu, Rey. Jika begini, ini adalah keputusannya dan Papa tidak bisa memaksanya!" Papa Rey mencoba memberikan pengertian pada Rey.


"Sudahlah Nak, jalani hidupmu yang masih panjang. Cobalah lupakan dia!" Sambung Papa Rey lagi, namun ucapannya itu membuat kedua orang didepannya melotot kearahnya.


"Suatu saat, jika masih diizinkan kau akan bisa menebus semua kesalahanmu padanya!"


"Lalu anak dalam kandungan Kinan bagaimana, Pa?" Kali ini suara sang Mama terdengar protes kepada suaminya.


"Suami Kinan kan sudah mengatakan bahwa itu adalah anaknya. Itu bukan anakmu Rey!" Ucap Papa Rey dengan enteng.


"Ck! Pa, kenapa papa tidak mengerti juga? Ammar mengatakan itu hanya agar aku dan Kinan berpisah!" Protes Rey.


"Yah apapun alasannya, dia kan tetap suami Kinan. Dan dia berkata demikian berarti dia yang akan bertanggung jawab pada istrinya!"


"Tanggung jawab? dia sudah menelantarkan Kinan dirumah sakit jiwa, Pa!"


"Sudahlah Rey, percaya pada Papa. Jalani hidupmu, papa meminta kau mengurus perusahaan sekarang dan bekerjalah dengan giat, Pasti kau akan melupakan wanita itu!"


"Tidak mau!"


"Rey, dia sendiri yang menolak pertanggung-jawabanmu! ingat itu!" Suara pria setengah baya itu naik satu oktaf.


"Aku tidak mau, Pa!"


"Apa maksudmu terus menolak perintah Papamu ha?"


"Aku tidak bisa Pa! Aku mencintai Kinan!"


"Rey! tolong bedakan rasa tanggung jawab dengan rasa cinta!"


"Sudah, Pa!" Mama Rey mencoba menengahi keributan antara anak dan suaminya.


"Aku hanya ingin dia dewasa, sayang! aku ingin dia tau bahwa yang dia sebut cinta itu sebenarnya hanya rasa kasihan dan rasa bersalah!" Papa Rey menatap istrinya yang memasang ekspresi prihatin.


Rey bangkit dan mendengus. Ia punya pendapat sendiri, dan lelaki tua ini selalu tak mempercayai anaknya yang sudah dewasa. Rey juga bisa membedakan perasaannya.


"Terserah Papa saja! Aturlah hidupku tapi jangan mengatur perasaanku!"


"Baik, perlahan-lahan kau pasti akan melupakannya Rey. Jadi kapan kau akan kembali ke perusahaan?" Pria setengah baya itu tersenyum menang.


"Kapan saja. Semua sesuai keinginan papa saja!" Jawab Rey pasrah dan putus asa.


Rey keluar dari ruangan yang terasa sesak itu. Bagaimanapun ia sekarang telah kalah oleh perasaannya sendiri. Rey masuk kedalam kamarnya. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas ranjang sambil merentangkan kedua tangannya. Ia menghembuskan nafas dengan berat, lalu memutuskan memejamkan mata.


Bayangan Kinan melintas diangan-angannya, berharap ia bisa tertidur sebentar saja dan memimpikan wanita itu. Senyumnya, kemarahannnya dan segala tentangnya sangat Rey rindukan saat ini.


.


.


.


.


Bersambung...