
Ammar tiba di tempat praktek Joana, ia mengedarkan pandangan. Tempat itu tampak senyap. Asisten pribadi Joana terlihat kebingungan dan menarik perhatian Ammar untuk bertanya.
"Permisi Nona, aku mau bertemu Dokter Joana. Apakah bisa?" Tanya Ammar pada wanita muda yang berdiri didepan ruangan Joana yang tertutup.
"Maaf Tuan, bukankah jadwal periksa Anda hari Rabu nanti?" Jawab wanita itu seolah mengenali lawan bicaranya.
"Em, yah. Aku kesini ingin mengambil barangku yang tertinggal. Sepertinya kemarin aku meninggalkan tas dan berkas penting didalam ruangan Dokter Joana." Jawab Ammar.
Wanita itu mengangguk, kemudian dia mengeluarkan sebuah tas kerja dari dalam laci mejanya--yang ia pikir adalah barang yang dimaksudkan oleh Ammar.
"Apakah barang ini yang Anda maksud? Kemarin memang saya menemukannya saat membereskan meja Dokter Joana."
"Ya, itu punyaku." Ammar meraih Tas itu seraya tersenyum simpul. "Terima kasih atas bantuannya, Nona..? Ammar memandang wanita muda itu seolah bertanya.
"Saya Sasa, Tuan." Jawab Saya takzim.
"Terima kasih ya, Sasa. Oh iya, apa hari ini prakteknya tutup?" Lanjut Ammar bertanya karena melihat keadaan yang lengang.
Sasa tampak menggeleng cepat. "Dokter Jo belum datang, seharusnya sudah datang dari setengah jam yang lalu. Saya bahkan membatalkan pertemuan dengan pasien pertama karena belum ada satupun pesan saya yang dibalas Dokter Jo." Terang Sasa yang tampak lesu dan ragu-ragu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tampaknya Ammar membaca keraguan diwajah Sasa.
"Bukan apa-apa Tuan, saya hanya merasa khawatir pada Dokter Joana, dia tidak biasanya seperti ini. Beliau selalu on time dan kalaupun telat, dia pasti mengabari saya lewat pesan text." Sasa mere-mas jemarinya sendiri, ia mulai gelisah dan itu tak luput dari pandangan mata Ammar.
"Mungkin Dokter Joana sedang ada keperluan mendadak, atau mungkin ada kendala di perjalanan." Jawab Ammar berusaha menenangkan Sasa. Sasa mengangguki Ammar tapi tetap ada keraguan dalam hatinya. "Aku permisi dulu." Ucap Ammar kemudian.
"Ng..tunggu dulu, Tuan." Sasa mencegah langkah Ammar yang hampir beranjak.
"Ya?" Ammar menoleh kembali.
"Apa boleh saya minta bantuan Anda, Tuan? Saya takut terjadi sesuatu pada Dokter Joana. Perasaan saya tidak enak, semenjak--"
"Kenapa? Semenjak apa?" Ammar mengernyit heran.
"Semenjak kemarin sore, it--itu ada pasien yang..hmm pasien aneh kemarin." Sasa menyatukan jari telunjuknya satu sama lain seraya menundukkan pandangan.
"Aneh?" Ammar semakin keheranan, perasaannya menjadi ikut tertular kecemasan dari Sasa.
"Iya, pasien itu nampak sangat kasar dan menakuti Dokter Jo. Sepertinya pasien itu juga memiliki hubungan yang tidak baik dengan dokter Jo. Dokter Jo juga terkejut dengan kedatangannya padahal--"
Ammar langsung mengerti keadaan sekarang. Ia tak mau ikut campur lebih jauh masalah Joana tapi ia mendadak cemas seperti Sasa saat mendengar perlakuan pasien itu yang kata Sasa bersikap kasar. "Apa kau tahu dimana tempat tinggal Joana?"
"Saya hanya tahu Dokter Jo tinggal di Apartement tapi saya tidak tahu di Apartement mana." Jawab Sasa.
Seketika Ammar mengambil ponselnya dan menelepon seseorang diseberang sana.
"Hallo, Rey?"
...*...
Joana semakin merasa hal buruk akan segera menyerangnya saat ini juga. Bagaimana tidak, saat ini Joana dalam posisi setengah terbaring di sofa sementara Xander mengungkungnya. Lengan Xander yang tegap dan kuat berada di kedua sisi tubuhnya. Wajahnya menyeringai kearah Joana dengan penuh maksud.
"Tolong lepaskan aku, hubungan kita sudah selesai, Xander." Ucap Joana tegas, berusaha mengendalikan diri. Ia takut jika salah bersikap maka Xander akan semakin menguasai keadaan.
"Apanya yang sudah selesai? Aku pikir kau adalah kekasihku selamanya." Jawab Xander. Satu tangannya kini terulur untuk menyibak helaian rambut Joana yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.
"Itu hanya ada dipikiranmu." Sanggah Joana, menutupi rasa takutnya kala merasakan nafas Xander yang kini sangat dekat dan terasa hangat menerpa kulitnya.
Xander tersenyum miring, ia menatap sorot mata Joana yang dianggapnya sangat tenang menghadapinya. "Kau sangat pandai mengendalikan dirimu." Ucapnya, tangannya kini mengelus pipi Joana.
Lalu seketika itu juga, didetik yang sama ia mencengkram kedua pipi Joana dengan satu genggaman. "Kau lupa? Cita-citamu menjadi psikiater adalah untuk menyembuhkanku. Maka lakukanlah Jo! Buktikan!" Ucap Xander berapi-api.
"Aku tahu, itu adalah impianku dulu. Tapi kau membahayakan aku." Jawab Joana penuh emosi dan itu turut mengundang emosi Xander kembali meluap-luap. Sepertinya Joana salah ambil sikap kali ini. Wajah Xander berubah pias.
"Aku tidak membahayakanmu, Jo! Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Kau sangat berarti untukku!"
"Kau salah! Tindakanmu bisa membunuhku sewaktu-waktu. Mungkin dulu aku bisa menahan semua perlakuanmu tapi sekarang tidak." Jawab Joana.
"Kenapa, Jo? Kenapa?"
"Karena aku sudah tidak mencintaimu lagi." Jawab Joana jujur. Ia ingin Xander menyadari yang sesungguhnya jika hubungan mereka telah berakhir bertahun-tahun yang lalu.
Beberapa tahun lalu, Xander melukai Joana dan menyebabkan Joana harus berakhir di Rumah Sakit. Itulah awal kemurkaan orangtua Joana yang baru mengetahui jika anak gadisnya selalu dijadikan pelampiasan oleh Xander. Saat itu Ayah Joana menjebloskan Xander ke penjara. Sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi dan Joana perlahan-lahan mulai belajar melupakan Xander walau dulunya dia mengasihi Xander dan bertekad akan membantu Xander untuk sembuh. Tapi, Joana menyadari jika perasaannya hanya rasa prihatin atas keadaan Psikis dan mental Xander yang memiliki kelainan, bukan perasaan cinta, bukan!
"Kau bohong!" Xander bangkit dari posisinya seraya menghentakkan tangannya yang tadi mencengkram pipi Joana. Ia tak terima jika Joana tak mencintainya. Joana mengelus pipinya yang terasa nyeri akibat perlakuan Xander tadi.
Xander menggelengkan kepalanya dengan cepat, sikap tak percaya dirinya kembali muncul. "Kau bohong, Jo! Kau mencintaiku dan akan menyembuhkanku. Itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar mengikuti terapi dari psikiater yang ditunjuk keluargaku. Itu karena aku hanya ingin kau yang membantuku sembuh!" Lanjutnya. Xander mengamuk. Ia membanting semua barang-barang yang ada dihadapannya. Suara amukan dan barnag-barang yang dibantinh Xander bergabung menjadi satu.
Joana mengambil kesempatan itu untuk beringsut menjauh dari posisi Xander. Ia hampir mencapai pintu keluar tapi langkah kaki Xander yang panjang dengan cepat menggapai tubuhnya. Xander menarik paksa tubuh Joana sampai baju yang Joana kenakan terkoyak akibat tarikannya yang sangat kuat.
Srekkkk!!
"Xander!!" Pekik Joana mendapati pakaiannya yang robek. Xander kalap dan mengangkat tubuh Joana. Ia benar-benar marah mengetahui kenyataan jika Joana tak lagi mencintainya, padahal ia tak pernah dendam pada Joana terkait masuknya ia kedalam penjara. Toh dia juga tak lama berada dipenjara, beberapa bulan saja dan dia langsung dipindahkan ke pusat rehabilitasi. Di tempat rehabilitasi pun dia hanya mengikuti terapi psikiater sekenanya, ia tak pernah benar-benar serius untuk sembuh. Xander benar-benar ingin menuntut janji Joana dengan sembuh berkat bantuan gadis itu.
"Xander lepaskan aku!" Pinta Joana saat Xander kembali membawa tubuhnya untuk menuju sofa.
"Kau harus diberi pelajaran! Kau sudah berani melawanku! Kau milikku! Selamanya akan begitu!" Teriak Xander tepat ditelinga Joana.
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" Joana meronta, namun usahanya sia-sia.
Xander menghempaskan tubuh Joana ke sofa. "Kau tunggu disini, kau harus dihukum!" Ucapnya sambil berjalan kearah lain.
Pandangan Joana mengikuti arah kepergian Xander yang tak begitu jauh. Xander kembali dengan membawa gulungan tali. Joana menelan salivanya dengan susah payah. Ia tahu jika Xander pasti akan mengikat tubuhnya sekarang, untuk dia miliki. Nafas Joana semakin memburu saat langkah Xander semakin mendekat kearahnya. Tangannya menggapai-gapai kesamping Sofa dimana ada meja kecil terletak disana.
Xander kembali menyeringai ke arah Joana. "Kau sudah tahu kan apa yang akan ku perbuat?" Ucapnya tersenyum miring.
Joana terdiam saat tangannya sudah mendapat benda yang ia butuhkan. Matanya terus memperhatikan Xander yang bergerak perlahan membuka gulungan tali yang ia bawa. Saat tangan Xander menyentuh kakinya untuk membelitkan tali itu disana, sesuatu yang tidak pernah Xander perkirakan pun terjadi.
Brakkkkkk!!!!
Xander mendelik kearah Joana yang memandangnya dengan tatapan ngeri. Tangan Xander memegangi kepalanya yang sakit dan mengeluarkan darah. Joana pun berlari menuju pintu saat itu juga.
"Berhenti kau gadis sia-lan! Beraninya kau!" Ucap Xander sambil meringis kesakitan akibat kepalanya dipukul sekuat tenaga oleh Joana menggunakan Asbak, pecahan Asbak itupun berserakan dilantai.
Joana menggapai pintu keluar, ia menatap Xander dengan seringaian tipis seolah mengejek lelaki itu. Joana mengarahkan jari tengah-nya ke arah Xander. Dan Xander memandangnya dengan tatapan sangat marah. Joana tak peduli, ia segera keluar dari ruang Apartment Xander.
Joana terus berlari, ia melupakan kopernya yang masih tertinggal di Apartement Xander. Joana menepuk keningnya sendiri akibat kecerobohannya. Tapi saat ini nyawanya lebih berharga dari apapun isi koper itu. Ia terus berlari, urung untuk kembali ke kamar Apartementnya sendiri. Ia memilih keluar dari gedung Apartment ini, tapi ia menyadari jika sebagian bajunya sudah robek.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Gumam Joana sendirian sambil berlari-lari ke arah Lift.
Joana menekan tombol Lift, ia ingin segera keluar secepatnya untuk menyelamatkan diri. Tapi rasanya lama sekali.
Lift disebelah Joana terdengar berdenting dan berhenti tepat dilantai yang sekarang Joana injak.
Joana menatap sosok yang belum keluar dari dalam Lift, bersamaan dengan sosok itu juga yang menatap kearahnya dengan pandangan heran.
"Jo..."
"Ammar..tolong aku!" Joana menyerbu kearah Lift yang masih ada Ammar didalamnya.
...Bersambung......