
Sebuah upaya yang sungguh-sungguh, tidak akan gagal begitu saja. Kita tidak pernah tahu akhir seperti apa yang akan di suguhkan semesta untuk kita pada waktu yang tepat. Begitulah yang saat ini menjadi keyakinan dihati Rey. Rey percaya Kinan akan memaafkannya suatu hari nanti, di waktu yang tepat menurut semesta.
Sejak kepergian Kinan dari rumah sakit kemarin, Rey terus mengharapkan kedatangan Kinan. Tapi, semua itu tetaplah tinggal harapan karena Kinan tak pernah kembali untuk melihat kondisinya. Bahkan, setelah Rey selesai menjalani operasi pasang pen ditangan kirinya, Kinan tidak pernah melihat keadaannya. Rey meneguk asa kecewa di pelupuk hatinya.
"Tapi aku sadar, rasa kecewamu padaku lebih besar lagi daripada ini." Batin Rey.
Seminggu telah berlalu, hari ini ia akan meninggalkan Rumah Sakit dan kembali tinggal di kediaman orangtuanya.
Rey meringis ketika hendak mengenakan kemejanya, tangannya harus menggunakan elastis dan digendong, sesekali Mama Rey membantu anaknya untuk membenarkan posisi kemeja yang akan Rey gunakan.
Setelah selesai dengan pakaiannya, Rey menatap Mamanya yang sudah membantunya berkemas sedari tadi. Wanita yang selalu tampak riang itu mendadak menjadi pendiam beberapa hari ini. Tampaknya, sang Mama sama seperti Rey, mengharapkan kehadiran Kinan untuk menjenguk. Rey mengelus punggung tangan wanita yang melahirkannya itu.
"Sudahlah ma, aku tidak apa-apa!" Rey meredam perasaan sedih wanita dihadapannya, berusaha menguatkan padahal ia pun lemah.
"Rey, Mama masih berharap Kinan mau membuka hatinya."
"Aku akan menemuinya lagi, Ma."
"No, Rey! Kamu harus sehat dulu, nak!"
"Aku takut terlalu telat menemuinya ma, setiap hari aku was-was, takut tiba-tiba dia memutuskan kembali pada lelaki itu!"
Mama Rey menggeleng. "Mama tau, jika boleh biar mama yang bicara dan membujuknya!"
Mama Rey sudah mendengar semua penjelasan Rey tentang semua yang terjadi, termasuk sikap Ammar terhadap Kinan.
Rey tersenyum tulus menatap mamanya, senyum pertamanya sejak Kinan memutuskan untuk meninggalkannya dirumah sakit tanpa menjawab tawarannya perihal pertemanan waktu itu..
"Biar ini menjadi urusanku, Ma. Aku yang sudah membuat ke-kacau-an ini, Ma!" Rey tertunduk dalam.
"Iya, tapi kamu anak Mama! Mama akan membantu sebisa Mama, Rey." Wanita itu mengelus pundak sang anak dengan perasaan sayang.
Rey juga telah menceritakan pada Mamanya, tentang kecurigaannya terhadap mertua Kinan, yang berawal dari cerita Kinan tempo hari. Rey curiga, Ibu Ammar-lah yang menyebabkan Kinan terbuang pada malam itu. Malam dimana Rey menemukan Kinan untuk pertama kali. Semuanya, Rey telah menjelaskan semuanya pada sang Mama. Mama Rey seolah mengerti apa yang terjadi, dan bertekat akan membantu Rey menemukan jawabannya. Jika memang itu yang terjadi, berarti Kinan benar-benar tak boleh kembali pada Ammar.
-
Rey menatap langit-langit kamarnya malam ini. Ia menempati kamar itu lagi sepulang dari Rumah Sakit. Kamar pertama yang Rey miliki. Sejujurnya ia merindukan kamar ini, karena begitu seringnya ia meninggalkan kamar ini.
Entah apa yang ada dipikirannya. Ia mendesah pelan, tak bisa banyak bergerak karena kondisi tangannya. Ia berulang kali menutup mata namun tak jua bisa terlelap malam ini. Rey mengambil ponselnya diatas nakas dan mencoba menghubungi Kevin.
"Gimana?" Rey mengucapkan kalimatnya setelah nada tersambung dan Kevin yang sudah mendengarkan dari seberang sana.
"Udah lo sabar aja dulu, gue liat pergerakan Ammar beberapa hari ini belum ada perubahan kok!" Jawab Kevin seolah tau arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Kinan gimana?"
"Masih dirumah temannya itu, beberapa kali lakinya mau ketemu, tapi Kinan gak keluar sama sekali. Ammar gak disuruh masuk. Hahaha.. dia juga gak berhasil bujuk Kinan, sama kayak lo, Nyuk!" Kevin terkekeh lagi diakhir kalimatnya.
"Tapi Kinan sehat kan? Lo tau gak, dia sering gak makan waktu sama gue di Villa" Rey terdengar frustasi.
"Mana gue tau, Nyuk! Orang suruhan gue cuma mantau dari luar rumah. Gue mau nyamperin kesana kan gak mungkin. Bisa apa gue, kalo dia tiba-tiba curiga karena gue dateng dan nanyain kabar?"
Terdengar Rey berdecak lidah.
"Kondisi lo gimana, Nyuk?" Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Iye iye...biasa aje lo! kuping gue mau meledak denger suara lo, ogeb!" Kevin langsung memutus panggilan itu diiringi memaki Rey dalam hati, karena jika sungguh-sungguh memaki Rey, ia pasti tak berani melakukannya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Baru ini gue digini-in sama cewek!" Kevin berbicara sendiri diruangannya sambil membanting sebuah map ke atas meja. Ia berdiri sambil berkecak pinggang. Mendengus kesal, lalu menelepon dari telepon ruangan.
"Suruh staff bagian desain bernama Desi menemui saya sekarang juga!" ucap Kevin pada seseorang melalui sambungan teleponnya.
Kevin menutup panggilan dengan sedikit membanting gagang telpon. Ia mendengus lagi.
"Gue cari cara buat deketin lo secara baik-baik gak bisa kan? Yaudah gue gunain kekuasaan gue sekarang! Mau apa lo?" Kevin tersenyum miring membayangkan wajah Desi, jika wanita itu tahu bahwa Kevin adalah atasannya.
Kevin menunggu kedatangan Desi dengan perasaan kesal. Pasalnya, setengah jam yang lalu sebelum masuk kantor, Kevin sengaja menemui Desi mencoba untuk mendekatinya, semata-mata untuk mengetahui kondisi Kinan sesuai keinginan Rey. Tapi, lagi-lagi Desi bersikap jutek dan menganggap Kevin seorang penguntit.
Tak berselang lama, pintu ruangannya terdengar diketuk dari luar. Kevin sudah jelas tahu jika itu adalah Desi.
"Masuk!" Titahnya dengan suara lantang yang menahan kesal.
Desi melangkah masuk setelah membuka pintu ruangan General Manager. Ia sendiri bingung kenapa ia harus dipanggil dan datang keruangan ini.
"Bapak memanggil saya?"
"Hmm" Ucap Kevin dari balik kursinya. Ia sengaja menyembunyikan diri dan menempatkan posisi duduknya membelakangi Desi.
"Ada apa ya, Pak? Apa ada yang bisa saya bantu? Atau saya memiliki kesalahan?" Tanya Desi lagi. Ia bingung sendiri kenapa ia harus berada diruangan GM sekarang.
"Ternyata kalo di depan bos bisa juga lo bersikap sopan, padahal tadi lo kayak macan!" Gumam Kevin sambil tersenyum sinis. Tentu saja Desi tak bisa melihatnya.
"Tentu kau banyak kesalahan!" Suara Kevin terdengar, Kevin berbalik arah dengan memutar tempat duduknya ke arah depan untuk menatap wajah terkejut Desi.
"Kau?" Desi terperangah, mulutnya sedikit terbuka sangking terkejutnya. Desi membaca tulisan di sebuah papan nama meja.
"Kevin Winata? Apa dia Kevin Winata? Sial. Bagaimana ini?" Gumam Desi dalam hati.
Seolah tahu isi hati Desi, Kevin mengangguk sambil memasang senyum mengejek. Seketika itu juga, Desi menelan saliva nya dengan susah payah.
Kevin tersenyum puas menatap wajah bodooh Desi.
"Apa kau masih mau mengatakan aku penguntit yang tidak mempunyai pekerjaan?" Kevin menaikkan sebelah alisnya dan menatap tajam wanita dihadapannya.
Desi terrunduk malu, lebih tepatnya takut untuk saat ini. Ia menyesal karena tadi mengatai lelaki dihadapannya tak punya pekerjaan bagus sehingga harus selalu menjadi penguntit. Seketika itu juga ia merutuki nasib sialnya.
"Maafkan ucapan saya yang lancang, Pak! itu karena saya tidak tau jika kau.. emm maksudnya saya tidak tau jika Bapak adalah atasan saya" Desi tertunduk sambil meremmas jemarinya sendiri yang terasa basah karena gugup. Ia tahu sang GM adalah anak dari owner atau pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tamatlah riwayatku kali ini-batin Desi.
.
.
.
.
Bersambung...