
Mobil Ammar baru saja terparkir mantap dipekarangan rumah Desi. Ammar tak bekerja hari ini. Ia memutuskan untuk absen bekerja, dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman Desi. Ammar ingin menemui Kinan, terutama ia ingin memastikan kegelisahan hatinya, tentang ingatan Kinan yang mungkin telah kembali.
Bagaimana mungkin Kinan yang masih lupa akan segalanya bisa menuju rumah Desi, dan Desi tahu kenyataan bahwa Kinan mengalami gangguan psikis. Ammar tidak pernah bercerita sebelumnya. Ammar hanya mengatakan bahwa Kinan kabur dari Rumah Sakit, garis bawahi itu! Rumah Sakit! Tanpa pernah Ammar detail-kan bahwa itu Rumah Sakit Jiwa. Entah kenapa Ammar merasa Desi menutupi sesuatu, namun Desi tak mau mengungkapkannya pada Ammar.
Ammar mengetuk pintu, menunggu beberapa saat. Mengetuk dan mengetuk lagi hingga ia sedikit merasa jengkel karena pintu itu tak kunjung dibukakan sang empunya rumah. Ammar mengira Desi pasti sedang keluar. Bekerja, mungkin. Tapi Ammar yakin Kinan ada didalam sana. Sedetik kemudian, Ammar ingin mengetuk pintu lagi untuk yang kesekian kalinya, namun pintu itu telah terbuka dari dalam.
"Kinan?" Ammar tersenyum menatap wajah istrinya yang sudah cukup lama tak ia temui.
"Mas.." Kinan nampak terkejut namun langsung tertunduk. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya yang sayu dan terlihat semakin kurus itu.
"Boleh kita bicara?" Ammar bertanya dengan pelan, namun kata-katanya penuh nada intimidasi.
Ammar melangkah masuk tanpa persetujuan apapun dari Kinan, baik persetujuan masuk kerumah atau persetujuan untuk melakukan pembicaraan. Ia duduk di sofa seraya menatap Kinan yang mematung dan masih tertunduk.
"Duduklah!" Ucapnya sambil menepuk sofa tepat disebelahnya.
Kinan merasa aura dingin melingkupi dirinya, entah kenapa kini ia merasa takut. Ammar terlihat mengerikan walau sebenarnya Ammar berkata jelas dengan sangat lembut. Lembut yang terasa dipaksakan-pikir Kinan.
Kinan akhirnya duduk di sofa yang berada diseberang Ammar. Terhalang oleh sebuah meja kaca. Ia enggan untuk duduk disebelah Ammar. Ia takut sewaktu-waktu salah berucap atau malah terjerumus dalam kesalahan bersikap. Ammar tersenyum miring melihat Kinan yang memutuskan duduk jauh dari jangkauannya.
"Kinan, kita pulang ya?" Alih-alih menanyakan keadaan Kinan, lelaki itu malah to the point dengan maksud dan tujuannya.
"Aku masih ingin disini, Mas!" suara Kinan terdengar bergetar. Ia meremas jemarinya sendiri.
"Kenapa? Bukankah rumah yang paling baik untuk seorang istri adalah rumah suaminya?"
Kinan menggeleng. Mungkin dulu rumah itu adalah tempatnya pulang. Tapi sekarang rasanya tidak lagi. Tak sama lagi.
"Kinan, jika kau tidak mau pulang dan tinggal bersama dengan mama dan anak-anakku, tak apa. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu." Suara Ammar pelan namun tetap dengan nada intimidasi. Ia berujar bukan meminta jawaban Kinan, melainkan seperti memaksa Kinan mengikuti aturannya.
"Mas, bukan itu. Aku masih ingin menenangkan diri."
"Menenangkan diri? dengan pergi dari suamimu dan mengikuti lelaki lain?" Sindir Ammar sambil menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya fokus menatap Kinan yang jelas-jelas enggan menatapnya.
"Bu-bukan begitu Mas, aku dan Mas Rey.."
"Beraninya kau memanggilnya begitu dihadapanku, huh?"
Kinan berdiri, ia tak sanggup menghadapi lelaki yang berstatus suaminya ini namun nyaris tak ia kenali. Jadi inikah lelaki yang menikahinya. Lembut namun penuh dengan penekanan? Kinan dibuat terpojok dan tak bisa menjelaskan apapun. Jangankan menjelaskan, baru berkata sedikit namun Ammar langsung memotong kata-katanya. Ammar masih sama seperti dulu. Ia tak mau mendengar penjelasan dari Kinan.
"Pulanglah, Mas! Aku tidak akan pernah kembali kerumahmu atau rumah lainnya yang adalah milikmu!" Kinan membuang pandangannya ke arah lain.
"Kinan.." Suara Ammar melemah. Entah kenapa suaranya yang tadi pelan. Kini terasa seperti memohon. Kinan sedikit ter-enyuh mendengarnya.
"Aku ingin sendirian, Mas!
"Baiklah, tapi jawab aku dengan jujur!"
Kinan menatap wajah Ammar untuk yang pertama kalinya semenjak pertemuan mereka hari ini. Ammar pun sama, seolah mengunci pandangan itu. Fokus terhadap wanita didepannya.
Kinan diam, namun Ammar bisa melihat dimatanya bahwa Kinan mengatakan iya. Entah kenapa.
"Jawablah Kinan! Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri"
"Apa itu penting?"
"Sangat!"
"Kenapa?"
"Karena aku.."
"Kenapa Mas? Apa karena kau adalah suamiku dan kau juga berhak mengatur hatiku?"
Ammar menggeleng lemah. Kini ia tersadar, ia belum mendapat jawaban dari mulut Kinan namun ia sudah tahu dengan pasti apa jawabannya.
"Baiklah, aku pulang. Kapanpun kau mau kembali, tolong kabari aku. Aku sangat mengerti perasaanmu yang terluka. Aku akan menunggumu, Kinan!" Ammar berusaha mengalah, mungkin inilah jalan terbaik untuk menghadapi sang istri.
"Kenapa harus menungguku, Mas?"
Ammar mendekat kerah Kinan, ia menggenggam jemari sang istri. Kembali Ammar menatap lekat mata Kinan.
"Karena aku mulai merasa kau adalah yang ditakdirkan Tuhan untukku, dan aku harus menjaganya!" Ammar mengecup pucuk kepala Kinan dengan penuh perasaan. Sudah cukup ia kehilangan Kinan selama ini, cukup ia menyia-nyiakan Kinan. Ia menyadari kini tak ada lagi yang ia cari, selain mempertahankan apa yang memang sudah menjadi miliknya. Ia tak mau kehilangan lagi. Cukup sudah. Dan ia telah menyesali segalanya. Bisakah ia berubah dan mengubah semuanya dari sekarang? Walau semuanya telah terlambat.
"Mas?" Kinan menyadarkan Ammar yang tanpa sadar sudah mendekap Kinan dalam pelukannya.
"Aku tahu ini terlalu terlambat, untuk mempercayaimu sudah sangat telat. Untuk membuktikan dan mencari orang yang menghancurkanmu juga sudah--"
"Sudahlah Mas!" Kinan menangis dalam dekapan Ammar. Ia tak membalas pelukan itu. Namun entah kenapa ia juga tak berniat lepas dari pelukan sang suami. Inilah yang Kinan jaga sedari awal. Ia takut salah bersikap dan terjerumus kedalam dekapan Ammar.
"Aku akan merubah jalan pikiranku, aku akan mulai percaya padamu. Kita akan memulai semuanya dari awal. Aku akan menutup mata tentang hal buruk yang menimpamu! Aku akan menerima semuanya." Suara Ammar kini terdengar tulus. Ia mengelus rambut Kinan dengan penuh kasih sayang.
Sebagai seorang wanita, Kinan masih punya harga diri walau ia sudah kehilangan semuanya sejak lalu. Ia tak mau dengan mudah memaafkan Ammar yang telah ikut andil menorehkan luka dalam hidupnya. Namun, sebagai seorang istri ia seperti luluh akan ucapan Ammar. Benarkah Ammar sudah berubah? akankah Ammar mau menerima kenyataan dan anak dalam kandungannya? Kinan mengelus perutnya yang masih tampak rata. Setetes air bening membanjiri pipi mulusnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap semua itu dari ambang pintu. Matanya memerah menahan gejolak perih dilubuk hati. Kedua tangannya mengepal. Namun, sebelum dua insan dihadapannya tersadar akan kehadirannya, ia buru-buru pergi dari tempatnya dengan membawa luka setelah mendengar semuanya, terutama penuturuan Ammar. Sia-sia keberanian yang ia kumpulkan untuk datang menemui Kinan. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia bukan pengecut, ia harus berani bertemu Kinan. Namun, semesta seakan mengejeknya dan memperlihatkan tontonan yang mengiris-iris perasaannya.
"Sekuat apapun gue berusaha, status lo tetaplah bukan milik gue!" Batinnya berkata-kata. Kecewa dan Amarah tertumpuk disana.
.
.
.
.
Bersambung...