How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Berjarak



Rey memasuki pekarangan rumah orangtua nya, melempar kunci mobil ke arah satpam dan meninggalkannya dengan tergesa. Ia memasuki rumah besar itu tanpa ucapan salam, hanya ada kemarahan dihati dan pikirannya. Bagaimana tidak, semalaman ia menunggu di teras rumah-yang menurut keterangan Kevin-Kinan berada disana.


Tapi ternyata, sang ayah yang telah mengetahui gerak-gerik orang suruhan Kevin, lebih dulu menyusun strategi. Ternyata itu semua hanyalah tipuan untuk mengalihkan perhatian Rey. Kinan sama sekali tak disana dan entah berada dimana kini. Satu hal yang pasti, Rey tahu dengan jelas jika wanita yang ia cari telah berada dalam jangkauan Papanya.


"Rey, kamu kemana semalaman tidak pulang, Nak?" Suara lembut sang Ibu menyapa anaknya yang diam tak menjawab. Bahkan anaknya itu hanya melewati keberadaannya dengan langkah tergesa-gesa.


Wanita paruh baya itu tampak khawatir dan merasakan sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Ini pasti bersangkutan dengan masalah Rey yang belum juga terselesaikan sampai hari ini.


Mama Rey gegas mengikuti langkah sang anak menuju ruang keluarga. Ia menebak jika Rey ingin menemui Papanya.


Di ruangan yang didominasi dengan warna putih gading itu, nampaklah sang suami sedang sibuk dengan layar datar dihadapannya. Pria itu tengah menghitung saham sambil sesekali membuka map yang juga berada disisinya. Ia sibuk bekerja dari rumah, malas menghadapi kemacetan dijalanan.


"Pa, beritahu aku dimana papa menyembunyikan Kinan?" Suara Rey terdengar serius dan to the point.


Sang Papa menoleh ke arah anaknya yang akhir-akhir ini sering mendatanginya dengan amarah. Ia tampak tak terkejut lagi. Sedangkan sang Mama terlihat sebaliknya. Mama Rey jelas terkejut dengan pertanyaan dari Rey.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ayah dan anak ini seperti sedang perang dingin? Dan kenapa Rey mengatakan jika Kinan disembunyikan oleh suaminya?" Batin Mama Rey bertanya-tanya.


"Tenanglah, dia aman dan jauh lebih aman daripada dia harus berada bersama suaminya ataupun bersama denganmu!" Jawab Pria itu dengan santainya.


"Apa maksud Papa?"


"Mungkin kau lupa jika bersamamu juga pernah mengakibatkan dia kehilangan kehormatannya, Rey! Jadi Papa ingatkan lagi itu padamu!" Sindir sang ayah pada anaknya.


"Pa..."


"Ini semua lebih baik, Papa takut kau mengulangi kesalahan yang sama. Sampai semuanya benar-benar terkendali, kau tidak usah bertemu dengannya. Bersabarlah sedikit lagi!"


"Jadi Kinan sekarang berada ditempat yang sudah Papa atur dan Papa ketahui?" Suara Mama Rey sedikit tercekat mengetahui kebenaran yang terjadi. Ia tak menyangka suaminya turun tangan untuk mengendalikan permasalahan Kinan dan Rey.


Pria itu mengangguk, kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan. Ia sedikit bergerak dari duduknya untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Sekarang ia bersedekap sambil memandang anak dan istrinya yang berdiri dihadapannya.


"Untuk apa, Pa?" Tanya sang istri lagi.


"Papa ingin Rey lebih mengerti perasaannya, apa benar dia mencintai gadis itu atau itu hanya rasa tanggung jawab!"


"Papa kenapa jadi kolot begini!" Ucapan Mama Rey membuat dua lelaki itu terperangah. Rey mendadak ingin tertawa ditengah amarahnya. Ia menahan tawanya agar tak meledak disaat bersamaan. Sedangkan Papa Rey terdengar berdecak lidah.


"Maksud Mama? Kolot seperti apa?" Pria itu menatap Rey yang kini tampak lebih santai sambil mengangkat bahu sebagai bentuk jawaban untuk sang ayah.


"Iya, Papa kolot. Pemikiran Papa seperti tidak pernah muda saja. Kalau Rey memang ingin bertanggung jawab ya itu bagus. Tandanya putramu sudah dewasa, Pa!"


"Tapi dia akan menikah tanpa cinta. Hanya bentuk tanggung jawab saja, mana bisa begitu!"


"Perasaan anakmu pun harus Papa campuri, itu namanya kolot! Kalau dia sudah menikah juga lama-lama dia akan cinta!" Mama Rey ikut duduk disofa berbahan kulit disamping suaminya.


"Dan lagi, Mama pikir Rey juga sudah mencintai Kinan sebelumnya, karena Rey tidak pernah seserius ini pada wanita manapun, Pa!" sambung Mama Rey.


Pria itu tampak mengangguk-angguk sambil mengelus dagunya sendiri yang ditumbuhi janggut yang kasar.


Rey diam bergeming, tampaknya masalah ini sudah akan selesai jika sang Mama ikut turun tangan dan menaklukkan Papanya si gunung es. Kenapa tak terpikirkan oleh Rey sebelumnya, seharusnya ia meminta bantuan pada Mamanya dari kemarin-kemarin-pikir Rey.


"Ma, aku hanya ingin Rey berusaha lebih untuk mendapatkan apa yang dia mau." Sanggah Papa Rey lagi.


"Ckck! Coba kau lihat kondisi anakmu! Apa kau tidak lihat dia sudah berusaha? Kau mau dia pulang dengan tak bernyawa baru kau menghargai usahanya!" Suara Mama Rey terdengar lantang, membuat Rey mendekat untuk mengelus pundak sang mama agar lebih tenang.


Papa Rey tampak ciut dengan sikap istrinya yang lebih dominan hari ini. Membuatnya berada dalam suasana akward dan serba salah. Ada benarnya juga setelah melihat Rey menggendong tangan seperti itu, timbul pula rasa iba didalam hatinya. Bagaimanapun, Rey tetap anaknya. Sekeras dan sedingin apapun, ia tetaplah seorang ayah dari Rey.


Rey tersenyum miring. Jurus jitu sang Mama dengan memasang sikap lantang adalah jurus mujarab yang sempat terlupakan oleh Rey.


"Rey, Papa berjanji akan mempertemukanmu dengan Kinan nanti!"


"Benarkah?" Tanya Rey dengan spontanitas.


"Hmm" Gumaman Papa Rey yang terdengar.


"Aku akan menemuinya sendiri. Katakan saja dimana dia." Rey terlihat bersemangat lagi.


Pria dingin itu menatap Rey dengan tatapan tak percaya. Mood Rey berubah 180 derajat ketika ia mengatakan akan mempertemukan sang anak dengan Kinan. Lagi-lagi ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak lidah.


"Tidak sekarang, tunggulah beberapa saat lagi!"


"Pa!!" Protes Rey bersamaan dengan Mamanya juga.


"Paling tidak, tunggulah sampai dia dan suaminya benar-benar berpisah. Agar kau tidak disangkut-pautkan dengan permasalahan mereka dipersidangan." Jelas Papa Rey sambil berdiri ingin meninggalkan ruang keluarga itu.


"Tapi, Pa!" Rey mencoba bernegosisasi lagi dengan pria tua itu.


"Itu keputusan final, Rey. Kau mau atau tidak sama sekali?"


Rey terdiam beberapa saat seperti tengah memikirkan kata-kata Papanya.


"Baiklah." Jawab Rey pada akhirnya.


"Kau harus ingat, dia memiliki trauma akibat perbuatanmu dimasa lalu. Beri dia waktu untuk menerimamu Rey. Beri dia kesempatan untuk berfikir!" Papa Rey berjalan meninggalkan Istri dan anaknya diruang keluarga.


"Benar itu niat Papa, kan? Bukan supaya Kinan melupakanku kan?" Rey berteriak ke arah Papanya yang sudah berjalan sedikit jauh dari mereka. Sang Papa hanya melambaikan tangan sambil terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, tanda menyudahi percakapan mereka.


Mama Rey menatap anaknya dengan tatapan bahagia.


"Rey, jujur saja Mama kecewa terhadap perbuatanmu dulu pada Kinan. Tapi Mama salut karena kau mau bertanggung jawab. Anak Mama sudah dewasa sekarang. Semoga perlahan-lahan kau bisa benar-benar mencintainya, Rey!"


"Jadi Mama juga meragukan jika aku sudah mencintai Kinan?"


"Awalnya iya, tapi sekarang mama yakin kau memiliki perasaan lebih padanya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan. Tebuslah semua kesalahanmu padanya nanti!"


Rey mengangguk dengan yakin. Ia menciumi punggung tangan sang ibu sambil mengucapkan rasa terima kasih yang berulang-ulang.


.


.


.


.


Bersambung...