How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Bonus Chapter-3



Rey


Sejak saat itu, aku mulai merubah cara pandangku terhadap gadis-gadis lain. Entah kenapa aku tidak tertarik lagi pada mereka dan dunia malam. Seakan bosan, muak dan mati rasa karena hatiku dilingkupi rasa bersalah. Disatu sisi aku juga merasa harap-harap cemas menantikan adanya panggilan polisi padaku sewaktu-waktu. Tapi kecemasanku seperti tak terjawab karena tak ada tanda-tanda bahwa aku telah dituntut akan perbuatan itu. Disisi lain, aku juga mencari keberadaan gadis itu. Gadis yang tak ku ketahui namanya. Sangat sulit, walau aku juga meminta bantuan Kevin dan Doni.


Doni mendadak kembali ke London untuk mencari tunangannya yang kabur entah kemana, sementara Kevin mulai sibuk dengan posisi barunya di Perusahaan milik Ayahnya. Aku juga mulai berusaha menerima pekerjaan yang diberikan Papa, walau tidak seperti Kevin yang langsung pada posisi atas. Aku harus giat dan menunjukkan kredibilitas dan kemampuan kerjaku dulu agar bisa mencapai posisi puncak. Aku tidak diberikan jabatan cuma-cuma oleh Papa, aku diberi kesempatan memulai dari tahap bawah, hanya karyawan biasa di Perusahaan Raksasa yang dimiliki oleh Ayahku sendiri. Hah! mungkin ini hukuman untukku. Baiklah aku akan menjalaninya dengan lapang dada.


Perlahan-lahan, akupun ikut merubah diri. Keseharianku yang biasanya sibuk dengan hal onar dan bersenang-senang, kini mulai teralihkan dengan dunia pekerjaan. Aku jarang bertemu Kevin, nampaknya dia juga sangat sibuk belakangan hari.


Tapi dihari-hari yang ku lewati, entah kenapa aku seakan terus mencari keberadaan gadis yang kesuciannya sudah ku renggut tanpa permisi. Tanpa ku sadari juga berkat kejadian itu dan pertemuanku dengannya, aku telah berubah sekarang. Tapi, aku benar-benar kehilangan jejaknya, tak ada tuntutan atau tak ku temukan dia kembali ke Apartment-ku untuk sekedar menampar wajahku.


Hari berlalu dan tanpa ku duga aku menemukan sosok yang familiar. Saat itu aku menemani Mama berobat ke Rumah Sakit. Aku melihatnya! Ya itu dia. Gadis yang selama ini ku cari, membuatku penasaran apa isi kepalanya hingga ia tidak mencariku yang sudah berlaku tak pantas padanya.


Aku meninggalkan Mama yang mengantri di poli kesehatan. Ku ikuti langkah gadis itu, dia berjalan serampangan dengan mengoceh tak jelas dari bibir mungilnya. Apa yang terjadi padanya? Aku makin merasa ada yang tak beres saat dia terdiam dibawah pohon sambil memainkan kuku-kuku jarinya. Gadis itu semakin nampak lemah saja, sama seperti pertemuan pertama kami. Aku terus membuntutinya sampai Alarm palang pintu kereta api berbunyi dan tanpa ku sangka gadis itu tetap menyebrang seolah tak tahu jika Kereta Api akan melintas didepan matanya sesaat lagi.


Dengan seketika, langkah yang ku percepat menjadi jawabannya. Aku menariknya dalam dekapan dan kami terjatuh bersamaan diaspal jalan. Aku melindungi tubuhnya dari kerasnya Aspal walau tubuhku yang harus terbentur disana. Gadis itu seolah tersadar, ia menatapku lekat dengan matanya yang bening. Perlahan wajahnya memerah dan aku terkesima dengan mata lentik itu. Untuk beberapa saat, darahku seakan berdesir dengan hebat dan seakan menghentikan waktu yang berjalan.


Suara orang-orang yang menanyakan keadaan kami pun samar-samar mulai terdengar, memecahkan waktu yang terasa sempat berhenti. Gadis itu bangkit, begitupun denganku yang sambil menahan rasa sakit dipunggung akibat benturan. Aku lalu menjawab pertanyaan orang-orang tadi sekenanya saja.


Aku menanyakan keadaan gadis itu. Dia banyak diam. Aku menanyakan namanya tapi dia menjawab tidak tahu. Aku juga menanyakan alamatnya, dia juga menjawab sama, tidak tahu. Aku mengernyit keheranan. Apa gadis ini sudah gila? Batinku waktu itu. Bagaimana bisa dia tidak tahu alamat bahkan namanya sendiri?


Benar-benar aneh. Akhirnya ku putuskan membawanya kembali ke Rumah Sakit. Setelah bertemu dokter Malik-Dokter yang biasa menangani keluargaku, barulah aku mengetahui namanya. Kinanty. Namanya Kinanty dan aku harus mengingatnya. Dokter Malik terkejut melihat keadaan Kinanty yang sepertinya tidak baik-baik saja, ia memintaku membawa gadis itu periksa ke psikiater karena ia menduga Kinan sedang mengalami syok yang berlebihan.


Aku terkejut tapi lebih terkejut lagi saat mencerna ucapan dokter Malik yang mengatakan bahwa Kinan sudah bersuami.


Ternyata, yang telah ku lecehkan adalah gadis yang berstatus istri orang lain. Apakah beberapa bulan lalu, saat aku melakukan itu dia sudah menikah? Astaga.. apa suaminya belum menyentuhnya sehingga aku yang lebih dulu? Batinku mulai menerka-nerka dan berkecamuk saat itu juga.


Setelah menimbang-nimbang, akupun memutuskan menelpon keluarganya melalui nomor telepon yang ku dapatkan dari Asisten Dokter Malik.


Penampakan pertamaku saat melihat pria yang mengaku sebagai suami Kinan adalah kecewa. Ya, entah kenapa aku kecewa. Ternyata gadis itu benar-benar sudah menikah. Tapi segera ku tepiskan perasaan aneh itu dan menyarankan lelaki yang mengaku bernama Ammar itu untuk segera membawa Kinan ke Psikiater. Awalnya ia marah dan tak terima. Ia menganggap Kinan tidak gila. Siapa juga yang mengatakan jika Kinan gila? Ck! aku hanya menyarankan sesuai arahan Dokter Malik.


Aku merasa suami Kinan adalah tempat pulang yang paling tepat bagi Kinan. Ya tempat pulang gadis itu bukanlah aku. Aku mengusap wajah dengan kasar dan lagi-lagi membuang jauh pemikiran anehku.


Beberapa hari berselang, setelah aku menemukan Kinan di Rumah Sakit waktu itu, aku terus saja memikirkannya. Kenapa dia? Apa yang terjadi padanya? Apa dia seperti itu karena ulahku sebulan lalu? Aku memikirkan banyak hal tentangnya sampai pada keputusanku harus mencari tahu lebih lanjut dengan mendatangi alamat rumahnya yang ku ketahui belakangan dari Dokter Malik. Walau awalnya menolak memberi alamat, tapi Dokter Malik akhirnya memberitahu juga walau harus dengan cara kekeluargaan diantara kami.


Aku memberanikan diri untuk datang ke alamat itu, terlebih saat aku baru tahu diagnosa Dokter Malik jika kemungkinan Kinan sedang mengandung. Aku merasa kesal sekaligus penasaran. Apa ini karena ulahku? Apa benar dugaanku waktu itu dia akan mengandung anakku? Ah, tapi dia bersuami bisa saja itu anak suaminya! Aku ingin menjawab rasa penasaranku makanya ku putuskan untuk datang ke alamat rumahnya. Dan lagi aku harus terkejut karena jawaban seorang Asisten Rumah Tangga, mengatakan jika Ammar membawa Kinanty ke Rumah Sakit Jiwa. Benarkah? Bukankah aku menyarankan agar pria itu membawa istrinya ke Psikiater? Kenapa sekarang dia malah membawanya ke RSJ?


Mendadak amarah menguasaiku. Entah kenapa aku tak terima keputusan pria yang mengaku sebagai suami Kinanty itu. Akupun putar haluan menuju RSJ saat itu juga.


.


.


.


.


Udah tahu kan perasaan bersalah Rey waktu itu? Makanya aku mau bahas dari sudut pandang Rey sedikit, biar kita pada tahu kenapa Rey berubah jadi lebih baik dan sejak kapan dia juga mulai mencintai Kinan? Sepakat??? Sepakat dong ya. Ini cuma beberapa aja kok. Gak aku bahas sampe tuntas, hanya supaya kita tahu kalau Rey juga mencari Kinan sejak kejadian itu..


Vote lah ya..Senin kok ini☝️😁