
Suara bel Apartment Joana terdengar, Joana yang sedang menyeruput teh hijau di balkon kamar mau tak mau harus beranjak untuk membukakan pintu.
Disana terlihat Doni yang menunggu dengan tidak sabar sambil mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai.
"Ada apa kau kesini pagi-pagi sekali?" Tanya Joana heran.
"Jo, benarkah bahwa kemarin Xander mengunjungimu di tempat praktek?" Doni menghela nafas panjang, raut kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya.
"Masuklah.." Ucap Joana pada Doni yang masih mengatur nafas.
Doni masuk dan duduk di sofa ruang tamu, matanya tajam menjurus ke arah Joana, ia menantikan jawaban yang akan diberikan sepupunya itu.
"C'mon Jo.. jawablah!" Ucapnya tak sabaran.
"Dia bukan datang untuk mengunjungiku." Jawab Joana lesu. "Dia datang untuk berobat padaku." Lanjutnya.
"Hah? Dia gila dan tidak bisa disembuhkan. Bagaimana bisa dia mau berobat ditempatmu! Shhiiit!" Doni mengusap kasar wajahnya sendiri sedang Joana menunduk dalam.
"Kau pindahlah dari Apartment ini. Kembali ke Mansion kami!" Ujar Doni.
"Tidak, Don. Aku sudah nyaman berada di Apartment ini dan jaraknya juga sangat dekat dengan tempat praktekku. Aku tidak bisa."
"Kau tahu bahwa Xander berbahaya bagimu kan? Kau lupa, selama kau masih berada di Negara ini kau menjadi tanggung jawab orangtuaku termasuk aku juga?"
"I know.. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Trust me, Don."
Doni mencibir, ia membuang pandangan ke arah lain.
"Menjaga diri dengan menjadi samsak tinjunya seperti dulu lagi?" Sarkas Doni.
"Don.."
"Kalau sampai Daddy mu tahu jika lelaki itu sudah bebas dan mencarimu hingga kemari. Kau pasti akan dipaksa pulang ke London." Pungkas Doni, ia berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar. "Kalau sampai itu terjadi, aku tidak bisa mencegah dan aku akan membiarkan Uncle Nathan membawamu pulang." Lanjut Doni.
"Don, aku masih ingin melanjutkan karier ku disini. Kau tahu bahwa ini adalah impianku dan aku sudah menghabiskan hampir separuh tabunganku untuk membangun tempat praktek itu beserta perlengkapan didalamnya." Ucap Joana memelas.
Doni menghentikan langkah tanpa berbalik ke arah Joana. "Aku tahu, untuk itulah aku tidak mau Xander menghancurkan semua impianmu."
Joana menghela nafas. "Hmmm, baiklah aku akan pindah ke Mansionmu tapi beri aku waktu beberapa hari untuk membenahi semua perlengkapanku."
"No! Lakukan itu secepatnya tanpa perlu memakan waktu berhari-hari."
"Tapi hari ini aku ada jadwal praktek, begitu juga dengan besok. Aku--"
"Tunda praktekmu dan percepat kepindahanmu!"
"Tapi Don, aku tidak mungkin membatalkan janji dengan semua pasienku."
"Lakukanlah demi kebaikanmu!"
"Don..!!"
"Tidak ada alasan, Jo! Cepat atau lambat Uncle Nathan akan tahu."
Joana hanya mengangguk, ia tidak bisa lagi membantah ucapan Doni. Kedatangan Xander yang tiba-tiba benar-benar meresahkan semuanya termasuk keluarga besar Doni yang juga termasuk keluarganya. Doni pasti mengetahui semua ini dari Sinta, istrinya. Bagaimana pun Sinta pasti tidak mau menyembunyikan hal berbahaya yang akan menimpa Joana dari Doni.
Joana kembali masuk ke kamarnya setelah kepergian Doni. Ia mulai mengemasi satu persatu pakaian dan barang-barang pentingnya kedalam koper berukuran sedang. Sebenarnya perlengkapan Joana juga tidak terlalu banyak, ia belum genap tiga tahun berada di Indonesia dan sebentar lagi dia juga harus memperpanjang izin tinggal, karena praktek psikiater yang baru saja ia buka baru berjalan dengan baik dan pasiennya juga sudah mulai melonjak.
Waktu terus beranjak dan jadwal praktek Joana dibuka pukul 10:00 WIB. Setelah berkemas dan bersiap-siap Joana keluar dari Apartmen nya seraya menarik koper, ia akan kembali tinggal di Mansion keluarga setelah pulang dari praktek hari ini.
Joana menyeret langkahnya dengan perlahan disepanjang lorong-lorong Apartment yang terlihat sunyi di jam-jam tertentu. Mungkin karena ini adalah hari kerja dan banyak penghuni Apartment yang sudah meninggalkan kediamannya.
Joana berjalan menuju Lift yang terletak di sayap kiri gedung, langkahnya teratur dan menyisakan suara hentakan dari heels yang ia kenakan karena beradu dengan lantai marmer gedung apartmen itu.
Saat tangan Joana sudah hampir menyentuh tombol lift yang tinggal sejengkal dari jangkauannya, tangan mungil itu dipegang dan ditarik secara bersamaan dari arah samping. Membuat Joana tercekat dan matanya membulat sempurna menatap sosok tinggi yang kini berada dihadapannya.
"Hallo my sweetheart..." Ucap sosok itu dengan seringaian licik.
Joana meremang seketika mendengar suara itu yang tak lain tak bukan adalah milik Xander. Ia ingin menjerit sekuat tenaga tapi gerakan Xander yang lincah dan langsung membekapnya membuat Joana tak bisa mengelak dan harus tunduk dalam dekapan Xander yang membungkam mulutnya.
Xander menyeret Joana kearah lain. Joana sadar saat ini tidak satu orangpun yang bisa membantunya. Ia meronta tapi kekuatannya kalah dibandingkan Xander yang mendekapnya dari arah belakang sambil membungkam mulutnya.
"Tenanglah, Honey!" Bisik Xander tepat ditelinga Joana. Joana melemaskan badannya seketika. Ia sadar, pemberontakan tubuhnya hanya akan membuatnya kehabisan tenaga dan tak akan bisa membuatnya menang dari Xander.
Xander membuka pintu setelah menekan password dengan metode angka. Joana mendengar sekilas suara pintu itu tertutup kemudian setelah keduanya masuk kedalam sebuah ruangan Apartment dengan nuansa gelap yang aesthetic.
Xander melepaskan dekapannya sekaligus cengkraman tangannya yang sedari tadi membungkam mulut Joana.
"Apa maumu?" Pertanyaan pertama Joana setelah sukses lepas dari cengkraman tubuh Xander. Joana mendengus kasar seraya menatap marah pada Xander namun pemuda itu terkikik geli melihat kemarahan Joana.
"Jangan ganggu aku. Kita sudah selesai." Ucap Joana lagi. Ia semakin kesal melihat Xander yang menertawakannya.
"Honey, bisakah kita bicara tanpa emosi? Seharusnya seseorang dengan profesi sepertimu sangat pandai mengendalikan diri." Ucap Xander dengan tenang. Pemuda itu lalu duduk di sofa dan menaikkan satu kakinya agar bertumpu pada kaki yang lain. Mata elangnya menatap Joana secara intens dengan tatapan dalam.
Joana mengatur nafas dan menetralkan kegugupan serta ketakutannya. Wanita itu sudah terlalu lelah menghadapi Xander dari usia remaja. Tapi Xander seolah tidak pernah lelah mengejarnya, seperti tidak punya korban lain selain Joana.
"Kenapa kau terus mengejarku, huh?" Joana bersedekap dada dan memalingkan wajahnya. Ia harus mengahadapi Xander mau tidak mau.
Xander menyeringai, melihat kemarahan Joana adalah kebahagiaannya apalagi jika Joana menangis, berdarah-darah, sambil meluapkan kekesalan, itu adalah pemandangan terbaik baginya.
"Honey.."
"Berhenti memanggilku 'Honey', namaku Joana."
"Baiklah.." Ucap Xander mengah, seringaian tidak hilang dari wajahnya. "Entah apa yang ada dibenakmu saat melihat kedatanganku tapi aku begitu merindukanmu." Lanjut Xander menatap Joana, lagi-lagi tatapan itu menatap Joana sangat intens dan dalam, Joana melihat kerinduan itu memamg ada didalam mata Xander. Xander tidak berbohong dan Joana bisa merasakannya.
"A-aku tidak. Se-sebaiknya kau pulanglah ke London!" Jawab Joana gugup.
"Duduklah." Xander menepuk-nepuk sofa yang berada disampingnya, mengisyaratkan agar Joana duduk disana.
"Kalau kau datang kesini untuk balas dendam atas kejadian beberapa tahun lalu, maka--"
"Jo, aku tidak pernah dendam padamu." Potong Xander.
"Benarkah? Orang sepertimu adalah orang yang paling pandai memupuk dendam." Sanggah Joana.
"Aku memang ingin bertemu denganmu tapi bukan untuk membalas dendam."
"Lalu?"
Xander memijat peplipisnya, kemudian ia menatap Joana dengan tatapan tajam membuat Joana merasakan hal buruk akan segera terjadi padanya saat ini juga. Firasat buruk seketika menyerang Joana saat pandangan mata mereka bertemu dan terkunci satu sama lain. Joana mengernyit heran sementara hatinya bertanya-tanya apalagi kiranya yang akan dilakukan Xander setelah kurang lebih tujuh tahun tidak ada pertemuan berarti diantara keduanya.
...Bersambung......