How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Merintis usaha kembali



Sinta menyambut kedatangan Joana siang ini di Mansion keluarga Doni, ia sedikit mengerutkan dahinya ketika melihat sepupu dari suaminya itu datang dengan penampilan yang tak seperti biasanya.


"Jo, kamu kenapa?" Tanya Sinta saat Joana ingin menutup pintu.


"It's trouble.. I'm in trouble." Jawab Joana lesu seraya berjalan ke arah Sinta yang sedang menggendong bayinya. Sinta terkejut mendengar ucapan Joana tapi belum sempat Sinta bertanya lebih jauh, Joana telah mengalihkan perhatian Sinta dengan menggoda bayinya. "Hy... Chubby!!" Ucap Joana menyapa dan mencubit gemas pipi bayi laki-laki yang adalah anak Sinta dan Doni. Bayi itu merengek manja pada Sinta akibat ulah Joana.


"Humm, Aunty cuma bercanda. Dont cry, Baby!" Joana mencoba membujuk bayi mungil itu. Tapi Sinta kembali menatap Joana dengan pandangan penuh selidik karena Joana tengah memakai Jas yang entah milik siapa.


"Jo, bisakah kamu menceritakan masalah apa yang menimpamu? Dan ini, ini jas siapa?" Tanya Sinta mengabaikan Joana yang tengah menggoda bayi dalam gendongannya.


"Masalahku tentu saja tentang Xander. Apa lagi? Dan ini jas milik Ammar." Jawab Joana.


"Xander? Kamu kembali bertemu dengannya hari ini?" Mata Sinta membola, baru saja ia menceritakan perihal kedatangan Xander pada Doni dan mereka sepakat untuk menyuruh Joana pindah ke Mansion, tapi ternyata Xander telah menemui Joana kembali hari ini. Bukankah pagi tadi Doni sudah menemui Joana? Lalu apa setelah itu Joana kembali bertemu Xander?


"Iya, dia sepertinya menyewa Apartemen yang kosong. Entahlah." Jawab Joana sembari melangkah menuju sofa, kemudian gadis itu bersandar lega disana. Sinta pun menyerahkan Bayinya pada seorang Baby Sitter yang bekerja untuk membantunya merawat bayi.


"Maksudmu? Xander menyewa di gedung yang sama denganmu?" Tanya Sinta mendekat kearah Joana.


"Humm. Bahkan dilantai yang sama. Aku tidak pernah menduganya."


"Dasar laki-laki sakit!" Umpat Sinta. Sedikit banyak, Sinta mengetahui soal Xander karena dulu Sinta dan Joana satu Universitas dibidang kedokteran, hanya saja mereka mengambil specialist yang berbeda. Dan Sinta tahu mereka menjalin hubungan dari sejak remaja. Bahkan sebelum Sinta mengenal Doni dan keluarganya. Sinta lebih dulu mengenal Joana dan Xander saat masih kuliah. Tapi dulunya Sinta tidak begitu dekat dengan Joana.


Joana menyandarkan kepalanya pada sofa, matanya menatap langit-langit. Ia terlalu lelah padahal hari baru beranjak menuju tengah hari.


"Lalu, kenapa kau bisa mengenakan jas Ammar? Ammar ini apakah sama dengan Ammar mantan suami Kinan?" Pertanyaan Sinta membuat Joana gagal untuk menghayal. Joana mengangguk sebagai jawaban untuk Sinta.


"What? Apa kalian dekat?" Pekik Sinta.


"Tidak, dia pasienku akibat rekomendasi dari Rey." Jawab Joana jujur.


"Rey pasti punya maksud terselubung." Gumam Sinta sambil geleng-geleng kecil, tapi Joana mendengarnya.


"Maksud terselubung seperti apa maksudmu?" Joana menegakkan tubuhnya untuk menatap Sinta dengan serius.


"Yah, kamu seperti tidak tahu laki-laki saja, Jo! Jika dia merasa saingannya adalah ancaman, maka dia akan menyodorkan wanita lain supaya saingannya itu berpaling dari tujuan sebenarnya." Jawab Sinta panjang lebar. Sinta merujuk kepada Ammar yang dianggap Rey adalah saingannya. Dan Rey sengaja membuat Ammar dan Joana dekat agar Ammar berpaling dan melupakan Kinan. Cari aman-begitu pikiran Sinta.


"Maksudnya?" Joana mengernyit.


"Jo, haruskah ku perjelas? Pikirkan saja sendiri." Sinta berdiri ingin meninggalkan Joana yang gagal paham akan maksud dari ucapannya. Padahal dia sudah merasa menjelaskan dengan jelas pada Joana tapi Joana kadang tidak bisa mencernanya, lain halnya jika bekerja, Joana akan sangat peka sebagai seorang psikiater.


"Tunggu, kau harus jelaskan maksud terselubung Rey. Apa ada kaitannya denganku?" Joana memekik kearah Sinta yang berlalu sambil kembali geleng-geleng kepala melihat kepolosan sikap Joana. Sinta terus berjalan tanpa memedulikan lagi pekikan suara Joana yang memenuhi ruang tamu itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Jadi, kau mau mulai usaha dibidang software lagi?" Rey menatap serius kearah dokumen proposal yang ditunjukkan oleh Ammar. Mereka akan memulai kerjasama sekarang, sesuai saran Rey dan tentunya disetujui oleh Ammar yang baru merintis usaha kembali.


"Iya, ku rasa itu akan berkembang pesat, sesuai dengan bidangku." Ucap Ammar mantap.


Rey menatap ke arah Ammar seraya tersenyum miring. "Kau bisa ku andalkan! Aku akan menanam saham di perusahaan yang kau kelola." Ucap Rey serius.


Ammar terkekeh renyah, "Perusahaan apa? Aku tidak punya perusahaan, Rey! Aku akan memulainya di Ruko dua lantai yang ku sewa." Jawab Ammar seraya terus terkekeh.


"Sorry, aku tidak bermak--"


"Tak apa, kau juga tidak tahu sebangkrut apa diriku ini. Bahkan untuk membeli mobil tua pun aku belum sanggup."


Rey mendengus. Mengusap kasar wajahnya dengan asal. "Kau tidak usah cerita panjang lebar. Aku tahu, hanya saja aku hampir lupa." Ucap Rey mencoba ikut terkekeh, ia merasa miris dengan jalan hidup Ammar. "Oh ya, kenapa kau menunda pertemuan kita kemarin? Kau jadi bertemu dengan Joana di Apartement-nya?" Tebak Rey mengingat kemarin Ammar menanyakan alamat Joana padanya, ternyata klien yang dimaksud Ammar--yang akan ditemuinya kemarin adalah Rey.


"Aku bertemu dengannya, Maaf karena kemarin membatalkan pertemuan kita."


"No Problem! Aku punya banyak waktu." Ucap Rey, ia menutup lembar proposal yang sempat ia baca tadi.


"Terima kasih."


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Selamat bekerja keras membangun perusahaanmu yang baru di gedung yang akan ku pinjamkan." Jawab Rey. "Dan ruko dua lantai yang kau sewa, gunakanlah itu untuk usaha yang lain." Sambungnya.


"Tapi Rey, itu terlalu berlebihan. Ruko itu sudah lebih dari cukup untukku."


"Aku tidak yakin, tapi mungkin bisa menggunakan SDM yang baru." Jawab Ammar dengan nada penuh keraguan.


"Kau boleh menggunakan SDM yang baru, tapi untuk melonjakkan usahamu kau juga butuh orang-orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya, dengan menempati gedung yang layak, maka orang-orang itu akan datang dengan sendirinya untuk mencarimu tanpa perlu kau minta." Ucap Rey dan Ammar mengangguk setuju. Rey bisa memperhitungkan itu dan sebenarnya Ammar juga sudah memikirkannya tapi apalah daya dia hanya bisa menyewa Ruko kecil untuk memulai usaha yang baru.


"Aku benar-benar merasa sungkan padamu sekarang." Ucap Ammar tulus.


"Asal kau tidak menghianati kepercayaanku, maka aku akan siap membantumu."


"Sekali lagi terima kasih banyak, Rey. Kau pengusaha yang pintar dan murah hati. Kau tidak Arrogant. Pantas saja perusahaan keluargamu semakin berkembang pesat saat kau yang mengendalikannya."


Mereka pun larut dalam pembicaraan seputar pekerjaan. Sampai suara ponsel Rey menghentikan pembicaraan mereka.


"Hallo.."


"....."


"Apa? Kenapa?"


"...."


"Ada-ada saja, iya nanti gue kesana." Ucap Rey lalu mengakhiri panggilan telepon itu.


"Coba kau tebak, siapa yang meneleponku?" Tanya Rey pada Ammar, Ammar menggeleng dengan cepat.


"Doni.." Jawab Rey.


"Doni? Orang yang dulu pernah menabrakku?" Ucap Ammar menerka.


"Iya." Rey menggelengkan kepalanya. "Kenapa dia selalu harus berurusan dengan kantor polisi?" Gumam Rey.


"Apa dia menabrak orang lagi?" Tanya Ammar.


"Bukan, ini permasalahan sepupunya." Ucap Rey datar.


"Sepupunya menabrak orang?"


"Haha, bukan itu." Rey tampak berpikir sejenak. "Ah, kau kan mengenal sepupunya Doni, sepupunya Doni adalah Joana." Ucap Rey.


"Ada apa dengan Joana?" Ammar berdiri dari duduknya, ia terkejut karena baru kemarin dia menolong Joana di Apartement.


"Joana memiliki mantan kekasih yang gila." Rey terkekeh. "Mereka melaporkannya ke kantor polisi, tapi Doni selalu saja tidak bisa meng-handle masalahnya sendiri, dia pasti akan melibatkan aku atau Kevin." Rey menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan Doni yang sudah membina Rumah Tangga tapi tetap harus dibarengi bantuan dari Rey.


"Jadi Joana melaporkan lelaki itu?" Tanya Ammar tak merasa kaget.


Sekarang malah Rey yang tampak terkejut. "Kau mengetahuinya? Kau mengenal lelaki mantan kekasih Joana itu?" Tanya Rey.


"Aku tidak mengenalnya, kemarin aku yang menemukan Joana di Apartementnya saat dia melarikan diri dari lelaki itu." Jawab Ammar panjang lebar.


"Wah, mantannya benar-benar orang gila?" Rey terkikik geli, ia tak habis pikir.


"Bukan orang gila seperti yang ada dipikiranmu, Rey! Lelaki itu sepertinya seorang Psikopat!" Jawab Ammar.


"Wah kau dan Joana benar-benar sudah dekat sekarang? Kau mengetahui segalanya termasuk mantannya." Rey menaik-naikkan alisnya, menggoda Ammar.


"Hahaha, tidak juga. Dia menceritakan begitu saja saat aku ingin tahu."


"Good Job!" Rey menepuk-nepuk pundak Ammar. "Teruskan!" Sambungnya sambil menahan tawa yang hampir meledak, tidak sia-sia dia mendekatkan Ammar dengan Joana-pikirnya.


"Apanya yang diteruskan?" Tanya Ammar menatap heran ke arah Rey.


"Pendekatan kalian." Ucap Rey seraya kembali terkekeh, sementara Ammar hanya menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar ucapan Rey.


...Bersambung......