How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Lanjutkan hidupmu



Sejak kejadian tempo hari, Joana semakin merasakan perasaan yang aneh melingkupi hatinya. Ia selalu merona jika sesuatu hal yang menyangkut Ammar dibahas didepannya. Ammar tidak seburuk yang ia pikirkan, dulu. Entah karena ia sudah mengetahui kesalahan Ammar dari kedua belah pihak atau apa, yang jelas Joana bisa menilai jika Ammar tidak sepenuhnya bersalah. Ada pihak ketiga yang memang ingin menghancurkan pernikahan Kinan dan Ammar waktu itu.


Kini, Joana bisa memandang Ammar dari segi penglihatannya dan penilaiannya sendiri, bukan dari cerita oranglain.


"Jo, apa kau mau bertemu dengan keluargaku di rumah?" tanya Ammar pada suatu kesempatan.


Tentu saja Joana terkejut akan permintaan Ammar tapi ia mengiyakan juga.


Kedatangannya kerumah Ammar disambut hangat oleh Anak-anak, mereka begitu senang dengan kehadiran Joana.


Joana juga dikenalkan Ammar pada sang Mama, Latifa.


Joana, Ammar dan anak-anak bermain lego bersama, menciptakan kedekatan dan tawa yang jarang sekali terdengar semenjak mereka pindah kerumah kecil itu. Suara cengkrama dari mereka semua menghangatkan suasana yang beberapa bulan belakangan terasa sangat kaku.


Pemandangan hangat itu tak luput dari pandangan Latifa. Sebagai seorang Ibu, ia merasa ada yang istimewa dari Joana hingga anaknya mengajak Joana berkunjung kerumah mereka.


"Apa kalian punya hubungan khusus?" tanya Latifa seraya menuangkan minuman ke dalam gelas. Pertanyaan itu sontak membuat Ammar yang sedang minum terbatuk-batuk, entah karena gugup atau justru ucapan sang Mama ada benarnya.


"Kami berteman, Tante." jawab Joana seraya mengurai senyum.


"Baiklah, semoga hubungan pertemanan kalian akan terjaga." Latifa menepuk-nepuk pelan punggung tangan Joana. Sedangkan Ammar menatap Joana dengan senyuman penuh arti.


"Ammar tidak pernah membawa seorang wanita kerumah." celetuk Latifa lagi dan Joana ikut tersenyum karenanya.


"Itu karena aku tidak punya teman wanita, Ma." Sanggah Ammar.


"Justru itu, kenapa sekarang kau malah berteman dengan Dokter Joana?" Goda Latifa.


Ammar mengul-um senyumnya lalu dia menarik nafas panjang. "Mungkin karena kami cocok." jawab Ammar asal. Tapi justru jawabannya itu mengundang Latifa untuk menggodanya lagi.


"Kalau cocok kenapa tidak menikah saja." Kata Latifa.


Kini Joana yang terbatuk-batuk akibat terkejut, Ammar dengan sigap memberikan tissue pada Joana dan Joana mengambilnya.


"Kenapa kalian jadi gugup? Kalau kalian mau menikah juga tidak apa-apa. Mama tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu lagi, Mar." Latifa mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah, ia lalu menyunggingkan senyum kearah keduanya. Joana terdiam dengan pikirannya dan Ammar memandang kearahnya seolah mereka berinteraksi lewat sorot mata.


Keadaan hening itu kembali diambil alih oleh Latifa. "Kalau Tante Joana jadi Mama sambung untuk Lesya dan Shaka, apa kalian keberatan?" Latifa melempar pertanyaan pada anak-anak.


"Mama..." suara Ammar mencegah sang Mama berkata lebih jauh.


Sepasang anak-anak itu melihat kearah sang Nenek, karena Latifa menyebut nama mereka. Mereka menghentikan aktifitas bermainnya sejenak.


"Mar, kalian sama-sama masih muda. Anak-anak juga sudah cukup besar untuk mengerti dan mereka punya pendapat untuk ditanyakan." kata Latifa.


Joana terdiam dengan seribu kata yang hendak ia lontarkan. Ia tak berani masuk ditengah-tengah pembicaraan Latifa dan Ammar, ia cukup tahu diri untuk menyelah sebelum dipersilahkan.


Jawaban Ammar malah semakin membuat Joana menelan salivanya dengan berat.


"Jujur saja kalau aku memang merasa cocok dengan Joana. Semuanya tergantung padanya." Kata Ammar melempar jawaban yang harus membuat Joana buka suara.


Belum lagi Joana bicara, suara Lesya terdengar tiba-tiba.


"Kami setuju saja asal Papa bahagia dan tidak seperti dulu lagi." Sahut Lesya kemudian melakukan tos dengan Shaka yang membuktikan jawaban mereka sama.


"A-aku.." Joana mendadak gugup.


"Aku tidak memaksamu, Jo. Jawablah sesuai dengan isi hatimu." Kata Ammar.


"Bisakah aku memikirkan ini dulu? Ini terlalu tiba-tiba." Kata Joana akhirnya dan Ammar mengangguki.


Sepanjang perjalanan pulang Joana tak bisa berfikir jernih. Tentu saja ia merasa terkejut akan semua ini. Ini sama saja Ammar memintanya menikah dengannya bukan? Apalagi pernyataan sebagai Ibu sambung untuk kedua anak Ammar, itu berarti benar adanya jika ini seperti sebuah lamaran yang diajukan oleh Mamanya Ammar kepadanya.


Joana memasuki Mansion dan ia tak menghiraukan sapaan dari siapapun yang berpapasan dengannya saat menuju kamar.


Ponselnya berdering dan nama Ammar tertera disana.


"Kau sudah sampai rumah?" tanya Ammar.


"Baru saja."


"Maaf jika aku tidak bisa mengantarmu."


"Tidak apa, dua pengawal itu sudah cukup." Kata Joana seraya terkekeh pelan.


"Soal permintaan Mama dan anak-anakku jangan terlalu membebanimu." ucap Ammar.


"Jadi itu hanya permintaan Mama dan anak-anak." sindir Joana.


Joana tersenyum ditempatnya, walau ia tahu jelas jika Ammar tidak akan melihat senyumnya itu.


"Aku akan mandi dan sambungan teleponnya terpaksa ku putus." jawab Joana menghindar.


"Baiklah. Terima kasih untuk hari ini." kata Ammar.


Joana pun memutuskan mandi, ia berendam air panas didalam bathub, untuk merilekskan tubuh serta menjernihkan pikirannnya. Haruskah ia menerima Ammar? Apakah ini terlalu cepat? Joana mengenal Ammar bahkan sampai ke sisi tergelapnya. Tapi Ammar tidak mengenalnya, bukan?


Ah, ini terlalu cepat.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Dokter, itu tadi pasien terakhir kita." ucap Sasa yang memasuki ruangan Joana. Joana mende-sah lega, akhirnya pekerjaannya hari ini selesai.


"Baiklah, Sa. Kau boleh pulang." kata Joana pada Sasa. Joana pun merapikan penampilannya. Sebelum benar-benar beranjak, ia mengambil tas nya dan keluar dari ruang prakteknya. Dua orang pengawalnya yang menunggu pun ikut berjalan dibelakang Joana. Joana ingin menuju mobil namun suara klakson dibelakang tubuhnya seolah sedang memanggilnya membuat ia pun menoleh.


Tampaklah sebuah mobil hitam berada tepat dibelakangnya.


"Jo, naiklah!" Kata Ammar yang ternyata mengemudikan mobil itu. Joana pun menghampirinya.


"Ammar? Kau baru membeli mobil?"


"Ya, aku rasa ini perlu dan aku baru dapat keuntungan dari bisnisku."


"Huum.. selamat." Joana tersenyum simpul.


"Masuklah." ajak Ammar pada Joana.


"Tapi mobilku?"


"Salah satu dari dua orang pengawal itu bisa membantumu."


"Oke." Joana menyerahkan kunci mobil pada salah seorang pengawalnya dan ia pun memasuki mobil baru Ammar.


"Kurasa bisnismu mendapatkan keuntungan yang fantastis sampai kau membeli mobil mewah." Kata Joana berseloroh.


"Ini mobil bekas," kelakar Ammar seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Tapi mobil ini tetap mahal walau dalam keadaan second." ejek Joana dan Ammar malah terkekeh karenanya.


"Kita mau kemana?" tanya Joana.


"Kau sudah makan?"


Joana menggeleng.


"Kita akan makan malam dan membahas jawabanmu." Kata Ammar dengan senyuman secerah mentari.


"Ammar.." Joana gugup jika Ammar membahas hal itu. "Ku rasa kau salah mengartikan kedekatan kita selama ini." sambungnya.


"Maksudnya?" Ammar mengernyit, ia menghentikan mobilnya secara tiba-tiba di pinggir jalan.


"Aku rasa, ini terlalu cepat. Kau bahkan belum mengenalku terlalu dalam." kata Joana.


"Aku tidak paham maksudmu."


"Kau belum tahu aku seperti apa, walaupun aku tahu kehidupanmu tapi kau belum mengenalku sepenuhnya."


Ammar menggeleng cepat, ia tersenyum kecut. "Justru aku ingin mengenalmu lebih jauh. Apa ada yang salah denganku sehingga kau memutuskan jawaban seperti ini? Kau takut aku mengulangi kesalahan seperti yang pernah aku lakukan pada Kinan?"


Joana terdiam, sesungguhnya ini bertentangan dengan kata hatinya. Dan bukan itu yang ia takutkan. Ia hanya tak siap jika Ammar yang belum mengenalnya akan masuk dalam hidupnya.


"Bukan itu, aku belum bisa membuka hatiku." Jawaban yang bertolak belakang dengan hatinya yang justru sudah menerima Ammar.


"Kau masih mencintai lelaki itu?" Ammar menebak jika Joana masih mencintai Xander.


"Entahlah... kau tidak tahu kehidupanku dimasa lalu."


"Aku akan mengetahuinya, beri tahu aku."


"Tidak Ammar. Aku akan turun disini. Lanjutkan perjalananmu, lanjutkan hidupmu." Joana keluar dari mobil Ammar saat itu juga.


...Bersambung......