How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Menyadari kesalahan



Ammar memulai aktifitasnya dengan rasa tak bersemangat, tak biasanya dia begini.


Saat dia hidup bersama Wina selama ini, hidupnya aman-aman saja dan terasa datar walau mereka saling mencintai. Tapi, Setelah Wina meninggal dan memintanya menikahi Kinan, Ammar merasa berbeda. Entah karena kepergian Wina, ataupun karena sejatinya Wina dan Kinan memang memiliki karakter yang jauh berbeda.


Wina adalah wanita yang mencintainya, jadi wajar saja jika Wina menjadi wanita yang penurut dan manis dimata Ammar. Sedangkan Kinan, tidak seperti itu. Kinan lebih tertutup, bahkan setelah menjadi istrinya pun Kinan lebih sering menutup diri. Disatu sisi, Kinan memang polos dan disisi lain Ammar merasa belum mengenal Kinan sepenuhnya. Ammar menganggap kepolosan Kinan selama ini hanya kamuflase untuk menutupi sifat dan prilakunya yang sesungguhnya.


Itulah sebabnya, semenjak ia mengetahui bahwa Kinan, istri yang baru ia nikahi itu pulang dalam keadaan berantakan pada hari itu, Ammar merasa sikap Kinan yang sesungguhnya telah terungkap. Dan sejak saat itulah hari-hari Ammar terasa menyebalkan. Ammar adalah seorang pekerja keras yang pantang menyerah dan ambisius, tapi gara-gara sikap Kinan itu, cukup mengusik ketenangannya selama ini. Ia merasa harga dirinya yang tinggi telah dijatuhkan oleh seorang wanita seperti Kinan.


Padahal, Ammar sudah mencoba merebut hatinya untuk menaklukkannya. Itu semata-mata Ammar lakukan hanya karena status Kinan sudah menjadi istrinya, bukan karena ia memiliki perasaan juga. Ammar merasa tertantang untuk membuat Kinan mencintainya walau sebenarnya perasaannya diawal juga belum sejauh itu terhadap Kinan.


Seiring berjalannya waktu, Ammar mencoba mengerti keadaan Kinan namun kehamilan Kinan benar-benar tak bisa lagi menjernihkan pikirannya, pikirannya yang keruh semakin kotor akibat pengaruh Shirly yang memberinya saran agar Kinan dirawat di Rumah Sakit Jiwa.


Tentu saja naluri Ammar menolak, namun semua yang Shirly katakan adalah kebenaran. Ammar tak akan bisa meredam Kinan jika nanti ia mengamuk dan mencelakai Lesya dan Shaka. Ammar dengan mudahnya menggiring Kinan untuk dirawat disana tanpa pemikiran yang matang.


Sejak kaburnya Kinan bersama Rey, sejak itu pulalah hati Ammar merasa terkejut sekaligus menyesal. Dia menyadari kesalahannya, Kinan adalah istri yang sepatutnya berada dalam jangkauannya dan Kinan bukan Wina yang mudah untuk diatur dan diarahkan. Kinan sepertinya memiliki pemikiran sendiri dan komitmen hidup yang belum bisa Ammar pecahkan. Ammar menjadi gelisah dan takut kehilangan Kinan. Menyadari perasaannya yang terlambat. Menyadari perbuatannya yang salah.


Setelah semua yang terjadi, Ammar mengakui bahwa ia memiliki perasaan lebih terhadap wanita yang ia nikahi itu. Itu semua terjadi begitu saja tanpa ia sadari karena berawal dari rasa kehilangan Kinan. Sebagai seorang suami, seharusnya ia mempercayai Kinan. Dan apapun kesalahan Kinan, harusnya ia memaafkannya bukan?


Tapi, kehamilan Kinan juga bukan karenanya. Untuk itu ia mengusulkan agar Kinan menggugurrrkan janin itu. Tapi sejak usul itu ia lontarkan, Kinan seolah menghindar untuk ia temui. Dan malam tadi, seakan-akan adalah puncak kemarahan Kinan. Kinan pergi. Bahkan ketika Ammar menanyakan pada Rey, Rey pun tak mengetahui kemana Kinan. Rey dalam kondisi yang tidak memungkinkan, dan Ammar tahu itu adalah kebenaran dan bukan semata-mata alibi Rey untuk mengalihkan Ammar.


Atas semua yang terjadi inilah, hari ini Ammar kembali menjadi pemurung dan sikapnya menjadi pemarah akhir-akhir ini. Ingin bekerja tapi malas melanda. Ingin mencari keberadaan Kinan tapi entah kenapa ia pun tak tahu hendak dari mana untuk memulainya.


Ammar ingin melapor ke pihak kepolisisan untuk membantunya mencari Kinan, tapi entah kenapa ia ragu-ragu.


"Ammar kau tidak bekerja lagi hari ini?" Suara Latifa mengejutkan Ammar dan menghentikan aktifitas melamunnya di teras depan rumah.


"Aku tidak bersemangat, Ma."


"Semenjak kau menikahi perempuan itu kau memang selalu tak bersemangat." Sindir Latifa.


Ammar duduk di kursi teras dengan gusar, padahal ia sudah bersiap-siap ingin berangkat bekerja tapi entah kenapa ia masih juga memikirkan kemana kiranya Kinan pergi.


"Ma, apa Mama tau kemana Kinan?" Ammar mencoba menggali informasi. Ia ingin membuktikan jika mamanya ini tidak terlibat seperti ucapan dan dugaan Rey tadi malam.


"Kinan? Memangnya kemana dia? Kenapa bertanya pada Mama?"


"Ck!"Ammar berdecak lidah seraya memijat pelipisnya.


"Ma, Apa mama pernah melakukan kesalahan pada Kinan?" Pertanyaan Ammar sontak membuat Latifa yang sedang meneguk teh dari gelasnya jadi tersedak.


Ammar segera bangkit dari posisinya dan menepuk-nepuk pelan punggung wanita yang melahirkannya itu.


"Pelan-pelan, Ma!" Latifa mengangguk-angguk menandakan ia sudah tak apa-apa.


Ammar menatap sang ibu. Curiga karena sikapnya yang mendadak salah tingkah.


"Ma, apa Mama tidak pernah membuat Kinan pada posisi yang sulit setelah dia menjadi istriku?" Tanya Ammar lagi. Kini ia makin curiga melihat Sang Ibu yang membuang pandangan dan tak berani menatapnya.


"Ma-mana mungkin Mama berbuat begitu padanya!" Jawabnya dengan suara tegas namun terdengar ketakutan.


"Ya, ku pikir juga Mama tidak mungkin melakukan hal buruk pada Kinan!"


"Tapi, jika ternyata mama pernah melakukannya, aku pasti tidak akan memaafkan mama!" Ujar Ammar dengan santai namun serius.


Latifa meneguk salivanya dengan susah payah mendengar penuturan Ammar.


"Lagipula, walaupun mama tidak menyukainya mana mungkin mama berbuat yang tidak-tidak dan membahayakannya, iya kan?" Ucapan Ammar terdengar mengintimidasi.


"I-iya mana mungkin."


"Baiklah, Ma. Aku hanya ingin Mama jujur, karena aku hanya memberi satu kesempatan untuk seseorang berkata jujur didepanku, jika suatu saat aku tau bahwa aku dibohongi maka--"


"A-Ammar..." Suara Latifa lirih memotong ucapan Ammar.


"Ya?"


"Se-sebenarnya waktu itu..."


"Apa ma?"


Latifa gugup sambil merremas kedua jemarinya.


"Mama berniat membuat Kinan pergi dari rumah ini" Ucapnya sambil tertunduk. Ia harus jujur, karena Latifa sangat tahu watak anaknya. Jika ia ketahuan membohongi Ammar, bisa-bisa ia terusir dari rumah besar ini.


Meski Ammar amat menghargai Latifa sebagai seorang ibu, tapi Ammar punya sisi kejam tersendiri yang Latifa tidak tahu kapan akan ia keluarkan didepan ibunya ini. Mungkin Ammar akan mengusirnya jauh walau nanti Ammar juga akan memberinya tempat tinggal lain sebagai tempat berteduh, tapi Latifa urung meninggalkan rumah besar nan nyaman yang sekarang ia tinggali.


"Lalu?" Ammar menatap tajam ibunya, yang membuat nyali Latifa ciut seketika.


"Lalu, mama meminta Shirly untuk membantu.."


"Shirly?" Suara Ammar meninggi. Ia mengetahui jika Shirly sama ambisiusnya dengan dirinya.


Latifa mengangguk cepat. "Mama tidak tahu jelas apa yang Shirly lakukan pada Kinan. Dan itulah yang membuat Kinan tak pulang semalaman, lalu ketika sampai dirumah dia, dia--"


"Cukup Ma!" Suara Ammar tercekat. Ia menyadari sekarang bahwa semua pernyataan Kinan tempo lalu adalah kebenaran. Semua yang Kinan katakan adalah benar, Kinan bukan selingkuh dan memiliki kekasih lain seperti tuduhan Ammar. Kinan benar bahwa ia telah dileceehkan dan diperkossaa. Dan itu semua karena ulah Mamanya sendiri dan juga Shirly.


Wajah Ammar memerah, ia murka mendengar kebenaran ini. Ia malu pada dirinya sendiri yang berstatus suami Kinan. Ia frustasi karena seharusnya dialah yang menjaga Kinan, tapi nyatanya dia tidak bisa dan sekarang adalah saat yang sangat terlambat untuk menyesali semuanya. Semuanya terlambat untuk sebuah permohonan maaf.


"Maafkan Mama Ammar.. Mama cuma belum menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi istrimu!"


"Diam!!!" Ammar membentak Latifa hingga sang ibu terhenyak kebelakang karena terkejut.


.


.


.


.


Bersambung...