
"Sayang, apa kamu benar-benar tidak tahu dimana Joana?" Rey meraih pinggang Kinan, lalu dia pun memeluknya dari belakang. Kinan mendesis akibat ulah Rey yang mengejutkannya.
"Kenapa diam? Ayo jawab pertanyaanku, hemm?" Rey berbisik lagi tepat ditelinga sang istri. Kinan menoleh kesamping untuk melihat wajah suaminya. "Aku tidak tahu." jawabnya singkat seraya terus melanjutkan aktifitas memasaknya.
Rey mencebik. Sebenarnya dia tahu jika Kinan pasti menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan Joana, hanya saja dia tidak mau memaksa istrinya itu.
"Apa kamu tidak kasihan pada Ammar?" tanya Rey, dia melepas pelukannya pada Kinan dan berangsur-angsur berdiri disisi sang istri. Tangannya bersedekap, dia menunggu Kinan memberi jawaban.
"Aku tidak mau mencampuri urusan Ammar dan Joana, Mas." jawab Kinan dan Rey berdecak lidah.
"Ck! Sayang, dengar aku. Kita bukan ikut campur masalah mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya secara baik-baik, kita hanya membantu memberi sedikit jalan agar mereka bisa melakukannya." jawab Rey sok bijak.
Kinan hanya mengangkat bahu mendengar ucapan suaminya itu, Rey pun mendesahh panjang.
"Apa kamu tidak mau Ammar dan Joana kembali bersama?" tanya Rey seraya melangkah pergi. Pikirannya kini diliputi rasa dilema akibat bungkamnya Kinan.
Kinan tidak menyusul kepergian Rey, dia terus melanjutkan sesi memasaknya karena sebentar lagi Kirey pasti akan bangun.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Kenapa lo?" tanya Doni saat melihat wajah Rey yang murung disudut cafe. Mereka membuat janji temu siang ini dan akan makan siang bersama-sama.
Rey menggeleng lemah. Dia hanya menatap wajah Doni tanpa ada semangat yang terpancar diwajahnya.
"Sakit lo?" Doni terus menanyainya sambil membuka buku menu yang diberikan seorang pelayan cafe.
Rey menggeleng lagi dan Doni mendengus.
"Pesan ini dan ini." Kata Doni menunjuk menu makanan yang ada digambar pada pelayan tadi dan pelayan itupun segera berlalu setelah mencatat pesanan Doni.
"Mana Kevin?" Pertanyaan lain yang Doni berikan, berusaha mengalihkan Rey agar lelaki itu menjawab dengan suara, sayangnya Rey hanya menggeleng lagi membuat emosi Doni naik ke ubun-ubun.
"Udah gak bisa ngomong lo sekarang?" sindirnya.
Kini Rey yang mendengus. "Gue gini juga karena kalian. Kalian sembunyikan dimana Joana?" tanya Rey tanpa basa-basi.
Doni terkekeh hambar. "Kenapa lo jadi uring-uringan juga karena Jo menghilang?" ejek Doni. "Kenapa? Lo takut Ammar putar haluan dan ngajak Kinan rujuk?" tanya Doni sambil menaik-naikkan alisnya didepan Rey.
"Bukan gitu, Dal. Gue cuma gak suka kalian main rahasia-rahasia gini." sanggah Rey.
Doni hanya tersenyum miring menanggapinya.
Tak berapa lama, makanan mereka pun tersaji diatas meja bersamaan dengan kedatangan Kevin disana.
"Lama lo!" celetuk Rey.
Doni hanya diam memperhatikan dan melanjutkan mengunyah makanan. Sementara Kevin sudah beekutat dengan buku menu tanpa menyahuti Rey.
"Jadi, apa yang mau kita bahas, Man? tanya Kevin seraya menatap kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu menyantap makanannya.
"Tanya aja sama si Kunyuk." sahut Doni, dia menunjuk Rey dengan dagunya.
"Lo tahu dimana Joana?" tanya Rey pada Kevin dan Kevin langsung menggelengkan kepalanya.
"Mana gue tahu." sahut Kevin cuek.
"Coba lo tanya sama bini lo! Desi pasti tahu dimana Joana."
"Yee, kalaupun dia tahu mana mungkin kasih tahu sama gue. Apa urusan gue coba? Bisa-bisanya dia salah paham terus gue jadi berantem." sanggah Kevin cepat.
"Bilang aja Rey yang mau tahu," timpal Doni tak mau kalah.
"Lagian ngapain sih nyari Joana, toh dia juga dalam keadaan baik-baik aja, Kan?" celetuk Kevin lagi.
"Fix, lo tahu dimana Joana kan? Bang*sat lo pada nyembunyiin ini dari gue!" cerocos Rey.
Kevin dan Doni saling tatap, mereka seolah berbicara dengan mata. Tapi, tidak ada yang lebih dulu mau bersuara. Alih-alih mengaku, keduanya hanya berdebat melalui isyarat mata.
"Oke, kalau dengan cara bicara baik-baik gak ada yang mau ngasih tahu, it's oke.." Rey tersenyum miring. "Apa sih yang gak bisa gue tahu. Isi kepala lo berdua juga gue tahu!" kata Rey sambil menepuk-nepuk kedua pundak sahabatnya bergantian.
Kevin terdiam, Doni apalagi. Mendadak mereka mengingat jika jaringan Rey memang sangat luas semenjak dia menjadi pimpinan utama diperusahaan keluarga Denizer. Doni mengusap tengkuknya, dia teringat kejadian waktu Rey melarikan diri ke London dan Papa Rey sudah mengetahui itu dengan sangat cepat. Padahal, waktu itu Rey beralibi pergi ke Seoul.
Rey tertawa hambar melihat reaksi kedua orang didepannya, pikirannya makin ywkin jika sebenarnya mereka semua tahu dimana Joana hanya saja tidak ada yang mau memberitahunya. Sejak awal, Rey ingin melacak keberadaan Joana melalui jaringannya, tapi dia masih menunggu itikad dari orang-orang dekatnya ini. Sayangnya, tiga bulan telah berlalu dan tidak ada yang mau buka suara termasuk istrinya sendiri. Rey sudah mulai hilang kesabaran.
Sebenarnya Rey bukan semata-mata kasihan pada Ammar, tapi Rey lebih mengerti perasaan lelaki itu. Dia sudah lebih dulu merasakan bagaimana rasanya berpisah dari Kinan sebelum akhirnya mereka menikah. Jadi, Rey tidak mau keadaan ini semakin berlarut-larut. Paling tidak, Ammar harus tahu keberadaan Joana agar Ammar pun segera bertindak. Itu yang Rey harapkan. Sesuai dengan rencana awalnya--mendekatkan Joana dengan Ammar.
"Gue gak habis pikir, kenapa lo semua pada nyembunyiin hal kayak gini. Kenapa lo seakan bantuin Joana menghindar dari Ammar. Padahal lo semua tahu mereka saling sayang. Gimana kalo lo, dipisahin sama Desi, Nyet?" Rey menatap Kevin dan Kevin hanya diam meresapi ucapan Rey itu.
"Lo gak pernah kan dipisahin dari Desi. Makanya lo gak tahu gimana rasanya." sambung Rey.
"Dan gimana dengan lo, Dal? Lo udah tahu kan gimana rasanya dulu saat Sinta kabur-kaburan dari lo? Seharusnya lo gak buat hal kayak gini ke Ammar dan Joana. Ini sama aja ngulangin kisah kalian dulu, Dal!" senggak Rey. "Kalau mereka memang punya permasalahan, ya biar mereka clear-kan ini sampe tuntas." imbuhnya.
"Gue rasa hubungan mereka memang udah tuntas." sahut Doni dengan lesu.
"Gue rasa belum." timpal Rey cepat.
"Kenapa lo rasa belum? Padahal lo udah tahu kalau malam itu mereka berpisah!" sambung Doni lagi.
Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue rasa kita gak berhak bicaraian perasaan mereka ya, tapi kita sama-sama tahu disini kayak apa hubungan mereka." kata Rey bijak.
Kevin yang diam sedari tadi mulai bersuara. "Gue tahu, memang seharusnya hubungan mereka belum usai."
"Kenapa lo yakin gitu?" sahut Doni. "Gue rasa semua udah selesai. Joana juga bilang dia udah mengakhiri ini."
"Apa Joana bahagia setelah mengakhirinya?" tanya Kevin. Kini Kevin yang nampak berdebat dengan Doni, tampaknya ucapan Rey tadi sedikit banyak cukup mengusiknya juga. Kevin juga berpikir, bagaimana jika Desi yang pergi namun tidak ada yang mau memberitahu keberadaannya?
Doni hanya mengangkat bahu, tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Kevin karena dia juga tidak yakin Joana bahagia setelah keputusannya mengakhiri hubungan dengan Ammar.
Doni hanya meyakini jika semuanya telah usai, urusan perasaan Joana dia kembalikan pada sepupunya itu sendiri.
"Gini deh, gue gak tahu apa yang Joana rasain. Tapi kita harus hargai keputusannya." kata Doni sok bijak.
"Oke, supaya clear, kita lihat apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Kenapa mendadak mereka putus dan Joana menghilang setelah malam itu?" celetuk Rey dan kedua sahabatnya mengangguki.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Rey, silahkan masuk.." Latifa menyambut kedatangan Rey bersama dua orang rekannya saat mengunjungi rumah Ammar.
"Apa Ammar ada?" tanya Rey pada Latifa dan Latifa mengangguk. Setelah mempersilahkan ketiga lelaki itu duduk, Latifa setengah berlari untuk memanggil Ammar yang masih berada dikamarnya.
"Ada apa kalian kesini?" Ammar mengernyit. Tidak biasanya ketiga orang sahabat ini mengunjunginya ke rumah secara bersamaan pula. Ini pasti tidak ada kaitannya soal pekerjaan ataupun kerja sama.
"Duduk dulu, Man." sahut Kevin dengan cengirannya.
Ammar terkekeh. Seharusnya dia yang mempersilahkan tamunya duduk, kenapa pula Kevin yang mengambil alih hal itu. Namun, dia tetap mengikuti ucapan Kevin. Dia duduk disalah satu single sofa yang berada disisi kiri Rey.
"Kau harus lihat ini," celetuk Kevin seraya menyerahkan sebuah flashdisk pada Ammar.
"Flashdisk?" tanya Ammar bingung. Tapi ketiga lelaki dihadapannya mengangguk mantap.
"Maaf, Mar. Aku pikir hubunganmu dengan Joana benar-benar sudah berakhir. Tapi setelah melihat itu aku jadi berpikir berulang kali untuk terus menyembunyikan keberadaan sepupuku." sahut Doni yang membuat mata Ammar membulat.
...Bersambung......