
Seminggu telah berlalu, namun kabar berita tentang keberadaan Kinan tak kunjung Ammar dapatkan. Ia telah meminta bantuan dari asistennya untuk mengurus semua pekerjaannya di kantor. Ammar sendiri yang akan mencari Kinan.
Ammar sudah ingin melaporkan kehilangan Kinan kepada pihak kepolisisan beberapa hari lalu. Tapi, pernyataan Desi tempo hari ada benarnya, bahwa Kinan pergi atas dasar keinginannya sendiri, itu terbukti dari surat yang ditinggalkan Kinan pada Desi. Ammar juga yakin jika Reyland tak ada sangkut pautnya dengan hilangnya Kinan, karena Desi juga mengatakan bahwa Rey sempat datang kerumahnya untuk menanyakan keberadaan Kinan.
Ammar mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak habis pikir akan semua yang terjadi. Sedari pagi, ia hanya mondar-mandir tak jelas diruang tamu rumahnya. Dan ketika menyadari semua yang terjadi, perasaan menyesal kerap datang menghampiri. Belum lagi tentang pengakuan Mamanya tempo hari.
Ammar beberapa kali menghubungi Shirly ketika ia tahu kebenaran dari mulut Mamanya. Namun, Shirly bak hilang ditelan bumi, seolah menghindari Ammar. Seakan-akan wanita itu sudah tahu maksud Ammar meneleponnya berulang kali. Tentu saja untuk menanyakan hal apa yang telah ia perbuat pada istri Ammar itu sebelum semua hal buruk ini terjadi.
"Ma, tolong hubungi dan minta Shirly segera menemuiku!" Ucap Ammar dengan nada menahan emosi pada wanita tua itu. Latifa hanya mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Pastikan dia akan menemui ku, Ma. Jika tidak, aku yang akan menyeretnya sendiri ke hadapanku!" Ammar berucap sampai urat-urat di lehernya terlihat. Ia tampak sangat murka namun masih menjaga kemarahannya untuk menghargai sang ibu.
"I-iya Ammar" Sahut Latifa dengan suara tercekat.
"Maaf, Tuan.." Suara Bi Minah tiba-tiba terdengar masuk diantara pembicaraan Ammar dengan Latifa. Bi Minah tampak ragu dan takut-takut untuk berbicara melihat ekspresi Ammar.
"Ada apa?"
"I-ini Tuan, ada kiriman surat untuk Tuan."
Ammar segera menyambar sebuah amplop coklat dari tangan Asisten Rumah Tangga-nya itu. Membaca sekilas dan mengerutkan keningnya.
Ammar bergeming, seolah memikirkan sesuatu. Lalu detik itu juga membuka amplop itu dengan tergesa dan membaca isinya. "Ya Tuhan..." Ammar mengusap wajahnya dengan gusar.
"****!" Dia mengumpat dan wajahnya memerah.
"Ada apa?" Latifa tampak penasaran.
"Ini surat dari pengadilan!" Ammar melempar kertas itu ke sembarang arah, mnyebabkan semua isinya berhamburan kemana-mana.
Latifa dengan gegas mengumpulkannya kembali saat Ammar berlalu sambil bergumam marah.
"Gugatan perceraian? Dari Kinanty untuk Ammar?" Latifa membungkam mulutnya sendiri dengan tangan karena terkejut saat membaca isi surat itu. Setelah ini, pasti ia akan semakin berada diujung tanduk karena kemurkaan Ammar. Latifa menelan saliva nya dengan susah. Mengingat apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
"Shirly, kenapa kau seolah membuatku harus menanggung ini sendirian? Kemana kau? Kau harus ikut merasakan akibat dari perbuatanmu!" Gumam Latifa. Ia menggeram dalam hati sambil mengepalkan tangan.
°°°°
Ammar sibuk menghubungi pengacaranya. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia terima. Surat dari pengadilan berupa sebuah gugatan perceraian dari Kinan.
"Tolong kau urus masalah ini, aku tidak mau bercerai dari istriku! Aku menolak gugatan itu!" Ucapnya pada sang pengacara melalui sambungan telepon.
"Kinan, kemana kau? Kenapa tiba-tiba begini?" Ammar frustasi. Baru saja ia akan memulai semuanya dari awal bersama Kinan. Ia mengingat kembali masa-masa sebelum semua kejadian ini terjadi, Kinanty amat manis menerima semua perlakuannya. Ya, Ammar terlalu egois telah menyia-nyiakannya dan tak mendengar penjelasannya waktu itu.
Andai Ammar bisa mengontrol emosi dan pikirannya. Seharusnya ia mengikuti naluri bukan logika yang malah menuntunnya menjadi monster menyeramkan bagi istrinya. Pasti waktu itu Kinan amat tertekan dan takut dengannya. Pasti waktu itu Kinan membutuhkan bantuannya, bukan caci-makinya. Ammar ingin mengulang lagi momen manis yang singkat bersama Kinan sebelum semuanya menjadi parah dan berakhir dengan gugatan cerai seperti ini.
Anak-anak Ammar yang belakangan ini jarang ditegurnya pun merasa khawatir dengan sikap sang Ayah. Mencoba bertanya dan hanya mendapat perlakuan cuek yang tidak biasanya. Tampaknya mood pria itu benar-benar sedang tidak baik sekarang. Ia jarang terlihat bekerja, lebih sering fokus terhadap masalah rumah tangganya yang datang beruntun dan menjadi-jadi akhir-akhir ini. Bahkan penampilannya yang biasanya rapi, mulai terlihat kusut dan nampak sekali bahwa ia sedang banyak pikiran.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Di lain tempat, Rey yang sudah tenang akan keadaan Kinan yang ia yakin akan aman ditangan Sang Ayah, mulai melakukan aktifitas normalnya seperti dahulu. Ia memulai untuk bekerja kembali. Sesuai kesepakatan dan atas saran dari Mamanya, Rey bersedia untuk bekerja, semata-mata untuk membunuh waktu. Ia akan melupakan waktu yang terasa amat lama dan menyiksa jika diresapi. Ia ingin pertemuannya dengan Kinan nanti adalah pertemuan kembali yang dimulai dengan baik. Ia akan menjadi orang yang lebih baik.
Rey akan bekerja dengan giat demi bertemu Kinan dan tentunya demi angan-angan Rey agar bisa memberikan Kinan kehidupan yang layak. Tak apa ia akan menjadi kacung di perusahaan ayahnya sendiri dan bekerja keras untuk keluarga kecilnya nanti. Ya, Rey sudah memikirkan hal manis itu dalam benaknya.
Ketika Rey tiba di kantor, Rey terkejut mendapatkan ruangan baru di perusahaan Papanya. Ruangan yang di desain dengan sangat apik. Sebuah ruangan yang cukup besar. Sebuah meja besar dilengkapi dengan layar datar diatasnya serta sebuah kursi kerja berbahan kulit kecoklatan yang mengkilap. Di sisi lain, terdapat sofa berbahan bludru berwarna hitam dengan tambahan meja kaca yang modern. Dindingnya dilapisi wallpaper yang minimalis dan sangat manly.
Ruangan ini terlihat luas. Ada kamar mandi pribadi di dalamnya dan ada satu ruangan lagi yang baru Rey ketahui bahwa itu adalah sebuah kamar tidur yang di desain dari luar seolah-olah itu adalah lemari penyimpanan buku dan berkas-berkas, membuat kamar itu tidak terlihat mencolok dan orang yang melihatnya sekilas tak akan tahu jika ada sebuah kamar pribadi dibalik pintu jati itu. Terkesan rahasia dan Rey menyukai itu. Kamar itu juga elegan dan tidak berlebihan. Sangat cocok untuk tempat istirahat jika saja Rey merasa jenuh dan lelah saat bekerja.
"Apa ini ruanganku?" Rey bertanya pada seorang wanita yang mengantarnya ke ruangan itu.
"Iya Tuan Muda, sesuai perintah Tuan Yazid (Ayah Rey), ini akan menjadi ruangan Anda." Jawab wanita itu.
Rey tersenyum miring, ia terkejut dan benar-benar terkejut akan hal ini. Ia mengira akan bekerja kembali ke kantor ini dan duduk diruangan lamanya yang sempit dan kembali menjadi kacung sang ayah yang bekerja keras dari bawah untuk meraih sebuah jabatan tinggi.
"Silahkan, Tuan. Dan selamat bekerja!" Tambah perempuan itu lagi sambil sedikit membungkukkan badan.
"Tunggu, siapa namamu? Mungkin aku akan butuh bantuanmu dalam beberapa hal mengenai pekerjaan baruku?" Tanya Rey dengan nada sopan nan datar.
"Aku Sylvia. Aku yang akan menjadi sekretaris anda, Tuan. Dan jika anda membutuhkan sesuatu bisa memanggilku!" Jawab Sylvia dengan nada sopan pula.
"Baiklah! Terima kasih Sylvia." Rey meninggalkan Sylvia dan masuk ke dalam ruangan barunya untuk mulai bekerja.
.
.
.
.
Bersambung...