How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Kambuh



Ammar mengemudikan mobilnya dengan begitu bersemangat, hari ini ia akan meminta maaf pada Kinan, jika memungkinkan ia akan membawa Kinan keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Tentunya Ammar sudah menyusun rencana untuk merawat Kinan. Semua sudah ada dikepalanya kini.


Ditengah perjalanan, ponsel Ammar berdering menunjukkan bahwa panggilan itu berasal dari Rumah Sakit dimana istrinya Kinan sedang menjalani pengobatan.


Kebetulan sekali, Ammar memang akan menuju kesana. Tapi, apa gerangan ia mendapat panggilan mendadak seperti ini. Ammar segera menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo"


"...."


"Iya, saya Ammar. Suami Kinanty"


"...."


"Apa?" Suara Ammar sedikit tinggi karena syok.


"Baiklah, saya sedang menuju kesana!" Ucapnya lagi.


Ammar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai kerumah sakit dengan segera. Sesuatu telah terjadi pada Kinan.


Sesampainya dirumah sakit, Ammar langsung menuju ruang rawat istrinya. Disana ia melihat Kinan sedang meracau, lebih tepatnya mengamuk. Dikiri-kanan nya sudah ada perawat yang memegangi tangannya.


Ammar terperangah melihat kondisi Kinan. Seharusnya ia membaik, kenapa ini semakin parah daripada pertemuan terakhirnya dengan Kinan beberapa minggu yang lalu. Ammar terlalu sibuk, hingga selama sebulan lebih Kinan dirawat disini, ia baru mengunjunginya satu kali.


"Apa yang terjadi?" Ammar bertanya pada perawat yang memegangi tangan Kinan.


"Ibu Kinanty mengamuk Pak! Histerianya kumat. Ia mulai mengingat banyak hal dan meracau tak jelas" penjelasan perawat itu membuat Ammar melotot bingung.


"Dokter ingin memberinya obat untuk menenangkannya, jadi kami memeganginya Pak. Hari ini entah kenapa Kinan sulit dikendalikan jadi kami menahan tubuhnya agar tidak melawan!" Jelas seorang perawat lagi yang tak lain adalah Sinta.


Dokter yang tampaknya sudah siap dengan cairan dan alat suntiknya, mulai menjalankan tugasnya lagi, setelah beberapa kali gagal akibat perlawanan Kinan. Kini ia seolah mantap menyuntikan cairan itu karena tubuh pasiennya sudah dipegangi oleh dua orang perawat, tidak seperti tadi.


Kinan yang awalnya meracau tak jelas, perlahan-lahan mulai melemas dan terdiam. Tak berapa lama, ia memejamkan mata dan tertidur.


Dokter itupun mulai menatap Ammar dengan serius.


"Apa Bapak adalah suami pasien yang tadi sempat dihubungi?" Tanya dokter setengah baya itu.


Ammar mengangguk.


"Saya ingin membicarakan kondisi pasien ini pada Bapak. Kondisinya sangat labil, dia kadang tak bisa mengendalikan diri ketika ingatannya mulai datang!"


Ammar terdiam seribu bahasa. Ia memikirkan trauma Kinan pasti sungguh parah, ditambah lagi dengan sikapnya yang menambah beban pikiran Kinan selama ini.


"Lalu, saya harus bagaimana dokter?" Tanya Ammar. menyuarakan isi kepalanya.


"Setiap orang punya kebutuhan untuk didengarkan sesekali. Ajaklah dia berbicara, menceritakan beban dan pikiran yang ia pendam. Mungkin dia lupa akan masalalu dan berbagai hal. Tapi, naluri dan alam bawah sadarnya pasti akan mengingat hal-hal yang pernah ia lalui. Untuk itulah, Saya harap Anda bisa memberitahunya secara pelan-pelan. Dalam hal ini Anda sebagai suaminya, jadilah pendengar yang baik dan bijak. Terutama, jangan paksakan dia mengingat. pelan-pelan saja!" Dokter lelaki itu menepuk-nepuk pundak Ammar, menunjukkan sikap ke-prihatin-an.


Ammar mengangguk paham.


"Lalu, bagaimana dengan kandungannya?"


"Kandungannya untuk saat ini baik-baik saja. Hanya saya khawatir jika dia kumat, dia bisa mencelakakan kandungannya sendiri. Dan cepat atau lambat, akibat dari stress nya itu pasti bisa mempengaruhi juga kondisi kandungannya."


"Kami memberi obat yang aman untuk pasien konsumsi, tapi jika kondisi pasien begini terus dan berkepanjangan, saya dengan sangat terpaksa harus meminta persetujuan Anda, agar tidak memberinya obat lagi. Pemakaian obat itu secara terus menerus pun akan mempengaruhi."


"Kecuali..."


"Kecuali apa dokter?"


"Kecuali anda hanya memikirkan kesehatan istri Anda tanpa mempermasalahkan apapapun yang akan terjadi pada kandungannya!" Dokter itu akhirnya mengucapkan dengan sangat terpaksa.


Ammar terdiam seolah berfikir lalu mengacak rambutnya sendiri. Padahal ia ingin membawa Kinan keluar dari Rumah Sakit Jiwa ini, tapi nampaknya kondisi Kinan belum memungkinkan.


"Lalu, jika tidak mengonsumsi obat-obatan apa istri saya bisa sembuh dokter?"


"Mungkin, semua tetap ada kemungkinannya. Saya tidak ingin anda memilih antara kesehatan istri anda atau bayi dalam kandungannya" Tatapan mata dokter seolah menusuk ke dalam penglihatan Ammar.


"Maksud dokter?"


"Saya pikir, semoga ibu Kinan tetap bisa diobati tanpa harus menggugurkan kandungannya, Pak. Saya permisi! Kiranya Bapak mungkin bisa memahami maksud saya!" Dokter itu undur diri dari hadapan Ammar.


Ammar mendekat kearah dimana istrinya terbaring lemah. Ia membelai rambut dipucuk kepala Kinan.


"Maaf!" hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Matanya menatap intens istrinya yang sudah tak sadarkan diri.


Dibalik tirai, Rey mendapati pemandangan itu dengan perasaan gamang. Darah Rey berdesir ingin marah. Tentu saja Rey melihat semua kejadian tadi dari celah-celah tirai bilik yang tak tertutup dengan sempurna.


Rey lebih dulu sampai dibanding Ammar. Kebiasaannya setiap sore adalah mengunjungi Kinan sepulangnya dari bekerja di Kantor milik Papanya.


Rey melihat dari awal kedatangan Ammar, ia mengikuti langkah Ammar yang tergesa-gesa masuk kedalam ruangan Kinan. Rey juga mendengar semua pembicaraan Dokter dan Ammar tadi.


Ketika dokter keluar, Rey hanya tersenyum dan mengangguk sebentar tanda menyapa dokter itu tanpa suara. Kemudian, Rey melanjutkan kegiatannya, melihat Ammar dan Kinan didalam sana dengan perasaan berkecamuk.


Rey mengurungkan niatnya untuk menjenguk Kinan hari ini, lagi-lagi ia menjadi pengecut melihat Ammar berada disisi Kinan. Rey bukan takut menghadapi Ammar. Sebagai lelaki Rey tentu akan menghadapinya satu lawan satu.


Tapi bukan itu yang membuat Rey jadi ciut. Rey memikirkan statusnya. Status Ammar jelas lebih berhak terhadap Kinan dibandingkan dirinya. Statusnya tetaplah entah siapa, walaupun beberapa hari lalu Kinan sudah mengatakan bahwa ia serius memiliki perasaan pada Rey.


Rey sangat ingin mengunjungi Kinan. Memberinya ketenangan, Rey tak tega melihat Kinan harus dipegangi oleh dua orang perawat seperti itu. Meski kenyataannya Kinan dirawat di Rumah Sakit Jiwa tapi Rey tak pernah menganggapnya gila atau tak waras. Menurut Rey, Kinan hanya depresi dan Ammar salah besar membawanya kesini. Rey masih tidak terima akan hal itu. Apalagi melihat perkembangan Kinan hari ini, bukannya makin sehat malah semakin parah.


Tangan Rey mengepal, ingin meninju wajah lelaki yang statusnya adalah suami Kinan itu. Tapi lagi-lagi ia urung, cepat-cepat menggelengkan kepala begitu sadar dan mengingat bahwa kesalahannya pada Kinan pun lebih parah dan lebih besar daripada perbuatan Ammar.


Rey hendak berbalik menuju pintu keluar.


"Kau sedang apa disini?" Suara itu mengangetkan Rey yang baru saja ingin melangkahkan kaki.


.


.


.


Bersambung...