How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Mona?



Keesokan harinya, Rey sudah bersiap di Bandara untuk penerbangannya menuju Seoul. Ia menggunakan penerbangan pertama atau pesawat pagi.


Rey berpenampilan casual dan terkesan santai. Kemeja berwarna Khaki dan celana chino sebagai bawahannya. Lalu sebagai pelengkap penampilannya, kacamata hitam pun sudah bertengger dipangkal hidungnya. Tak lupa satu tangannya menarik sebuah koper berukuran sedang yang berisi perlengkapannya.


Rey tengah duduk dan menunggu jadwal penerbangannya, ia berharap semoga penerbangannya kali ini tidak ditunda. Karena setelah dari Seoul, Rey berencana akan langsung menuju London. Ini semua ia lakukan agar tidak adanya kecurigaan dari sang Ayah. Ia harus benar-benar tiba di Seoul dulu karena ia yakin perjalanannya kali ini tak luput dari pantauan sang Ayah.


Rey menarik nafas lega ketika penerbangannya akan segera terjadi, ia mulai memasuki pesawat dan duduk dengan nyaman pada tempatnya di dalam kabin.


"Maafkan aku harus membohongimu, Pa." Sesalnya dalam hati.


Rey mengusap kasar wajahnya sendiri dan memutuskan memejamkan mata. Ia akan menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur, karena ia terlalu sering kurang tidur beberapa bulan belakangan ini.


Saat Rey belum terlalu lama terpejam, ia merasa seseorang datang dan menempati posisi untuk duduk disebelahnya. Rey cuek dan tetap memejamkan mata tanpa menggubris orang asing yang mungkin akan berada disampingnya selama penerbangan ini. Sampai suara seorang wanita yang sangat familiar terdengar ditelinganya.


"Reyland?" Sapa wanita itu pada Rey yang tengah terpejam sambil bersedekap dada.


Rey yang mendengar namanya disebut sontak membuka mata dan terkejut melihat wanita yang duduk di sampingnya ini. Ia berusaha bersikap biasa saja, seulas senyum ia berikan untuk menutupi rasa terkejutnya.


"Kamu mau kemana, Rey?" Wanita itu mulai bertanya pada Rey.


Rey memutar bola matanya, untuk apalagi wanita ini bertanya tujuan Rey. Jelas-jelas mereka satu pesawat, berarti tujuannya akan mendarat di Bandara yang sama.


"Seoul." Pada akhirnya Rey menjawab juga walau dengan nada datar.


"Kebetulan sekali ya, aku juga akan kesana dan benar-benar kebetulan juga kita bisa satu seat dalam pesawat ini." Ucapnya riang.


"Hmm." Rey bergumam dan memutuskan untuk memandang ke luar melalui jendela pesawat. Entah apa yang sekarang ia pikirkan setelah melihat wanita ini ada di depan matanya.


"Sepertinya sekarang kau nampak lebih kurus dari terakhir pertemuan kita." Wanita itu terus saja bersuara padahal Rey sudah tak memandangnya.


"Itu sudah lama sekali, Mona." Ucap Rey setengah kesal.


Sang wanita yang bernama Mona itu terkikik geli dengan ekspresi kesal Rey. Ya, sudah lama mereka tidak bertemu dan sudah lama pula ia tak melihat tingkah kesal Rey seperti ini.


"Kau ada urusan apa di Seoul?" Mona memegang pundak Rey agar pemuda itu berbalik arah dan melihatnya. Sontak saja Rey menepis pelan tangan wanita itu.


"Urusanku bukan urusanmu!" Jawab Rey tak acuh seraya meletakkan perlahan tangan Mona keatas pangkuan wanita itu sendiri.


"Rey, kau ternyata masih marah padaku." Mona cemberut. "Padahal itu sudah lama berlalu bahkan akupun sudah putus dengan David." Ucap Mona sambil terus menatap ke mata hazel milik pemuda itu.


Rey berdecak lidah, tak suka jika Mona membahas masa lalu. Dan untuk apa pula dia menjelaskan hubungannya dengan David yang sudah putus.


"Bisakah kau diam? Aku mau tidur." Ucap Rey.


Mona mengangguk. "Istirahatlah, kita masih punya banyak waktu." Ucapnya percaya diri. Lagi-lagi Rey memutar bola matanya jengah, lalu memutuskan untuk memejamkan mata dan tidur.


Mona memandangi wajah teduh lelaki dihadapannya yang tengah tertidur, ada sebersit perasaan sesal yang timbul dihatinya. Pada masa kuliah dulu, ia dan Rey bagaikan sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan. Rey adalah pacar pertamanya meski bukanlah orang pertama yang ia cintai. Ia pun tahu jelas jika lelaki dihadapannya ini amat mencintainya dulu.


Tapi semua kesalahan ada pada Mona yang meninggalkan Rey begitu saja demi tujuannya yaitu David, sang cinta pertama yang belum bisa ia dapatkan tapi datang ketika ia sudah bersama Rey saat itu. Mona tahu, sedikit banyak Rey berubah dan menjadi lelaki br*ngsek yang meniduri banyak wanita adalah karena keputus-asa-an pemuda itu akibat dia tinggalkan.


Mona sendiri memutuskan hubungan dengan David karena David ternyata hanya mempermainkannya, ia amat menyesal sekarang. Sejak saat Mona dan David berpacaran, sejak itu pula Rey sangat sulit untuk ia hubungi dan selalu menghindar jika ingin ditemui. Padahal Mona ingin menjalin hubungan baik dengan Rey walau hubungan keduanya telah kandas.


Mona tersenyum dan mendapat sebuah ide, ia mengambil gadget di slingbag-nya dan memotret Rey yang tengah tertidur. Ia memuji lelaki itu dalam hatinya sendiri.


"Kau banyak berubah dan sekarang kau semakin tampan." Ucap Mona dalam hati. Senyuman dari bibirnya pun semakin lebar.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Kinan tengah menyisir rambutnya sendiri di hadapan cermin. Mendadak, bayangan Rey yang sering menyisiri rambutnya saat masih tinggal di Villa muncul dan berkelebat di pikirannya. Kinan langsung menggeleng dan berusaha membuyarkan apa yang ia pikirkan saat ini.


"Bisa-bisanya aku memikirkannya lagi huh." Gumam Kinan pada dirinya sendiri.


"Ingatlah Kinan, kau jauh-jauh kesini, salah satunya agar bisa melupakan dia." Kinan berkata pada bayangannya sendiri yang terpantul di cermin.


Suara ketukan pintu membuatnya menghentikan aktifitasnya itu, Kinan segera bangkit dari duduknya dan benar saja seorang pelayan sudah memanggilnya karena lebih dulu membukakan pintu itu.


"Ada seorang pria ingin menemui anda, Nona." Ucap pelayan wanita itu dengan logat Inggris yang kental.


Kinan mengangguk dan menanyakan siapa pria yang ingin menemuinya itu.


"Doni? Sepupu Joana? Untuk apa dia menemuiku?" Batin Kinan.


"Baiklah, aku akan menemuinya." Ucap Kinan seraya gegas keluar dari kamarnya menuju luar.


Setelah memastikan jika itu benar-benar Doni, barulah Kinan mempersilahkan pemuda itu untuk masuk dan duduk.


"Apa ada sesuatu yang penting?" Kinan menatap Doni yang sudah duduk dalam posisi nyaman.


Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sungkan dan tak tahu harus memulainya darimana.


"Emmm, apakah kau ada waktu luang? Bisakah kita jalan-jalan sebentar?" Tanya Doni sambil tersenyum kikuk.


"Joana?" Kinan ingin memastikan dulu apakah mereka hanya berdua saja.


"Joana tidak ikut. Hanya aku....dan kau." Ucap lelaki bermata kebiruan itu dengan ragu pada awalnya.


"Oh, maafkan aku, Don. Sepertinya aku tidak bisa." Tolak Kinan. Ia masih terlalu takut untuk berhubungan dengan lelaki dan ia juga tak mengenal Doni dengan begitu dekat. Apalagi ini London, Negara bebas yang bisa saja malah membahayakan dirinya lagi.


"Kenapa?" Doni tampak kecewa.


"Karena aku harus periksa kandungan." Ucap Kinan lugas, ia mengelus perutnya perlahan. Dan Doni baru menyadari jika perut Kinan memang terlihat sedikit lebih besar saat wanita itu mengenakan outfitnya hari ini.


"Kau hamil?" Doni sedikit terkejut mengetahui fakta ini, ia sempat tak memperhatikannya karena kemarin Kinan mengenakan baju kaos yang longgar.


"Ya, memasuki lima bulan. Tidak begitu terlihat ya?" Tanya Kinan serius.


Doni mengangguk dan senyumnya tidak pudar. Ia memikirkan hal lain saat ini.


"Jika kau tidak keberatan, aku mau mengantarmu periksa." Doni menatap Kinan serius.


"Astaga aku harus jawab apa lagi untuk menghindarinya." Batin Kinan.


"Tidak perlu repot, Don. Sudah ada yang akan mengantarku."


"Suamimu?" Tebak Doni.


"Hah? Ya....begitulah." Ucap Kinan spontan, ia sendiri hanya berharap semua jawabannya dapat membuat Doni jera dan jika memang lelaki dihadapannya ini berharap lebih dari sekedar berteman, Kinan sudah mengantisipasinya.


Doni mengangguk mengerti, entah apa yang sekarang ia pikirkan. Sesaat kemudian Doni undur diri dari hadapan Kinan. Kinan menghela nafas lega karena ia berhasil menolak permintaan Doni dengan tegas tanpa ingin memberi harapan apapun.


.


.


.


.


Bersambung...


NB : Buat yang bertanya-tanya Mona itu siapa, jadi Mona itu mantan pacarnya Rey ketika kuliah dulu. Dan, dia gak muncul gitu aja karena nama Mona pernah disinggung di Part 29 sama Kevin dalam novel ini.


Beginilah kira-kira ucapan Kevin waktu itu ya. Part 29 -> waktu pertama kali Kevin ketemu Kinan di Villa.


"Pantes aja lo kepincut! polos-polos gimana gitu ya, Nyuk! selera lo gue pikir kayak si Mona!" Kini, Kevin sedikit berbisik pada Rey. Tentu saja ucapannya itu mendapat tempelengan dari Rey.


Gimana? Udah ingat kan?? โœŒ๏ธ๐Ÿ˜‚




Noh aku kasi visual Rey lagi yah.. Yang minta visual Kinan, aku kasi nanti yaaaa tapi votenya yang banyakkk dong๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Hadiah juga jangan lupa โœŒ๏ธ


Oh iya, mampir yuk ke Novel baru aku judulnya "Terjebak Rasa" Ceritanya bedaaaaaa asli๐Ÿ‘Œ Di buat jadi favorit yuk...โค๏ธโค๏ธโค๏ธ