
"Kau sedang apa disini?"
Rey menoleh untuk melihat lawan bicara yang berada dibelakangnya.
"Ya?" Rey seolah bertanya balik pada lelaki itu, yang tak lain adalah Ammar.
"Aku bertanya padamu, kau sedang apa disini?" Nada suara Ammar terdengar lugas.
"Gue mau mengunjungi teman gue." jawab Rey pada Ammar dengan santai. Ia Ingin berkata jujur.
"Teman? Apakah teman yang kau maksud adalah istriku?" Sindir Ammar pada Rey, sambil menekankan kata 'istri'.
Rey tersenyum miring dan hendak menjawab iya, namun suara seseorang memecah ketegangan diantara keduanya.
"Maaf Pak, dia ingin menemui saya. Kami sudah membuat janji untuk bertemu disini!" Ucap seorang wanita yang ternyata adalah Sinta.
"Maaf Pak, sudah membuat ruang rawat istri Bapak jadi sedikit terganggu. Dia pikir saya berada disini karena ini memang jadwal saya mengurus ruangan ini." Tambah Sinta lagi sambil melihat Ammar dan sesekali menatap Rey sebagai kode agar membuat pengakuan yang sama.
"Emmm. Iya, dia ini teman yang gue maksud!" ucap Rey gugup pada akhirnya. Padahal ia sudah mau berkata jujur pada Ammar, dan mengajak Ammar bicara secara Man to Man.
"Apa kita bisa bicara sekarang?" Rey menatap Sinta dan Sinta pun mengangguk.
Rey mengacuhkan Ammar yang menatap tak percaya pada Rey dan Sinta.
Tapi, Bukan Rey namanya jika harus pergi begitu saja tanpa kenang-kenangan, alias ucapan pembalasan.
Rey tiba-tiba menghentikan langkah sesaat sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Tunggu, jadi istri lo dirawat di Rumah Sakit Jiwa ini?" Rey balik bertanya pada Ammar, seolah menyindirnya dengan menekankan kata 'Istri' pula. Rey mengeluarkan smirk dari ujung bibirnya.
"Itu bukan urusan anda!" Ammar berubah formal dan bersikap acuh tak acuh, sembari ingin kembali masuk kedalam bilik tempat Kinan berada.
Rey menyeringai puas, bisa membalas perlakuan Ammar tadi.
"Tunggu!" Rey menahan lengan Ammar. Rey geram melihat Ammar yang menghindar darinya, Rey ingin membuatnya merasa bersalah sedikit saja. Mengerjainya-pikir Rey.
Ammar berhenti dan melirik dengan ujung matanya, lengannya yang ditahan oleh tangan Rey. Lalu menyentak dengan sedikit kasar agar Rey melepaskan tangannya. Ia menunjukkan sikap arrogant-nya.
Rey tersenyum miring.
"Kenapa istri lo bisa berakhir disini? Bukankah ini terlalu kejam untuknya?" Rey menyuarakan protesnya lewat kata-kata tajam, walau sebenarnya Rey ingin protes pada Ammar dengan cara yang lebih baik dari pada ini. Dengan memberi Ammar tinjunya, misalnya. Itu kan lebih baik-pikir Rey.
"Ini bukan urusan anda!" ucap Ammar lagi.
Mendengar Ammar yang tetap sok formal, Rey pun membalas dengan hal yang sama.
"Bukankah dulu saya pernah menyarankan agar membawa istri anda ke Psikiater? Tapi Anda lah yang jelas-jelas menolak dan mengatakan bahwa dia tidak Gila?" Rey tersenyum sarkas.
"Lalu? Sekarang istri anda berada disini? Oh lihatlah betapa kejamnya diri anda sebagai suaminya!" Tambah Rey lagi, menghujami Ammar dengan tudingan-tudingan tajam.
"Saya tekankan pada Anda, siapapun Anda tidak berhak mencampuri urusan saya!" Suara Ammar mulai meninggi.
"Begitu ya? Sepertinya, saya sangat takut pada Anda!" ejek Rey pada Ammar, ia seolah bergidik ngeri sebelum akhirnya Sinta sedikit menarik tangan Rey agar mengikutinya keluar dari ruangan itu.
Ammar mendengus kesal. Apalagi mengingat ucapan Rey yang menusuk tepat dijantungnya. Bahwa ia terlalu kejam telah membuat Kinan berakhir disini. Tangan Ammar mengepal. Memejamkan mata sejenak untuk memindai wajah lelaki yang lebih muda daripadanya itu. Serta mencerna setiap kata-kata Rey yang teramat menusuk sanubari Ammar.
"Lo mau sampai kapan narik tangan gue kayak gini?" Tanya Rey pada Sinta, mereka sudah berada di taman belakang Rumah Sakit, tempat biasanya Kinan juga ada disana.
Sinta pun refleks melepas tangan Rey setelah menyadarinya.
"Maaf"
"Hemmm. Kenapa lo buat alasan gitu? Lo nyari masalah?"
"Bu-bukan begitu, saya hanya ingin membantu!"
Rey mendengus.
"Membantu kata lo? Lo itu bukan membantu, lo masukin diri sendiri ke dalam lingkaran hitam!" Ejek Rey.
Sinta menatap Rey dengan tatapan bingung, apa maksud Rey dengan lingkaran hitam itu?-pikir Sinta.
"Terus? Aku harus apa? Apa aku harus biarkan kalau kamu mau terus terang pada Pak Ammar soal hubunganmu dan Kinan?"
"Ya biarkan saja. Toh itu bukan urusan lo!"
Mata Sinta mulai berkaca-kaca pendengar penuturan Rey.
"Tapi Kinan itu temanku, aku takut dia bakal kenapa-napa kalau suaminya tau tentang kalian!"
"Ck! Lo pikir gue bakal biarin Kinan kenapa-napa? Itu biar jadi urusan gue, lo bantuin gue hari ini, itu tandanya lo siap untuk ditanya-tanya lelaki itu perihal gue, terus lo mau jawab apa? Emang lo tau banyak tentang gue?" Rey berkecak pinggang seolah menghakimi Sinta.
"Bu-bukan begitu maksud saya, sa-saya hanya mau membantu!"
"Oke, gue hargai bantuan lo hari ini. Gue cuma enggak mau orang lain yang nggak ada sangkut pautnya jadi terlibat!"
"Mungkin hari ini lo bantu gue menghindar, besok-besok gimana kalo lo yang malah terjebak dan enggak bisa menghindar?"
Sinta hanya menatap sekilas wajah Lelaki tampan didepannya yang merah padam. Sinta lagi-lagi hanya bisa menundukkan pandangan, ia hanya bermaksud membantu Rey dan menghindarkan Kinan dari permasalahan baru yang diakibatkan jika Rey jujur pada Ammar tentang hubungannya dengan Kinan.
Rey mendesah pelan, berjalan sedikit menjauh, pandangannya lurus kedepan sana.
"Lain kali lo enggak usah nyampurin masalah gue, lo enggak tahu ada masalah apa yang menanti lo di kedepan hari, karna lo udah coba-coba nolongin gue!" Ucap Rey datar dan membuat Sinta semakin kebingungan.
Sinta semakin bingung melihat Rey pergi begitu saja tanpa ucapan apapun lagi, bahkan tanpa tahu terimakasih. Jangankan ucapan terimakasih, Rey malah menyalahkan Sinta. Padahal Sinta berniat menolongnya dari situasi sulit.
Sinta pun hanya terdiam memandang kepergian lelaki itu, dengan berbagai pikiran dalam benaknya. Lalu, ia kembali ke dalam Rumah Sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
.
Bersambung...