
"Apa kau memang mencintainya?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ammar. Setelah memberi sedikit banyak pengertian, akhirnya Rey bersedia membiarkan Kinan dan Ammar berbicara empat mata, sedangkan Rey keluar ruang rawat dengan perasaan yang sulit untuk diutarakan.
"Iya, Mas. Aku mencintainya." Jawab Kinan yakin. Ia menekankan setiap kata-katanya.
Terdengar helaan nafas berat dari seorang Ammar.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Hemm"
"Apa kau bahagia?"
"Aku bahagia, Mas." Kinan menatap mata Ammar. Tidak ada kebohongan disana, begitulah yang Ammar artikan dari sorot mata wanita itu.
"Baguslah. Mungkin ini terlalu telat, tapi bisakah kau memaafkanku atas semua yang telah ku lakukan padamu?" Tanpa diduga Ammar mengambil tangan Kinan dan menggenggamnya lembut.
Kinan mengangguk cepat. "Aku sudah memaafkanmu, semua itu masa lalu. Jangan terlalu mencemaskanku, Mas." Dengan perlahan Kinan menarik tangannya dari genggaman itu, mencoba melepaskannya secara baik-baik.
"Kenapa kau bisa hidup bahagia bersamanya tapi tidak denganku, Ki?" Tangis Ammar pecah. Tampak butiran itu keluar dari sudut matanya. "Tapi setidaknya kau bahagia. Itu yang paling utama." Lanjutnya.
"Ku harap kau juga menemukan kebahagiaanmu, Mas. Semuanya belum terlambat jika kau mau membenahi diri."
"Aku sudah hancur, Ki. Semuanya sudah terlambat. Aku bahkan tidak memiliki apapun sekarang. Baik itu harta ataupun cinta." Ammar terkekeh miris diujung kalimatnya.
"Tidakkah kau berpikir tentang cinta dari anak-anakmu, Mas? Kau masih memiliki mereka untuk membuatmu lebih kuat. Aku percaya kau akan bangkit lagi, Mas. Seorang Kinanty tidak mungkin benar-benar membuat hidupmu hancur. Aku sudah menemukan kebahagiaanku, aku berharap kau juga demikian." Kinan ikut meneteskan airmata. Bagaimanapun Ammar terlihat begitu tulus saat ini dan lelaki itu pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Ammar mengusap airmatanya, ia mencoba melengkungkan bibir, mencoba membentuk senyuman.
"Baiklah, Mas. Ku rasa pembahasan kita sudah selesai. Jangan libatkan urusan pribadi dengan hal lain. Termasuk perihal permintaanmu pada suamiku. Aku tahu kau mengerti maksudku. Aku tulus mendoakan agar kau segera sembuh." Kinan membalikkan badannya, ia tak mau Rey berpikir yang tidak-tidak jika percakapan ini lebih lama lagi.
"Terima kasih kau mau memaafkanku, Ki. Aku akan bangkit lagi untuk masa depan anak-anak. Berkunjunglah sesekali untuk melihat keadaan mereka dan....ajaklah suamimu."
Kinan mengangguk dari posisinya, tanpa berbalik badan.
"Aku tidak akan minta hal aneh lagi pada Rey. Aku akan mencabut laporanku. Aku tahu ini semua terjadi bukan sepenuhnya salah pengemudi itu. Ini juga karena kebod-ohanku."
Kinan berbalik untuk menatap Ammar. "Terima kasih, Mas. Jangan pernah lakukan hal bod-oh lagi." Kinan pun pergi meninggalkan Ammar.
Kinan membuka pintu ruang rawat, ia keluar dan melewati penjagaan polisi lalu melirik ke samping pintu kamar, dimana ada barisan kursi tunggu yang salah satunya diduduki oleh suaminya. Rey bangkit dari posisinya karena melihat Kinan sudah keluar dari ruang rawat Ammar.
"Sudah?" Tanya lelaki itu. Kinan mengangguk sebagai jawaban.
"Dia tidak meminta hal aneh kan?"
Kinan menggeleng.
"Dia ingin kembali padamu?"
Kinan mengangkat bahu.
"Bicara, Sayang. Jangan hanya seperti itu." Rey merasa janggal dengan sikap Kinan, perasaan takut menyelimuti hatinya. Apa Ammar mengatakan hal yang tidak baik? Merusak mood Kinan? Atau Ammar benar-benar menuntaskan keinginannya, dengan tak mau mencabut laporan tentang kasus Doni?
"Dia akan mencabut perkara ini di kepolisian." Ucap Kinan seraya duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Rey.
Rey terkejut dan mengukuti jejak Kinan, ia duduk disamping istrinya itu. "Maksudnya? Kasusnya tidak akan diperpanjang?"
"Huum."
"Benarkah? Apa dia minta hal aneh padamu dan kamu menurutinya agar kasus ini selesai?"
"Dia tidak minta hal aneh. Percayalah, Mas Ammar juga masih memiliki nurani. Dia sadar diri jika ini semua tidak sepenuhnya kesalahan Doni."
"Kamu memujinya?"
"Haha, aku bukan memujinya, Sayang. Aku mengatakan kebenaran." Kinan tersenyum cerah menatap Rey. Sedangkan lelaki itu mencebikkan bibirnya karena Kinan terang-terangan mengatakan Ammar memiliki hati nurani yang berarti secara tidak langsung Kinan mengatakan jika Ammar sudah berbaik hati. Tapi tiba-tiba Rey mengalihkan pikirannya pada kata-kata Kinan yang lain. Tadi Kinan memanggilnya apa? Ah, Kinan memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' dan itu adalah kemajuan. Rey tersenyum tiba-tiba.
"Kenapa?"
Wajah Kinan memerah, ia hanya refleks mengatakan itu. Ah, bukannya dia pernah memanggil Rey dengan sebutan 'sayang' sebelumnya? Pernah kan? Sepertinya tidak ya? Biasanya Rey yang selalu memanggil 'Sayang' pada Kinan.
"Coba ulangi!" Pinta Rey lagi.
"Sa...yang."
"Manis sekali. Lagi, lagi!"
"Sayang." Kinan sudah lancar dan tidak ragu-ragu lagi, walau wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus.
"Bisakah kamu memanggilku seperti itu setiap hari?" Rey mengerlingkan matanya. Tiba-tiba mood jelek nya tadi berubah menjadi sangat bagus.
Saat mereka asyik bercanda-tawa. Kemunculan seorang wanita tua didepan ruang rawat Ammar membuyarkan semuanya karena Kinan menyadari kedatangan wanita tua itu.
"Nyo..nya?" Kinan bangkit dari duduknya, menutup mulutnya secara refleks ketika ia menatap tubuh tua Latifa yang tak sebugar dulu, wajah wanita tua itu menirus dan lingkaran matanya tampak menghitam. Kinan sedikit terperangah akan perubahan yang signifikan itu.
Wanita tua itu menoleh karena merasa terpanggil, ia menatap Kinan dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba, dalam hitungan detik, wanita itu sudah bersimpuh didepan kaki Kinan, membuat Kinan semakin terkejut begitu juga dengan Rey yang berada disampingnya.
"Nyonya.. Apa yang anda lakukan?" Tanya Kinan sembari mencoba membuat wanita itu berdiri dihadapannya. "Nyonya ku mohon jangan begini." Bias-bias kesedihan mulai muncul lagi diwajah Kinan dan Rey merasakan kejanggalan disini. Rey menduga jika wanita ini adalah Ibu dari Ammar yang sering menyakiti Kinan. Mendadak Rey mengingat Kinan yang dulu. Dulu, Kinan sering menyebut-nyebut wanita ini dalam mimpi buruknya.
"Kinan, aku minta maaf. Aku banyak bersalah padamu. Maafkan aku. Maafkan aku!" Latifa menolak untuk berdiri walau Kinan sudah akan membantunya berdiri. Latifa larut dalam permintaan maafnya dikaki Kinan.
"Nyonya sebaiknya jangan begini. Aku akan mendengarkanmu tapi duduklah disini." Kinan menunjuk kursi tunggu yang ia belakangi.
Setelah beberapa saat, Kinan dan Latifa duduk bersisian dikursi tunggu itu. Latifa melupakan Ammar sejenak karena ia larut dalam perasaan bersalah karena tak sengaja bertemu dengan Kinan. Rey pergi entah kemana setelah Kinan memberi isyarat agar lelaki itu meninggalkan Kinan bersama Latifa untuk saling berbicara.
"Aku merasa sangat berdosa padamu, Kinan. Aku berupaya untuk mencelakaimu bersama Shirly. Tapi sesungguhnya aku tidak tahu apa rencana Shirly selanjutnya waktu itu." Latifa terisak mengenang kesalahannya.
"Jika aku boleh jujur, semua itu memang bertentangan dengan nuraniku. Tapi, rasa dengki dan rasa tidak sukaku padamu membuatku menjadi-jadi. Ampuni aku, Kinan. Aku bersalah padamu!" Lanjutnya.
Kinan kembali menitikkan airmata, ia mengenang masa-masa menyakitkan dalam hidupnya yang berawal dari kerjasama antara Latifa dan Shirly. Kinan mengingat semuanya dengan jelas saat ini, ia ingin melupakan dan memaafkan Latifa tapi entah kenapa semua yang terjadi tidak bisa membuatnya memaafkan begitu saja. Tubuhnya diterlantarkan, menjadi wanita menyedihkan yang diperk-osa, menjadi istri yang tidak dianggap, dituduh berselingkuh, merasakan depresi, mencoba bun-uh diri, hingga berakhir dirumah sakit jiwa. Semua itu tidak bisa hilang dari ingatannya.
Latifa terus saja membujuk Kinan untuk memaafkannya, tapi Kinan seolah tak mendengar lagi suara tangis Latifa yang mendayu-dayu, ia larut dalam pemikirannya sendiri. Kinan seolah ditarik ke masa-masa menyakitkan itu.
"Kinan, jika kamu tidak bisa memaafkan aku sekarang tidak apa-apa. Aku akan mencoba lagi, jika perlu setiap hari aku akan bersimpuh dikakimu agar kau bisa memaafkan aku, Nak."
Kinan tersadar saat Latifa menyentuh pundaknya, ia refleks menyeka air-mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.
"Nyonya, aku tidak membutuhkan permintaan maafmu lagi. Ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya kau mengucapkan itu."
"Kinan, apa artinya kau mau memaafkanku?"
"Belum. Tapi ku harap suatu saat nanti aku bisa memaafkanmu, Nyonya."
"Kinan..." Suara Latifa terdengar lirih.
"Aku harap ini menjadi pertemuan terakhir kita, Nyonya. Karena bertemu denganmu membuatku mengingat masa-masa menyakitkan." Kinan mengakui perasaannya itu didepan Latifa. Bagian mana saat tinggal bersama Latifa yang mampu menyenangkannya atau membuatnya bahagia?
"Tapi Kinan, aku belum mendapat maafmu. Aku akan menemuimu untuk terus meminta maaf sampai kau mau memaafkan aku." Latifa kembali terduduk dengan lututnya dihadapan Kinan.
"Aku akan mencoba membujuk diriku sendiri agar memaafkanmu. Tapi aku tidak tahu itu sampai kapan. Yang jelas, aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Nyonya! Ku harap kau mengerti, karena memang tidak ada momen bahagia antara kita untuk bisa ku kenang agar bisa ku jadikan alasan memaafkanmu." Kinan berkata tegas seraya berdiri. Ia berlari kecil meninggalkan Latifa yang masih terduduk dilantai Rumah Sakit.
Kinan menepi di pojok Rumah Sakit, ia memegang dadanya yang mendadak terasa sesak, melihat Latifa benar-benar membuka luka lamanya. Ia tidak boleh histeris, ia harus menjaga mentalnya lagi. Kinan berusaha mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan. Ia mengelus perutnya pelan, karena mendadak ia mengingat bayi kecilnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, sang suami sudah menelponnya.
"Aku melihatmu, Sayang. Jangan menangis, aku akan menjemputmu disitu. Tunggu aku!" Ucap Rey.
.
.
.
Bersambung...