
Waktu terus bergulir, suasana rumah besar itu tengah ramai hari ini. Beberapa orang dari wedding organizer datang untuk menata dekorasi, rumah itu akan disulap menjadi tempat diadakannya acara pernikahan Rey dan Kinan yang akan dilaksakan seminggu lagi. Kinan menolak untuk mengadakan pesta di gedung atau di hotel. Baginya, dirumah adalah tempat terbaik. Selain merasa nyaman dan tak canggung, pernikahan mereka sudah disepakati akan dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Jadi, rumah memang adalah tempat yang paling pas.
Rey menatap calon istrinya itu dari kejauhan. Nampak Kinan juga tengah ikut andil dalam kerepotan ini. Rey mendekat ke arah Kinan dan menyadarkan Kinan dari kegiatannya yang sedang memilih warna bunga untuk dekorasi yang akan diadakan di outdoor tersebut. Tepatnya ditaman belakang rumah Rey.
"Biar mereka saja yang mengurusnya, kau bisa kelelahan dan membuat anak kita juga lelah." Ucap Rey lembut. Ia meraih tangan Kinan dan menggenggamnya. Kinan tersenyum pada Rey seraya menggeleng pelan.
"Aku tidak akan kelelahan, Mas. Anak kita juga suka menyibukkan diri." Kinan menatap perutnya sendiri kemudian mengelusnya.
Rey memperhatikan interaksi Kinan dengan bayi dalam kandungannya, Rey menarik lembut tangan Kinan agar sedikit menjauh dari keramaian.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" Tanya Rey, matanya tertuju pada perut Kinan yang mulai membuncit, tapi tidak terlalu kentara jika tak diperhatikan dengan seksama.
"Mas, kau bisa menyentuhnya nanti. Disini sangat ramai." Jawab Kinan pelan dan Rey terdengar berdecak. Kinan menggeleng pelan melihat tingkah Rey. Bukankah hampir setiap hari Rey menyentuh dan menyapa anak dalam kandungan Kinan sejak Kinan tinggal dikediaman orangtua Rey? Saat akan pergi ke kantor, saat pulang dan saat sebelum tidur. Apakah itu tidak cukup? Kenapa sekarang meminta mengelus perut Kinan juga disaat ramai sekali orang-orang?
"Aku belum menyentuh dan menyapanya hari ini. Aku merindukan baby boo-ku." Jawab Rey dengan mata berbinar.
"Baby boo?" Kinan nampak heran.
"Ya, baby boo. Itu nama panggilan dariku untuknya." Tiba-tiba Rey langsung menyentuh perut Kinan dan mengelusnya pelan. Kinan terkejut dengan perbuatan Rey itu.
"Mas!" Kinan ingin menepis lengan Rey tapi Rey tak peduli dan terus melanjutlan aksinya.
"Kamu gak perlu malu sama mereka semua. Mereka tau kita akan menikah sebentar lagi." Jawab Rey seraya terus mengelus perut Kinan yang kini terasa bergerak untuk meresponnya.
"Wah dia bergerak! Baby boo bergerak!" Ujar Rey antusias. Ia sampai teesenyum merasakan gerakan dari bayi dalam kandungan Kinan.
"Malu, Mas!" Kinan melihat ke kiri dan ke kanan karena banyak mata yang memperhatikan mereka dengan senyuman penuh arti.
"Tidak perlu malu, Ki! Mereka semua tidak ada yang melihat." Jawab Rey cuek dan Kinan pun mencebik.
"Kalau kau tidak percaya, sini ku buktikan!" Ucap Rey lagi dan matanya melihat seseorang yang sedari tadi tersenyum-senyum memperhatikan tingkah Rey.
Rey memanggil lelaki muda itu agar lebih mendekat kearahnya dan Kinan.
"Hei kau! Apa kau melihat sesuatu terjadi diantara kami berdua barusan?" Tanya Rey serius pada pemuda itu.
"Saya tidak melihat apa-apa, Tuan!" Ucap pemuda itu sambil mengibaskan tangannya.
Rey beralih lagi menatap Kinan. "Kau dengar itu? Dia tidak melihat kan apa yang kita lakukan?" Jawab Rey semringah. Kinan memutar bola matanya.
"Jangan memutar bola matamu, itu tidak sopan!" Ucap Rey pelan dan Kinan malah terkekeh.
"Apa ada yang lucu?" Tanya Rey pada Kinan dan kemudian menatap pada pemuda itu, seolah bertanya pada pemuda itu lagi.
"Tidak ada, Tuan!" Jawab pemuda itu pelan tapi Rey malah mencebik.
"Sudah sana! Kerjakan tugasmu lagi. Jangan pedulikan apa yang aku dan calon istriku lakukan! Nanti kau bisa iri dan merindukan istrimu!" Ucap Rey dengan nada pongah.
"Saya belum menikah, Tuan!" Jawab pemuda itu dan Kinan semakin terkekeh melihat kedua pemuda dihadapannya yang bertingkah absurd.
"Aku tidak menanyakannya! Makanya cepat menikah!" Ucap Rey cuek dan ia menunjuk lain arah dengan dagunya sebagai isyarat agar pemuda itu segera pergi dari hadapannya. Kinan terus saja terkekeh melihat tingkah Rey.
"Kau lihat kan, tidak ada yang melihat apa yang kita lakukan disini!" Ucap Rey serius pada Kinan. Kinan menepuk jidatnya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia malas menjawab ucapan Rey yang mengada-ada. Kemudian Kinan malah beralih dan beranjak meninggalkan Rey tanpa kata-kata.
"Salah lagi ya gue?." Gumam Rey pada dirinya sendiri.
__________
Tuan Yazid melihat tablet yang baru saja ditunjukkan Ardi kehadapannya. Ia pun membaca berita terbaru yang tak mengenakkan. Pemberitaan tentang Rey dan Kinan secara tak langsung.
'Seorang anak pengusaha sukses, berinisial RD. Terbukti melakukan tindak pelecehan pada wanita muda'
"Dia akan segera menikahi wanita yang dia lecehkan sebagai bentuk tanggung jawab'"Ujar seorang netizen dengan akun @anonimous_1
"Menikahi hanya agar mengembalikan nama baiknya. Setelah itu pasti gadis itu akan ia campakkan karena tidak ada cinta diantara mereka!" Ujar akun yang lain.
Tuan Yazid memijat pelipisnya sendiri. Mendadak ia gusar karena berita ini sudah kemana-mana dan tak ter-elakkan.
"Seharusnya gadis itu menuntutnya ke penjara. Tapi beruntung juga jika akan dinikahi anak pengusaha kaya, yah walaupun dia tidak cinta setidaknya ada keuntungan tersendiri."
Tuan Yazid terus membaca banyak kritikan dan ulasan-ulasan para netizen yang tak lain adalah orang-orang yang mengikuti berita pengusaha dan bisnis. Zaman sekarang, bukan hanya artis yang digosipkan tapi dari kalangan manapun tidak akan luput dari hujatan para netizen.
"RD? Wahh apakah itu Reyland Denizer?"
"Mungkin saja. Dia terkenal playboy! Jawab seseakun yang lainnya.
Tuan Yazid menggeram dalam hati. Wajahnya memerah dan sedetik kemudian ia menatap Ardi yang berdiri tegap dihadapannya.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan?" Ucap Tuan Yazid pada Ardi.
Ardi mengangguk dan tahu apa yang dimaksudkan oleh Bos-nya itu. Ia hendak keluar dari ruangan Tuan Yazid, tapi suara pintu yang dibuka dari luar menghentikan langkahnya.
"Pa!" Tampak Rey memasuki ruangan Sang Ayah dengan nafas memburu.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan!" Ujar Tuan Yazid pada sang putra.
Rey menatap Ardi yang berdiri tak jauh darinya. Tentu saja Papanya akan mengetahui semuanya sebelum Rey memberitahukannya.
"Biar Ardi yang mengurus semuanya!" Ujar Tuan Yazid pada Rey. Rey melirik Ardi sekilas dan Ardi terlihat menundukkan kepalanya pada Rey.
"Apa kita perlu buat konferensi pers?" Tanya Rey pada Ardi dan Papanya.
"Tak perlu. Berita itu akan langsung di cut oleh Ardi nanti. Dan namamu akan kembali bersih." Ujar Tuan Yazid. "Hapus semua berita itu dan jangan sisakan satupun!" Ucap Tuan Yazid yang beralih pada Ardi.
"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah terlanjur menebak itu adalah aku?" Tanya Rey lagi.
"Semua akan diam pada waktunya. Dan jika ada yang menuduh tanpa bukti, mereka akan bertanggung jawab di meja pengadilan." Sambung Ardi untuk memperjelas semua.
Rey mengerti sekarang. Semua orang hanya bisa berasumsi tanpa bukti, dan lagi seiring berjalannya waktu semua akan menutup mulutnya sendiri karena takut jika harus dituntut oleh pihak yang berkuasa. Begitulah hukum alam bekerja, yang kaya akan selalu menang dan bisa menutupi aib dengan caranya sendiri. Apalagi jika semua yang mereka utarakan tidak disertai bukti, yang menang tetaplah yang berkuasa.
"Sudahlah Rey, jangan terlalu kau pikirkan. Papa tahu apa yang ada dikepalamu, Nak!" Tuan Yazid menatap Rey dengan mata nanar. "Kinan juga tidak menuntutmu! Kalian akan menikah karena kalian saling jatuh cinta, bukan? Tidak ada yang terpaksa disini dan ini bukan hanya bentuk tanggung jawabmu tapi kau memang mencintainya kan?" Sambung Tuan Yazid lagi.
Rey mengangguk, meski dulu pada awalnya ia tak tahu apa dia mencintai Kinan atau tidak. Tapi, sejak menghabiskan banyak waktu dengan gadis itu selama ini, ia yakin jika perasaannya telah berubah menjadi cinta dan menginginkan Kinan untuk ada dihidupnya. Begitupun dengan Kinan. Sudah cukup segalanya yang pernah mereka berdua lalui. Amarah, rasa bersalah, jarak, semua sudah mereka lewati. Kini, saat mereka hampir bersatu kenapa harus ada pemberitaan yang tak mengenakkan seperti ini?
Rey menghela nafasnya sejenak dan berfikir cepat. "Tolong cari tahu siapa dalang penyebar berita ini, Om!" Pinta Rey pada Ardi. "Karena tidak banyak yang tahu tentang hal ini kecuali aku, Kinan dan--" Rey tak melanjutkan ucapannya karena ia mendadak berfikir jika Ammar yang sudah menyebar berita ini. Ammar yang mengetahui perbuatan Rey selain Kinan tentunya.
"Pasti! Aku akan menyeret orang itu kehadapanmu, Rey!" Jawab Ardi dengan yakin.
.
.
.
.
Bersambung...
Kayaknya 1 Episode lagi yah guys!!! Tungguin ya.. sampai acara nikahan Rey dan Kinan. Jangan sampai gak hadir ya nantiππππππ