How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Melarikan diri



Dilain tempat, Kinan baru saja menyelesaikan makan malamnya yang sudah lewat dari waktu biasanya, dikarenakan ia baru sadar dari pengaruh obat yang sempat disuntikkan dokter. Dengan dibantu oleh Sinta, ia pun meminum obatnya setelah selesai makan.


Hari ini Kinan tampak murung, ia mencari-cari sesuatu, namun entah apa yang ia butuhkan.


"Kamu mencari apa, Kinan?" Tanya Sinta yang bingung melihat ulah Kinan, mencoba menerka isi pikiran wanita 22 tahun itu. Sinta berjaga-jaga dan bersikap waspada, takut jika Kinan harus kumat seperti sore tadi.


Kinan menggeleng lemah. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


"Tadi suami kamu kesini, sayang sekali kamu sedang tidur, jadi kamu tidak melihatnya." Sinta mengajak Kinan untuk berbicara agar Kinan pun terbuka untuk bercerita.


Kinan tak bergeming, tetap dengan pandangan kosongnya sekarang.


"Istirahat ya Kinan. Ini sudah malam." Sinta membereskan perlengkapan makan yang sudah selesai digunakan Kinan. Memutuskan untuk meninggalkan Kinan, agar Kinan bisa beristirahat-pikirnya.


"Aku-aku lelah." Suara ragu-ragu itu akhirnya terdengar, membuat Sinta terhenti dari langkahnya.


"Ya, Kinan? istirahatlah!" Suara Sinta yang lembut dan menenangkan.


"Aku tidak mau disuntik lagi!" Suara Kinan terdengar frustasi dan putus asa. Sinta menjadi tak tega. Ia kembali mendekati Kinan setelah meletakkan nampan diatas meja. Ia mengelus lembut pundak wanita itu.


"Kamu sabar ya, kamu pasti kuat. Kamu mau sembuh kan?"


"Aku merasa semakin buruk!" Kinan mendongak menatap mata Sinta, matanya berkaca-kaca dan Sinta benar-benar tak tega membiarkan Kinan lebih lama lagi merasakan kepahitan ini.


Sinta bukan tak menyadari, semakin hari Kinan bukannya tampak membaik melainkan sebaliknya. Lama-lama jika Kinan terus tertekan begini bukan hanya akan kehilangan anak dalam kandungannya namun dia bisa benar-benar semakin tertekan mentalnya.


"Kinan, kamu istirahat ya. Aku akan bantu bicara sama suami kamu, agar kamu bisa keluar dari sini!" Ujar Sinta pada akhirnya yang tak tega melihat Kinan.


Kinan menggeleng, sepertinya ia punya pemikirian sendiri.


"Baiklah, aku mau tidur" Jawab Kinan datar.


Setelah Sinta keluar dari ruangannya, Kinan bukannya tidur, malah bangkit dari posisinya. Malam sepertinya semakin larut. Ia memandang keluar melalui jendela dari ruangannya. Cukup lama dalam posisi itu, lama kelamaan, entah kenapa Kinan malah menaiki jendela tanpa penghalang itu. Ia keluar dari jendela dan mengendap-endap sambil melihat sekeliling.


Kini Kinan sudah berada ditaman belakang tempat ia sering menghabiskan waktu. Matanya kembali menyelidik sekitar, memastikan tidak akan ada yang melihatnya. Beberapa kali ia berjongkok dan bersembunyi ketika melihat ada perawat atau orang yang melintas.


Kinan hampir mencapai gerbang, sampai ia bingung bagaimana keluar dari gerbang itu. Kini ia berdiri memojok disamping tembok ruangan, entah ruangan apa. Kinan menunggu, ya hanya bisa menunggu agar gerbang itu terbuka atau dibuka. Karena jika ia keluar sekarang, itu malah membuat satpam yang tengah berjaga menjadi melihatnya dan menyeretnya untuk kembali masuk ke dalam ruangannya.


Sementara, Kinan saat ini sudah yakin ingin melarikan diri dan kabur saja dari tempat ini. Tempat yang membuatnya semakin terbelenggu.


Perasaan Kinan makin menggebu untuk segera keluar dan kabur dari sini, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Gerbang itu sudah didepan matanya.


Hari sudah semakin larut dan tentu saja orang-orang sudah banyak yang terlelap. Kinan mengintip dari posisinya, berharap satpam itu pergi ataupun tidur.


°


Rey menaiki Taxi online yang sudah ia pesan, tanpa ada drama tahan-menahan, ia pun langsung keluar dari rumah besar milik orangtuanya dengan mudah.


Rey dapat memastikan bahwa Mamanya sudah terlelap saat ini. Jika tidak, maka pasti ia akan menghadapi drama rumah tangga yang menyajikan isak-tangis dari mamanya yang tak rela atas kepergiannya dari rumah.


Tanpa Rey tahu, Papanya melihat kepergian anak semata wayangnya itu dari balkon kamar.


Taxi yang ditumpangi Rey melaju membelah jalanan. Tentunya tujuan Rey saat ini adalah Kevin, sahabatnya. Ia tak punya tujuan lain. Rey menelepon Kevin beberapa kali, sejak dirumah tadi. Dan Kevin tak mungkin menampung Rey dirumah orangtuanya yang berada disebelah rumah orangtua Rey. Itu sangat janggal jika Rey hanya kabur ke sebelah rumah.


Karena itulah, kini Taxi yang ditumpangi Rey menuju ke Villa milik keluarga Kevin. Kevin menyarankan Rey untuk tinggal disana dulu sementara sampai mereka bertemu untuk mencari jalan keluar lain.


Jalanan terasa sunyi malam ini, jelas saja karena ini sudah mulai larut, dan sehabis senja tadi hujan mengguyur kota. Sudah dapat dipastikan, ini waktu terbaik untuk beristirahat dibawah selimut. Cuaca sangat dingin menembus kulit. Mungkin hanya Rey dan beberapa orang yang memutuskan berada diluar rumah karena beberapa hal penting dan mepet.


Mendadak Rey teringat tentang Kinan, mengunjungi Kinan dimalam ini akan sangat tidak mungkin. Ia tak akan diberi akses masuk dan berkunjung di jam segini. Tapi perasaan tak enak menyelusup dihati Rey.


"Pak, kita lewat jalan ini saja!" Rey menujuk arah jalanan. Rey mencoba mengikuti kata hatinya, dan mengarahkan taxi agar rutenya melewati Rumah Sakit tempat Kinan berada.


Taxi pun melaju dan mengikuti arahan Rey, sampai pada akhirnya melewati Rumah Sakit itu, Rey meminta supir untuk menurunkan kecepatan. Rey memperhatikan keadaan lengang Rumah Sakit itu dari balik jendela Taxi.


Sampai tiba-tiba Taxi itu mengerem mendadak. Rey sampai terlonjak kaget. Lebih kaget lagi sebelum ia bertanya ada apa pada supir Taxi, matanya terbelalak melihat didepan Taxi yang ia tumpangi ada seorang wanita yang berdiri dan hampir tertabrak.


Rey segera turun dari Taxi ketika menyadari wanita itu adalah Kinan. Ketika Rey keluar dari kursi penumpang, ia mendapati Kinan telah pingsan, mungkin terkejut karena hampir tertabrak.


Tanpa persetujuan siapapun, Rey mengangkat tubuh lemah itu dan membawanya masuk kedalam Taxi.


Kini Kinan sudah berada dalam pangkuan Rey didalam Taxi itu. Rey tersenyum kecut menyadari ia pernah berada diposisi ini bersama Kinan, ketika membawa Kinan menuju Apartment nya malam itu. Malam dimana pada akhirnya Rey melakukan kesalahan terbesarnya pada wanita yang berada dipangkuannya kini.


"Jalan Pak!" Ujar Rey pada supir Taxi itu. Taxi pun kembali melaju menuju rute ke arah Villa.


Rey beberapa kali mencoba menyadarkan Kinan, namun nihil. Kinan tetap pada kondisinya. Rey mencoba tenang karena melihat nafas Kinan yang teratur. Ia memegang tangan wanita itu dan sedikit mengelus pada bekas luka jahitan ditangan Kinan. Luka yang Rey yakin itu akibat percobaan bunuh diri.


"Maaf Mas, itu mbak-nya sepertinya pasien dari rumah sakit tadi!" Ucap sang supir menyadarkan Rey yang entah kenapa masih memegang tangan Kinan, dan tangan satunya malah mengelus-elus rambut Kinan dipangkuannya.


"Saya tahu Pak, dia adik Saya." bohong Rey. Dan berhasil membuat supir sedikit terkejut sampai tercengang.


"Maaf Mas ta-tadi saya tidak bermaksud me-menabraknya, di-dia yang tiba-tiba menyebrang!" Supir itu mendadak terbata-bata mengetahui siapa yang hampir tertabrak oleh taxinya tadi.


"Saya tahu Pak. Jangan dipikirkan. Bapak fokus saja membawa kami dengan cepat dan selamat!" Rey melihat jam dipergelangannya, menerka waktu akan sampai di Villa.


Rey mulai menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Memejamkan matanya yang lelah setelah memastikan akan tiba di Villa dalam hitungan satu setengah jam lagi. Jadi, ia memutuskan untuk tidur.


Kinan sudah berada bersamanya, membuat Rey sedikit tenang walau ia tak tahu harus bagaimana dalam kondisi tak punya fasilitas apapun namun membawa Kinan ikut kabur bersamanya.


Yang jelas, ia tak menyesal dengan keputusannya dan merasa semesta memang mendukungnya ketika ia harus dipertemukan dengan Kinan walau dalam kondisi seperti ini.


Rey menarik nafas panjang sembari menghembuskannya, tak berapa lama suara nafasnya sudah teratur menandakan ia sudah mulai terlelap.


.


.


.


.


Bersambung...