
Ammar menatap gedung dihadapannya dengan perasaan tak menentu. Sejujurnya ia kalut dan diliputi amarah yang membuncah. Ammar mendengus lalu keluar dari mobilnya, tapi ia lupa jika ia tak tahu persis dilantai berapa Apartemen yang ditempati oleh Xander. Ammar mengacak rambutnya frustasi. Jalannya benar-benar buntu untuk mencari keberadaan Joana dan Shaka.
Ammar mengernyit melihat nomor asing yang menelpon ke ponselnya, dengan malas ia menjawab juga panggilan itu.
"Kau pasti sedang bingung mencari keberadaan anak dan juga gadismu, bukan?" Ucap seseorang diseberang sana seraya menyeringai. Tentu saja seringaiannya itu tak dapat dilihat oleh Ammar.
"Katakan dimana mereka!" Sergah Ammar seketika, saat menyadari dengan siapa kini ia berbicara.
"Tentu saja mereka bersamaku, Man!" Jawabnya diiringi kekehan kecil.
"DIMANA KAU? AKU AKAN MENEMUIMU. APA MAUMU?" Ammar mendengus-dengus menahan emosinya saat tahu jika Joana dan Shaka benar-benar berada ditangan Xander.
Terdengar kekehan mengejek dari seberang sana. Lalu suaranya berganti dengan intonasi yang tajam. "Kau menanyakan apa mauku? Aku mau kau! Datanglah ke tower teratas gedung Apartemen Joana."
Ammar segera memutuskan panggilan itu secara sepihak, lalu gegas masuk kedalam gedung Apartement yang menjulang dihadapannya. Langkahnya begitu cepat tanpa menoleh kearah manapun lagi. Tujuannya hanya ada dua. Pertama, menemukan Joana dan Shaka. Dan yang Kedua, tentu saja ia akan meladeni si psikopat gila, Xander.
Ammar sampai kelantai teratas itu dengan nafas terengah-engah, disana ia dapat melihat seorang lelaki yang ia yakini adalah Xander. Lelaki itu berbalik badan saat menyadari kedatangan Ammar, ia memandang Ammar dengan seringaian tipis yang sulit diartikan.
"Kau datang dalam waktu 10 menit." Kata Xander, ia bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi kedatangan Ammar yang sangat cepat--diluar prediksinya, atau bahkan tindakan itu seperti mengolok? Mungkin saja.
"Katakan apa maumu?"
"Sudah ku bilang aku mau kau!" Xander menggeleng kecil lalu menatap Ammar tajam.
Yang dapat Ammar simpulkan dari Xander adalah tatapannya yang berubah-ubah, kadang mengeluarkan aura dingin dan kadang bersikap sok ramah.
"Aku mau kau mati.. mati ditanganku." Kata Xander tanpa basa-basi.
Ammar tersenyum miring. "Jadi maksudmu kau ingin aku menukarkan nyawaku padamu agar kau melepaskan Joana dan anakku?" Tebak Ammar dan Xander mengangguk.
"Kau pintar dan aku tidak perlu menjelaskan." Sarkasnya, ia berjalan ke arah kamarnya dan Ammar mengikuti dengan diam dibelakangnya. Xander melirik Ammar yang mengikutinya dan dia tersenyum sarkas. Tindakan Ammar itu justru menyulut adrenalin yang kuat untuk Xander berbuat lebih. Secara tak langsung, tindakan Ammar itu menunjukkan jika Ammar tidak takut dengan permintaannya dan itu membuat Xander semakin ingin menuntaskan hasrat ingin membunuhnya.
Ammar menantangnya.
"Kau tahu, jika ku buka ruangan itu kau pasti akan terkejut." Kata Xander lagi-lagi dengan senyum mengejek.
"Benarkah?" Tanya Ammar dengan nada mengejek pula, membuat Xander menyeringai dengan pikirannya sendiri menilai kenekatan Ammar yang berhadapan dengannya.
"Ini seru dan tidak buruk." Batin Xander.
"Kalau begitu, buktikanlah dengan membuka ruanganmu." Kata Ammar makin menantang.
Xander menyeringai dan sesaat kemudian pintu Apartemen-nya sudah terbuka setelah dia menekan sandi. Ammar terkekeh kecil dibelakang tubuh Xander.
"Kenapa?" Tanya Xander seraya semakin masuk kedalam ruangan yang didominasi dengan warna gelap.
Ammar diam tak menjawab, ia melihat Xander dengan pandangan meremehkan dan Xander berdecak karenanya. Tapi benar saja, sesuai perkataan Xander tadi, Ammar memang terkejut bahkan terbelalak saat ruangan itu dibuka dan ia melihat pemandangan didepannya.
"Kenapa? Kau terkejut kan?" Xander menyeringai penuh maksud melihat Ammar yang membeku dengan tatapan nyalang.
Bagaimana tidak, dia melihat anaknya meringkuk dalam keadaan tidak sadar--entah tertidur atau pingsan--di lantai Apartement itu. Tangan Shaka terikat oleh sesuatu yang sepertinya adalah kabel.
"Bia-dap!" Batin Ammar mengumpat kekejaman Xander yang tak pandang bulu, bahkan dengan anak kecil yang tak mengerti apa-apa dengan masalah pelik diantara mereka.
"Anak itu bisa lepas sekarang juga. Aku tidak peduli dengannya." Xander mengangkat bahu dengan santai.
Tangan Ammar terkepal, untuk saat ini ia memilih diam daripada membuang kata umpatan didepan Xander, itu hanya akan menghabiskan tenaganya dan membuatnya terlihat bodoh karena dikuasai emosi. Ammar lebih memilih berpikir mencari jalan keluar dibalik sikap diamnya.
"Kau diam? Kau mulai takut sekarang?" Ejek Xander. "Kau dengan bodohnya datang sendiri kesini untuk menghadapiku. Ckckck!" Lanjut Xander tepat ditelinga Ammar membuat Ammar semakin naik darah.
Ammar menghela nafasnya, tentu saja ia tak mau melihat anaknya terus dalam kondisi seperti itu.
"Kau menginginkan nyawaku bukan? Lepaskan anakku dan aku sebagai gantinya." Ucap Ammar pelan.
"Kau pikir aku mau bernegosiasi?" Xander bertanya sekaligus tampak berpikir. "Baiklah, tujuanku memang meminta nyawamu dengan baik-baik. Dalam arti kata, kau harus menikmati setiap tetasan darah yang keluar dari tubuhmu karena ulahku. Jangan melawan dan nikmati saat-saat nyawamu tercabut." Kata Xander dengan enteng.
Ammar membuang pandangannya. Ia tahu jika Xander memulai ini berarti Xander sudah menyiapkan sesuatu untuk membuat Ammar mati ditangannya.
"Aku akan melepaskan anak ini, dia cukup beruntung tapi itu bukan karena aku punya setitik belas kasih terhadapnya. Itu karena aku menganggapnya tidak penting." Xander berkata lagi seraya mendekat kearah Shaka.
"Hei boy! Bangunlah." Xander menepuk-nepuk pipi Shaka dan anak lelaki itu menggeliat diposisinya.
"Papa.." lirihnya ketika benar-benar sudah sadar dan menyadari jika ada Ammar disana.
"Shaka, dengar Papa.. Keluarlah dari gedung ini, Papa ada urusan dengannya." Ammar menunjuk Xander. "Ini ponsel Papa. Hubungi Om Rey setelah kamu keluar dari sini dan minta dia menjemputmu." Ucap Ammar memberi ultimatum pada Shaka. Ia benar-benar ingin Shaka selamat lebih dulu, tapi sedari tadi tetap saja mata Ammar mencari-cari keberadaan Joana yang belum nampak dimatanya.
Shaka menatap Ammar dalam, pandangan matanya mengisyaratkan ingin tahu apa yang terjadi dan Ammar seakan mengatakan agar Shaka bersikap tenang lewat sorot matanya. Ammar pun menyerahkan ponselnya pada anak lelakinya itu.
"Jangan coba-coba meminta bantuan, karena saat bantuan itu tiba, ku pastikan kau sudah tidak bernyawa." Bisik Xander pada Ammar dan Ammar mendengus karenanya.
"Keluarkan anakku dari sini. Dia tidak akan meminta bantuan apapun selain meminta orang untuk menjemputnya diluar gedung."
Ammar memejamkan matanya dengan kesal, otaknya rasanya mendidih untuk memberikan Xander pukulan telak tapi ia masih bisa mengontrol diri agar tidak bertindak bodoh karena ia belum juga tahu keberadaan dan keadaan Joana-nya.
"Biarkan anakmu melihatnya." Ucap Xander membuat mata Ammar terbelalak. "Dia akan menjadi saksi kematianmu. Biarkan ini terjadi tepat didepan matanya." Bisik Xander lagi seraya tersenyum mengejek.
"Dasar psikopat Gila!" Ammar langsung meninju hidung Xander yang berada sangat dekat dengan wajahnya karena tadi Xander berbisik padanya. Hidung Xander mengeluarkan darah dan dia tersulut kemarahan akibat perlakuan Ammar.
"Beraninya kau!" Xander menunjuk wajah Ammar seraya melakukan tinjuan balasan untuk Ammar.
Shaka yang melihat keributan itu sontak berlari untuk bersembunyi dibelakang sofa, ia menggenggam kuat ponsel Ammar yang tadi sudah sempat ia terima. Tidak dipungkiri jika ia juga takut akan kejadian kekerasan didepannya ini, Lalu, ia pun meringkuk disana.
Terjadi perkelahian yang cukup sengit diantara dua lelaki dewasa itu, Ammar dan Xander. Ammar ingin memukul dada Xander dengan tangannya tapi lelaki itu mengelak dan malah mengunci tangan Ammar dengan kekuatannya. Ia menyeringai melihat Ammar yang kini pasti tunduk dibawah kekuasaannya. Sedikit lagi lelaki ini akan habis ditangannya sesuai keinginannya.
Ammar tertunduk dengan posisi meringkuk dibawah tangan Xander yang mengunci pergerakannya. Tanpa pikir panjang, Ammar menekuk lututnya dan membuat ancang-ancang agar tindakan yang ia lakukan selanjutnya akan membuat cedera yang fatal pada Xander.
Tak berselang lama terdengar Xander melenguh disertai pekikan yang cukup kuat.
"Fu*ck!" Umpatnya seraya memegangi benda pusakanya yang dicederai Ammar dengan tulang lututnya. Xander mengaduh, tampaknya ulah Ammar tadi cukup membuatnya kesakitan.
Ammar memanfaatkan keadaan itu, saat matanya melihat Xander yang masih kesakitan. Ia gegas berlari kearah belakang Sofa--tempat Shaka bersembunyi--untuk memastikan anak lelakinya itu tidak apa-apa.
"Bersembunyilah dikamar mandi. Kunci pintunya dari dalam. Papa akan mencari Tante Joana." Shaka mengangguk paham dan Ammar beranjak setelah memastikan Shaka masuk kedalam kamar mandi disudut dapur.
Sebelum beranjak dari sana, Ammar kembali menghampiri Xander yang masih mengaduh sambil me-rintih-rintih kesakitan. Ia menghadiahi Xander satu tinjuan lagi ke rahangnya, membuat Xander tidak bisa bertindak jauh karena ia benar-benar tidak bisa melawan Ammar. Rasa sakitnya kini kian menghabisi adrenalinnya sendiri. Tak puas dengan itu, Ammar memberi lagi tunjangan dengankakinya yang tepat mengenai dada lelaki gila itu.
"Sampah!" Umpat Ammar seraya mendecih dan meludah kearah wajah Xander. Ia pun berlalu meninggalkan Xander yang terpojok lemah ddilantai sambil kesakitan.
Ammar membuka satu persatu ruangan yang ada diapartemen itu, memasuki dan meneliti keberadaan Joana.
Satu ruangan pertama adalah kamar, namun Joana tak ada disana.
Lanjut ke ruangan lainnya yang sepertinya adalah ruang kerja tak terpakai, disana ia melihat banyak barang-barang yang membuat bulu kuduknya meremang. Sepertinya Xander mengoleksi banyak barang aneh. Ammar dapat melihat berbagai macam pistol yang ia yakini adalah illegal, lalu ia melihat pisau-pisau dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ammar juga mengernyit melihat semacam cambuk yang digantung seolah pajangan yang diberi kotak figura acrilic transparan. Ammar menggeleng pelan dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya ia menatap nanar kearah sudut ruangan.
"Jo.." lirih Ammar ketika melihat Joana dalam posisi berdiri dan terikat di papan kayu, seakan-akan Joana memang sengaja dipajang disana. Tangan dan kakinya terikat ke masing-masing sudut kayu. Seolah tubuh itu sudah pasrah akan mendapat perlakuan apapun dari Xander. Melihat posisi Joana itu, Ammar jadi menduga jika Joana akan dicambuk keji oleh Xander. Ammar meringis sendiri membayangkannya.
Ammar melangkah perlahan-lahan, hatinya miris dan teriris melihat keadaan Joana dalam ruangan yang berlampu remang itu.
"Jo.." kembali Ammar memanggil Joana dengan suara lirih. Ia memegang pipi Joana dan sesaat kemudian mata wanita itu mengerjap seakan baru menyadari keadaan.
"Ammar.." lirihnya seraya menatap Ammar dengan berkaca-kaca.
"Ammar, kenapa kau kesini? Lekas pergi.. Xander akan membunuhmu. Dia sudah tahu hubungan kita." Joana malah terlihat mengkhawatirkan Ammar padahal kondisinya sekarang lebih memprihatinkan.
"Dia tidak akan membunuhku. Aku yang akan membunuhnya, Jo!" Ammar meringis saat tangannya yang menjalari pipi Joana merasakan darah yang sudah mengering disudut bibir gadis itu. Saat itulah ia tahu jika Joana sudah terluka karena lampu ruangan yang remang membatasi penglihatan Ammar pada wajah Joana. Batinnya benar-benar marah sekarang saat mengetahui Xander sudah melukai Joana berulang-ulang.
Tangan Ammar terulur ke sisi sudut kayu, dengan cekatan ia melepaskan semua tali yang mengikat tangan dan kaki Joana. Kemudian ia mendekap hangat tubuh kekasihnya itu.
"Semuanya akan baik-baik saja." Kata Ammar lembut dan menenangkan.
"Shaka?" Joana mencari keberadaan Shaka. Ia menyesal membuat Shaka ikut terlibat karena Xander.
Ammar menggeleng. "Shaka pasti baik-baik saja." Jawab Ammar dengan yakin.
Saat mereka berpelukan, Ammar merasa sangat lega begitupun Joana. Mereka ingin segera meninggalkan tempat terkutuk ini tapi..
Tsak!!
Tsak!!
Tsak!!
Tiga kali tusukan di pundak belakang, perut dan dada Ammar membuat Ammar terkapar dilantai dengan bersimbah darah, Joana menjerit histeris melihat keadaan Ammar. Joana membeku saat menyadari tusukan itu berasal dari Xander yang ternyata sudah berada dibelakang tubuh Ammar dengan seringaian liciknya. Lelaki itu memegang pisau runcing yang tajam, berkilat, dan darah segar kini sudah melumuri bagian pisau itu.
Tubuh Joana terduduk lunglai disisi Ammar. Ia menitikkan airmatanya melihat nasib Ammar yang begini karena ingin menolongnya dan ini juga karena hubungan mereka yang tidak membuat Xander tinggal diam.
"Kau menangis untuknya?" Hardik Xander seraya menendang-nendang kecil tubuh Joana. Joana tak menggubrisnya, ia tetap mencoba menyadarkan Ammar seraya terisak-isak.
"Ammar, bangunlah..." Lirihnya. "Ku mohon Ammar..." Sambungnya dengan nada yang membuat siapapun yang mendengar akan merasa tersayat.
"Kalian berpelukan dihadapanku dan tidak menyadari kedatanganku! Ck..ck!" Xander berdecak lidah. "Baiklah, cukup sudah bermurah hati pada kalian. Ku pastikan kau juga akan mati menyusulnya, Jo! Kau senang bukan?" Tanya Xander dengan seringai yang penuh maksud sambil mengelap darah di pisau dengan tangannya sendiri seakan-akan menikmati momen itu.
...Bersambung......
^^^Asli part ini 1934 kata guys..^^^
^^^letakkan kopi dan bunga dimeja saya✌️^^^
happy reading💞