
Kinan melepaskan tangan Rey yang menggenggam tangannya. Rey menatap Kinan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rey menggeleng kearah Kinan sebagai isyarat agar Kinan tak usah mendengar bualan Ammar.
"Apa kau memiliki bukti jika Mas Rey yang sudah memperk*sa ku, Mas?" Tanya Kinan pada Ammar.
"Bukti? Aku memang tak punya bukti karena semua bukti yang ku cari lenyap entah kemana. Tapi aku yakin dia adalah orangnya, Ki!" Jawab Ammar menggebu-gebu.
Kinan tersenyum kecil, sementara Rey masih tak mengerti apa maksud Kinan menanyakan itu pada Ammar. Bukankah Kinan memang sudah jelas tahu jika memang Rey-lah pelakunya?
"Kenapa kau bisa yakin begitu jika tidak memiliki bukti, Mas?" Kinan terus tersenyum menatap Ammar, ia bersikap tenang dan tak ada emosi disana. Padahal Ammar berharap Kinan percaya ucapannya dan marah pada Rey.
"Karena tiba-tiba dia muncul di kehidupanmu dan dirumah tangga kita!" Ucap Ammar yakin.
Kinan menggeleng pelan, kemudian ia menatap Mona yang terpaku melihat semua kejadian ini.
"Jika kau sudah tidak ada urusan lagi disini, sebaiknya kau pulang saja!" Ucap Kinan beralih pada Mona. Ia mengusir Mona karena tak bisa lagi menutupi rasa tak sukanya pada wanita itu. Mona mencebik dan ia terlanjur malu untuk terus menguping dan berdiri disana. Ia masuk kedalam mobil sambil mengerucutkan bibirnya.
Setelah Mona pergi, Kinan berjalan semakin mendekat kearah Ammar membuat Rey terkejut sekaligus takut jika Kinan akan goyah dan berubah pikiran.
"Aku sudah ingat semua yang terjadi padaku waktu itu." Ucap Kinan pada Ammar dan Rey pun mendengarnya.
"Benarkah? Lalu benar kan kalau dia pelakunya?" Tanya Ammar semringah. Kinan membalas senyuman Ammar dengan senyuman yang penuh maksud.
"Aku bisa membantumu menjebloskannya ke penjara, Kinan!" Ucap Ammar semangat.
"Apa itu bisa?" Tanya Kinan dengan nada yang dilebih-lebihkan. Ia memberi harapan besar pada Ammar dan jelas Ammar senang dengan respon Kinan saat ini. Ia seperti memiliki kesempatan untuk kembali bersama dengan Kinan.
"Tentu saja tidak bisa!" Kinan menjawab pertanyaannya sendiri seraya tergelak dihadapan Ammar. Ammar mengernyit heran karena tak mengerti maksud Kinan. Begitu pula dengan Rey.
"Dia tidak akan masuk penjara, Mas! Karena setelah ku ingat, waktu itu aku mabuk. Aku juga bersalah. Kami melakukannya atas dasar keinginan bersama." Bisik Kinan pelan, tepat ditelinga Ammar. Wajah Ammar mendadak pias.
Rey memperhatikan wajah pias Ammar, karena ia tak mendengar apa yang Kinan bisikkan pada pria itu.
"Apa yang kau katakan padanya, Kinan? Jika kau ingin menuntutku ke penjara saat ini, aku pasrah asal kau jangan pernah kembali padanya." Batin Rey.
Ammar terdiam dan Kinan segera menjaga jarak dari pria itu.
"Kau tidak mengatakan hal itu padaku dulu?" Tanya Ammar dengan lesu. Ia seperti tak bergairah lagi sekarang. Rey menjadi curiga apa yang sebenarnya Kinan katakan pada Ammar tadi.
"Ya, karena dulu aku tidak ingat apapun. Dan aku juga baru tau beberapa bulan belakangan jika Shirly membuangku di belakang Club Malam setelah memberi sesuatu kedalam makananku." Jelas Kinan dengan tenang.
Ammar menunduk, mungkin ia malu jika ulah Shirly itu juga ada kaitannya dengan ulah ibunya sendiri.
"Tapi aku sudah mengingat semuanya sekarang, Mas. Dan aku minta maaf jika ulahku pada saat itu menyakitimu. Aku dalam keadaan tidak sadar." Ucap Kinan lagi.
"Apa yang kau bicarakan dengannya?" Bisik Rey pada Kinan dan Kinan hanya tersenyum menatap Rey yang kebingungan.
"Jadi itu semua bukan kesalahan Rey, melainkan itu kesalahan mereka berdua?" Batin Ammar berkata-kata setelah mencerna semua yang terjadi.
Ammar kembali menatap Kinan setelah tertunduk beberapa menit.
"Jadi apa keputusanmu, Ki?" Tanya Ammar dengan suara terendah.
"Keputusanku?" Kinan menatap Ammar kemudian menatap Rey yang terdiam. "Tentu saja aku akan menikah dengan Mas Rey. Aku sedang mengandung anaknya. Aku yakin kau pun mengetahuinya sekarang!" Jawab Kinan dengan nada pongah. Rey sampai menggelengkan kepalanya pelan akibat terkejut melihat Kinan yang bisa-bisanya menyombongkan hal itu dihadapan Ammar. Rey tidak menyangka jika Kinan bisa bersikap seperti itu. Tapi Rey bahagia sekarang mendengar keputusan yang Kinan berikan.
"Baiklah." Jawab Ammar seraya melangkah gontai menuju mobilnya yang terparkir diluar gerbang.
"Maafkan aku, Kinan. Jika selama ini bersikap buruk padamu. Dan maafkan juga kesalahan ibuku." Ammar menoleh kearah Kinan dan Rey. Kinan mengangguk dan segera berbalik sendirian menuju pintu masuk rumah. Rey baru menyadari ia ditinggal Kinan setelah Kinan melangkah sedikit jauh dari posisinya, lalu Ia pun ikut masuk menuju rumah.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Bulan bersinar dengan terangnya malam ini, angin malam pun berhembus pelan. Suasana tenang tengah dirasakan Rey yang kini duduk di beranda belakang rumahnya. Ia tengah sibuk mengerjakan pekerjaan yang sempat ia tinggalkan beberapa waktu lalu hanya untuk pergi ke London.
Di dalam kamar membuatnya jenuh, dari siang ia sudah berkutat didepan laptop, membuatnya pening karena harus menatapi layar datar itu hampir setengah hari.
"Mas.." Suara Kinan menghentikan aktifitas Rey sejenak. Ia menatap Kinan yang menghampiri sambil membawa nampan berisi minuman.
"Kamu bawa apa?" Tanya Rey lembut. Dan Kinan menyajikan kopi ke atas meja yang ada dihadapan Rey. "Minum kopinya, Mas!" Jawab Kinan seraya meminta Rey untuk meminum kopi buatannya. Rey menyunggingkan senyum dan sedetik kemudian ia menyesap perlahan kopi itu.
"Ini sudah larut, kenapa belum tidur?" Tanya Rey pada Kinan yang duduk tak jauh dari posisinya.
Kinan menggeleng. "Gak bisa tidur, padahal ngantuk!" Jawab Kinan jujur.
Rey menutup laptopnya, ia bangkit dan mendekat kearah Kinan, lalu duduk disamping wanita itu. "Kenapa? Sedang ada yang kamu pikirkan?" Tanya Rey sambil menatap Kinan lekat-lekat.
"Ngapain mikirin aku. Aku disini, disamping kamu!" Jawab Rey seraya mencubit kedua pipi Kinan dengan gemasnya.
"Aw..." Kinan refleks memukul pelan kedua tangan Rey agar ia melepas cubitan itu, Rey tertawa renyah.
"Mas, aku gak suka Mona masih datang kesini karena masih mengharapkan kamu!" Ucap Kinan jujur.
"Oh, jadi kamu mikirin Mona bukan aku?" Ejek Rey. "Kamu cemburu?" Goda Rey lagi yang membuat wajah Kinan memerah.
"Bukan gitu!" Kinan bersedekap dada. Mendadak ia grogi dilihat Rey dengan jarak sedekat ini.
"Terus?"
"Ya aku merasa gak adil aja, Mas. Kamu punya mantan pacar, malah banyak lagi. Sementara aku sama sekali gak pernah pacaran. Kan gak adil!"
Rey terkekeh mendengar pernyataan Kinan. "Ternyata lucu juga ya kalau lagi cemburu." Batin Rey ikut terkekeh.
"Ya, jadi kamu mau punya mantan pacar gitu? biar sama kayak aku?" Tanya Rey bercanda tapi Kinan malah mengangguk. Rey melotot kearah Kinan dan Kinan refleks tertawa.
"Lagian kamu jangan aneh-aneh, Ki! Aku memang punya mantan pacar. Tapi kan kamu juga udah punya mantan suami.." Rey nyengir dengan ucapannya sendiri. Kinan berfikir sejenak kemudian mengangguk setuju dengan pernyataan Rey.
"Iya juga ya, Mas. Kalau aku nuntut mau punya mantan pacar kayak kamu, kamu jangan nuntut punya mantan istri ya, biar sama kayak aku!" Kinan kembali mengerucutkan bibirnya, Rey tertawa terpingkal-pingkal melihat dan mendengar ucapan Kinan.
"Kok kamu ketawa? Aku serius, Mas!" Ucap Kinan. Rey malah memegangi perutnya sanking merasa lucu atas semua ucapan Kinan.
"Kamu lucu!" Jawab Rey jujur dan Kinan malah makin merengut.
"Iya, iya...Maaf aku kelepasan ketawanya." Jawab Rey seraya menarik Kinan kedalam rangkulannya.
"Ya udah sih, aku mau tidur!" Jawab Kinan cuek. Ia ingin beranjak, tapi Rey menarik tangannya dengan cepat. Kinan yang tidak siap malah terduduk dalam pangkuan pemuda itu.
"Mas.." Kinan merasa canggung dalam posisi ini.
"Sekarang aku tanya kamu hal serius!" Ucap Rey. Wajahnya berubah menjadi serius dan tawanya sudah hilang tak terdengar.
"Apa?" Kinan menatap sembarang arah karena tak berani menatap mata hazel milik Rey. Ia masih saja gugup jika berhadapan dengan pemuda ini.
"Apa yang kamu bilang sama Ammar, sampai dia mundur teratur seperti tadi?" Tanya Rey, ia berusaha membuat Kinan menatapnya. Rey menangkup wajah Kinan agar kepala wanitanya ini tak bergerak kemana-mana dan hanya fokus menatap padanya.
Kinan menggeleng. "Tidak ada." Jawab Kinan berbohong dan Rey berdecak melihatnya.
"Apa, Ki?"
"Gak ada."
"Kalau kamu gak mau bilang..." Rey menjeda ucapannya dan malah mengelus pipi Kinan dengan jemarinya. Kinan meremang karena ulah Rey. Ia ingin bangkit dari posisi itu tapi Rey menahan pinggang Kinan dengan tangan yang satunya lagi.
"Mas.." Kinan ingin protes, karena kini jemari Rey malah memainkan bibirnya dengan gemas.
"Makanya bilang.." Ucap Rey dengan suara parau.
"E-ehh iya. Aku bilang tapi lepasin dulu." Kinan mengambil tangan Rey yang melingkari pinggangnya dan melepaskan itu dengan perlahan dan Rey pun menurut.
"Aku bilang sama Mas Ammar kalau... aku...." Kinan bangkit perlahan-lahan dan berdiri sambil menunjukkan sederetan giginya yang rapi. "Aku mau tidur." Ucap Kinan cepat dan ia setengah berlari untuk menghindari Rey.
"Kinan!" Rey memanggil Kinan untuk menuntut jawabannya.
Kinan terus saja berjalan cepat untuk menuju kamarnya karena ia tak mau mengatakan pada Rey apa yang telah ia katakan pada Ammar sore tadi.
"Ki..."
Kinan tak peduli Rey memanggil-manggilnya berulang kali dengan suara lirih. Ia terus saja berjalan.
Rey menyugar rambutnya, Kinan terlepas darinya dan jawaban pun tak ia dapatkan. Tapi ia terkekeh juga mengingat sikap Kinan tadi. "Awas saja kamu ya!" Batin Rey terus merasa lucu dengan tingkah Kinan yang konyol.
.
.
.
.
Bersambung...