How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Karma untuk Shirly



"Ah, gue ingat sekarang!" Celetuk Doni ditengah-tengah perjalanannya menuju pulang, ia dan Joana baru saja selesai mengantarkan Kinan ke rumah yang Kinan tinggali selama berada di London.


"What's wrong, Don? Kau mengejutkanku." Joana menyentuh dadanya sebagai bentuk keterkejutan. Bagaimana ia tidak terkejut, beberapa menit berlalu dengan keheningan diantara mereka berdua didalam mobil itu.


"Sorry, aku hanya mengingat pertemuanku dengan Kinan." Ungkap Doni sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Hah? Maksudmu kau mengingat pertemuanmu dengan Kinan tadi? Lalu apa itu begitu spesial bagimu?" Joana menatap serius pada Doni.


Doni menggeleng, "Bukan pertemuan yang tadi, tapi aku mengingat pertemuan kami yang sebelumnya." Doni melirik Joana yang masih menatapnya.


"Jadi kau dan Kinan benar-benar pernah bertemu sebelumnya? Haha..aku pikir itu hanya akal-akalanmu saja!" Joana terkekeh lagi diujung kalimatnya.


"No! Aku sudah ingat dan memang kami pernah bertemu sebelum hari ini. By the way, bagaimana kau bisa mengenalnya?" Doni tampak amat penasaran.


"Dia salah satu pasienku."


"Pasien? Apa dia... emm, maksudku apa dia termasuk yang mengalami depresi seperti para pasienmu yang lain? Kenapa?" Doni benar-benar penasaran, ia ingin tahu apakah Kinan begini akibat dari perbuatan Rey waktu itu.


"Ya begitulah." Jawab Joana enteng.


"Begitulah bagaimana, Jo? Coba jelaskan secara rinci padaku!" Pinta Doni pada Joana.


"Kau begitu penasaran dengannya. Jangan bilang kau tertarik padanya, Don!" Joana memutar bola matanya. Malas, melihat tingkah tengil Doni yang tak lepas dari kata 'Playboy'.


Doni menarik nafas dalam sembari menghembuskannya. "Bukan begitu, Jo. Aku hanya ingin membuktikan bahwa yang ada dipikiranku tidak benar. Please, katakan apa yang membuat Kinan depresi?" Mobil yang dikendarai Doni mulai memasuki Mansion keluarga Joana dan perlahan mulai melambat.


Joana menggeleng cepat. "I can't tell you, Don. It's my patient's privacy! Aku tidak bisa."


Doni memukul setir mobilnya dan lagi-lagi membuat Joana terkejut lalu menatapnya heran.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau begitu ingin tau? Explain to me!" Ucap Joana sambil membuka pintu mobil dan keluar dari sana, Doni pun melakukan hal yang sama karena mereka telah sampai di depan Mansion.


Doni memijat pangkal hidungnya seraya bersandar di pintu mobil. Ia tak mungkin memberitahu Joana begitu saja tentang apa yang terjadi pada Kinan, karena hal yang pernah Kinan alami itu berkaitan dengan sahabatnya. Itu juga adalah privasi Rey yang tak bisa dia umbar dengan gampangnya.


"Don, cepat katakan!" Joana menuntut penjelasan Doni. Ia bersedekap dada dihadapan sang sepupu.


Doni menggeleng. "Sudahlah, jika kau tidak ingin memberitahuku tentang Kinan, aku juga tak bisa bercerita!" Ungkap Doni lesu.


Joana merengut. Bibirnya mencebik dan melihat Doni dengan malas. Ia melangkah masuk ke dalam dan meninggalkan Doni yang masih bingung dengan semua keadaan yang ada.


Seperginya Joana, Doni mengambil ponsel yang ada disaku celananya dan membuat panggilan pada satu nama yang tertera disana.


"Nyuk, lo dimana?" Begitu telepon itu tersambung, Doni langsung berbicara.


"Gue di Kantor. Lagi siap-siap mau pulang bentar lagi. Kenapa emang?" Tanya Rey dari seberang sana.


Doni melihat jam yang melingkar di tangannya, mencocokkan waktu. Ya benar, di Indonesia masih sore sekarang.


"Tumben banget lo nelpon gue, Dal. Kenapa lo?" Tanya Rey lagi.


"Gue mau nanya sama lo, lo udah tau belum kalo cewek yang lo cari-cari sekarang ada di London?"


"Maksud lo? Kinan?"


"Jadi benar cewek yang lo cari itu namanya Kinan?"


"Tunggu, tunggu..! ini maksudnya apa, Kadal? Lo jelasin sama gue sekarang!"


Doni menjelaskan detail pertemuannya dengan Kinan hari ini dan ia juga mengatakan jika Kinan sekarang sedang dirawat oleh Joana, sepupunya yang seorang Psikiater.


Rey mendessah lega dari seberang sana, seulas senyuman terbit dari ujung bibirnya. Ia mengucapkan banyak terimakasih pada Doni atas informasi ini.


Doni memang mengetahui sedikit banyak tentang permasalahan Rey, karena sejak awal Doni juga ikut menolong Kinan pada waktu itu dan Rey sempat mengatakan ingin mencari wanita yang telah ia nodai karena ia merasa bersalah. Maka dari itu Doni memutuskan menelpon Rey saat ini.


Tapi, Doni tak pernah tahu jelas apa lagi yang terjadi setelah kejadian itu karena ia berada di London. Dua sahabatnya, Kevin dan Rey yang mulai sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing, tak pernah menceritakan perihal apalagi tentang gadis itu, jadi Doni benar-benar tak tahu kondisi Kinan. Bahkan, namanya pun Doni baru mengetahuinya hari ini karena dikenalkan oleh Joana.


Rey, Kevin dan Doni, mereka hanya saling mengabari satu sama lain sesekali itupun hanya untuk menanyai kabar, tak pernah menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan pribadi mereka karena menganggap masing-masing tengah sibuk dengan dunia kerja.


"Pa, bagaimana dengan wanita bernama Shirly itu? Apa Papa sudah membebaskannya?" Tanya Rey pada Papanya. Saat ini mereka berdua dalam ruangan sang Ayah yang berada di kantor yang sama dan bersiap untuk pulang. Entah kenapa Rey ingin pulang bersama-sama hari ini.


"Papa sudah membereskannya." Ucap Pria itu sambil tersenyum miring.


"Apa yang Papa lakukan padanya?" Rey menatap curiga.


"Tak ada, hanya memberinya sedikit pelajaran sebelum membebaskannya."


"Baiklah jika begitu." Rey tak mau mempermasalahkan itu lagi, karena ia ingin lebih fokus pada informasi yang baru saja ia dapatkan dari Doni.


"Pa, pabrik kita yang di Seoul ada sedikit masalah. Jika Papa tidak keberatan, aku akan pergi kesana untuk melakukan survei dan peninjauan!" Ucap Rey sambil melangkah keluar ruangan.


"Kenapa kau harus repot-repot kesana? Lagian itu hanya pabrik kecil. Kau urus saja perusahaan yang ada disini."


Rey berdecak lidah. "Aku harus memulai sesuatu dari yang kecil dulu, Pa. Bukankah dari dulu Papa selalu mengajarkan aku untuk berusaha dulu?" Rey menatap sang Papa dengan serius.


"Baiklah, segera berangkat kesana besok. Pinta Ardi mengurus penerbanganmu!"


"Tidak usah, Pa. Aku akan mengurus semuanya sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri." Mereka berdua melangkah masuk ketika lift sudah terbuka.


"Baiklah, terserah kau saja!"


Rey tersenyum miring, ia menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul di cermin yang ada didalam lift. Ia sudah merencanakan sesuatu yang kini ada dikepalanya.


____


Shirly berjalan terseok-seok. Seseorang telah menelantarkan tubuh lemahnya di semak-semak yang jauh dari pemukiman warga. Badannya amat lemas sejak ia sadar tadi. Ia tak mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya. Ia hanya mengingat beberapa. Seperti pernah berada dalam gudang atau semacam ruangan gelap.


Shirly mencoba mengingat lagi tapi entah kenapa ia merasa sakit kepala ketika mencoba mengingat sesuatu. Ia kembali melanjutkan perjalanannya, berharap ada seseorang yang lewat atau kendaraan yang berlalu-lalang yang bisa menolongnya.


Shirly mencoba menyetop beberapa mobil yang lewat tapi tidak satupun diantara mobil-mobil itu yang terlihat ingin berhenti dan membantunya. Mereka hanya melewatinya begitu saja.


"Tolong aku.." Teriak Shirly dengan suara parau.


Beberapa kali ia melakukan hal yang sama sampai ada sebuah mobil box yang berhenti dan menolongnya.


"Aku ingin menumpang sampai ke kota." Ucapnya. Pria yang menjadi supir dari mobil box itu memperhatikan penampilan Shirly dari atas sampai bawah dan ia menyeringai penuh maksud.


Shirly tanpa pikir panjang segera masuk kedalam kursi penumpang disamping sang supir setelah supir itu mengangguk.


"Kau mau kemana, cantik?" Goda Supir itu setelah mobil mulai melaju.


"Antarkan aku ke kota. Aku akan membayarmu setelah aku sampai ke tujuanku!" Ucapnya sambil terengah-engah akibat lelah.


"Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu!" Pria itu kembali menyeringai.


"Apa maksudmu? Kau jangan bermain-main padaku!" Shirly mulai kesal ketika ia menangkap maksud dari kata-kata sang Pria berbadan gempal itu.


"Aku akan mengantarmu dan meminta bayarannya dengan tubuh-mu!" Pria itu mengerlingkan matanya ke arah Shirly dan tersenyum nakal.


Shirly ingin melawan ketika pria itu mulai menggerayangi paha mulussnya.


"Jaga kelakuanmu, bodooh!" Umpat Shirly. Pria gempal itu menatapnya kesal dan mulai menepikan mobil ketika memasuki kawasan yang sunyi dan sepi. Suasana sekitar hampir senja, membuat kawasan yang hampir sepenuhnya ditumbuhi pepohonan ini tampak gelap.


Shirly mulai ketakutan dan ia berontak ingin keluar dari mobil tapi sayangnya ia kalah tenaga oleh pria itu. Sedari awal ia sadar, ia memang sudah lemas dan kalaupun ia memiliki energi yang penuh, tenaganya tetap akan kalah jika harus melawan kekuatan pria dihadapannya.


.


.


.


Bersambung...