
Rey gegas mengendarai mobilnya, ia ingin segera menemui Kinan. Tidak ada waktu lagi, sebelum Kinan berubah pikiran untuk bertemu dengannya, ada baiknya Rey mengakui semua kesalahannya sekarang. Lagi pula, Rey merasa merindukan gadis itu.
Mobil Hummer H3 putih itu melaju dengan sangat kencang, Rey tak mau melewatkan ini. Ia sudah bertekad untuk berterus-terang pada Kinan hari ini. Sesampainya didepan gedung yang menjulang tinggi itu, Rey melemparkan kunci mobilnya pada security, agar mobil itu diparkirkan ke basement oleh pihak security.
Rey melangkah masuk melalui lobby utama, dengan tergesa menyeret langkahnya menaiki Lift dan menuju lantai 23. Entah kenapa waktu seakan berjalan lambat untuk sampai di lantai itu.
Ting'
Lift berdenting, Rey telah sampai di tujuannya. Ia memutar arah untuk menuju kediamannya yang ia yakini sudah didatangi oleh Kinan seorang diri. Rey ragu untuk menekan password apartment miliknya sendiri, karena lagi-lagi ia yakin Kinan sudah berada didalam sana. Rey ingin mengetuk pintu saja, untuk menghargai Kinan. Namun, Rey takut jika Kinan tahu bahwa Rey sudah mengetahui kedatangan dan keberadaan Kinan didalam Apartment-nya. Akhirnya dengan berat hati, Rey menekan juga angka-angka itu dan masuk seolah tak menyadari kehadiran Kinan disana.
-
Kinan tertegun dengan pemandangan didepannya, lelaki yang ia tunggu dan ingin ia temui hari ini akhirnya datang juga walau sebelumnya mereka tidak membuat janji temu satu sama lain.
Rey menatap lurus ke arah Kinan. Wanita yang beberapa bulan kebelakang selalu memenuhi pikirannya. Wanita yang entah kenapa ia rindukan kehadirannya. Pandangan mata mereka bertemu seolah terkunci satu sama lain, membentuk sebuah garis lurus jika disejajarkan. Tidak ada satupun yang memulai untuk bersuara, hanya larut dalam pandangan itu. Entah apa juga yang ada dibenak mereka masing-masing.
"Kinan.." Suara Rey lebih dulu mendominasi. Ia menahan getaran yang tiba-tiba muncul difrekuensi suaranya.
Kinan yang awalnya menatap intens wajah lelaki itu, kini mulai menundukkan pandangannya. Ia seolah tak sanggup menatap wajah teduh lelaki dihadapannya. Rey mendekat mencoba memangkas jarak yang cukup jauh diantara mereka.
"Kinan, kamu kemana saja?" Tanya Rey mencoba berbasa-basi walau sebenarnya ia tahu Kinan kemana. Ia merasa jijik dengan ucapannya sendiri.
"A-aku ingin menanyakan sesuatu!" tembak Kinan langsung pada poin-nya.
"Tanyakanlah, dan aku akan menjawab sebisa ku!"
"Be-berjanjilah untuk menjawab dengan jujur!" suara itu terasa bergetar. Rey mengangguk. Wajah wanita itu mulai memerah. Sementara Rey semakin melangkah dekat kearah Kinan. Tapi Kinan refleks mundur untuk menjauh. Ia mulai bersikap menjaga diri. Ketakutan.
"Apakah, apakah--" Kinan tidak bisa melanjutkan pertanyaannya, ia ingin menanyakan 'apakah lelaki itu adalah kau?' Tapi ia tak kuasa, airmatanya sudah lebih dulu mengalir setetes demi setetes membasahi pipi mulusnya.
"Tanyakanlah Kinan!" Rey meyakinkan Kinan untuk kembali bertanya padanya. Rey ingin melihat sejauh mana Kinan mengingat semuanya dari sudut pandang wanita itu sendiri.
Kinan menggeleng, ia seperti berfikir dan sedetik kemudian ia bersuara lagi.
"Tidak, aku tidak akan menanyakan apapun! Kau yang harus membuat pengakuan tanpa pertanyaan dariku!" Kinan menatap lekat lelaki itu. Rey mengangguk-angguk mengerti. Satu kalimat, lelaki dengan mata elang dan alis tebal itu, dia tampan! Ah, Kinan menepis pujian yang tiba-tiba melintas di kepalanya itu, ia ingin memfokuskan diri pada kalimat yang baru saja ia lontarkan.
"Baiklah, jika kau ingin sebuah pengakuan!" Jawab Rey kemudian. Rey menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya.
Rey berjalan lagi, perlahan semakin mendekat ke tempat Kinan berdiri, Kinan juga secara refleks terus mundur untuk menjaga jarak dengan lelaki didepannya. Entah kenapa alarm dalam dirinya seakan memintanya untuk menjauh.
Rey berhenti melangkah ketika Kinan tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah menyentuh dinding.
Rey mulai membuka mulut untuk bersuara.
"Ki, jika kau ingin bertanya siapa lelaki baj*ngan yang telah merusak hidupmu.."
Rey menjeda ucapannya untuk menarik nafas, seolah ingin mengatur irama jantungnya yang bergenderang.
"Lelaki itu, adalah... lelaki yang sama dengan yang ada dihadapanmu saat ini!" Akhirnya Rey mengutarakan dan mengakuinya didepan Kinan.
Kinan membungkam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Matanya menyiratkan keterkejutan dan airmatanya semakin bercucuran. Wajah putih itu memerah seketika.
"Aku, aku adalah lelaki br*ngs*k itu, Ki!" Tiba-tiba Rey terduduk lemah dihadapan Kinan yang masih berdiri karena ia menyesali semua perbuatannya dihadapan Kinan.
Kinan terisak, ia sudah menduga ini tapi kenapa rasanya terlalu sesak ketika mendengar kejujuran dari mulut lelaki ini. Kenapa ia harus marah dan iba disaat yang bersamaan melihat Rey bertumpu dengan lututnya sendiri dihadapan Kinan. Kinan kehabisan kata-kata, ia ingin marah dan memaki Rey sekarang juga. Tapi, kenapa mulutnya seakan tak bisa mengeluarkan suara.
"Stop! ja-jangan sentuh aku!" tegas Kinan sambil menghindar.
"Ki..?"
"Berdirilah, kau tidak pantas untuk mendapat maafku. Kau sudah menghancurkan hidupku. Semuanya!" Kinan seakan tak mau menatap wajah Rey lagi. Airmatanya tak kunjung berhenti. Dan entah kenapa ia malah menangisi lelaki ini, kecewa. Kenapa ia harus kecewa pada Rey? Apa Kinan terlalu menjunjung tinggi lelaki itu selama ini? sampai-sampai ia tak yakin jika Rey tega melakukan semua itu padanya.
Kinan bergegas menuju ke arah pintu keluar, ia ingin segera meninggalkan tempat terkutuk ini.
"Kinan, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?" Suara Rey menghentikan Kinan yang akan memutar knop pintu.
Kinan berbalik, melihat Rey sekilas dan berusaha tersenyum.
"Aku akan memaafkanmu jika kau sudah merasakan luka yang sama seperti ku. Apa kau bisa?" Kinan menatap Rey dengan tatapan yang meremehkan.
"Katakan apa yang bisa membuatmu terluka?" Tanya Kinan lagi.
"Kinan, aku--"
"Tidak ada kan? Karena lelaki baj*ngan sepertimu tidak tau apa artinya luka!" Kinan berbalik dan segera keluar dari ruangan itu, membawa rasa sakit hatinya yang teramat dalam.
Rey tak tinggal diam, ia mengejar Kinan keluar.
"Kau salah jika mengira aku tidak mengerti artinya luka!" lagi-lagi suara Rey menghentikan langkah Kinan yang tergesa.
"Aku akan melakukan apapun untuk dapat maaf darimu!" Sambung Rey lagi.
"Kalau begitu, silahkan terluka! dan jangan pernah bertemu lagi denganku!" Jawab Kinan tanpa menoleh sedikitpun pada Rey yang berdiri dibelakangnya.
"Aku tidak bisa jika tidak bertemu denganmu, Kinan...aku--" Ucapan Rey terhenti karena Kinan sudah masuk ke dalam Lift. Dengan segera ia ikut menyelinap masuk kedalam lift yang sama dan hanya ada mereka berdua didalamnya.
Hening.
"Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku, Ki!"
Kinan mendengus, kini ia menatap Rey dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku akan menikahimu!"
Plak!! Kinan menampar Rey sebelum akhirnya ia keluar dari Lift yang telah berhenti dan terbuka. Ia meninggalkan Rey begitu saja. Rey memegang pipinya yang panas akibat tamparan Kinan, ia mengaku lemah dihadapan wanita itu. Ia tak bisa mengejar Kinan lagi. Rey akan memberikan waktu untuk Kinan agar wanita itu memikirkan kata-katanya.
.
.
.
.
.
Bersambung...