How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Menemui Kinan



Rey menghentikan mobilnya, sesaat kemudian ia mematikan mesin mobilnya ditepi jalan. Baru saja beberapa meter ia meninggalkan rumah Desi, tapi entah kenapa rasa tak ikhlas terus menggerogoti hati dan pikirannya.


"Bodoh!" Gumamnya seraya membuka seatbelt-nya.


Rey keluar dari mobil itu, berbalik arah kembali menuju kediaman Desi sambil sedikit berlari tergesa. Dengan nafas yang memburu, Rey berhenti tepat didepan pekarangan rumah yang tak berpagar itu. Ia bisa melihat Kinan yang masih berdiri disana sambil berlinang air mata.


"Kau mencintaiku, Kinan!" kembali ia bergumam sesuai dengan yang ia yakini untuk menguatkan dirinya sendiri.


Perlahan, Rey berjalan mendekat ke arah Kinan. Kinan terkejut dengan kembalinya lelaki itu. Ia cepat-cepat menyeka airmatanya dan menyadarkan diri dari pemikirannya tadi yang sempat membuatnya mematung beberapa saat.


"Apa lagi?" Tanya Kinan, tak ingin menatap wajah lelaki itu. Lebih tepatnya ia malu karena Rey melihatnya menangis. Meski Kinan yakin lelaki itu tak tahu bahwa sebenarnya Kinan memang menangisi kepergiannya.


"Aku, tidak bisa melepaskanmu!" Jawab Rey sambil terengah-engah akibat berlari dari ujung jalan tadi.


"Ck! pergilah! Aku memang tidak pernah terikat denganmu, jadi tidak ada yang perlu dilepaskan!"


"Kinan.."


"Pergilah! aku sudah cukup ber-murah hati mau menemuimu hari ini! Bukankah aku sudah pernah bilang kita tak usah bertemu lagi?" Kinan tersenyum getir.


"Aku tidak mau, Kinan! tolong mengertilah!"


"Lalu apa yang kau mau hah?" Kinan sedikit berteriak mengucapkannya. Meski ia mencintai lelaki ini tapi Rey juga sangat menjengkelkan sekarang. Bisakah Rey pergi jauh saja? Kinan ingin dan sangat ingin belajar melupakannya!


"Kau bertanya begitu seolah bisa mengabulkan apa mauku!" Jawab Rey dengan nada terendah.


Kinan mendengus, ia berbalik dan akan masuk kedalam rumah. Malas meladeni lelaki ini lebih lanjut. Tapi tanpa ia sadari Rey sedikit lebih cepat untuk mencegahnya. Rey menarik pergelangan tangan Kinan hingga Kinan terhempas ke dada bidangnya. Seketika itu juga, Rey mendekap tubuh mungil wanita itu. Kinan terperanjak. Ia memberontak Rey, Ia memukul-mukul dada pemuda itu agar Rey sudi melepaskan tubuhnya.


Rey menahan serbuan pukulan Kinan di dadanya, ia ingin waktu berhenti sejenak saat ini. Tidak, bukan sejenak. Jika boleh sedikit lebih lama, Rey rela menukarkan apa yang ia punya demi bisa memeluk Kinan lebih lama lagi. Walau harus menahan sakit di dadanya akibat pukulan Kinan yang tiada habisnya.


"Lepaskan aku!" Kinan meronta ingin segera terlepas. Namun usahanya itu sepertinya sia-sia saja. Tubuh Atletis Rey seolah tak bergeming dengan rontaannya.


"Apa kau lupa semua yang sudah kita lewati bersama?" Suara Rey mencoba menghentikan aktifitas tangan Kinan. Kinan terdiam mencerna ucapan lelaki itu.


"Aku merindukanmu!" Suara Rey benar-benar terdengar lirih. Kata itulah yang ingin ia ucapkan sedari ia melihat Kinan didepan wajahnya hari ini. Lebih tepatnya ia merindukan wanita itu sedari beberapa hari lalu, sejak Rey melepas kepergian Kinan sendiri dari Villa keluarga Kevin.


Kinan terkesima dengan ucapan Rey. Jauh didalam relung hatinya yang terdalam juga merasakan hal yang sama, mendadak ia terdiam dan memikirkan momen kebersamaan mereka selama ini. Momen ketika ia terbangun dan mendapati lelaki itu selalu sudah duduk dihadapannya dan menatap lekat wajahnya yang baru saja terjaga. Seolah itu adalah kebiasaan yang tak ingin Rey lewatkan.


"Kinan, beri aku kesempatan seperti kau memberikan kesempatan pada Ammar!" Pinta Rey. Rey menunduk untuk menatap wajah Kinan yang lebih dulu mendongak kearah wajahnya. Mata elang Rey menatap intens mata lentik wanita itu. Bisakah waktu berhenti saat ini?-mohon Rey pada sang waktu.


Kinan tersadar tiba-tiba, ia menarik diri saat pelukan Rey tak lagi menahannya seperti tadi. Rey menyesal karena terhipnotis tatapan Kinan, hingga ia lengah dan akhirnya Kinan bisa meloloskan diri dari dekapannya. Rey kembali menatap wanita itu, mencari jawaban dari matanya.


"Ucapkan selamat tinggal padaku sekarang juga, Mas!" Kata-kata itu terdengar lugas dari bibir Kinan, Rey tersenyum pedih mendengar kali ini Kinan kembali memanggilnya dengan sebutan itu.


"Hei...Bagaimana aku bisa mengucapkan selamat tinggal padamu?" Rey balik bertanya menatap Kinan yang kini malah tertunduk.


"Dengar baik-baik, Ki! Aku, tidak akan pernah mengucapkan kata itu apalagi benar-benar meninggalkanmu!"


Kinan mengangguk, namun ia segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu. Entah apa yang ada dibenaknya.


Rey mengetuk pintu, memelas kepada wanita itu.


"Kinan, katakan padaku kau juga merindukan aku kan?" Pekik Rey dari balik pintu.


"Aku tau kesalahanku bukan kesalahan kecil, aku juga menyesalinya!" Rey terus saja mengetuk-ngetuk pintu itu seperti orang yang sudah putus asa.


"Kinan, keluarlah dan bilang padaku jika kau tidak mencintaiku! Baru aku bisa mengucapkan selamat tinggal padamu!"


"Baiklah, jika kau tetap tak mau keluar, aku menyimpulkan kau mencintai aku juga. Iya kan?"


Hening. Tetap tidak ada jawaban dari Kinan. Rey terduduk didepan pintu yang sudah tertutup itu.


"Oke, jika seperti ini maumu! Aku pergi Kinan. Aku benar-benar pergi!" Rey bangkit dari duduknya.


"Jika kau butuh aku, datanglah padaku kapan saja! Selamanya aku akan menunggumu!" Rey tersenyum getir menyadari kata-katanya yang mendadak melankolis. Benar kata Kevin jika ia sudah jadi 'budak cinta' sekarang. Rey tak peduli. Terserah Kinan mau menganggapnya apa. Kenyataannya, Kinan juga sudah tau bobroknya dirinya ini.


...Tok tok tok!...


lagi-lagi Rey mengetuk pintu.


"Pulanglah! Aku tidak akan menemuimu lagi!" Pekik Kinan pada akhirnya.


Rey yang sudah berdiri pun tertunduk lemas.


"Aku akan pulang!"


Baguslah-pikir Kinan. Namun entah kenapa hatinya terasa mencelos mendengar Rey akan segera pergi.


...Tok tok tok !...


Suara ketukan terdengar lagi, sesudahnya Rey kembali bersuara.


"Aku pulang Kinan! Suatu saat aku akan menjelaskan kenapa 'itu' bisa terjadi antara kita!"


Kinan jadi penasaran. Benar juga, Rey tak pernah menjelaskan padanya kenapa semuanya bisa terjadi. Kenapa Rey tega melakukannya pada Kinan. Dan kenapa Kinan bisa berakhir di Apartment Rey subuh itu. Bukankah Kinan juga belum meminta penjelasan Rey soal itu?


Kinan mendekat ke arah pintu. Berniat akan membukanya, tapi dia menggeleng segera karena ia tak mau mengungkit hal itu lagi.


"Suatu saat, jika kau ingin tahu kenapa. Tanyakanlah langsung padaku!" Suara Rey terdengar lebih tenang sekarang.


Hening kembali.


Kinan semakin penasaran dengan kata-kata Rey tadi. Ia menunggu Rey mengetuk lagi. Jika lelaki itu mengetuk lagi dan berkata lagi, Kinan bertekat akan membuka pintu dan menanyakannya saat itu juga.


Hening..


Hening..


Hening...


"Apa dia benar-benar sudah pergi?" Tanya Kinan pada diri sendiri.


...Tok Tok Tok!...


Suara ketukan itu terdengar lagi, sontak Kinan bangkit dari posisinya dan segera memutar handle pintu.


"Per--" Ucapan Kinan terhenti saat pintu terbuka dan ia menatap sosok yang berdiri didepannya bukan lagi Rey, melainkan Ammar. Kinan terkejut dan terperangah.


"Haii?" Sapa Ammar sambil memasang senyum sejuta watt-nya. Kinan tetap dalam posisi terdiam dan mematung.


"Kau tampak begitu tegang? tadi kau mau berkata apa Kinan?" Tanya Ammar langsung masuk kedalam rumah dan memposisikan duduknya di sofa ruang tamu itu.


Kinan menggeleng. Perasaan kecewa menyelimutinya. Pertanyaan 'sejak kapan Rey pergi dan apakah Ammar sempat melihat Rey di teras tadi?' pun terlintas dibenak Kinan.


Ammar masih membentuk lengkungan dibibirnya, ia menatap Kinan dengan tatapan ramah.


"Rumah barumu sudah siap. Ayo kita kesana!"


.


.


.


.


.


Bersambung...